
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kalian siapa?".
Deg
Mereka semua menatap kearah Eidra. Wanita itu tampak heran melihat beberapa orang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Sayang".
Lidah Edgar terasa kelu. Kenapa jadi begini? Kenapa istrinya tidak ingat padanya.
"Sayang ini aku suamimu? Kau mengingat ku kan sayang?". Edgar menjelaskan dengan menunjuk dirinya.
Eidra menatap Edgar, aneh? Kenapa pria ini mengaku sebagai suaminya.
"Aku punya suami?". Gumam Eidra "Kapan aku menikah? Perasaan aku tidak pernah menikah?".
Rasanya Edgar ingin berteriak. Sekian lama menunggu dan menanti, kenapa malah istrinya lupa padanya.
"Tuan, biar saya periksa".
Bima maju mendekati Eidra. Dia kembali memeriksa Eidra.
"Apa kau mengingat ku Ei?". Tanya Bima
Eidra menggeleng "Tidak. Memangnya kau siapa?". Tanya Eidra heran
Bima menghela nafas "Tuan, Ei mengalami hilang ingatan atau yang kita sebut amesia". Ucap Bima "Dia kehilangan seluruh ingatannya. Jadi dia tidak mengingat apapun tentang dirinya". Imbuh Bima.
"Lalu bagaimana dokter Bima? Apakah ingatan istri ku bisa kembali?". Tanya Edgar berkaca-kaca.
"Tentu saja bisa Tuan. Anda harus bantu Ei, untuk mengingat siapa dirinya".
Edgar mengangguk. Cukup sudah penderitaan nya. Kapan ini semua berakhir. Tidakkah takdir bosan bermain-main dengannya?
"Ei". Panggil Elizabeth berkaca-kaca "Apa kau ingat Ibu Nak?".
Eidra menatap Elizabeth. Kenapa wanita tua itu sangat mirip dengannya?
"Memangnya Ibu siapa?". Tanya Eidra heran.
__ADS_1
Elizabeth menahan tangisnya. Dia terluka ketika putrinya tidak mengingat nya sama sekali.
"Owe owe owe owe owe".
Eidra baru sadar jika ada tiga bayi yang berbaring disampingnya. Segera wanita itu bangun. Edgar membantu istrinya bangun.
"Mereka anak-anak siapa? Kenapa bisa ada disini?". Tanya Eidra heran. Dia mengambil bayi perempuan itu dan mengendong nya "Hai Nak siapa namamu? Kenapa kau sangat mirip dengan ku ya? Apa kau sengaja menciplak wajah cantikku?". Celetuk Eidra.
Edgar sekuat tenaga menahan dirinya. Ingin dia rengkuh tubuh istrinya itu. Tapi Eidra sama sekali tidak mengingat nya.
Eidra menatap kedua bayi laki-laki yang juga berbaring disampingnya.
"Hai tampan". Tangan Eidra terulur mengelus wajah bayi itu "Kenapa wajahmu saat mirip dengan Tuan itu? Apa kau putranya?". Monolog nya pada bayi itu.
"Sayang". Edgar menggeleng tak percaya. Kenapa istrinya bisa lupa padanya?
Tangisan ketiga bayi itu sontak berhenti saat Eidra mengelus wajah dan mengendong mereka secara bergantian.
"Waahhhh kalian benar-benar lucu sekali yaaa... Apa kalian akan terus tidur bersama ku?". Ujarnya
"Sayang, mereka adalah anak-anak kita". Edgar berusaha mengingatkan.
"Ei, apa kau ingat Kakak?". Sambung Leonardo.
"Kalian ini kenapa sih? Terus bertanya mengingat. Bagaimana bisa aku ingat kalian, jika aku saja tidak Pernah melihat wajah kalian". Gerutu Eidra sambil mengendong bayi perempuan nya.
Mereka semua terdiam. Masih menyaksikan Eidra yang berbicara dengan ketiga bayinya. Tak ada yang bisa lagi mereka jelaskan agar Eidra mengingat mereka semua.
"Kemana Ibu mu Nak? Apa dia tidak marah jika aku menggendong mu. Ahhhh kalian gemes sekali. Andai kalian anakku, ingin ku gigit pipi kalian". Seru Eidra menciumi wajah bayi perempuan nya. Yang belum diberi nama itu.
.
.
.
.
Eidra kehilangan semua ingatannya. Tidak ada satu orang pun yang dia ingat. Sekeping kejadian atau kenangan pun tak ada yang melekat dikepala Eidra.
Edgar dan Leonardo bekerja sama mengingatkan Eidra pada masa lalu nya. Yang lain juga ikut membantu, barang kali Eidra akan mengingatnya.
__ADS_1
"Kenapa kau ingin menyuapi ku Tuan? Aku bisa makan sendiri". Eidra mendorong sendok yang hendak, Edgar masukkan kedalam mulutnya.
"Aku akan menyuapi makanlah". Edgar berusaha sabar.
Eidra mengangguk lalu menyambut suapan suaminya. Kenapa hatinya jadi hangat?
"Tuan, kenapa aku seperti pernah melihat mu ya? Tapi dimana yaaa? Tidak mungkin didalam mimpi kan?". Seru Eidra tampak berpikir keras "Ohh ya Tuan, dimana ketiga bayi itu? Aku merindukannya. Bolehkah aku mengendong nya Tuan? Apa dia anakmu? Tapi dimana istrimu, kenapa tidak merawat anak kalian?". Cecar Eidra.
"Kau adalah istriku sayang. Sadarlah. Aku merindukanmu. Kenapa kau bisa lupa padaku?". Batin Edgar menyeka air matanya.
Elizabeth hanya bisa menatap Eidra dengan sendu. Kasihan Edgar yang harus kembali berjuang mengembalikan ingatan istrinya.
Buana dan Keizo juga merasakan perasaan sakit Edgar. Penantian selama kurang lebih sebulan, setiap hati bermandikan air mata. Tapi justru Eidra malah melupakannya.
"Aunty Ei". Panggil Adelle
"Siapa namamu Nak?". Eidra mengelus kepala Adelle
"Kenapa Aunty Ei, bisa lupa pada Adell? Ini Adelle Aunty, anaknya Ayah Leon". Ucap Adelle sedih.
"Sayang, kita kembali ke kamar yaaa?".. Leonardo mengendong putrinya "Biarkan Aunty Ei istirahat". Adelle tidak sempat protes karena Leonardo langsung membawanya keluar dari kamar Eidra.
.
.
.
.
"Bagaimana bisa Ei lupa ingatan?". Desah Susi. Saat ini dia sedang menuju rumah sakit bersama Bima
"Saya juga bingung Dok. Padahal benturan dikepala Ei tidak terlalu parah tapi kenapa dia bisa lupa pada kita". Sahut Bima sambil menyetir mobilnya
"Apa yang harus kita lakukan Dok, agar Ei kembali ingat lagi?". Ujar Susi
Bima menggeleng "Kita hanya bisa membantu nya untuk mengingat".
**Bersambung....
Ed & Ei**
__ADS_1