Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Tak bisa hidup.


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Dokter mau kemana?". Tanya Susi melihat Orlando yang berjalan cepat keluar dari ruangan.


Orlando menarik nafas dalam "Ei hilang diculik Anggela, Baskoro dan Seselia". Jawab Orlando.


"Apa?". Pekik Susi


"Dokter Susi saya boleh minta tolong?".


"Minta tolong apa Dok?". Susi bisa melihat kekhawatiran diwajah Orlando.


"Tolong jaga Bunda saya. Ajak Silva". Pinta Orlando penuh harap.


"Baik Dok. Saya akan segera kesana".


"Saya antar". Ucap Orlando.


"Tidak perlu Dokter saya akan naik taksi. Dokter lanjut saja mencari Ei". Susi tersenyum manis padahal hatinya berdenyut sakit


"Terima kasih Dok". Tanpa sadar tanpa Orlando menepuk pundak Susi.


"Sama-sama Dokter". Senyum Susi


"Saya permisi". Orlando mellengang pergi dengan langkah lebar.


Susi menatap langkah Orlando dengan kecut. Sudah lama dia berdiri disini, menanti untuk ditatap oleh pria itu. Namun sampai saat ini pun Orlando masih enggan menatapnya.


"Kau terlihat sangat mengkhawatirkan Ei, Dok. Apa perasaanmu padanya masih seperti dulu?". Susi memegang dadanya "Kenapa sakit ya? Kau benar-benar orang yang tidak bisa ku gapai. Harusnya aku sadar diri bukan berimajinasi tinggi". Gumam Susi.


Dia melangkah lebar menuju lobby rumah sakit. Sambil menunggu taksi yang dia pesan.


.


.


.


.


Orlando menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Amarah tampak memuncak diwajahnya. Dari dulu Baskoro dan Seselia selalu menyiksa Eidra, tak pernahkah mereka puas menyakiti wanita itu?


"Awas kau Baskoro. Aku akan buat perhitungan denganmu". Orlando mencengkram kuat stir mobil nya.


"Ei semoga kau baik-baik saja. Bertahanlah Ei. Kau wanita yang kuat. Kau berharga bagi banyak orang. Dan aku tidak bisa hidup tanpamu. Meski aku tidak bisa memiliki mu, tapi melihat'mu bahagia bersama Edgar itu sudah membuatku bahagia". Tanpa permisi air mata Orlando menetes keluar.


Saat mendapat kabar dari Oscar bahwa Eidra menghilang, dia panik dan khawatir. Orlando tidak bisa membohongi perasaannya bahwa dia masih menyimpan rasa pada Eidra. Dia sedang berjuang melepaskan rasanya. Namun dia adalah pria yang tengah jatuh cinta pada istri orang. Bahkan sebelum Eidra menjadi istri orang, Orlando sudah menyukai gadis itu.


"Ei". Gumam Orlando dia menjalankan mobilnya tak tentu arah "Kau dimana Ei?". Lirih Orlando lagi.

__ADS_1


Drt drt drt drt drt drt


Segera pria itu meronggoh saku jas dokternya. Dia menggeser tombol hijau disana.


"Bagaimana Oscar".


"Share log. Aku akan segera kesana".


Orlando mematikan sambungan telponnya dan menancapkan gas dengan kecepatan tinggi.


.


.


.


.


"Ei".


Elizabeth terus menangis saat mendengar putrinya hilang. Tak bisa dipungkiri bayangan kehilangan Eidra itu masih terngiang dikepalanya. Dia pernah terpisah dengan Eidra dan dia tidak mau lagi jika hal itu sampai terjadi.


"Tenanglah El". Pristy berusaha menenangkan besannya itu "Mereka akan menemukan Ei". Ucap Pristy memeluk Elizabeth.


"Aku khawatir Pris. Aku takut terjadi sesuatu pada putriku. Dia sedang hamil. Kau tahu sendiri bagaimana liciknya Anggela? Aku takut dia mencelakai Ei, hikssss". Elizabeth terisak.


