Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Ketegaran hati Edgar


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sejak Eidra dinyatakan koma, Edgar menyiapkan ruangan VVIP yang dilengkapi dengan fasilitas mahal.


Edgar juga meminta kepada Orlando agar ketiga anaknya ditempatkan disatu ruangan yang sama dengan Eidra. Edgar ingin menemani keempat orang yang tengah berjuang melawan kematian itu.


Edgar memilih tinggal dirumah sakit. Bahkan sejak Eidra masuk rumah sakit, Edgar tak pernah pergi barang sedetik pun. Dia menjaga istri dan anak-anaknya dua puluh empat jam dan selalu memastikan bahwa keempat orang itu aman bersamanya.


Edgar sedikit trauma, akibat kecerobohan nya dalam menjaga Eidra, hingga membuat istrinya itu celaka. Coba saja tidak mengikuti kata istrinya dan tetap memperketat penjagaan Eidra, pastilah semua ini tidak akan terjadi. Namun menyesal pun tidak ada gunanya lagi. Semua sudah terjadi.


Edgar mengelap tubuh istrinya. Dia menggunakan kain basah untuk membersihkan tubuh Eidra, agar tetap wangi dan nyaman.


Edgar tak mengizinkan siapapun menyentuh anak-anak dan istrinya, termasuk Elizabeth, Pristy dan Margaretha. Dia memutuskan untuk merawat keempat orang itu sendiri dengan tenaga dan waktunya. Edgar ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk menjaga istri dan ketiga anaknya. Meski Edgar tidak tahu sampai kapan Eidra akan betah tertidur seperti ini.


"Sekarang kau sudah bersih dan wangi sayang. Aku ingin mengganti bajumu tapi tidak bisa". Ujar Edgar sendu "Coba kau bisa bangun, aku pasti bisa memasangkan baju ditubuhmu seperti biasa". Lirih Edgar.


Dia mengusap kepala Eidra. Membersihkan wajah Eidra dari kotoran menggunakan tissue basah. Wajah istrinya terdapat beberapa luka bekas pecahan kaca mobil.


Tak tahan. Tak tega. Air mata luruh lagi dipipi Edgar. Ternyata pura-pura kuat tak semudah yang Edgar bayangkan. Bagaimana pun dia berusaha tegar, tetaplah dia pria lemah dan rapuh saat melihat wanita yang begitu dia cintai terbaring tak berdaya.


"Ayo bangun sayang. Sampai kapan kau akan terus tertidur seperti ini. Aku merindukanmu. Ketiga kecambah itu belum memiliki nama, aku ingin kau sendiri yang memberi mereka nama. Karena nama yang kau berikan pada mereka adalah nama terbaik yang kelak akan membawa mereka hidup bahagia".


Secepatnya Edgar menyeka air matanya. Tidak, dia tidak boleh terus-menerus menangis. Dia harus kuat. Demi istri. Demi anak-anak nya. Edgar percaya keempat orang itu akan sembuh dan berkumpul bersamanya.


Edgar beralih pada ketiga bayi kembar yang juga terlelap bersama istrinya.


Ketiga bayi Eidra sudah melewati masa kritis nya. Namun mereka perlu penanganan khusus apalagi cairan itu sempat masuk kedalam tubuh anak-anak Eidra.


"Nak, kenapa kalian juga tertidur? Apa kalian tidak ingin menyapa Daddy? Daddy sendirian. Ayo bangun Nak, bantu Daddy untuk melewati ini. Kasihan Mommy kalian. Kalian anak-anak hebat dan kuat. Jadi kalian harus bertahan ya, biar kita berlima bisa berkumpul bersama". Ucap Edgar.


Edgar beralih pada bayi perempuan satu-satunya. Lagi-lagi dada Edgar terasa sesak melihat kondisi putrinya. Gadis kecil yang masih berwujud bayi itu, menggunakan oksigen untuk membantu bernafas. Didadanya dipasang alat sebagai pendeteksi kinerja jantungnya. Kulitnya mengelupas dan berwarna merah, bahkan putrinya sempat menangis dan yang keluar darah.


"Putri Daddy".


Bagaimana Edgar bisa kuat? Bagaimana dia bisa melewati ini? Kenapa dunia begitu kejam padanya? Dan kenapa harus anak-anak dan istrinya yang mengalami ini.


"Owe owe owe owe owe".


Gadis kecil itu menangis, seolah dia ikut bersedih bersama Ayahnya.


"Putri Daddy".

