Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Kencan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Leonardo memarkirkan butiknya didepan sebuah salon ternama dan butik langganan para artis serta istri pengusaha.


"Tuan, kenapa kita disini? Bukannya Tuan ingin ke kantor?". Cecar Eve.


"Keluar saja Eve jangan banyak bertanya". Ketus Leonardo keluar dari mobil.


Meski bingung, Eve tetap mengikuti perintah Leonardo. Dalam hati bertanya-tanya ada apa Leonardo mengajaknya ke salon?


Mereka berdua masuk. Eve benar-benar kagum melihat salon mewah itu. Seumur hidup dia tidak pernah bermimpi untuk bisa perawatan ditempat ini. Mungkin Eve bisa menjual kebun dikampung jika ingin perawatan disini.


Leonardo membisikan sesuatu pada seorang pegawai butik yang bekerja disana. Pegawai itu mengangguk dan tersenyum, seolah mengerti dengan yang diucapkan oleh Leonardo.


"Baik Tuan". Sahut sang pegawai


"Mari ikut saya Nyonya". Sang pengawai menarik tangan Eve.


"Lah saya mau dibawa kemana Nona?". Tanya Eve heran.


"Ikut saja Nyonya". Sahut pegawai itu tersenyum hangat.


"Tuan". Panggil Eve pada Leonardo.


Namun Leonardo hanya acuh saja dan malah asyik dengan ponsel ditangannya.


Terpaksa Eve mengikuti pengawai yang entah akan membawanya kemana.


"Saya mau diapakan Nona?". Tanya Eve saat pengawai itu memaksanya duduk didepan sebuah cermin.


"Nyonya tenaga saja. Saya tidak akan menyakiti Nyonya. Saya hanya ingin membuat Nyonya menjadi cantik". Sahut pengawai itu melakukan tugasnya.


"Tapi.........".


Eve tak sempat protes saat pengawai itu mengikat rambutnya.


Eve tidak tahu mau diapakan dirinya. Eve hanya diam saja dan membiarkan pengawai itu melakukan tugasnya.


Eve meringgis saat pegawai salon itu menarik rambutnya. Padahal rambutnya sudah lurus kenapa harus diluruskan lagi? Menghabiskan uang saja, gerutu Eve dalam hati.


Cukup lama pengawai itu mempermak wajah Eve. Eve yang jarang berdandan, terlihat begitu memukau dengan dandanan natural dan sederhana itu. Sesuai perintah Leonardo agar tidak terlalu menor dan berlebihan.


"Sudah selesai Nyonya".


Eve terpaku menatap pantulan dirinya. Dia sampai berulang kali menepuk pipi nya menyakinkan bahwa itu adalah dirinya. Dulu ketika di make up saat menikah tidak secantik ini. Kenapa dia jadi tidak mengenal wajahnya sendiri? Memang benar kata orang bahwa barang mahal itu memiliki kualitas yang tinggi. Terbukti saat Eve di make up ditempat mahal ini, wajahnya berubah seratus persen.

__ADS_1


"Mari Nyonya saya bantu pilihkan gaun untuk anda". Pengawai menarik tangan Eve pelan agar wanita itu berdiri.


"Tapi saya mau .....".


"Tenanglah Nyonya, saya akan pilihkan gaun sesuai selera anda".


Eve hanya bergeming tak lagi bertanya. Tohh percuma pengawai ini seperti nya tidak mendengar pertanyaan nya malah selalu mengatakan kata tenang.


Eve memakai gaun berwarna peach, dengan panjang sampai mata kaki dan dibagian depannya ada belahan yang menampilkan kaki jenjangnya. Gaun itu sangat pas ditubuh rampingnya.


Rambut Eve sengaja digerai dan diberi sedikit gelombang, hingga rambut lurus hitam dan lebat itu terlihat indah memanjang.


"Nyonya cantik sekali". Puji pengawai itu tersenyum hangat sambil memperbaiki gaun Eve "Apa Nyonya calon istri Tuan Leon?".


"Ehh, bu-bukan Nona. Saya hanya pengasuh anaknya". Jawab Eve jujur tapi gugup.


Sang pegawai malah tersenyum. Mana ada majikkan mengajak pengasuh anaknya datang ke salon semahal ini. Eve pasti spesial dihati Leonardo, begitulah pemikiran sang pengawai.


"Silahkan pakai Nona".


Sang pengawai memberikan high heels, setinggi dua belas sentimeter.


Eve bingung, dia belum pernah memakai sepatu setinggi itu. Maklum tinggal dikampung, palingan yang sering dia pakai sandal jepit buat kesawah.


"Nona, saya tidak pantai memakainya. Bisa tidak yang Ballad saja". Pinta Eve malu-malu. Terlihat sekali dia seperti kampungan.


