
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sejak mengetahui Buana adalah Ayahnya, Edgar meminta Buana untuk tinggal bersama nya divilla. Dia ingin menebus tiga puluh tahun yang hilang sejak perpisahan mereka. Edgar ingin merawat Ayahnya itu.
Sesekali Keizo dan Pristy juga datang berkunjung di villa Edgar. Mengunjungi putra, menantu dan kedua Besannya. Kebersamaan yang membuat hubungan mereka semakin erat.
Erwin dan Raina setiap hari datang ke villa Edgar. Karena Baby Bara selalu menangis jika tidak Eidra yang menidurkannya. Bayi tampan itu seolah sangat menyukai Eidra dan ketika menangis Baby Bara selalu tenang jika Eidra yang mengendong nya. Tak ubahnya jiwa cemburu Edgar memakai bayi itu, bertambah lagi saingannya satu yaitu Bara. Adelle sudah berhasil Edgar singkirkan, sekarang bayi laki-laki itu harus dibuat tidak betah bersama istrinya, sungguh Edgar psikopat tak ada obatnya.
"Ayo makan... Jangan malu-malu. Ayah Mertua. Ibu... Silahkan ambil yang mana kalian suka... Ini semua bukan masakkan Ei yaaa". Seru Eidra. Yang lain terkekeh gemes.
"Pelan-pelan sayang". Edgar membantu istrinya duduk.
Usia kandungan Eidra memasuki bulan kedelapan. Satu bulan sepuluh hari lagi bayinya akan segera hadir melihat dunia. Ahhh rasanya Eidra tak sabar.
"Terima kasih Bby". Eidra duduk dengan susah payah. Perutnya sangat besar maklum dihuni tiga nyawa didalam sana.
Buana tersenyum simpul melihat cara Edgar memperlakukan Eidra. Buana jadi teringat masa mudahnya, namun dia waktu itu tidak memperlakukan istrinya dengan baik lantaran mereka menikah karena perjodohan, bukan karena cinta. Namun saat waktu terus berjalan Buana bisa menerima kehadiran istrinya dan sampailah mereka dikaruniai seorang putra yaitu Edgar.
Mereka semua makan dengan lahap sesekali diselingi dengan obrolan. Apalagi celetukkan Eidra dan Adelle membuat Mereke tertawa geli. Eidra, Ibu hamil itu memang cocok dijuluki gadis mesin jahit, dia berbicara tanpa jeda dan entah berapa ratus juta kosa kata dikepalanya, pikir Julio.
Villa mewah Edgar menjadi ramai. Villa yang biasanya hanya dihuni olehnya, Eidra dan asistennya Julio serta semua pelayan yang bekerja disana menjadi ramai tak terkendali.
Kedatangan anggota baru keluarga mereka membuat kebersamaan itu semakin terasa. Leonardo yang awalnya tidak mau tinggal disini, harus mengalah atas permintaan Eidra. Apalagi Adelle dan Elizabeth tidak mau jauh dari Eidra, membuat Leonardo mengalah dari pada berdebat. Karena Leonardo sudah merasakan bagaimana rasanya berdebat dengan eidra. Sampai dia guling-guling tak merajuk pun tidak akan menang.
Villa yang terdiri diatas dua hecktar persegi itu mengulang tinggi. Fatamorgana permandangan laut menambah keindahan villa itu. Tidak jauh dari sana, pengunungan juga terlihat tinggi. Taman-taman yang Edgar buat ditumbuhi oleh bunga-bunga berkualitas yang langsung dibeli dari luar negeri menjadi keindahan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Siapapun yang melihat keindahan villa Edgar ingin berlama-lama menikmati dunia yang berbentuk surga itu.
__ADS_1
Edgar membutuhkan waktu bertahun-tahun agar villa ini bisa berdiri kokoh. Villa yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas mewah bak hotel bintang lima itu selalu mampu membuat orang terpukau. Entah berapa milyar atau bahkan triliun yang Edgar keluarkan untuk membangun villa itu.
Kekayaan Edgar yang tak terhitung itu, tentu bukan masalah yang rumit hanya untuk membuat bangunan ini. Dulu hidup Edgar memang didedikasikan untuk mencari uang. Edgar berpikir dengan uang dia bisa melakukan apa saja, memiliki apa saja termasuk cinta dan kebahagiaan. Namun, semua sirna saat dia mengalami kecelakaan dan lumpuh. Anggela meninggalkannya. Leonardo berkhianat. Bagara sang Kakek meninggal karena kecelakaan itu.
