
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Flashback Off
Dor dor dor dor
"Mommy".
Teriak seorang bocah berusia lima tahun saat melihat sang Ibu ditembak.
"Sayang". Pria paruh baya itu hanya bisa memeluk anaknya.
"Mommy hiks hiks hiks Mommy". Bocah itu menangis histeris.
Sang Ayah melepaskan pelukannya. Lalu berjalan menghampiri orang-orang yang menembak istrinya.
"Brengsekkkk".
Bugh Bugh Bugh Bugh Bugh
Dia memukul pria-pria yang menembak istrinya itu dengan membabi buta.
Dor dor dor dor
Kaki dan tangannya ditembak oleh para kelompok Mafia yang menyerang mereka.
"Daddy hiks hiks, Daddy". Dia menghampiri sang Ayah "Daddy hiks".
"Ezra pergi Nak. Pergi. Pergi". Dia berusaha mendorong tubuh putranya.
"Tidak Daddy. Bagaimana denganmu dan Mommy?". Dia menangis segugukan.
"Pergi Nak. Pergi. Daddy akan menjemput mu nanti. Cepat Nak cepat".
Bocah itu menurut dan berlari meninggalkan rumah mewah mereka.
"Kejar bocah itu". Ucap salah satunya.
"Aku mohon jangan bunuh anakku. Bunuh aku. Bunuh saja aku. Jangan putraku". Ujarnya
Pria-pria itu justru menatap dengan senyuman mengejek "Urusan kita belum selesai. Ingat, kau masih memiliki hutang pada kami. Kematian istrimu tidak sebanding dengan kerugian Boss kami. Kami akan datang lagi, untuk menagih janjimu".
Pria-pria itu pergi meninggalkan nya. Rumah mewah itu tampak hancur lebur. Mayat para pelayan berserakkan dimana-mana. Semua barang yang ada disana terpecah-pecah. Bahkan bau darah begitu menyengat.
"Arlletha".
Dia berjalan dengan menggeser tubuhnya. Tangannya mengalir darah dan kakinya juga mengalir darah. Seluruh tubuhnya mati rasa.
"Arlletha".
__ADS_1
Dia berusaha menggapai wajah istrinya. Wanita itu sudah bersimpuh dengan darah. Peluru bersarang di jantung nya.
Sang pria hanya bisa menangis menatap istrinya yang sudah tak bisa bergerak dengan wajah pucat dan tubuh dipenuhi darah segar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk bergerak saja dia tidak bisa.
Hingga pandangannya mulai kabur dan dia memejamkan matanya dan terjatuh kelantai. Air mata masih terlihat berderai. Peluru yang mengenai tangan dan kakinya masih melekat disana. Darah segar mulai mengering bersama jiwanya yang kering.
Buana, dia terlibat dalam kelompok Mafia. Dia menjadi salah satu asissten dari Boss Mafia. Sumpahnya untuk mengabdi selamanya harus dia langgar, lantaran sang istri yang tidak mau dia terlibat dalam dunia hitam. Buana memaksa keluar, namun tak diizinkan. Hingga akhirnya dia diserang dan istrinya ditembak mati oleh para kelompok Mafia kejam itu. Kelompok Mafia itu memang sudah banyak membantunya, terutama membalaskan dendam nya atas kematian kedua orangtuanya. Namun, Buana yang ingin terlepas dari jerat hitam itu tidak bisa lepas begitu saja, dia sudah memiliki hutang dan ada harga yang harus dia bayar.
Buana menyesal. Jika waktu bisa diulang kembali. Dia sama sekali tak ingin menjadi salah satu anggota Mafia. Sekarang dia harus kehilangan segalanya. Istrinya yang meninggal ditembak didepan matanya. Dan putranya, dia tidak tahu kemana putranya itu pergi.
.
.
.
.
Ezra terus berlari, hingga kejalan rasanya dengan tangis ketakutan pria kecil itu berlari tak tentu arah sambil menangis.
"Hiks Daddy, Mommy. Ezra takut". Dia berlari terus berlari. Entah kemana kakinya akan membawanya pergi.
Hingga kakinya terasa lelah. Pria-pria itu juga sudah tak mengejar nya lagi. Pria kecil itu duduk dipinggir jalan. Dia tidak tahu harus berbuat apa dan melangkah kemana? Ingin kembali kerumah tapi perjalanan nya sudah sangat jauh dan dia tidak tahu jalan pulang.
