
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Buana mengganti bajunya yang bersimbah darah. Dia tidak ingin orang lain takut padanya.
Keizo menggeleng ngeri ketika mengingat betapa sadisnya Buana menyiksa.
"Kau seperti bekerja dipemotongan ayam saja?". Singgung Keizo tak habis pikir. Bagaimana bisa Buana begitu tega menyiksa orang lain.
Buana malah terkekeh mendengar pertanyaan sahabat nya "Ini hanya yang kecil saja yang kau lihat. Kau belum melihatku makan hati manusia kan?". Buana mengerlingkan matanya.
"Kau benar-benar canibal". Rasanya Keizo mual-mual mendengar ucapan Buana.
"Sudahlah ayo kita pulang. Aku ingin melihat kondisi menantu kita". Ucap Buana.
Keizo memapah Buana berjalan masuk kedalam mobil. Disana sudah ada Dedi yang duduk manis dibelakang kemudi.
"Sejak kapan kau terlibat dalam dunia Mafia?". Tanya Keizo duduk disamping Buana.
"Sejak aku ingin membalaskan dendam ku pada orang-orang yang mengusik hidupku". ucap Buana "Jika kau bukan sahabat ku, mungkin kau adalah target berikutnya yang masuk dalam daftar orang yang ku bunuh karena sudah membuat Edgar lumpuh". Buana menatap Keizo tajam
Keizo mendelik, tentu saja takut "Maafkan aku Buana. Aku hanya terobsesi pada harta". Jawab Keizo gugup dan takut.
Buana tertawa keras. Padahal dia hanya bercanda tapi ditanggapi serius oleh Keizo.
"Hahha. Aku hanya bercanda Kei. Justru aku ingin berterima kasih padamu karena sudah membuat Edgar tumbuh menjadi pria kuat". Buana menepuk pundak sahabatnya "Dia putra kita. Aku bersyukur, berkat dia lumpuh dia menjadi pria yang kuat, bijaksana dan pemberani". Imbuh Buana
"Iya Buana. Dia pria yang kuat". Sahut Keizo. Edgar bukan hanya kaya tapi juga kuat dan pemberani, dia mampu melewati semua tantangan dalam hidup nya.
Sampai divilla Edgar. Kedua pria itu langsung turun dengan Dedi yang turun duluan membukakan pintu untuk kedua Tuan-nya.
"Hon".
"Kalian sudah pulang?". Pristy menyambut suaminya dan sahabat suaminya "Dari mana saja kalian?". Tanya Pristy memincingkan matanya curiga.
"Ada urusan Hon". Jawab Keizo
Mata Buana langsung berbinar ketika melihat Elizabeth keluar dengan mengendong bayi Eidra.
"El".
"Kak".
Elizabeth tersenyum dia berjalan menghampiri Buana.
"Haiii cucu Oppa. Sehat-sehat ya Nak". Buana menciumi bayi tampan itu "Dia sangat mirip Edgar dan mirip aku juga". Buana tersenyum bangga.
"Tentu saja mirip. Edgar Ayahnya dan kau Kakeknya". Elizabeth menggeleng gemes.
"Ayo masuk".
Mereka berempat masuk. Pristy mencecar suaminya dengan berbagai pertanyaan. Curiga. Tentu saja. Takut jika suaminya itu berpaling dan mencari wanita lain.
"Ayolah Hon percaya padaku. Aku sedang ada urusan bisnis. Bagaimana bisa aku mencari perempuan lain? Aku mencintaimu". Rayu Keizo
"Cihh, omongan mu itu tidak bisa dipercaya Kei". Tuding Pristy.
Buana dan Elizabeth hanya menggeleng menyaksikan perdebatan suami istri itu.
"Bagaimana dengan Ei?". Tanya Buana sambi duduk disampi Elizabeth yang mengendong bayi Edgar dan Eidra.
"Dia sudah melewati masa kritis nya. Racun yang disuntikkan Robby dan Astrid sudah dikeluarkan dari tubuh Ei". Jawab Elizabeth.
__ADS_1
"Paman. Bibi".
Erwin dan Raina ikut bergabung dengan mereka. Sejak Eidra koma, mereka memutuskan untuk tinggal divilla Edgar atas permintaan Edgar. Mereka saling bergandeng tangan untuk mensupport Edgar.
"Raina... Hai Baby Bara". Sapa Buana "Waahh dia benar-benar mirip Erwin". Ujar Erwin.
"Tentu saja Ayah. Dia kan putraku. Masa iya mirip Ayah". Ketus Erwin.
"Sayang". Tegur Raina menyenggol lengan Erwin. Sedangkan Buana hanya terkekeh lucu.
.
.
.
.
Edgar mengenggam tangan istrinya. Dia sangat panik ketika Eidra kejang-kejang saat Robby menyuntikkan sesuatu dicairan infuse Eidra.
"Sayang kau hampir membuat jantungku berhenti berdetak. Jangan ulangi lagi yaaa. Aku benar-benar takut kehilanganmu". Edgar mengecup punggung tangan istrinya.