Semua yang ada dihidup Edgar menghilang. Dia juga diasingkan dan ditepikan divilla ini. Jauh dari orang-orang jauh dari perkotaan. Gelar yang dulu dia terima sebagai CEO terbaik dan terkaya hilang dalam sekejap bersama kenyataan yang mengubur semua mimpinya.
Edgar memang kaya. Sejak menginjak dewasa dan dipilih menjadi penerus kerajaan bisnis Bagara, dia mulai berambisi menjadikan uang prioritas utama hidupnya. Eidra saja sampai bingung menggunakan uang suaminya, dia tidak tahu mau diapakan uang sebanyak itu. Padahal Eidra hanya melihat uang dan mas batangan Edgar saja. Belum lagi, asset-asset berharga Edgar. Seperti perusahaan, saham dan usaha-usaha lainnya. Yang mungkin uang didalamnya lebih banyak dari uang yang ditunjukkan oleh Edgar pada Eidra.
.
.
.
.
"Apakah sakit sayang?". Tanya Edgar khawatir melihat istriny ayah kesusahan dalam berjalan.
"Tidak Bby. Hanya saja susah berjalan. Mereka sangat berat". Keluh Eidra memegang perutnya "Tapi aku bahagia, aku tidak sabar. Satu bulan sepuluh hari lagi. Ahhh rasanya aku ingin membeli waktu". Celetuk Eidra.
Edgar terkekeh. Dia mendudukan istrinya dibibir ranjang.
"Bby".
"Iya sayang?". Tanya Edgar lembut "Ada apa? Apa perut'mu sakit atau tidak nyaman?". Cecar Edgar
__ADS_1
Eidra menggeleng "Aku merasa ada yang aneh?".
Kening Edgar berkerut "Aneh kenapa sayang?". Tanya Edgar tak mengerti. Jangan sampai istrinya ini merasakan kesakitan, aduhh bisa hancur hati Edgar.
"Ayah Mertua dan Ibu". Sahut Eidra.
"Daddy dan Ibu?". Gumam Edgar "Ada apa dengan mereka?". Ucap Edgar lembut. Dia berjongkok didepan istrinya sambil menatap wanitan hamil itu.
"Aku merasa mereka memiliki hubungan dimasa lalu. Aku bisa lihat jika Ayah Mertua seperti memiliki rasa pada Ibu". Seru Eidra.
Edgar terkesiap. Dia tidak tahu masa lalu Ayahnya. Yang Edgar tahu jika dulu Ayah nya menikah karena perjodohan dengan Ibu nya yang warna negara Inggris.
"Aku tidak tahu sayang. Daddy tidak pernah menceritakan masa lalu nya padaku". Jawab Edgar "Ya sudah jangan dipikirkan lagi. Ayo kita tidur". Ajak Edgar berdiri sambil membantu istrinya berbaring.
"Pelan-pelan sayang".
"Iya Bby".
Eidra berbaring dengan susah payah. Sekarang dia tidak bisa lagi berbaring terletak karena perutnya akan sakit jika berbaring dengan posisi seperti itu. Eidra harus berbaring menyamping dan menatap kearah suaminya..
Edgar berbaring disamping istrinya. Jujur saja sejak Eidra dinyatakan hamil, Edgar tak pernah lalu meminta haknya sebagai suami. Bukan Edgar tak ingin menyentuh istrinya, dia hanya takut jika anak-anaknya didalam sana akan kesakitan dan istrinya juga kesakitan.
Padahal Eidra sering menyuruh suaminya melakukan nya. Namun Edgar tak mau. Bagi Edgar hasratnya tidak penting, yang paling penting adalah Eidra dan anak-ananya. Walau dokter tidak melarang hubungan suami istri padanya tapi Edgar tetap tidak mau menyakiti istrinya. Biarlah, dia menderita menahan hasratnya dan nanti jika istrinya sudah selesai melahirkan dan sudah boleh berhubungan suami istri, maka dia akan buka puasa. Edgar akan minta lima ronde sekaligus, mumpung kakinya sudah sembuh.
Bersambung....
__ADS_1
Ed & Ei