Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Ungkapan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bima dan Susi sedang menikmati pantai. Keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


"Apa sudah lebih baik Dok?". Tanya Bima melirik Susi.


Susi mengangguk "Terima kasih sudah mengajak saya kesini Dok. Sudah lama sekali saya tidak menikmati pantai seperti ini". Sahut Susi mencoba tersenyum menutupi luka dihatinya.


"Syukurlah". Sambung Bima "Bagaimana perasaan Dokter terhadap Dokter Orlando?". Tanya Bima ingin tahu. Meski hatinya tergores ketika menanyakan hal itu.


Susi menghela nafas "Perlahan saya bisa menghilangkan perasaan saya terhadap Dokter Orlando. Mungkin ini hanya rasa kagum saja Dok. Saya sadar, saya memang tidak pantas untuk Dokter Orlando". Susi tersenyum kecut "Dulu dia menyukai Ei. Lalu menikah dengan Nona Lisna dan mereka bercerai. Saya pikir itu kesempatan saya mendekati dia, tapi ternyata saya salah. Dia bukan jodoh saya, bagaimana pun saya berusaha mendekat, dia tidak akan pernah jadi milik saya". Imbuh Susi mencoba menutupi luka nya.


"Sabar ya Dok. Dokter harus bisa membuka hati untuk orang baru".


Susi mengangguk dan memaksakan senyum diwajahnya. Perlahan dia bisa bangkit dari patah hatinya. Bukan pertama kali dia patah hati. Ketika Orlando mengaku menyukai Eidra, dia juga patah hati. Satu kenyataan lagi saat Orlando menikahi Lisna, Susi juga patah hati. Saat Orlando bercerai dengan Lisna, Susi merasa memiliki kesempatan untuk mendekati Lisna. Tapi bagaimana pun usahanya, Orlando sama sekali tak menatapnya. Dia hanyalah penganggum rahasia.


Sampai akhirnya Lisna kembali. Mereka rujuk lagi. Susi mundur perlahan. Mencoba ikhlas. Mencoba menikmati setiap luka yang membelut hatinya. Mundur lebih baik, dari pada berharap sesuatu yang tidak pasti.


"Dok".


"Iya Dok?". Tanya Bima "Ada apa?". Tanya Bima lembut


Susi tampak ragu "Bagaimana kalau Dokter bantu saya buat bangkit dari patah hati?".


"Maksud Dokter?". Tanya Bima tak mengerti


"Saya mau Dokter bantu saya untuk melupakan Dokter Orlando". Ucap Susi yakin "Apakah Dokter mau?". Tanya Susi penuh harap. Dia yakin jika Bima bisa membuatnya menjadi Susi yang dulu lagi.


Bima terdiam sejenak. Dia tampak berpikir. Sejujurnya dia memang sudah lama menyukai Susi. Hanya saja Bima takut mengungkapkan perasaannya. Takut jika Susi menolaknya. Apalagi Susi saat itu menyukai Orlando.


"Apa yang membuat Dokter yakin memilih saya?". Bima menatap wajah Susi. Dia ingin tahu apa yang membuat dokter ini memilih dia. Bima tidak mau dijadikan tempat pelampiasan saja. Dia punya perasaan.


"Ini Dok". Susi menujuk posisi hatinya "Hati saya memilih Dokter. Hati saya yakin bahwa Dokter lah yang bisa membuat saya bangkit kembali". Jelas Susi.


Bima mengangguk. Dia merubah posisinya dan menghadap Susi. Bima mengenggam tangan Susi.


"Dokter saya ingin jujur, sejak pertemuan pertama kita saya sudah menyukai Dokter. Tapi saat itu saya tidak berani mengungkapkan perasaan saya. Karena saya tahu jika Dokter menyukai Dokter Orlando. Saya mau membantu Dokter melupakan Dokter Orlando. Saya akan mencintai Dokter dengan tulus tanpa alasan apapun". Ungkap Bima.


Susi berkaca-kaca. Ini pertama kalinya seorang pria mau belajar mencintainya. Biasanya dia yang selalu mencintai dalam diam.


"Terima kasih Dok. Saya juga akan belajar mencintai Dokter".


Susi memeluk Bima dengan erat. Jantungnya berdegup kencang saat Bima mengatakan sudah lama menyukainya. Susi saja yang tidak sadar atas perasaan dokter itu padanya. Padahal terlihat sekali jika Bima menyukainya.


Bima membalas pelukkan Susi. Dia berjanji dalam hidupnya akan menjaga wanita yang berada dalam pelukan nya ini.

