Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Membesuk Lisna


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Edgar membukakan pintu mobil untuk istrinya. Seperti biasa dia tidak akan mengizinkan Julio membukakan pintu mobil untuk Eidra. Singa pencemburu itu takkan rela kecantikan istrinya dilihat Julio


"Pelan-pelan sayang". Edgar melindungi kepala Eidra dengan tangannya. Takut jika kepala istrinya sampai tersandung kap mobil.


"Terima kasih Bby". Senyum Eidra.


Julio hanya kikuk. Lagi-lagi dia jadi obat nyamuk. Sudah punya anak saja kedua orang itu masih menunjukkan kemesraan nya didepan Julio. Bahkan sejak melahirkan anak, sikap Edgar semakin prosesif pada istrinya. Karena Eidra semakin cantik setelah melahirkan. Wajahnya bersih dan bersinar. Tak ubahnya Eidra memanggil dirinya sendiri Nona Bersinar.


"Ayo Bby".


Edgar menghela nafas panjang. Dia sempat berdebat dengan Eidra saat Eidra meminta nya menemani membesuk Lisna dipenjara. Mendengar nama wanita itu saja rasanya Edgar muak, apalagi melihat wajah Lisna membuatnya semakin kesal saja.


"Kau yakin sayang?". Edgar memastikan.


"Iishhh kau ini, kenapa sih Bby? Apa salahnya aku membesuk Kak Lisna? Dia saudaraku juga sama seperti kau dan adik ipar". Sahut Eidra ketus.


"Ya sudah ayo".


Edgar memilih mengalah. Dari pada istrinya merajuk dan menghukumnya tidur diluar, lebih baik dia mengalah. Edgar juga kesal pada ketiga kecambah hasil lembutnya itu, selalu menganggu kebersamaan nya dengan Eidra. Saat Edgar menyarankan untuk memindahkan ketiga anaknya ke kamar lain, dia malah mendapat tatapan mematikan dari istri kecilnya. Dalam hati Edgar ingin mengembalikan ketiga anaknya kedalam perut Eidra, dari pada menganggu terus pikir Edgar.


Julio menyembunyikan senyumnya. Edgar takkan bisa menang jika berdebat dengan Eidra. Pria itu pasti mati kutu, jika sang istri yang turun tangan.


Mereka masuk. Eidra bergelut manja dilengan suaminya. Julio mengekor dari belakang.


Edgar dan Eidra tampak seperti orang pacaran. Keduanya awet muda dan serasi. Siapa saja yang berjumpa dengan mereka akan terpesona.


Lagi-lagi Edgar merenggut kesal, saat tatapan damba dari para polisi menatap istrinya. Jika bisa, Edgar ingin menutup wajah Eidra dengan jas nya agar tidak ada yang melihat kecantikan Eidra.


"Ei". Sapa Oscar menghampiri ketiga orang itu "Tuan Edgar". Edgar mengangguk.


"Kak Oscar". Balas Eidra sumringah "Bagaimana malam pertamamu. Sudah berhasil tidak membobol gawang Kak Silva?". Goda Eidra menaik turunkan alisnya.


Sedangkan Oscar tersenyum kikuk. Malu juga pastinya. Apalagi didengar oleh para ajudannya yang lain. Sungguh Eidra ini bercanda tidak tahu tempat nya.


"Sayang, jangan berbicara seperti itu pada Pak Oscar, banyak yang mendengar. Kau tidak malu?". Tegur Edgar setengah berbisik.


"Memangnya kenapa Bby? Kan apa yang aku katakan benar". Sahut Eidra tanpa dosa


"Ada apa Ei datang kesini?". Oscar sengaja mengalihkan pembicaraan. Jangan sampai Eidra berbicara yang aneh-aneh.

__ADS_1


"Ingin membesuk Kak Lisna. Apakah dia ada?". Tampak Eidra seperti menelisik setiap sel yang tidak jauh dari nya.


"Ada. Ayo". Ajak Oscar.


Ketiga orang itu mengikuti langkah Oscar. Para polisi yang berjaga masing-masing didepan sel, memberi hormat pada mereka.


"Itu Nona Lisna".


Eidra melihat seorang wanita dengan duduk meringkuk ditembok geruji besi itu. Rambutnya berantakan. Wajahnya biru lebam. Terdapat beberapa luka dibagian wajahnya. Badannya kurus tak terurus.


"Kak Lisna". Gumam Eidra mendekat.


Lisna yang mendengar suara memanggilnya sontak mengangkat pandangan nya.


"Kak".


Eidra berkaca-kaca melihat penampilan Lisna yang jauh berbeda dari biasanya. Sedangkan beberapa wanita bertubuh gempal menatap Lisna dengan mengejek.


"Ei".


Lirih Lisna mengangkat pandangan nya. Seluruh tubuhnya sakit. Dia sudah tak berdaya. Rasanya dia sudah tidak mampu.