"Sayang, cup cup cup". Raina mengendong Baby Bara "Jangan menangis ya Nak, Aunty Ei pasti baik-baik saja. Kan ada Uncle Ed dan Uncle Leon yang jemput". Ujar Raina berbicara dengan putranya.


Erwin mengusap wajahnya kasar. Dia juga panik. Andai saja dia bisa berjalan sudah pasti dia juga akan mencari dimana Eidra. Baskoro dan Seselia, benar-benar tidak bisa diberi ampun, lihat saja nanti jika meteka tertangkap mereka takkan bisa merasakan udara segar.


"Sayang kasih ASI saja". Saran Erwin.


"Tidak mau sayang, dia terus saja menangis".


Raina sudah gegelapan memenangkan putranya. Pria kecil itu seakan merasakan juga kehilangan Eidra.


"Aunty Ei hiks.. Jangan tinggalin Adelle hiks hiks hiks. Adella tidak bisa hidup tanpa Aunty Ei, hiks hiks". Adelle menangis digendongan Eve.


"Nona Kecil tenang yaa... Nona Ei pasti baik-baik saja. Jangan menangis lagi yaaa".


"Hiks hiks Kak Eve. Dimana Aunty Ei, Adelle ingin beltemu Aunty Ei. Adelle makan bersama Aunty Ei. Ayo bawa Adelle Kak hiks hiks".


Eve berusaha menenangkan Adelle. Gadis kecil itu benar-benar rapuh. Adelle memang sangat menyayangi Eidra. Eidra memberikannya kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.


Pristy melepaskan pelukkan nya pada Elizabeth. Dia cukup merasa prihatin melihat kondisi Elizabeth yang berantakan. Elizabeth memberontak ingin mencari dimana Eidra, namun dia tidak di izinkan oleh Buana. Buana menugaskan para pengawal untuk menjaga Elizabeth jangan sampai dia mengambil keputusan gila.


"Eidra". Lirih Elizabeth dia menutup wajahnya.


Pristy hanya bisa menghela nafas panjang. Dia juga merasakan kehilangan menantunya itu.

__ADS_1


"Mom, bawalah Ibu ke kamarnya". Suruh Erwin.


"Baik Son".


Pristy mengajak Elizabeth kekamar nya. Meski sempat menolak tapi akhirnya Elizabeth mengikuti perintah Pristy.


Erwin menatap Adelle dia tersenyum simpul menatap gadis kecil yang menangis segugukan itu.


"Adelle".


"Hiks iya Uncle". Sahut Adelle terisak


"Sini sayang, lihat Baby Bara".


Adelle menurut dan turun dari gendongan Eve.


"Adelle tidak boleh menangis yaaa. Kalau Adelle menangis nanti Baby Bara nya akan ikutan menangis". Ujar Erwin mengelus lembut kepala Adelle.


"Tapi Adelle takut Aunty Ei kenapa-kenapa".


"Sttttt. Jangan bicara seperti itu yaaa. Aunty pasti aman kan ada Uncle Ed yang jaga".


Mendengar nama Edgar langsung membuat Adelle merenggut kesal. Dia malas menatap Uncle-nya itu yang selalu membuat nya naik darah.


"Ya sudah Adelle mandi. Terus makan dan tidur siang yaaa sama Kak Eve".


Adelle mengangguk tapi masih segugukan dia menyeka air matanya.


"Eve mandikan Adelle. Setelah itu tidurkan dia".


"Baik Tuan".


Erwin beralih pada istrinya.


"Sayang apakah dia sudah tenang?". Tanya Erwin menatap putranya yang sudah tertidur.


"Iya sayang dia sudah lebih baik".


"Ya sudah, bawa dia ke kamar dan istirahat lah". Ucap Erwin.


"Iya sayang".


Erwin mendorong memutar kursi rodanya menuju arah taman. Tatapan pria itu kosong. Dia juga merasakan panik tapi berusaha tenang. Dia tidak mau semakin menambah beban Kakak nya Edgar.


"Kau dimana Kakak ipar? Cepatlah pulang aku rindu berdebat denganmu". Lirih Erwin.


**Bersambung......


Ed & Ei**

__ADS_1


__ADS_2