
"Aku yang akan pergi ... Selamanya." Mendengar itu, Kaili semakin mengeratkan pelukannya.
"Akan aku pastikan kamu tidak akan pergi kemana pun," batin Kaili.
Oek, oke, oek ....
Tangisan Baby Kennar kembali memisahkan kedua sejoli yang tadinya saling memeluk.
"Aku akan mandi," ujar Lee lalu bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Kaili beranjak turun dari ranjang, mengambil pakaian baru di lemari—mengenakannya, kemudian berjalan menuju tempat dimana Putranya berada.
"Sayang kamu nggak nyaman, ya. Yasudah, Ayo kita ganti popok dulu." Ujar Kaili mengambil Putranya untuk diganti popoknya yang telah penuh. Begitu selesai, dia langsung menyusui Baby Kennar yang juga menangis karena lapar.
"Kalau Mommy udah nggak ada, kamu jangan nakal, ya, Sayang." Ucap Kaili dengan bercucur air mata. Baby Kennar langsung menangis histeris saat itu juga, Baby Kennar seakan tak setuju dan juga marah dengan ucapan Kaili barusan.
"Tenang, Sayang. Tenang ya, jangan nangis lagi." Bujuk Kaili kembali menyusui Putranya dengan menggosok pelan pundak Baby Kennar, hingga Baby Kennar pun tenang dan tak lagi menangis histeris.
Tak lama presdir Lee keluar dari kamar mandi. Menuju lemari dia mengambil sendiri pakaian kerjanya.
"Sayang, nanti malam kita akan pergi ke pesta ulang keponakan Leon." Ucap Lee yang kini telah rapi.
__ADS_1
"Kennar bagaimana?"
"Hanya sebentar, setelah memberi selamat kita akan langsung pulang. Kennar bisa dititip ke Mommy selama kita pergi," jawab Lee.
"Baiklah," saut Kaili singkat.
"Aku berangkat, jaga dirimu," satu kecupan mendarat di pucuk kening Kaili. "Daddy berangkat kerja dulu, Sayang. Jaga Mommy-mu, ya," setelah memberikan kecupan pada Putranya, Lee segera berangkat kerja.
***
"Nona cantik sekali malam ini," puji Sekretatis Fade mendapat tatapan tajam dari Tuannya.
"Ayo kita berangkat," ajak Lee melingkarkan tangannya di pinggang ramping Kaili.
"Hati-hati, ya, Sayang. Kennar aman bersama Mommy, kalian berdua kalau mau nginap di hotel dulu juga tidak masalah," goda Nyonya Aeri membuat pipi Kaili memerah karena malu.
Kira-kira 25 menit perjalanan. Kini, Kaili, Lee, dan Sekretatis Fade telah berada di depan sebuah hotel terkenal di kota. Turun dari mobil, Lee melingkarkan tangan Kaili di lengannya. Lalu berjalan searah masuk ke hotel.
"Kukira kalian berdua tidak akan datang," sambut Leon.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku pasti datang. Dimana Anna?" Tanya Lee.
"Bersama teman-temannya." Jawab Leon.
"Dia masih saja seperti dulu." Saut Lee.
"Sayang, aku mau ke toilet," bisik Kaili pelan.
"Nona Kaili mau ke kamar mandi. Biar pelayan saja yang antarkan," sambung Leon yang teryata mendengar bisikkan Kaili. "Palayan, tolong antarkan Nona Kaili ke toilet, ya." Titah Leon pada seorang pelayan perempuan.
"Baik, Tuan. Mari Nona." Ajaknya, Kaili pun mengekor dibelakang pelayan itu.
"Hati-hayi, Sayang." Pesan Lee.
"Pasti,"
***
"Ibu! Ibu! Ayah, ada Ibu-tu." Teriak Dewa yang masih saja cadel dengan huruf K. Dia terus berlari menuju Kaili yang baru saja keluar dari toilet.
__ADS_1
"Dewa," ucap Kaili lalu menangkap Dewa lalu menggendong anak itu.
"Hallo Nona Kaili. Saya tidak menyangka akan bertemu Nona Kaili di tempat ini. Selamat berjumpa lagi, Nona Kaili." Sapa Gerod ramah.