
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Kak Lisna".
Eidra berhambur menghampiri Lisna saat wanita itu tergelatak dilantai.
"Kak Lisna bangun Kak Lisna. Jangan pingsan Kak. Badanku kecil tidak mampu mengangkat tubuh mu". Eidra menepuk-nepuk pipi Lisna berulang kali. Dia panik.
"Nona Lisna".
Oscar ikut berjongkok. Begitu juga Julio dan Edgar serta beberapa polisi yang berjaga disana. Tentu saja panik melihat Lisna tiba-tiba tergelatak pingsan dilantai. Mungkin sudah tidak mampu menahan sakit dibagian tubuhnya.
Oscar mengulurkan tangannya ingin mengacek pernafasan Lisna. Namun belum juga tangan Oscar menyentuh Lisna, sudah ditepis duluan oleh Eidra.
"Eitss, Kak Oscar. Jangan sentuh-sentuh, kau sudah punya istri. Jangan rakus". Pekik Eidra.
"Sayang". Edgar menggeleng tak habis pikir.
"Bagaimana dengan Nona Lisna?". Tanya Oscar panik, apalagi melihat wajah pucat Lisna.
"Kak Julio, kau saja yang gendong Kak Lisna ya. Yang lain sudah menikah. Takut salah paham. Jadi karena kau yang belum menikah-menikah jadi tolong ya". Ucap Eidra.
Julio mendengus kesal. Kenapa dia harus jadi korban?
"Kenapa tidak suruh Pak Polisi saja Nona?". Ucap Julio berusaha tersenyum tapi dalam hati sudah mengumpat kasar.
"Sudah jangan banyak protes Kak. Cepat gendong Kak Lisna, nanti dia kehabisan nafas bagaimana? Kau mau memberinya nafas buatan?". Ketus Eidra.
"Iya Nona". Dengan wajah ditekuk Julio mengendong tubuh Lisna.
Wanita itu tampak kurus, benar-benar kurus. Tulang selangka nya begitu terlihat.
Edgar menghela nafas panjang. Jujur berat jika harus membebaskan Lisna. Tapi siapa yang bisa membantah keinginan Eidra. Keinginan Eidra itu sesuatu yang mutlak dan harus diikuti. Kalau tidak, Edgar akan berakhir tidur diluar kamar.
Tentu dengan kekuasaan dan kekayaan Edgar dengan mudah mengeluarkan Lisna dari penjara semudah membalikkan telapak tangan. Lisna yang harusnya mendekam selama sembilan belas tahun lagi, dengan mudah bebas hanya karena Edgar. Tentunya Eidra lah yang lebih berperan.
"Pelan-pelan sayang. Biarkan Julio yang membawanya kau tetap disisiku". Edgar merangkul bahu istrinya "Ingat kau sudah berjanji padaku akan memberi hadiah lima ronde". Bisik Edgar tersenyum devil.
Eidra menelan salivanya susah payah. Suaminya ini jika urusan ranjang memang nomor satu. Tidak heran, jika bisa menghasilkan tiga kecambah sekaligus. Karena sekali berolah raga tidak cukup satu ronde, bisa lebih dari itu malah.
Edgar meminta Julio membawa Lisna menggunakan mobil Oscar, dan tentu sebagai Komandan kepolisian Oscar juga harus ikut.
Sedangkan Edgar berduaan dengan Eidra satu mobil. Dia tidak mau menyia-nyiakan setiap moment bersama Eidra. Bagi Edgar bersama Eidra adalah waktu terbaik dalam hidupnya.
"Bby bisa cepat sedikit tidak? Aku khawatir terjadi sesuatu pada Kak Lisna". Eidra tampak gelisah. Duduknya tidak tenang.
__ADS_1
"Sayang dia sudah jahat padamu. Kenapa kau begitu mudah memaafkannya?". Tanya Edgar tak habis pikir.
"Ck, semua orang pernah bersalah Bby. Semua orang juga punya hak untuk mendapatkan maaf. Bagaimana pun Kak Lisna itu Kakak ku, walaupun tidak ada aliran darah sama sekali". Jelas Eidra.
