Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Ekstra Part 4


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Selamat siang semua".


Ketiga kembar itu masuk kedalam dengan senyum tak sabar. Terutama Elsyia. Sementara Eleano dan Elnaro hanya menggeleng saja.


"Mommy".


Elsyia berhambur memeluk Eidra tanpa peduli dengan wajah kesal sang Ayah.


Eidra membalas pelukan putrinya. Elsyia memang begitu manja. Sangat manja malah. Jika Eidra wanita mandiri, maka berbeda dengan Elsyia yang manja bukan main.


"Jangan lama-lama memeluknya. Itu istri Daddy". Protes Edgar jenggah


"Yang bilang Mommy istriku siapa Dad?". Elsyia melepaskan pelukannya sambil memincingkan mata kesal pada sang Ayah.


"Sudahlah jangan bertengkar ayo kita makan". Ajak Eidra.


Mereka semua menuju meja makan. Edgar tak memberi kesempatan pada putrinya untuk bermanja-manja pada Eidra. Tidak. Tidak. Edgar tidak akan rela jika Eidra lebih perhatian pada Elsyia dari pada dirinya.


"Sama Kakak saja Dek". Elnaro merangkul bahu adiknya "Nanti dirumah kita kerjain Daddy. Kita buat dia tidur diluar". Bisik Elnaro


Wajah Elsyia langsung sumringah "Wahh ide bagus Kak. Biar si aki-aki itu tahu rasa". Elsyia menatap Edgar dengan senyuman devil. Mirip sekali seperti Eidra saat merencanakan sesuatu agar Edgar mau meminum ramuan cinta buatannya.


Mereka makan. Triple El benar-benar jenggah menatap keromantisan kedua orangtuanya. Sungguh membuat iri saja.


"Sayang suapi aku ya". Renggek Edgar tak peduli jika ini dirumah Erwin.


"Dasar manja". Sindir Elsyia.


"Bilang saja kau iri". Sahut Edgar menerima suapan istrinya "Terima kasih sayang aku mencintaimu".


"Huweekkkkkkkkkk". Kompak ketiga kembar itu ingin muntah mendengar gombalan Ayah mereka. Sudah tua juga tidak kapok-kapoknya.


Erwin dan Raina hanya bisa menggeleng saja. Dari dulu mereka sudah biasa menyaksikan pasangan yang mereka dunia milik nya berdua. Sedangkan yang lain hanya menumpang.


"Paman Edgar, kenapa kau manja sekali? Padahal kau sudah tua". Shella ikut meledek Edgar tak lupa dia cekikikan sendiri.


"Suka-suka Paman lah. Kan sama istri sendiri". Sahut Edgar tak merubah sifatnya.


"Yahhh suka-suka mu lah Paman". Shella memutar bola matanya malas.


Mereka makan. Senang sekali melihat semua nya berkumpul lengkap. Belum lagi nanti Adelle dan Alfredo pasti akan lebih ramai.


Meja makan terdengar suara begitu ramai. Obrolan hangat itu selalu membawa pada tawa gemes. Apalagi celetukkan Eidra, Elsyia dan Shella yang paling cerewet. Sementara Raina memang tidak banyak omong dia hanya tersenyum-senyum saja.


Elsyia dan Shella sangat suka mengerjai Edgar. Melihat wajah pria tua itu kesal menjadi hiburan yang tidak boleh dilewatkan. Sesekali mengerjai singa pencemburu, padahal bukan hanya sekali Elsyia mengerjai Ayah nya, sudah sering. Jika dikutuk jadi Maling Kundang, mungkin batunya akan bertumpuk-tumpuk.


.

__ADS_1


.


.


.


Julio melangkah masuk kerumahnya. Edgar memilih pulang bersama ketiga anaknya dan menyuruh Julio pulang tanpa mengantarnya.


Jarak villa dan kota cukup jauh jadi dia kasihan membiarkan Julio pulang, apalagi hari sudah menjelang.


"Baru pulang sayang?". Julia menyambut suaminya.


"Iya sayang". Julio memberikan ciuman singkat dikedua pipi istrinya.


"Papa". Sapa seorang gadis cantik. Putri bungsu Julia dan Julio.


"Iya Nak". Julio tersimpul saat putrinya mencium punggung tangannya "Dimana Kakak-kakak mu?". Tanya Julio sambil duduk.


"Ada dikamar. Sebentar lagi keluar". Jawab Kenny ikutan duduk.


"Sayang, mandi dulu ya. Aku akan siapkan makan malam". Ujar Julia


"Iya sayang".


