
Happy Reading ๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Susi dan Silva turun dari mobil. Seperti kesepakatan tadi, mereka berdua akan menjaga Margaretha. Sebab kesehatan wanita paruh baya itu sedang bermasalah. Maklum tekanan darahnya tinggi dan gula darahnya juga naik.
"Bunda".
Kedua wanita cantik berbeda profesi itu tersenyum hangat melihat Margaretha yang tengah duduk dikursi santai dirumah nya.
"Silva. Susi".
Margaretha merentangkan tangannya "Sini peluk Bunda". Keduanya kompak memeluk wanita itu.
Margaretha sangat senang melihat dua wanita yang dia harapkan menjadi menantunya.
"Silahkan duduk Nak". Ucap Margaretha tersenyum hangat.
"Bagaimana keadaan Bunda?". Tanya Silva tersenyum ramah sambil duduk disamping Margaretha.
"Bunda sudah sehat. Hanya saja entah kenapa perasaan Bunda gelisah tak menentu. Bunda jadi teringat pada Ei. Sebentar lagi dia melahirkan semoga dia dan anak-anak nya selamat". Ucap Margaretha.
Susi dan Silva saling melihat. Mereka sudah diperingatkan oleh Oscar agar tidak memberitahu Margaretha bahwa Eidra menghilang. Oscar tidak mau kondisi Margaretha semakin menurun karena memikirkan Eidra. Oscar tahu betapa sayangnya Margaretha pada Eidra.
"Bunda sudah makan?". Susi sengaja mengalihkan pembicaraan dia tidak mau Margaretha terus menanyakan Eidra.
Margaretha meminta Susi untuk memanggilnya Bunda. Meski sempat menolak namun Susi luluh ketika mendengar lirihan Margaretha yang menginginkan anak perempuan.
"Belum". Jawab Margaretha.
"Kenapa belum Bunda? Bunda kan harus minum obat". Sambung Silva.
"Bunda belum lapar". Sahut Margaretha.
"Ya sudah bagaimana kalau kita masak bersama. Terus kita juga bisa makan siang". Saran Silva.
"Wahhh boleh sekali. Bunda sudah lama tidak masak". Sahut Margaretha antusias "Jadi teringat pada Ei". Gumam Margaretha yang masih didengar oleh Susi dan Silva.
"Bunda akan hubungi Ei. Bunda rindu suaranya". Margaretha mengambil ponselnya.
"Ehhh Bunda jangan". Sergah Susi dan Silva bersamaan.
"Maksud Silva, Nona Ei sekarang sedang istirahat total karena persiapan melahirkan". Sahut Silva asal.
Kening Margaretha berkerut "Bukan nya satu bulan lagi?".Tanya Margaretha heran.
"Kan Ei persiapan mulai sekarang Bunda". Sambung Susi. Jangan sampai Margaretha curiga.
"Ya sudah". Margaretha meletakkan kembali ponselnya dan tidak jadi menghubungi Eidra.
"Ayo Bunda. Kita masak". Silva membantu Margaretha berdiri.
Susi dan Silva memapah Margaretha. Ketiga wanita itu tampak saling berbincang. Margaretha benar-benar menyukai Susi dan Silva dan sangat cocok menjadi menantunya.
__ADS_1
Susi sifatnya kalem dan juga sopan. Murah tersenyum dan lembut. Dokter cantik itu benar-benar menarik perhatian Margaretha. Susi berusia 26 tahun.
Silva sedikit bar-bar dan mudah bergaul. Wanita yang satu ini memang ceria. Wajahnya juga masih muda dan imut-imut. 25 tahun.
Sampai didapur. Para pelayan memberi ruang kepala ketiganya untuk memasak. Margaretha juga sangat antusias. Sudah lama dia tidak menginjakkan kaki didapur sejak gula darahnya naik. Dia dilarang oleh Orlando untuk masak karena takut jika Margaretha lelah.
"Awwwwww".
Margaretha meringgis saat dia memotong sayuran dan tidak sengaja mengiris ujung jarinya.
"Bunda".
Sontak Susi dan Silva menghampiri Margaretha. Susi langsung mengambil kotak P3K dan mengobati luka kecil Margaretha yang mengeluarkan sedikit darah segar.
