
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹 ia
Sejak kehamilan Raina, Erwin terkesan menghindari istrinya. Bahkan dia tidak pernah makan dirumah. Dia selalu makan dikantor dan memesan makanan sendiri.
Erwin tidak bermaksud menghindari istrinya. Tapi ada perasaan yang tidak bisa Erwin jelaskan. Sebagai pria normal, dia bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Namun disisi lain dia tidak terima anaknya dikandung oleh wanita yang tidak Erwin cintai sama sekali.
"Sampai kapan kau akan terus menghindari istrimu?". Tanya Brayn. Saat ini mereka tengah makan siang di sebuah restorant mewah.
"Aku tidak tahu". Jawab Erwin singkat "Aku belum bisa menerimanya". Sahut Erwin sambil makan.
Brayn hanya menggeleng saja "Jika kau tidak bisa menerimanya. Lebih baik lepaskan saja". Saran Brayn.
"Tidak semudah itu. Bagaimana pun bayi dalam kandungannya adalah darah dagingku. Sebelum bayi itu lahir, aku tidak bisa meninggalkannya". Jelas Erwin.
"Apa kau tidak berusaha membuka hati untuk istrimu?". Tanya Brayn "Apa dia begitu buruk untukmu?". Timpal Brayn lagi.
Erwin menggeleng "Aku tidak tahu, kenapa sangat sulit untuk membuka hati. Aku tahu dia wanita baik, tapi ada rasa yang sulit aku jelaskan. Bahkan aku sendiri saja tidak mengerti dengan perasaanku". Jelas Erwin menghela nafas berat "Aku masih mencintai Eidra. Bahkan perasaan ku padanya lebih besar dari perasaan ku pada Angela". Ujar Erwin lagi.
Brayn tidak tahu haru memberi tanggapan apa pada sahabat nya. Dia merasa bersalah saat itu tidak membawa Erwin pulang langsung dan malah membawa pria itu kedalam kamar VVIP di club' nya.
"Apa kau akan terus memperjuangkan cintamu pada Eidra?". Tanya Brayn lagi. Dia heran kenapa sulit sekali bagi Erwin melupakan Kakak iparnya itu.
Erwin menggeleng bingung "Aku tidak tahu. Tapi semakin hari cintaku pada nya semakin besar". Jawab Erwin "Entah ini perasaan apa? Yang jelas aku begitu mengangguminya". Tungkas Erwin.
"Sebaiknya, lupakan Kakak iparmu. Mulai lah menerima istrimu. Aku yakin perlahan kau akan mencintainya". Saran Brayn menepuk pundak Erwin.
Erwin tak bergeming dia tidak menjawab ucapan sahabatnya itu.
Erwin melangkah memasuki apartemen dengan langkah gontai.
Erwin menatap meja makan disana selalu tersedia makanan yang disediakan istrinya dan dia tidak pernah menyentuhnya selama Raina di nyatakan positif hamil.
"Kau sudah kembali?". Raina menyambut suaminya.
Erwin tak bergeming. Dia melangkah masuk kedalam kamarnya. Setiap kali melihat wajah Raina dia selalu merasa bersalah. Merasa bahwa dia telah melakukan kesalahan yang besar. Merasa bersalah karena dia tidak bisa membuka hati untuk istrinya itu. Erwin tidak mau memberi istrinya harapan sementara hatinya sama sekali telah membeku dan miliki oleh Eidra. Erwin berpikir bahwa cinta tidak bisa dipaksakan.
Erwin menutup pintu kamar. Dia menghela nafas berat. Sulit sekali memaksakan hati. Kadang merasa berdosa, tapi cinta tak bisa dipaksakan apalagi memaksa.
Sementara Raina terduduk lemas. Di soffa, pipinya terasa panas dia tahu sebentar lagi dia pasti akan menangis.
Butiran bening itu kembali luruh dipipinya. Bahkan sangat deras. Berkali-kali Raina memukul dadanya untuk menghilangkan segala sesak yang menyendat. Apakah dia harus menyerah dan meninggalkan Erwin? Tapi bagaimana dengan bayi didalam kandungannya, apakah dia tega membiarkan anak tak berdosa itu lahir tanpa seorang Ayah? Lalu bagaimana dengan perasaannya, apakah dia akan membunuh cinta yang mulai tumbuh? Apakah dia harus membiarkan suaminya mengejar Eidra?
"Hiks hiks hiks hiks".
Tangis Raina pecah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kenapa sesakit ini saat keberadaan nya tidak diterima?
Raina menyeka air matanya. Lalu melangkah mengambil kunci mobil dan keluar dari Apartement.
__ADS_1
Entah kemana wanita hamil itu akan pergi yang ingin dia lakukan adalah menenangkan hatinya yang sedang patah dan terluka parah.