Eve mengangguk. Dia masih belum sadar dari perasaan syok nya. Berulang kali dia menatap pantulan dirinya dicermin, rasanya tidak percaya jika Upik Kayu seperti nya bisa jadi Cinderella.


"Astaga ini benaran aku? Kenapa beda sekali? Apa aku bermimpi?". Eve menepuk wajahnya menyakinkan dirinya bahwa dia sedang tidak bermimpi.


"Silahkan Nyonya pakai sepatu anda". Ucap sang Pengawai tersenyum ramah.


"Terima kasih". Eve mengambil sepatu itu lalu memasangkannya dikedua kakinya. Pas sekali.


"Ayo Nyonya. Tuan Leon sudah menunggu".


Eve gugup bukan main. Dia tidak tahu, kenapa wajahnya panas. Padahal sudah biasa didekat Leonardo. Tapi kenapa kali ini rasanya berbeda.


"Tuan".


Leonardo yang tengah asyik dengan benda pintar ditangannya langsung mengangkat pandangan.


Leonardo terpaku ditempatnya menatap Eve. Tanpa sadar mulutnya terbuka lebar. Benarkah ini Eve pengasuh putranya itu? Wanita yang biasa Leonardo lihat memakai baju biasa dengan rambut yang diikat asal. Benar-benar cantik, seperti bidadari.


"Tuan".

__ADS_1


"Ehhh iyaaaa". Leonardo tersadar "Ehem". Dia berusaha menormalkan detak jantung nya yang mulai tak karuan.


"Ayo". Leonardo mengulurkan tangannya agar Eve menyambut nya.


"Hah?". Eve yang tak mengerti hanya bisa bingung.


Melihat Eve yang tak juga meraih tangannya, Leonardo berinisiatif sendiri mengambil tangan wanita itu, lalu dia lingkarkan pada lengan nya.


"Tuan".


"Ikuti saja Eve jangan banyak bertanya".


Eve langsung bungkam. Dia menurut saja saat Leonardo membukakan pintu untuknya. Merasa tidak nyaman sekali, mana ada majikkan memperlakukan pembantu seperti Cinderella? Kalau pun ada itu hanya ada didunia novel atau dunia imajinasi, pikir Eve.


Leonardo masuk dengan antusias. Senyum mengembang dibibirnya. Jantungnya berdegup kencang. Sudah lama jantungnya ini tidak berirama tapi saat melihat Eve hari ini, ada sesuatu yang berbeda.


Leonardo kembali memarkir mobilnya didepan sebuah restorant mewah. Lagi-lagi Eve hanya mengangga dengan mulut terbuka lebar. Pertama kalinya dia menginjakkan kaki direstourant yang hanya bisa dia lihat di televisi atau di majalah-majalah terkini.


Keduanya masuk kedalam restorant. Sebelumnya Leonardo sudah memesan ruang VVIP untuknya dan Eve. Dia memang tidak suka tempat yang begitu ramai.


Lagi-lagi Eve menutup mulut tak percaya saat melihat sebuah meja yang sudah ditata rapih berbagai makanan. Ada lilin ditengah-tengah nya, padahal bukan malam hari.


"Eve". Leonardo mengenggam tangan Eve.


"Tu-tuan". Eve menatap Leonardo tak percaya.


"Mau kah aku berkencan dengan ku?". Senyum terbit diwajah tampan Leonardo.


"Tu-tuan". Eve masih belum sadar dari keterkejutan nya.


"Ayo duduk". Pria itu menuntun Eve duduk dikursi yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Entah kapan Leonardo menyiapkan semuanya, tidak ada yang sulit untuk orang kaya seperti nya.


"Eve. Setelah kupikir-pikir apa yang dikatakan Adelle ada benar nya juga. Aku ingin kau menjadi Ibu sambung Adelle". Leonardo menatap Eve penuh harap.


"Tapi Tuan saya hanya pengas.......".


"Sttttttttttt. Kita sama. Aku tidak mempermasalahkan status dan derajat mu. Yang penting kau bisa menjadi Ibu sambung Adelle dan menjadi istri yang baik untukku".


Eve terkesiap. Apa dia benar-benar bermimpi? Atau sedang berimajinasi?


"Bagiamana Eve?".


Eve terdiam sejenak. Bagaimana pun dia menolak takdir, jika memang ini jalan hidupnya. Eve hanya bisa menerima.


Eve mengangguk dengan senyum. Dia tak mampu berucap. Tidak menyangka jika wanita lusuh seperti nya bisa bersanding dengan seorang Leonardo, pria tampan dengan sejuta pesona.

__ADS_1


**Bersambung....


Ed & Ei**.


__ADS_2