"Bunda harus hati-hati". Ucap Susi sambil memasang plaster dijari Margaretha.
Margaretha menghela nafas panjang "Entah kenapa perasaan Bunda tidak enak? Bunda terus kepikiran Ei. Apa dia baik-baik saja yaaaa?". Ujar Margaretha.
"Sudah Bunda jangan terlalu berpikir keras. Nona Ei tidak apa-apa. Tuan Edgar akan menjaganya". Hibur Silva.
Margaretha mengangguk.
.
.
.
.
"Awwwwww".
Gelas yang dipegang Elizabeth terjatuh kelantai hingga pecah dan berserakkan.
"El".
Pristy sehat mendekat kearah Besan-nya itu.
"Apa kau baik-baik saja?". Cecar Pristy "Apa kau terluka?". Pristy memeriksa bagian tubuh Elizabeth.
"Aku baik-baik saja". Setiba Elizabeth terdiam "Apa Ei baik-baik saja? Kenapa dengan perasaan ku? Kenapa begitu?". Gumam Elizabeth.
"Tenanglah El. Ayo duduk". Pristy menuntun Elizabeth duduk disoffa. Saat ini dia masih berada di kamar Elizabeth.
Elizabeth menurut tapi tatapan nya kosong kedepan. Air mata lagi dan lagi luruh dipipi nya.
"Pris apa ada kabar tentang Ei?". Tanya Elizabeth tanpa melihat Pristy.
Pristy menghela nafas panjang dan menggeleng "Belum ada El". Jawab Pristy jujur.
"Ei". Gumam Elizabeth "Dimana kau Nak? Jangan membuat Ibu panik begini. Ibu takut kau kenapa-kenapa". Air mata kembali luruh dipipi keriput Elizabeth.
__ADS_1
Pristy hanya menatap sendu. Bukan hanya Elizabeth yang panik dan khawatir tapi dia juga. Hanya dia berusaha tenang karena tidak mau membuat yang lain semakin panik.
"Kita berdoa bersama-sama ya El?". Pristy mengenggam tangan Elizabeth "Ei akan pulang. Mereka sudah menjemput nya".
Mendengar ucapan Pristy, Elizabeth sedikit tenang. Iya dia yakin jika putra dan menantunya akan membawa Eidra kembali ke villa ini.
.
.
.
.
Erwin mengusap wajahnya. Dari tadi dia menghubungi Julio, Edgar dan Leonardo namun tak ada satu pun dari mereka yang mengangkat ponselnya.
Erwin juga menghubungi sahabatnya, Brayn. Asissten Leonardo, namun dia harus kembali kecewa saat panggilannya pun tidak juga direspon oleh Brayn.
Erwin menghembuskan nafas kasar. Dia diminta oleh Leonardo untuk berada divilla.
"Sayang".
Raina datang dengan membawa secangkir kopi untuk suaminya. Sementara Baby Bara sudah terlelap dengan nyaman dikamar tamu.
"Minumlah".
"Terima kasih sayang".
Erwin menyambut cangkir dari tangan Raina. Saat ini mereka berdua sedang berada dibangku taman, Villa Edgar.
"Kenapa?". Tanya Raina heran melihat raut wajah suaminya yang tampak kacau tak seperti biasanya.
Erwin menghela nafas. Sambil meletkan cangkirnya dibangku dekat kursi rodanya
"Aku belum mendapat kabar tentang Kakak ipar. Smoga dia baik-baik saja". Ujar Erwin.
**Bersambung.....
Ed & Ei
Maaf guys sampai disini dulu kisah kita๐คงโ
Maaf digantungin lagi. Hehehe. Author capek pake banget**
Edgar Keizo Bagara. 35 Tahun. Dingin. Pendendam. Emosi tinggi. Tidak kenal belas kasihan. Dia tidak butuh dikasihani. CEO terkaya. Kecelakaan sepuluh tahun silam, membuatnya lumpuh seketika.
Eidra. 20 Tahun. Dokter muda. Cantik. Baik. Periang. Cerewet berisik. Selalu membuat orang gemes dengan ucapannya.
__ADS_1
Gimana visualny guys??? Mohon maaf Author cuma dapet ini yang cocok dihati author ๐คง Kalau kurang cocok dan ada rekomendasi, boleh coret2 dibawah yaa.a..