Julio melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Dia juga membuka jasnya


"Bagaimana sekolah mu Nak?". Tanya Julio pada putrinya sambil mengulung kemejanya hingga sampai siku.


"Malam Pa".


Dua pria tampan menghampiri Julio dan Kenny.


"Malam juga Boy". Sahut Julio menatap hangat kedua putranya "Ya sudah Papa mandi dulu. Kalian bantu Mama siapkan makanan".


"Iya Pa".


Ketiga nya menuju dapur. Julia memang menjadi Ibu rumah tangga. Dia hanya mengurus suami, anak dan rumah. Serta semua keperluan suami dan anak-anak nya.


Dia hanya memakai jasa asisten rumah tangga pada siang hari saja untuk membersihkan rumah dan merawat taman depan rumah. Sedangkan urusan perut, Julia mengambil alih sendiri.


"Masak apa Ma?". Tanya Kelvin putra pertama Julio dan Julia.


"Ayam rica-rica. Rendang. Sama sambal orek cabe hijau". Sahut Julia.


"Makanan kesukaan Papa?". Julia mengangguk.


"Ya sudah kita bantuin biar cepat selesai".


Mereka saling bantu membantu. Julio belajar dari Edgar dan Eidra cara mendidik anak. Terbukti anak-anak Julio tumbuh menjadi anak-anak yang penurut dan cerdas.

__ADS_1


Kelvin Putra, usia 20 tahun. Putra pertama Julio dan Julia. Dia mahasiswa bisnis semester akhir dan sebentar lagi akan menyusun skripsi.


Kenzie Putra, usia 18 tahun. Putra kedua Julio dan Julia. Dia mahasiswa hubungan internasional semester tiga. Putra Julio yang satu ini sedikit dingin dari kedua saudara nya. Tapi dia sebenarnya hangat.


Kenny Putri, usia 15 tahun. Putri ketiga Julio dan Julia. Masih duduk dibangku kelas dua SMA. Manja. Berisik. Tapi cerdas.


Julia menata makanan yang dia masak diatas meja bersama ketiga anaknya


"Ayo makan Pa". Ajak Kelvin.


"Iya Son".


Mereka makan dengan lahap. Julio bersyukur karena anak-anak nya tidak sejahil anak-anak Edgar dan Eidra. Yang suka mengerjai Ayah mereka karena terlalu cemburuan. Maklum, tumbuh dirahim wanita jahil seperti Eidra dan menurun pada ketiga anaknya.


"Pa, setelah lulus kuliah. Aku ingin membangun bisnis. Kak Ano akan membantuku". Ujar Kelvin setelah menyelesaikan makannya.


"Bagus itu Son. Kau boleh belajar banyak dari Ano, dia ahli dalam hal seperti itu". Sahut Julio.


"Iya Pa". Kelvin tersenyum.


Setelah makan mereka berkumpul diruang keluarga sambil menikmati kopi dan cemilan yang dibuat Julia.


.


.


.


.


"Ayo Nak makan". Silva memberikan piring pada putri sulungnya.


"Iya Bunda". Fanny menyambut piring dari tangan sang Ibu.


"Malam semua". Sapa seorang pria yang mengenakan baju polisi dia baru saja sampai rumah.


"Malam Son". Oscar tersenyum hangat.


"Ihhh Fandy, mandi dulu baru makan. Kau ini". Fanny menutup hidungnya. Dia memang cerewet dan bersihan.


"Alah kelamaan. Aku sudah lapar Kak". Fandy tidak mau tahu dia tetap mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.


"Sudah tidak apa-apa. Nanti setelah makan mandi ya Nak". Ujar Silva.


Fanny memutar bola matanya malas. Memiliki adik yang ceroboh membuatnya harus mengomel setiap hari. Dia tidak suka bau adiknya itu. Adiknya sungguh pemalas dan kenapa baju nya bisa sebau itu? gerutu Fanny.


Fanny Georgia, usia 21 tahun. Mahasiswa Ekonomi semester tujuh. Dia memang cerwet. Memiliki tingkat kebersihan yang tinggi.


Fandy Georgia, usia 19 tahun. Dia baru menjadi polisi beberapa bulan yang lalu. Setelah mengikuti tes polisi dia lulus tanpa embel-embel Oscar yang seorang mantan komandan. Playboy, dan sering membuat patah hati para wanita adalah hobby nya.

__ADS_1


**Bersambung.......


Takdir cinta Ed & Ei**.


__ADS_2