"Kak Oscar, apa yang terjadi? Kenapa Kak Lisna bisa seperti ini?". Cecar Eidra. Satu tetes butiran bening lolos dipipi nya. Bagaimana pun Lisna adalah Kakaknya, meski Lisna tak pernah menganggap Eidra ada.


"Dan kalian membiarkannya Kak?". Ucap Eidra tak habis pikir "Apakah fungsi penjara ini untuk saling menghakimi? Atau sebuah penyiksaan?". Eidra menatap Oscar tajam serta semua polisi yang ada disana.


Oscar hanya terdiam. Kan fungsi penjara memang menghakimi orang yang salah. Apalagi, pikir Oscar dalam hati.


Edgar hanya menatap istrinya dengan intens. Tak pernah Edgar melihat wajah Eidra seserius itu saat marah. Tampak ada emosi yang mengendap di mata Eidra.


"Ka.......".


"Keluarkan Kak Lisna Kak". Perintah Eidra.


"Sayang".


"Cepat Kak keluarkan dia". Bentak Eidra. Bukan hanya Edgar yang terkejut, tapi juga mereka semua.


"Baik". Sahut Oscar gegelapan.


"Keluarkan Nona Lisna". Tintah Oscar.

__ADS_1


"Siap Komandan".


Ketiga polisi yang bertugas menjaga sel tempat Lisna dikurung mengeluarkan wanita itu. Lisna benar-benar terlihat lemah. Seluruh tubuhnya terasa patah remuk. Setiap hari dia disiksa oleh kelima wanita berbadan gempal dan besar itu. Para polisi hanya membiarkan saja.


"Kak Lisna".


Eidra memeluk Kakaknya itu dengan isakkan tangis yang menggema. Waktu kecil mereka dekat. Tapi setelah dewasa Lisna berubah menjadi begitu jahat.


"Ei".


Tangan Lisna membalas pelukan Eidra. Ada rasa nyaman saat Eidra memeluknya. Pertama kalinya, setelah mereka dewasa, bisa saling berpelukan seperti ini.


"Kak, maafkan Ei Kak". Eidra menangis segugukan. Dia tidak tahan melihat kondisi Lisna


Lisna melepaskan pelukannya "Bukan kau yang harus minta maaf. Kakak yang harus minta maaf. Maaf sudah jahat padamu. Maafkan Kakak". Lisna tak dapat membendung air matanya.


Eidra menggeleng "Kakak tidak salah. Aku tahu Kakak baik. Kenapa Kakak bisa seperti ini Kak? Pasti tubuh Kakak sakit sekali?". Cecar Eidra segugukan. Edgar memalingkan wajahnya, setiap kali Eidra menangis dia yang merasakan sakit.


Oscar dan Julio hanya menyaksikan saja. Melihat Eidra yang menangis, membuat keduanya sadar bahwa hati Eidra sangat lembut dan mudah memaafkan.


"Kakak baik-baik saja Ei". Lisna mencoba menutupi rasa sakitnya, saat ini dia hanya bisa duduk dilantai "Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar anakmu?". Ujar Lisna.


"Mereka baik-baik saja Kak. Mereka sehat. Aku juga sehat". Eidra menyeka air matanya "Apa Kakak tahu jika Ayah dan Ibu sudah pergi?".


Lisna mengangguk "Kakak sudah tahu Ei". Lisna tersenyum kecut. Masih ada waktu 19 tahun lagi dia berada dibalik jeruji besi itu. Dan itu waktu panjang yang takkan pernah berakhir.


Eidra berdiri. Dia menatap suaminya.


"Bby". Renggek Eidra.


"Iya sayang kenapa?". Edgar mengusap pipi istrinya "Bby, kumohon bebaskan Kak Lisna. Berikan dia satu kesempatan lagi Bby. Aku mohon". Eidra menangkupkan kedua tangannya didada.


"Tapi sayang.....".


"Sekali ini saja kabulkan permintaan ku. Aku berjanji akan membayar lunas dengan....". Eidra mendekati telinga suaminya dia sampai berjinjit menggapai telinga pria itu "Lima ronde diranjang. Kalau aku lelah istirahat dulu, baru lanjut. Kalau Triple El ganggu, kita pindah ke kamar mandi saja. Bagiamana?". Wajah Edgar langsung merona mendengar godaan istrinya.


Dengan polosnya Edgar mengangguk. Sedangkan Oscar dan Julio penasaran, Entah apa yang dibisikkan Eidra pada suaminya hingga pria itu patuh seketika?


Lisna menangis segugukan dan tak menyangka jika Eidra memaafkannya. Lisna berjanji dalam hidupnya akan menyanyangi Eidra setulus hatinya. Dia berhutang budi pada angkatnya itu


**Bersambung....

__ADS_1


Ed & Ei**


__ADS_2