"Daddy. Mommy. Hiks hiks. Ezra takut. Tolong Ezra Mommy. Daddy dimana? Katanya mau jemput Ezra? Ezra tidak tahu jalan pulang hiks". Dia menangis sambil menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya.
"Awwwwww". Dia merintih merasakan kakinya sakit "Hiks, kakiku luka? Kenapa ini sakit? Mommy hiks Daddy". Dia terus memanggil nama Kedua orangtuanya.
Sebuah mobil memancari wajahnya. Mobil mewah berwarna hitam bermerk Lamborghini, ini terparkir tidak jauh darinya.
Ezra menutup wajahnya karena pancaran lampu mobil membuatnya susah melihat.
Seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil. Jas hitam melekat ditubuh kekarnya. Meski sudah tua wajahnya tetap tampan.
Dia berjalan menghampiri Ezra, wajahnya tampak bingung melihat anak laki-laki dijalan sepi seperti ini
"Nak apa yang kau lakukan disini?". Dia berjongkok menyamakan tingginya dengan Ezra.
"Hiks hiks Kakek, aku tidak tahu mau pulang kemana? Mommy ku ditembak. Daddy juga ditembak. Daddy menyuluh ku pelgi dan dia akan jemput nanti. Tapi dia belum juga menjemputku hiks". Ezra menjelaskan sambil menangis.
Pria paruh baya itu terkesiap "Apa yang terjadi Nak? Kenapa bisa Ayah dan Ibu mu ditembak?". Cecarnya.
Ezra menggeleng dengan polos "Aku tidak tahu Kek". Jawabnya segugukan.
Pria paruh baya itu menatap sendu "Apa kau mau ikut dengan Kakek?". Tawar nya.
"Kemana Kek?". Dia masih menangis segugukan
"Kerumah kita. Kakek ingin mengangkat mu menjadi cucu Kakek, bagaimana?". Dia menatap Ezra dengan senyum mengembang.
__ADS_1
Ezra menatap pria paruh baya itu dengan selidik. Dia tidak mau percaya sembarangan.
"Tenanglah Nak. Kakek bukan orang jahat". Dia mengelus kepala Ezra "Bagaimana?". Tawarnya lagi.
"Tapi bagaimana jika Daddy ku datang menjemput ku dan aku tidak ada disini?". Air mata kembali luruh dipipi tampannya.
"Setelah kau besar nanti, kita bisa mencari Daddy mu bersama-sama. Kakek akan menemanimu".
Ezra masih berpikir ragu
"Ayo Nak, hari sudah mau hujan".
"Iya Kek".
Pria paruh baya itu mengendong Ezra kecil masuk kedalam mobil. Dia tersenyum sumringah menatap bocah tampan itu. Sudah lama dia ingin memiliki cucu dan Tuhan mengabulkan doa nya. Dia juga baru mendapat kabar bahwa menantunya selesai melahirkan di Indonesia.
"Mulai sekarang nama mu Edgar Keizo Bagara". Senyumnya mengelus kepala Ezra. Sang supir yang duduk didepan ikut tersenyum.
"Edgar". Gumam Ezra.
"Iya Nak. Namamu Edgar. Keizo itu nama Ayah mu nanti dan Bagara itu nama Kakek". Jelas Bagara tersenyum halus.
"Iya Kek". Sahut Ezra.
"Kenapa dia mirip sekali dengan Buana, sahabat Keizo?". Batin Bagara
Sampai dirumah mewah. Pria itu langsung turun sambil mengendong Ezra, dia bahagia bisa menjadi Kakek.
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?". Tanya nya pada sang asisten sambil berjalan masuk.
"Sudah Tuan. Besok kita akan kembali ke Indonesia". Sahut sang asisten.
"Baik".
"Nak, besok kita akan pulang ke Indonesia ya? Apa kau mau?". Bagara meletakkan Edgar disoffa.
"Indonesia itu dimana Kek?". Tanya Ezra bingung.
"Tempat kelahiran Kakek. Negara yang sangat Kakek cintai. Kau akan senang tinggal disana nanti". Senyum nya "Bik tolong ambilkan kotak P3K ya?".
"Baik Tuan".
"Kakek akan mengobati lukamu. Setelah ini kita mandi dan makan ya?".
"Iya Kek". Ezra mengangguk dengan senyum. Sentuhan Bagara membuat nya sedikit menghangat dan ketakutan nya sedikit menghilang.
Bersambung.....
Ed & Ei
__ADS_1