__ADS_1


Edgar hanya bisa menempelkan tangannya dikaca putrinya. Dia tidak bisa mengendong gadis kecil itu. Dia tidak bisa merengkuh tubuh munggil itu.


"Owe owe owe owe owe".


Tangisan gadis kecil itu menggema bersama tangisan Edgar. Tadi dia sudah berjanji untuk tidak menangis. Tapi ketika melihat putrinya menangis, dia juga menangis. Dia tidak bisa bayangkan bagaimana tersiksa nya tubuh kecil itu ketika jarum-jarum suntik itu menyakiti tubuh kecilnya.


"Tenang ya sayang ya. Putri Daddy tidak boleh cenggeng. Putri Daddy harus kuat. Ada Daddy, Mommy dan Kakak-kakak yang akan menjaga mu. Kuat ya Nak".


Sambil terisak Edgar berbicara dengan putrinya. Berharap gadis kecil itu mendengar ucapannya. Rasanya Edgar tidak kuat? Apa yang harus dia lakukan? Jika bisa, Edgar ingin menggantikan posisi ketiga orang itu. Biar dia saja yang sakit, asal tidak dengan istri dan anak-anaknya.


.


.


.


.


"Apa kalian sudah melakukan penyelidikan?". Tanya Oscar pada beberapa ajudan nya.


"Sudah Dan. Di berkas ini, semua data-data yang anda butuhkan sudah kami satu satukan". Jawab salah satu ajudannya memberikan map berisi beberapa berkas yang Oscar perlukan.


"Pastikan kalian awasi pergerakan Tuan Robby dan Nyonya Astrid. Pantau apa yang mereka lakukan disana. Aku curiga mereka terlibat". Tungkas Oscar.


"Siap Komandan. Kami permisi".


Oscar membuka map yang diberikan oleh bawahannya. Dia membaca dengan teliti data-data yang diberikan oleh anak buahnya.


"Brayn Domain". Gumam nya "Apa benar Nona Anggela mengandung anak dari Tuan Brayn?". Gumam Oscar.


Oscar mengambil benda pipih itu diatas meja. Saat mendengar handphone berbunyi.


"Iya Tuan ada yang bisa saya bantu".


"Baik. Saya akan segera kesana".


Oscar menutup berkasnya, mengambil kunci mobil dan keluar dari ruangannya.


Dia meninggal kan kantor polisi dan menuju sebuah gedung pencakar langit yang begitu mengulang tinggi.


"Selamat datang Pak Polisi. Anda sudah ditunggu Tuan Leon". Sapa pengawal Leonardo.

__ADS_1


"Terima kasih".


Oscar melangkah masuk kedalam perusahaan milik Leonardo yang terlihat mewah itu.


"Selamat siang Tuan". Sapa Oscar melangkah masuk


"Silahkan masuk Pak Oscar".


Disana ada Erwin dan Julio yang juga tampak berbincang-bincang.


"Bagaimana apa sudah ada informasi tentang Brayn?". Tanya Leonardo.


Leonardo tak menyangka bahwa Brayn berkhianat. Dia juga tidak tahu jika Brayn memiliki hubungan khusus dengan Anggela. Padahal dulu Brayn adalah sahabat Erwin dan mereka sering berkumpul bersama setiap akhir pekan.


"Seperti dugaan saya dari awal jika Tuan Brayn memiliki hubungan khusus dengan Nona Anggela". Sahut Oscar.


Terdengar helaan nafas panjang dari Leonardo.


Erwin menggeleng tak percaya jika Brayn terlibat hubungan gelap dengan Anggela. Pantas saja Brayn selalu menolak wanita lain ternyata dia masih mengharapkan Anggela.


"Apa rencana kita selanjutnya Kak?". Tanya Erwin


"Menangkap Bryan". Sahut Leonardo.


"Saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk menangkap Tuan Brayn, Tuan". Ujar Oscar "Tapi masih ada satu lagi yang harus kita waspadai". Sambung Oscar.


"Siapa?". Kening Leonardo berkerut.


"Tuan Robby dan Nyonya Astrid". Sahut Oscar.


Erwin mendelik "Kenapa dengan mereka?". Tanya Erwin tak paham.


"Menurut informasi yang saya dapat, Tuan Robby dan Nyonya Astrid terlibat dalam kasus perencanaan penculikan Nona Eidra". Sahut Oscar.


"Bagaimana bisa? Bukankah mereka selama ini keluar negeri?". Tanya Erwin tak percaya.


"Ini Tuan". Oscar menunjukkan video yang sempat dia ambil dari anak buah nya.


**Bersambung....


Ed & Ei**

__ADS_1


__ADS_2