
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Leon". Buana menepuk pundak Leonardo "Ayo". Buana menarik tangan Leonardo dan membawanya masuk kedalam mobil.
Orlando juga masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera kerumah sakit dan menemui Eidra.
Oscar juga meninggalkan tempat kejadian. Dia akan segera melakukan pemeriksaan. Sebab Anggela masih hidup artinya dia harus menyelidiki kasus Anggela. Walau keadaannya sekarat, dia harus tetap menjalani hukuman.
Jenazah Baskoro dan Seselia langsung dibawa ke rumah sakit untuk melakukan visum. Laporan visum dibutuhkan oleh Oscar untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya pada kasus ini.
"Leon".
Leonardo terus terdiam. Tatapannya kosong. Dia seperti patung hidup namun bernyawa. Dia seolah tak mendengar panggilan Keizo dan Buana yang panik melihat nya hanya diam.
"Ei". Batin Leonardo "Bertahanlah. Kau pernah menghilang dia puluh tahun lamanya. Kumohon jangan menghilang lagi, apapun keadaannya. Bertahanlah Eidra. Bertahanlah. Kakak menyanyangi mu". Air mata Leonardo luruh dengan deras.
Leonardo tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Elizabeth dan Adelle saat mengetahui kondisi Eidra. Kedua wanita yang sangat Leonardo cintai pasti akan sangat terluka dengan dalam.
"Hiks hiks. Maafkan aku Bu. Aku tidak berhasil membawa nya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Dia terluka parah Bu. Dia terluka. Ini semua salahku yang gagal menjadi Kakak. Aku sudah tahu dia selalu dalam bahaya', tapi aku terlalu mengganggap remeh keselamatan nya. Maafkan aku Bu". Leonardo hanya bisa merintih dalam hati
"Kau baik-baik saja Leon?". Buana menepuk pundak Leon sekali lagi.
Leonardo menggeleng "Tidak Paman. Aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana aku bisa baik-baik saja, sedangkan adikku berada diujung kematian?". Ujar Leonardo berkaca-kaca.
Buana mengangguk paham. Dia juga tidak tenang dan takut apalagi melihat kondisi Eidra yang begitu memperhatinkan membuat Buana merasa gagal menjadi Ayah mertua.
"Aku gagal menjadi Kakak nya Paman. Harusnya aku menjaganya. Ini semua salahku, hiks hiks". Leonardo menutup wajahnya tak peduli lagi malu, dia hanya ingin menangis dan meluapkan rasa sakitnya.
"Jangan menyalahkan dirimu Leon. Ini semua sudah takdir. Sebaiknya kita berdoa saja semoga Eidra dan ketiga anaknya baik-baik saja. Kita support Edgar agar tetap kuat. Paman yakin jika Eidra adalah wanita kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini". Sambung Keizo menepuk pundak Leonardo dan meremes punda Leonardo berusaha mentransfer kekuatan pada sahabat putra angkatnya itu.
Leonardo mengangguk dan menyeka air matanya. Benar kata Keizo dia harus menjadi penyemangat untuk Edgar dan Eidra. Leonardo harus yakin jika Eidra baik-baik saja, dia akan selamat bersama ketiga anaknya. Eidra wanita kuat. Buktinya selama dua puluh tahun hidup sendiri dalam kegelapan dunia, Eidra berhasil bertahan dengan melewati beberapa ujian, hingga akhirnya dia menikah dengan Edgar dan bertemu Leonardo.
"Kau wanita hebat Ei. Kakak yakin kau akan bisa melewati semua ini. Kakak akan selalu ada untukmu. Bertahanlah adikku".
__ADS_1
.
.
.
.
Brayn memeluk Anggela dengan tangis. Dua orang polisi duduk didepan. Karena Oscar memerintah kan kedua ajudannya untuk memantau Brayn dan Anggela. Anggela masih buronan walau keadaannya sekarat dia harus dijaga dengan ketat.