__ADS_1


.


.


.


.


Bima dan Susi meninggalkan pantai. Keduanya tampak bahagia dan saling bergandengan tangan. Perasaan keduanya sedang berbunga-bunga, seperti bunga mekar ditaman pada pagi hari.


"Terima kasih Dok". Ucap Susi masuk saat Bima membukakan pintu mobil untuknya.


"Sama-sama". Balas Bima tersenyum hangat.


"Jangan panggil Dokter lagi. Panggil saja aku Bima. Kita sekarang pasangan kekasih, bukan sekedar teman kerja". Ucap Bima.


Susi tersenyum hangat "Iya Bim. Panggil aku juga Susi ya".


Keduanya terkekeh sambil saling bercerita satu sama lain. Berharap awal dari hubungan ini baik-baik saja. Susi akan belajar mencintai Bima. Dia akan menerima Bima setulus hatinya tanpa embel-embel Orlando.


Drt drt drt drt drt


Ponsel Susi bergetar, segera wanita itu meronggoh ponselnya.


"Hallo Tuan Julio. Baik kami akan segera kesana". Susi langsung mematikan sambungan telponnya


"Tuan Edgar memanggil kita ke villa". Sahut Susi menyimpan ponselnya.


"Ada apa?". Tanya Bima penasaran. Setahunya tidak ada lagi yang perlu di cek. Eidra dan ketiga bayinya juga sudah sehat.


"Tidak tahu. Mungkin ada penting".


"Ya sudah kita kesana yaaaa".


Susi mengangguk. Bima melajukan mobilnya menuju villa Edgar yang lumayan jauh dari kota. Sekitar dua jam menuju kesana.


Sampai divilla Edgar, kedua orang itu langsung turun. Mereka penasaran, ada urusan apa sehingga mereka dipanggil disini?


"Selamat siang Tuan". Sapa Susi dan Bima bersamaan.


"Siang". Jawab Edgar sambil menggendong bayinya.


"Mas Bima. Kak Susi". Sapa Eidra "Ayo Mas. Kak. Duduk dulu". Suruh Eidra.


Kedua orang itu duduk. Bima dan Susi sedikit bingung, ada apa mereka dipanggil disini?

__ADS_1


"Ada apa Tuan memanggil kami kesini?". Tanya Susi sopan.


"Biar istriku yang jelaskan". Sahut Edgar dia masih fokus menggendong putranya.


"Ada apa Ei?". Tanya Bima


"Sebentar Mas".


Eidra mengambil ponselnya. Wanita itu begitu sering mengotak-atik ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan dengan benda pipih itu.


"Ohhh ya Kak, Kirim nomor rekening kalian".


Kening Bima dan Susi berkerut


"Untuk apa Ei?". Tanya Bima penasaran.


"Tentu saja untuk mengirim uang. Memangnya fungsi rekening apa lagi?". Ketus Eidra "Sudah cepat, katakan nomor rekening kalian". Desak Eidra.


Walaupun bingung keduanya tetap memberi kan nomor rekeningnya pada Eidra.


"Sudah kukirim yaaa. Silahkan cek saldo kalian". Eidra meletakan ponselnya.


Benar saja selang beberapa menit kemudian ponsel keduanya terdengar notifikasi pesan masuk.


Mata Bima membulat sempurna saat melihat rekening saldonya. Uang yang ditransfer Eidra cukup banyak. Begitu juga dengan Susi.


"5 M". Gumam keduanya kompak.


"Iya Kak. Itu untuk kalian, karena sudah merawat ku dan ketiga kecambah hasil lembur suamiku". Ujar Eidra


"Sayang". Edgar hanya bisa mendesah. Istrinya ini jika berbicara tidak pikir-pikir.


"Kalian pakai buat apa saja yaaa... Ohh ya buat biaya nikah juga boleh". Goda Eidra. Tak lupa dia menarik turunkan alisnya.


Keduanya menjadi salah tingkah. Susi hanya tersenyum malu. Begitu juga Bima.


"Terima kasih Ei. Terima kasih Tuan Edgar". Ucap keduanya kompak.


"Sama-sama Kak Susi. Mas Bima. Jangan lama-lama ya Mas Bima, nanti bisa expayet". Eidra cekikian


"Sayang". Tegur Edgar menggeleng gemes.


"Iya Ei".


Padahal dalam hati Bima sudah kesal setengah mati. Eidra ini bicara asal keluar saja. Main exspayet segala lagi. Memangnya bisa exspayet walau tidak dipakai? Pikir Bima dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


Ed & Ei.


__ADS_2