
Bagaimana keadaan Kaili, Ling?" Tanya Nyonya Aeri khawatir.
"Sangat buruk, Mommy. Maaf kalau aku ikut campur. Tapi, apa Nona Kaili tidak diberikan makan?" Tanya Dokter Ling prihatin dengan keadaan Kaili.
Nyonya Aeri dan Presdir Lee hanya diam. Dokter Ling tampak menghela napas berat. "Lee, kau hampir saja membuatnya kehilangan nyawa—kalau saja tidak secepatnya aku tangani." Tutur Dokter Ling sambil yang memasang selang infus ditangan Kaili.
"Apa Kaili perlu dibawa ke ruang sakit saja, Ling?" Tanya Nyonya Aeri pelan karena dirinya pun juga turut andil terhadap keadaan Kaili. Karena bagiamana pun, dia juga tidak menghiraukan gadis malang itu beberapa hari ini.
"Tidak perlu Mommy. Sekarang aku bisa mengatasi keadaanya, apa Mommy bisa ambilkan makanan bergizi untuknya. Mungkin sebentar lagi dia akan segera siuman. Kita perlu memberinya asupan." Pinta Dokter Ling.
"Baiklah, kalian berdua jaga Kaili. Mommy akan bawakan makanan untuknya." Jawab Nyonya Aeri dengan senang hati menuju lantai dasar untuk mengambilkan Kaili makanan.
"Kau tau untuk apa dia kau nikahi. Setidaknya buatlah dia bahagia selama dia masuh hidup. Apa kau tidak punya rasa kasihan padanya? Kau—kau bahkan sudah melakukan itu, bila dia hamil kita terpaksa harus menundanya. Kenapa kau tidak menahan dirimu?" Tanya Dokter Ling lembut, namun ucapannya begitu menekan ke relung hati Lee.
__ADS_1
"Aku—aku khilaf," jawab Lee pelan.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan. Memberinya obat penunda kehamilan juga percuma," saut Dokter Ling.
"Ling, apa tidak ada cara lain? Bisakah kita tidak melibatkannya." Tanya Lee.
"Jangan bilang kau menyukainya," sambung Dokter Ling.
"Aku tidak tau, Ling. Semenjak tidur dengannya. Aku merasa dia berbeda, tubuhnya benar-benar menjadi candu bagiku. Aku melakukan kekasaran kepadanya, karena aku berharap ini bukanlah sebuah rasa. Tapi, aku salah. Seperti apa pun aku menyiksanya, rasa ini bukannya hilang, tapi malah semakin membesar. Aku tidak tau ini cintai atau tidak. Tapi yang pasti, aku menyukai saat menyentuhnya. Rasanya dua kali lipat lebih nyaman daripada saat aku bersama Yuki. Aku bahkan menyiksanya hanya karena marah saat dia mengatakan ingin pergi dariku. Aku harap ini bukan cinta, Ling. Tolong katakan kepadaku kalau rasa ini bukanlah rasa cinta." Jelas prsdir Lee akhirnya jujur dengan perasaanya terhadap Kaili selama ini.
"Dua puluh persen untuknya, dan delapan puluh persen untukku. Aku takut Ling. Aku takut kehilangannya lebih menyakitkan daripada menghadapi kematianku sendiri." Tutur Lee pilu.
"Tenanglah Lee. Yakin kepadaku, aku bisa menyelamatkan kalian berdua. Seakrang aku minta padamu untuk menjaganya. Jangan sakiti dia, apa pun masalahmu padanya. Terlepas dari itu, ingatlah bahwa dia adalah penyambung hidupmu. Kehidupanmu selanjutnya tergantung padanya." Jelas Dokter Ling.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan? Apa yang penyambung hidup Lee?" Tanya Nyonya Aeri bingung.
"Bukan apa-apa Mommy. Maksudku, aku mengatakan kepada Lee bahwa suami dan isiti itu adalah ikatan yang saling sambung menyambung dalam kehidupan dunia hingga di akhirat." Jawab Dokter Ling mengarang cerita.
"Oh begitu. Bagaimana dengan Kaili? Apa dia sudah sadarkan diri?" Tanya Nyonya Aeri lalu meletakkan semangkuk bubur ke atas nakas.
"Beberap menit lagi Nona Kaili akan segera sadar, Mommy." Jawab Ling yang selalu tepat memperhitungkan waktu.
"Begitu ya. Mommy akan menunggu hingga Kaili terbangun." Jawabnya mengambil posisi duduk di pinggir kasur.
"Mommy, tolong pakaikan Kaili pakaian. Aku akan mengantarkan Dokter Ling keluar." Pinta Lee.
"Baiklah," jawabnya langsung menuju lemari untuk mengambil pakaian Kaili.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Dokter Ling sampai ke pintu utama, Lee pun segera kembali ke kamarnya.
"Begaimana Mommy? Apa Kaili sudah bangun?" Tanya Lee pelan sambil menutup pintu.