Edgar menghela nafas pelan. Dia menatap istrinya dengan senyum. Wanita ini semakin hari semakin cantik. Saat mereka berjalan berdua seperti ini, rasanya seperti pacaran lagi.
Anak-anak Eidra diurus oleh Elizabeth, Margaretha dan Pristy. Ketiga wanita yang sudah sah menjadi Nenek itu, berebut mengurus ketiga bayi menggemaskan itu.
.
.
.
.
Sampai dirumah sakit. Julio langsung turun dan mengeluarkan Lisna dari mobil. Oscar sama sekali tidak mau menyentuh, takut nanti Eidra malah menyinggungnya lagi. Baru menyentuh Lisna saja sudah dibilang rakus oleh Eidra, apalagi dia benar-benar selingkuh. Entah nama apa nanti yang akan Eidra sematkan pada nya.
"Dokter tolong". Seru Julio mengendong Lisna.
"Ada apa Tuan Julio?". Tanya Susi dan Bima yang kebetulan baru ruang UGD.
"Astaga, Nona Lisna". Ujar Susi "Ayo Tuan, cepat letakkan Nona Lisna dibrangkar". Ucap Susi yang juga panik.
Nafas Julio masih tersengal-sengal. Walau kurus. Lisna berat juga. Seperti nya tulang-tulang Lisna mengandung batu, gerutu Julio.
Oscar dan Julio menunggu diruang tunggu, depan ruang pemeriksaan.
"Oscar".
Kening Orlando berkerut saat melihat adiknya ada dirumah sakit yang masih mengenakan seragam nya lengkap.
"Kak Orland". Balas Oscar.
"Ada apa kau disini?". Tanya Orlando heran.
"Membawa Lisna pingsan Kak".
Deg
"Maksud mu?". Kenapa jantung Orlando tak karuan?
"Lisna pingsan Kak". Ulang Oscar.
Tanpa ba-bi-bu Orlando masuk kedalam ruang pemeriksaan. Bahkan dia mendobrak pintu ruangan itu.
__ADS_1
.
.
.
.
Eidra turun dengan tidak sabar. Bahkan dia tak memperdulikan omelan suaminya yang terus mengerutu karena mengomentari dirinya.
"Bisa pelan-pelan tidak sayang?". Ujar Edgar dia berusaha menyeimbangkan langkah kakinya dengan Eidra.
"Kau itu yang lelet Bby. Badan saja yang besar, tapi berjalan seperti siput". Singgung Eidra.
"Ck, kau menyindir suamimu?". Tatap Edgar tajam.
Bukannya takut Eidra malah memutar bola matanya malas.
"Sudahlah Bby, jangan terus mengomel. Kau ini, marah-marah terus. Apa tidak bosan Bby?". Gerutu Eidra.
Jadilah mereka berdebat sampai ke ruangan pemeriksaan Lisna.
"Kak, bagaimana keadaan Kak Lisna?". Cecar Eidra
"Masih diperiksa Ei". Jawab Oscar.
"Julio, Pak Oscar. Kalian urus saja persidangan pembebasan Lisna. Pastikan tidak ada media yang meliput kebebasan Lisna". Tintah Edgar.
"Baik Tuan. Kami permisi".
Oscar dan Julio langsung melakukan perintah Edgar. Karena perintah Edgar tidak bisa diabaikan apalagi menunggu nanti. Jika sampai Julia mengabaikannya, bisa-bisa dia tidak menikahi Julia nantinya.
"Bby, terima kasih yaaa". Eidra memeluk lengan suaminya dengan sayang.
Edgar tersenyum hangat tangannya terulur mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Sama-sama sayang. Asal kau bahagia, aku akan melakukan apa saja untukmu. Untuk Triple L". Ucap Edgar tersenyum hangat.
"Kau pandai juga menggombal Bby?". Goda Eidra "Aku jadi makin sayang".
Edgar terkekeh geli. Andai saja mereka tidak dirumah sakit, pasti Edgar suka menerkam istrinya itu dengan buas.
**Bersambung......
Ed & Ei**.
__ADS_1