Raina menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wanita itu masuk ke area hutan. Jalan yang terlihat sering dilewati itu sangat sepi. Dia tidak peduli, dia hanya ingin pergi ketempat yang ingin dia kunjungi. Tak peduli dengan kondisinya yang sedang hamil.
Sampai divilla Edgar. Raina langsung turun. Wajahnya terlihat penuh amarah.
"Selamat malam Nona. Ada yang bisa saya bantu?". Sambut Julio memberi hormat dan juga heran melihat Raina datang malam-malam ke villa Edgar.
"Dimana Eidra?". Tanya Raina dengan tangan terkepal kuat.
"Nona Eidra sedang beristirahat Nona". Jawab Julio "Apa anda ada perlu dengannya?". Tanya Julio.
"Aku ingin bertemu dengannya". Sahut Raina dingin.
"Maaf Nona, ini sudah malam. Sebaiknya besok saja. Nona Muda kami tidak bisa di ganggu". Ujar Julio mulai merasa kesabaran nya habis.
"Aku tidak peduli".
Raina menerobos masuk bahkan dia mendorong tubuh Julio.
"Nona".
Julio mengejar Raina. Kenapa Kakak dari Nona Muda-nya itu terlihat berbeda. Ada kemarahan yang terlihat jelas di matanya.
"Nona".
Namun Raina tak peduli. Dia berjalan dengan cepat bahkan tanpa melalui lift. Dia sedikit berlari menaiki anak tangga villa Edgar.
"Eidra".
"Eidra".
Teriak Raina keras dan juga kasar. Nafasnya sudah memburu.
"Nona". Julio segera menahan Raina "Jangan sampai kesabaran saya habis Nona?". Ancam Julio.
"Aku tidak peduli". Ujar Raina "Eidra, keluar kau. Dasar pelakor tidak tahu diri". Teriak Raina sambil memberontak karena Julio memegang kedua tangannya.
Julio mendengar tak percaya saat Raina mengatakan Eidra pelakor.
Dikamarnya Edgar terbangun mendengar teriakkan diluar. Begitu juga dengan Eidra.
"Siapa Istri Kecil?". Tanya Edgar sambil mengucek matanya. Tidurnya jadi terganggu.
"Tidak tahu Tuan Suami. Aku lihat dulu ya?". Edgar mengangguk.
Eidra turun dari ranjang dan menghampiri pintu. Dengan mata yang terasa berat untuk dibuka. Ingin rasa nya Eidra memakai orang yang sudah berteriak itu.
__ADS_1
Cekreekkkk
"Ada ap..........".
Plakkkkkkkkkkkk
Eidra terkejut saat satu tamparan mendarat dipipinya. Pipinya terasa panas dan disudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Kak". Eidra menatap tak percaya.
"Dasar pelakor. Penghancur hubungan orang. Wanita tidak tahu diri". Maki Raina.
"Kak". Tanpa sadar air mata Eidra luruh dipipinya.
"Nona". Julio benar-benar geram.
"Julio". Teriak Edgar, dia menatap Raina penuh amarah, apalagi Edgar melihat sendiri bagaimana Raina menampar istrinya.
"Iya Tuan?".
"Bawa wanita tidak tahu diri itu keluar. Jangan biarkan dia masuk kedalam villa ini". Ujar Edgar dia masih duduk diatas ranjang.
"Baik Tuan".
"Ayo Nona ikut saya". Julio menarik Raina.
"Tidak mau". Raina memberontak "Dasar pelakor. Wanita tidak tahu diri. ******. Pelacur. Perebut suami orang". Semua cacian itu dilemparkan pada Eidra.
Eidra mematung didepan pintu. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa, sakit dipipinya tidak sebanding dengan sakit dihatinya.
"Istri Kecil".
Andai saja Edgar bisa berjalan, dia pasti sudah berlari memeluk istrinya itu. Dia bahkan tanpa sadar menangis ketika mendengar cacian untuk istrinya. Edgar takkan memaafkan dan membiarka orang yang sudah menyakiti istrinya hidup dengan tenang.
**Bersambung.......
Ed & Ei.
Kenapa Raina sejahat itu sama Eidra? Padahal kan dia Kakak nya Eidra.
Bukan salah Eidra juga kalau Erwin cinta sama Eidra. Eidra kan tidak pernah memberikan harapan.
Apakah karena sikap Raina yang membuat Erwin tidak bisa mencintai istrinya??
Penasaran kan? hehe.
Yuk ikuti terus kisah mereka. Jangan lupa dukungannya.
__ADS_1
Mampir ke karya baru author ya Pacarku Presdir. Cerita nya seru tidak ada pelakor. Ayo segera dikepoin ya.....
Terima kasih**.