
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Enam belas tahun kemudian........
"Pagi Daddy. Pagi Mommy. Pagi Kakak-kakak".
Seorang gadis cantik sudah siap dengan pakaian rapihnya. Tas munggil menggantung dibahunya.
"Pagi juga sayang".
"Pagi Nak".
"Morning Girl".
Balasan dari orang-orang yang sudah menunggunya dari tadi dimeja makan.
"Sarapan apa hari ini kita Mom?". Dia duduk dikursi samping sang Ibu.
"Nasi goreng seafood". Jawab wanita paruh baya yang masih cantik.
"Wahhh pasti enak. Kalau masakkan Mommy selalu the best". Pujinya
"Iya donkkkk".
"Berhenti memuji Mommy Girl. She is my wife, hanya Daddy yang boleh memujinya". Ujar sang Ayah menatap putrinya tajam. Pria rapuh baya yang sudah berubah itu semakin cemburuan saja.
"Cih, Daddy pikir Mommy hanya milik Daddy. Mommy milik kita semua Dad". Gerutu gadis itu mengambil piring yang diberikan sang Ibu "Terima kasih Mommy". Dia tersenyum hangat pada wanita yang sudah melahirkan nya itu.
"Sama-sama Nak". Balasnya tersenyum simpul.
"Jangan tersenyum padanya sayang. Kau ini, senyum mu itu milik ku". Wajahnya langsung berubah saat mendengar ucapan protes suami tuanya.
"Bby, kau ini tidak berubah". Ketusnya duduk dan ikut sarapan bersama suami dan anak-anak nya.
Sedangkan dua pria kembar yang sedari tadi sarapan. Menatap sang Ayah dengan jenggah. Ayah nya itu tak berubah juga. Padahal pada anak perempuan sendiri saja cemburu. Posessif semakin jadi. Apalagi istrinya masih terlihat begitu cantik, belum ada uban yang tumbuh di rambut kepalanya. Sedangkan dia, kepalanya saja sudah memutih karena usia.
Mereka makan dan sesekali diselingi candaan. Sang Ayah terus saja berdebat dengan ketiga anaknya, karena memperebutkan istrinya itu. Entahlah, dia hanya tidak mau perhatian istrinya terbagi. Apalagi anak-anak nya sudah dewasa, tampan dan juga cantik. Takut saja jika cinta istrinya lebih besar kepada anak-anak nya dari pada kepada dirinya.
"Suapi aku sayang". Renggeknya manja. Padahal sudah tua.
"Cih, aki-aki masih saja manja". Sindir putra keduanya.
Dia tak mengubris dan malah menyambut suapan sang istri.
__ADS_1
"Bby, kenapa kau semakin hari semakin manja yaaaa? Aku heran, dulu waktu Ibu Mertuanya mengandung mu, dia mengidam apa?". Wanita itu tampak berpikir keras. Heran dan aneh dengan suaminya ini.
"Iya Mom. Aku juga heran. Apa sebenarnya Daddy ini lahir kembali, hanya tubuhnya saja yang tua tapi pikiran nya masih anak-anak?". Sambung sang putri menutup mulutnya menahan tawa. Apalagi melihat wajah masam Daddy menyebalkan nya.
"Kalian memojokkan Daddy?". Dia menatap ketiga anaknya tajam. Sedangkan sang istri menggeleng sambil tersenyum gemes saja.
"Tidak". Jawab ketiga kembar itu kompak sambil menggeleng kan kepala
"Bilang saja kalian itu ingin merebut Mommy dari Daddy kan?". Tudingnya.
"Cih, pikiran mu itu terlalu tua Dad. Mommy milik kita bersama bukan hanya milik Daddy saja".
Sang istri memutar bola matanya. Malas. Suami dan anaknya setiap hari memperdebatkan dirinya. Masalah rebut merebut. Astaga, apa tadi kata putranya milik bersama? Memangnya dia seperti SCTV satu untuk semua?? Wanita itu geleng-geleng.
"Ck, kalian ini kenapa selalu berdebat sih dimeja makan?". Gerutunya "Kau juga Bby. Sudah tua masih saja berdebat dengan anak kecil". Protesnya
"Kami bukan anak kecil Mommy". Protes ketiga kembar itu bersamaan.
"Ohh iya Mommy lupa kalian sudah besar ya anak-anak Mommy". Wanita itu tersenyum smirk. Dipastikan setelah ini pasti ada hukuman untuk ketiga anaknya.
"Jangan aneh-aneh Mom. Ini masih pagi, ada meeting mendadak yang harus aku jalani". Ucap si sulung.
"Iya Mom. Aku juga banyak pasien dirumah sakit". Yang kedua melirik arloji yang melingkar ditangannya.
"Dibutikku ada beberapa rancangan yang harus aku segera aku selesaikan". Ucap yang bungsu.
Satu... Dua... Tiga..
"KABUR".
"Triple El". Teriak sang Ayah. Namun ketiga kembar itu malah keluar sambil cekikikan tertawa.
