
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Oscar dan Julio mellengang pergi meninggalkan perusahaan Leonardo. Seusai dengan perintah Leonardo untuk menangkap Brayn.
Oscar menyusul para ajudannya untuk menangkap Brayn, takut jika pria itu malah kabur dan berbuat ulah.
"Saya masih tidak menyangka Pak, jika Tuan Brayn terlibat dalam penculikan Nona Eidra. Padahal dia asisten Tuan Leon". Ucap Julio, dia duduk disamping Oscar. Sejak Eidra koma Julio disibukkan untuk menyelidiki kasus ini.
"Saya juga tidak menyangka Tuan. Yang lebih membuat saya terkejut ternyata Nona Anggela sedang hamil. Kasihan sekali nasib bayinya harus meninggal sebelum melihat dunia". Ujar Oscar sambil menyetir dengan serius
Mereka berdua terus membincangkan kasus Brayn. Berita kematian Anggela juga menjadi tranding topik. Apalagi dia meninggal setelah keguguran dan kedua kakinya diamputasi. Sungguh menggenaskan sekali.
Sampai di Apartement Brayn, kedua pria itu langsung turun dari mobil.
"Siang Komandan". Sapa dua ajudan yang sudah duluan.
"Bagaimana apa dia ada didalam?". Tanya Oscar.
"Ada Komandan. Silahkan masuk".
Oscar dan Julio masuk kedalam lift. Sedangkan kedua ajudan itu menunggu didepan apartement.
Oscar tampak tak sabar bertemu Brayn. Rasanya dia ingin menguliti seluruh tubuh Brayn.
Ting tong ting tong
Oscar memencet tombol pintu apartement Brayn.
Didalam Apartement, Brayn tengah menatap kosong fotonya bersama Anggela. Dia menangis berhari-hari dan mengurung dirinya.
"Anggela hiks hiks hiks". Dia memeluk foto itu sambil menangis tersedu-sedu.
Ting tong Ting tong
Brayn menyeka air matanya. Lalu bangkit dan membuka pintu. Dia penasaran siapa yang berkunjung ke apartement? Selama ini dia tidak memiliki sahabat selain Erwin. Tapi Erwin sedang lumpuh tidak mungkin datang berkunjung ke apartement nya.
Cekreekkkk
__ADS_1
Kening Brayn berkerut saat melihat Oscar dan Julio berdiri didepan pintu. Tapi dia tahu bahwa mereka adalah utusan dari kepolisian.
"Selamat siang Tuan. Kami ditugaskan untuk menangkap anda". Ucap Oscar.
Brayn mengangguk dan pasrah. Tohh dia tidak bisa lagi menghindar. Percuma juga dia membela diri, dia sudah tidak memiliki siapapun yang akan dia perjuangkan.
Brayn menyerahkan kedua tangannya agar dipasang borgol oleh Oscar.
Oscar dan Julio terkejut. Mereka pikir Brayn akan kabur atau berusaha menghindar dari hukuman.
"Pasang borgol ditangan saya Pak. Saya siap dipenjara". Ucap Brayn pasrah.
Julio menatap kasihan pada Brayn. Brayn juga rekan kerjanya. Dia dan Brayn sering melakukan tugas mereka bersama ketika mendapat perintah dari Edgar dan Leonardo.
Oscar menuruti ucapan Brayn dengan memasang borgol yang memasang selalu dia bawa saat bertugas.
"Mari Tuan".
Oscar menarik tangan Brayn agar menurut. Sedangkan Julio mengekor dari belakang.
Kasihan juga melihat ekspresi frustasi Brayn. Biasanya pria itu selalu menampilkan wajah ramahnya. Tapi sekarang benar-benar seperti orang gila. Penampilan nya berantakkan dan tak terurus.
Tatapan pria itu kosong. Dia tak punya gairah untuk hidup. Seakan tubuhnya ikut mati bersama Anggela. Dia sangat mencintai wanita itu. ketika Anggela memilih menikah dengan Leonardo. Brayn sempat menggila dan dia tidak terima. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjadi asisten pribadi Leonardo.
Jika dulu Brayn bisa mengikhlaskan Anggela bersama Leonardo, maka sekarang sampai kapan pun Brayn takkan ikhlas atas kepergian Anggela. Wanita itu jantung hati Brayn.
Oscar dan Julio menatap Brayn kasihan. Dari tadi pria itu hanya diam pasrah, bahkan jika ditembak mati. Mungkin Brayn takkan tahu. Dia seperti mati pikiran.
Sampai di kantor polisi. Segera ajudan Oscar membawa Brayn keluar. Lagi-lagi pria itu hanya menurut dan tidak ada perlawanan atau pemberontakkan darinya.
Mereka membawa Brayn masuk kedalam. Brayn langsung dimasukkan kedalam jeruji besi, menunggu sidang selanjutnya. Tentu, atas perintah Edgar dan Leonardo.
Brayn duduk meringguk dibalik jeruji besi. Tak bisa melawan. Tak bisa berkata. Bebas pun percuma, siapa lagi yang harus dia jaga? Anggela-nya sudah hilang. Lebih baik dia juga mati menyusul Anggela.
Cinta Brayn kepada Anggela bukan semata obsesi belaka tapi benar-benar cinta yang ingin memiliki dan melindungi. Meski pun caranya salah, tapi terbukti cinta Brayn mencintai Anggela hingga mati. Tidak peduli jika wanita itu bekas pria lain. Tidak peduli jika Anggela pernah meninggalkan nya. Bahkan Anggela tidak pernah mengatakan mencintai nya meski mereka pernah melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri.
.
__ADS_1
.
.
.
Asih, Bima dan Julia berjalan memasuki koridor rumah sakit. Ketika mendapat kabar tentang Eidra. Secepatnya ketiga orang itu menuju rumah sakit.
"Sayang".
"Lia".
Julia langsung berhambur memeluk Julio dengan Isak tangis. Kenapa Julio baru mengabarinya jika Eidra kecelakaan?
"Hiks hiks, bagaimana keadaan Ei sayang?". Isak Julia.
"Dia baik-baik saja". Julio mengusap kepala kekasihnya.
Sebenarnya jika Eidra tidak kecelakaan, Julio dan Julia akan segera melangsungkan pernikahan tapi karena ada kendala, mereka harus menunda dulu sampai keadaan Eidra dan ketiga anak nya membaik.
Bima memalingkan wajahnya, entah kenapa rasa panas menjalar dihatinya? Tidak mungkin dia menyukai Julia? Mereka hanya terlalu sering bersama sejak kecil.
"Sudah jangan menangis lagi". Julio mengusap pipi kekasihnya.
"Nak Julio bagaimana keadaan Ei?". Tanya Asih
"Dia baik-baik saja Bu". Jawab Julio tersenyum hangat.
"Apakah boleh Ibu menjengguk nya?". Pinta asih penuh harap. Eidra adalah putri kecil yang dia temukan dipinggir jalan.
"Maaf Bu. Tuan Edgar tidak mengizinkan siapapun menenemui Nona". Jawab Julio tak enak hati.
Asih hanya mengangguk paham. Dia tahu perasaan Edgar yang hancur dan Asih tidak memaksa.
"Ayo kita duduk dulu".
Mereka duduk dibangku penunggu pasien didepan ruangan Eidra.
__ADS_1
**Bersambung....
Ed & Ei**