Ada Leonardo juga disana. Leonardo memohon pada Edgar agar diizinkan menjaga adiknya. Meski awalnya Edgar sempat menolak keras. Namun setelah dibujuk dan dirayu oleh Elizabeth dan Pristy akhirnya Edgar mengalah. Jiwa cemburu Edgar tak berubah. Meski dia tahu istrinya adik Leonardo, tetap saja dia selalu berpikiran negatif. Takut, jika Leonardo merebut Eidra kembali.
"Heeiii Leona. Ayo bangun Dek. Apa tidak ridnu dengan Kakak......".
"Tidak. Dia tidak boleh merindukanmu. Dia hanya boleh merindukanku". Sergah Edgar.
Leonardo merenggut kesal "Ck, kau ini. Aku kan Kakak nya, kenapa tidak boleh?". Ketus Leonardo.
"Tentu saja tidak boleh. Aku suaminya. Dia hanya boleh merindukanku". Sergah Edgar.
Jadilah mereka berdebat satu sama lain. Cemburu itu tidak peduli siapa saja bukan? Apalagi mantan perebut seperti Leonardo. Bisa saja dia lupa diri lalu merebut Eidra, pikir Edgar
"Owe owe owe owe owe".
"Owe owe owe owe owe".
"Owe owe owe owe owe".
Ketiga bayi itu dari tadi terus menangis.
"Bu, ada apa dengan mereka?". Edgar langsung berdiri menghampiri Elizabeth.
"Tidak tahu Nak. Dari tadi terus menangis. Padahal Ibu sudah memberinya susu".
"Sini Bu, biar aku saja". Edgar mengendong putranya "Haii putra tampan Daddy. Jangan menangis lagi ya Nak. Cup cup".
Edgar menenangkan anaknya yang menangis dari tadi.
"Bik, coba aku gendong". Leonardo mengambil bayi laki-laki Eidra. Sedangkan bayi yang satunya digendong oleh Keizo.
"Hati-hati Leon. Dia perempuan. Aku takut kau merebutnya lagi". Sindir Edgar.
"Buang jauh-jauh pikiran mu Ed. Dia masih bayi untukku jadikan istri jadi tidak pantas". Jawab Leonardo kesal. Yang lain tersenyum.
"Owe owe owe owe owe".
"Cup cup cup cup... Cucu Grandfa". Ucap Keizo berusaha menenangkan cucunya.
Namun tangisan ketiga bayi itu tak juga mereda.
__ADS_1
"Son, coba baringkan mereka disisi Ei. Mungkin mereka rindu pada Mommy". Saran Buana.
"Memangnya begitu Dad?". Tanya Edgar sedikit ragu. Takut jika anak-anaknya menganggu sang istri.
"Dicoba saja".
Edgar menurut. Keizo juga meletakkan bayi Eidra bersama Leonardo. Seketika tangisan ketiga bayi itu mereda. Bahkan ketiganya tampak tenang-tenang saja.
Mereka tercenggang. Edgar malah menitikkan air matanya. Bukan hanya dia yang merindukan istrinya tapi juga anak-anak nya.
"Tangan Ei bergerak".
Edgar langsung berhambur menghampiri istrinya "Sayang, kau akan bangun yaaa?". Edgar berkaca-kaca "Leon, cepat panggilkan Susi, Bima dan Orlando".
"Baik".
Tidak lama kemudian Susi dan Bima masuk sedangkan Orlando sedang kembali ke rumah sakit.
Susi dan Bima memeriksa Eidra. Mereka berdua tampak bekerja sama dan kompak.
"Bagaimana Dokter Bima?". Tanya Edgar tak sabar.
"Ei, sudah sadar Tuan. Kita tunggu dia membuka mata".
Edgar menatap tak sabar. Sedangkan ketiga bayi itu masih dibiarkan berbaring disamping Eidra. Edgar tak menyadari jika tangisan ketiga bayinya adalah tangisan kerinduan.
Eidra mengerhab-ngerjabkan matanya perlahan. Jari-jari lentiknya juga ikut bergerak.
"Sayang".
Edgar mengenggam tangan istrinya tak sabar.
Perlahan mata Eidra terbuka. Pandangan nya masih kabur tidak jelas, mungkin karena kelamaan terpejam.
"Sayang".
"Ei".
"Nak".
"Leona".
Eidra melihat sekeliling nya. Kening wanita itu tampak berkerut.
"Sayang".
Edgar rasanya tak sabar ingin mendengar istrinya berbicara
"Ak-aku di-dimana?". Lirih Eidra.
"Dikamar kita sayang". Sahut Edgar menyeka air mata bahagia nya.
Eidra menatap mereka semua yang melihatnya dengan tak sabar. Untung saja Adelle sedang sekolah jika tidak, sudah pasti gadis kecil itu akan menangis memeluk Eidra
"Kalian siapa?".
Deg
**Bersambung....
Ed & Ei
__ADS_1
Yeiii Eidra sudah bangun.....
Tapi seperti nya Eidra lupa ingatan... Penasaran... okehhh ikutin teruss ya guys**..