Sang Ayah mendelik menatap istrinya yang tersenyum smirk.
"Sayang jangan hukum aku. Apa kau tidak kasihan pada suami tampanmu ini?". Renggeknya memohon agar tidak dihukum.
"Cih kau bukan tampan Bby. Tapi tua. Tua Bby". Sahut sang istri penuh penekanan tak lupa dia cekikikan melihat wajah frustrasi suaminya.
"Baiklah, aku akan menerima hukuman apa saja. Tapi jangan suruh aku tidur diluar. Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu". Ucapnya sendu.
"Bagus". Wanita itu menarik turun kan alisnya sambil tersenyum devil "Lagian aku heran Bby, pada anak sendiri saja cemburu. Ketiga kecambah itu juga, kenapa bisa nakal sekali seperti mu. Kalian itu aneh".
"Jangan lupa sayang, sifat mereka itu gen dari mu juga". Ketus suaminya.
__ADS_1
"Ohhh baik lah. Sekarang cepat cuci piring. Itu hukuman pertama untukmu". Ujarnya
"Sayang kenapa kau tega sekali menyuruh ku mencuci piring? Suamimu ini seorang CEO ternama, masa disuruh cuci piring". Protes nya.
"Itu dulu Bby dulu. Bukan sekarang". Dia mengumpulkan piring kotor bekas sarapan mereka "Ya sudah ayo bantu aku".
Terpaksa pria itu mengikuti keinginan istrinya. Itulah hukuman yang selalu dia terima setiap hari mencubit piring, akibat dirinya yang suka berdebat dimeja makan bersama ketiga anaknya.
"Lihat saja nanti, Daddy akan balas perbuatan kalian. Gara-gara kalian, Daddy dihukum oleh Mommy". Gerutunya nya dalam hati.
Para pelayan hanya menggeleng gemes melihat tingkah keluarga bahagia itu. Villa yang dulu nya begitu sunyi akan ramai oleh perdebatan tak berunfaedah dari suami dan anak-anak nya, hanya merebutkan seorang wanita.
Mereka terlihat aneh, tapi justru membuat orang yang melihat mereka begitu gemes. Ketiga kembar yang dulu dipanggil kecambah itu, kini telah tumbuh dewasa. Wajah cantik dan tampan menjadi ciri khas ketiganya. Belum lagi keahlian yang mereka miliki. Membuat daya pikat tersendiri.
"Sayang capek". Renggeknya.
Sang wanita tersenyum menggeleng. Dia jadi kasihan menghukum suaminya. Suaminya memilih hukuman mencuci piring dari pada tidur diluar, karena tidak bisa tidur jika tidak memeluk istrinya.
"Ya sudah Bby. Biar dilanjutkan pelayan saja ya". Dia mengambil tangan suaminya lalu mengelap tangan pria itu yang basah "Maaf menghukum mu, habis nya kau ini ingin membuatku sakti saja".
"Salut sayang". Rapatnya.
"Iya itu maksudnya". Ujarnya "Ya sudah ayo. Aku akan buatkan kopi untukmu. Temani aku ke perpustakaan yaaa". Imbuhnya lagi.
"Iya sayang". Pria berusia itu tersenyum hangat menatap wajah istrinya.
Edgar dan Eidra. Setelah lima belas tahun berlalu, kemesraan keduanya tak lekang oleh waktu. Sering ketiga anak kembarnya cemburu melihat keharmonisan kedua orangtuanya. Bahkan selama menikah kurang lebih 23 tahun, tak pernah terdengar pertengkaran diantara keduanya. Jika perdebatan sudah setiap hari.
Mereka berdua selalu kompak dalam segala hal. Edgar yang posessif karena dirinya semakin tua dan ditumbuhi uban. Sedangkan Eidra, dia masih saja cantik bahkan berlipat kali ganda. Jika dilihat dia dengan Triple El, banyak yang menyangka bahwa mereka saudara bahkan pernah ada yang menyangka jika Eidra kekasih dari putra sulungnya, Eleano. Hal itulah yang semakin membuat api cemburu Edgar berkobar-kobar.
**Bersambung......
Takdir cinta Ed & Ei
Hai guys, sesuai permintaan kalian author siapin dehhh ekstra Part nya🤠Tapi ini udah kelanjutan mereka dewasa yaaaaaa.....
Author bakal up 1 bab perhari atau bisa lebih tergantung dari mood yaaa🤣🤣🤣
Oh ya kemarin yang nanyain kapan Leon dan Eve nikah, kalian bisa baca di bab Takdir Cinta Buana & Elizabeth yaahh, sengaja author skip biar gak kepanjangan.... Wkwkwkwkwk.
Okehhh doainnn author semoga sehat selalu dan bisa selalu up cerita ini buat kalian... Makasih buat yang udah mau ikutin cerita Author...
Jika ada kritik dan masukkan sile coret-coret dibawah yaa, jangan malu-malu kata EidraðŸ¤
__ADS_1
Makasih...
Gbu**......