Dari awal Oscar sudah curiga pada Brayn. Sikap Brayn seperti menyembunyikan sesuatu. Oscar yakin, jika Brayn berusaha melindungi Anggela.
"Anggela bangun, Anggela. Jangan tinggalkan aku. Bertahanlah Anggela bertahan. Demi anak kita".
Brayn menangis memeluk Anggela. Pakaian yang Brayn kenakan juga bersimbah darah. Tapi Brayn tak peduli. Dia mencintai Anggela. Anggela adalah cinta Brayn tak peduli jika resikonya besar bagi Brayn.
"Harusnya aku tidak membiarkanmu menculik Nona Eidra. Maaf aku yang menolak permintaan mu, aku hanya tidak ingin kau tertipu dengan keinginan mu Anggela. Kumohon bertahan Anggela". Peluk Brayn.
Sampai dirumah sakit, Brayn mengangkat tubuh Anggela. Dia setengah berlari dan membawa Anggela masuk.
"Silahkan anda tunggu diluar Tuan. Kami akan memeriksa keadaan pasien". Ucap perawat menahan Brayn ketika pria itu hendak masuk.
Brayn menunggu tenang. Dia berdiri duduk, berdiri duduk seperti orang yang tengah menunggu antrian.
"Anggela kumohon bertahan". Gumam Brayn.
"Argh siall". Brayn mengusar kepalanya kasar "Nak bertahan lah diperut Mommy. Bertahanlah Nak". Ucap Brayn terlihat frustasi dan tak berdaya.
Hampir dua jam. Namun dokter belum juga menampakkan batang hidungnya.
Brayn mulai panik, takut terjadi sesuatu pada wanita itu. Tak bisa Brayn pungkiri bahwa dia takut bukan main.
"Anggela". Gumam Brayn.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan. Tampak dokter itu tengah berbincang-bincang dengan para perawat dan asistennya.
"Dok, bagaimana keadaan kekasih saya?". Tanya Brayn tak sabar.
"Maaf Tuan, Nona Anggela mengalami patah tulang dikedua kakinya. Dan maaf kami akan mengamputasi kedua kaki Nona Anggela, karena jika tidak itu akan berpengaruh pada sistem tubuh yang lainnya".
Deg
Jantung Brayn serasa ingin berhenti berdetak. Kenapa bisa seperti ini?
"Nona Anggela juga mengalami pembekuan otak. Akibat benturan yang terlalu kuat membuat pendarahan dibagian otak kanannya".
Lagi dan lagi seluruh tubuh Brayn serasa melemah. Anggota tubuh nya seakan merasakan luka ditubuh Anggela.
"Bagaimana keadaan kandungan nya Dok?". Tanya Brayn berkaca-kaca.
"Maaf Tuan, akibat benturan yang terjadi akibat kecelakaan itu membuat Nona Anggela keguguran. Kami sudah membersihkan rahimnya".
Deg
Hancur. Luruh. Berantakan sudah semua impian yang dirancang oleh Brayn. Impiannya menjadi seorang Ayah kini sirna. Anaknya yang baru berusia dua bulan didalam perut Anggela, harus pergi sebelum melihat dunia.
Brayn terduduk lemes dikursi tunggu. Sang dokter merasa iba melihat Brayn, kondisi pria itu terlihat hancur dan berantakkan.
"Anda harus ikhas Tuan. Ini sudah jalan dari Sang Pencipta".
Brayn tak merespon dia melangkah masuk kedalam ruangan Anggela. Tampak Anggela tengah terpejam. Alat-alat medis menempel dibeberapa bagian tubuh lainnya.
Mulut dan hidung Anggela dipasang oksigen uap pertanda bahwa keadaan nya sekarat dan belum melewati masa kritis nya.
Brayn menghampiri Anggela dengan langkah pelan. Tatapannya kosong, air mata luruh begitu lama.
**Bersambung...
__ADS_1
Ed & Ei**