
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Julia masih terisak dipelukkan Julio. Eidra sudah seperti adik kandungnya sendiri. Apalagi mereka sama-sama tumbuh tanpa kasih sayang orangtua.
"Sudah ya sayang, jangan menangis lagi. Nona Ei pasti baik-baik saja". Julio mengusap pipi kekasihnya.
Sedangkan Bima memeluk Asih. Bima masih ingat saat pertama kali menemukan Eidra di pinggir jalan dalam keadaan menangis. Setelah beberapa hari kemudian Eidra dijemput oleh pasangan suami istri yang mengaku orangtua Eidra.
Edgar keluar dari ruangan istrinya. Wajahnya tampak lelah.
"Tuan".
Julio dan Julia langsung berdiri memberi hormat pada Julio.
Edgar hanya mengangguk dengan wajah lelahnya. Sesakit ini ternyata melihat orang yang kita sayang terbaring tak berdaya.
"Julio, siapkan semua alat medis terbaik untuk istri dan anak-anakku. Aku akan mendatangkan dokter terbaik dari Amerika". Tintah Edgar
"Baik Tuan". Sahut Julio.
"Nak Edgar, boleh kah Ibu melihat Ei sebentar?". Pinta asih.
Edgar mengangguk "Tentu Bu. Silahkan masuk". Ucap Edgar. Dia tidak bisa melarang orang lain yang ingin melihat istrinya. Karena bukan hanya dia yang menyanyangi Eidra tapi semua orang.
Asih masuk sendiri. Karena hanya satu orang yang diperbolehkan masuk melihat kondisi Eidra.
"Tuan bisakah saya bicara sebentar?". Tanya Bima menatap Edgar.
"Katakanlah". Sahut Edgar dingin tanpa basa basi. Dia duduk dengan tatapan kosong.
"Saya punya usul, jika Ei dibawa pulang saja ke villa Tuan. Disana akan lebih aman, serta Ei juga akan lebih mudah beradaptasi". Saran Bima.
Edgar menatap Bima "Kenapa kau bisa berpikir begitu?". Tatap Edgar.
"Tuan, Ei hanya koma. Dia mendengar dan tahu apa yang kita bicarakan hanya saja dia tidak bisa membuka matanya. Jika kita bawa pulang ke villa, kemungkinan Ei bisa sedikit beradaptasi dengan suasana disana". Jelas Bima.
Julio dan Julia juga tampak berpikir. Masuk akal pendapat Bima. Eidra memang butuh suasana tenang.
"Benar Tuan. Saya setuju dengan pendapat Dokter Bima". Sambung Julio.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan anak-anak ku? Aku tidak mau mereka terpisah".
"Anak-anak anda juga bisa dibawa kesana Tuan. Semua peralatan medis bisa kita siapkan dan pindahkan disana. Saya yang akan menangani langsung ketiga bayi anda". Tungkas Bima.
Edgar terdiam sejenak. Memang lebih baik jika Eidra dirawat divilla saja dari pada disini. Di villa aman dari ancaman orang-orang jahat diluar sana.
"Baik aku setuju". Sahut Edgar "Julio persiapkan semuanya. Minta Orlando untuk membantu". Tintah Edgar.
"Baik Tuan".
.
.
.
.
Sesuai dengan saran Bima dan kesepakatan bersama, Eidra dan ketiga bayi kembarnya akan dipindahkan ke villa Edgar. Benar kata Bima jika villa Edgar bisa menenangkan hati dan dengan begitu Eidra akan bisa merespon setiap ucapan yang dia dengar.
Edgar meminta Julio menyiapkan fasilitas terbaik untuk istri dan ketiga anaknya. Dia yang berniat untuk mendatangkan dokter terbaik dari Amerika di urungkan niatnya. Eidra tidak butuh dokter, Eidra hanya butuh Edgar selalu berada disampingnya dan memberi support padanya agar melawan semua rasa sakit yang menyerangnya.
Edgar menyiapkan kamar terbaik untuk istri dan ketiga anaknya. Fasilitas-fasilitas mahal dibawa ke villanya serta alat-alat medis untuk membantu istri dan anaknya berjuang melawan sakit yang dirasa.
"Pastikan istri dan anak-anakku mendapatkan pengobatan terbaik Orlando". Ucap Edgar sambil menaikkan selimut istrinya sampai dada.
"Baik Tuan" Sahut Orlando "Sering-sering lah mengajak Ei berbicara Tuan, agar respons otaknya bisa terus aktif". Ucap Orlando.
"Baik, aku akan terus mengajaknya berbicara".
"Kalau begitu saya permisi Tuan. Jika butuh apa-apa panggil saja say atau Dokter Bima dan Dokter Susi".
Edgar hanya mengangguk tanpa ucapan. Dia sudah lelah berbicara. Dia hanya ingin selalu berada disamping istrinya.
Kondisi ketiga anak Edgar sudah sedikit membaik. Kulit mereka yang sempat terkelupas kini mulai kembali sembuh. Karena memang menggunakan perawatan mahal tentunya.
"Sayang, kita sudah pulang ke villa. Apa kau tidak ingin membuka mata untuk melihat villa kita?". Edgar menoel-noel hidung Eidra. Oksigen uap sudah dilepaskan.
"Sayang kenapa kau cantik sekali ya? Rasanya aku ingin mengigit mu". Edgar terkekeh, menoel-noel hidung Eidra dengan gemesnya.
__ADS_1
"Kau tahu kan sayang? Jika adik kecilku sudah lama berpuasa. Kalau kau terus tertidur seperti ini, kapan buka puasanya?". Edgar memasang wajah cemberut seakan Eidra melihat wajah kesal suaminya.
"Kata Dokter Bima, kau selalu mendengar suaraku. Jika kau mendengar ucapan ku, maka bangunlah sayang. Kasihani aku. Aku sendirian. Tidak punya teman untuk bercerita. Aku ingin bercerita pada Ibu dan Mommy, tapi aku tidak yakin mereka akan paham. Hanya dirimu yang selalu memahami mu sayang". Ucap Edgar dengan sendu.
Eidra sama sekali tak merespon atau pun terusik dengan ucapan suaminya. Dia tetap terlelap dari tidurnya.
Edgar menghela nafas berat. Rapuh. Tak berdaya. Sakit. Jiwanya merana. Semua perasaan itu Edgar rasakan. Kapankah penderitaan ini berakhir? Edgar lebih memilih lumpuh dari pada melihat istrinya terbaring seperti ini.
.
.
.
.
"Sayang makanlah". Raina menyuapi Erwin. Pria itu tampak frustasi setelah mengetahui hubungan Anggela dan Brayn.
"Aku masih kenyang sayang". Tolak Erwin mendorong sendok istrinya.
Raina menghela nafas "Sayang kalau kau tidak makan kau akan tambah sakit. Bagaimana bisa kita memberi Kak Edgar semangat sedangkan kita sendiri rapuh". Ucap
Erwin terdiam sejenak "Aku kasihan pada Kak Edgar sayang. Aku juga tak menyangka jika Brayn dan Anggela selama ini memiliki hubungan". Erwin menghela nafas "Bagaimana keadaan Ayah Mertua dan Ibu Mertua?".
"Ayah dan Ibu memang merencanakan membunuh Ei. Dari dulu mereka memang tidak menyukai Ei. Bahkan saat aku berteman dengan Ei, mereka melarang keras".
"Kenapa bisa begitu?". Tanya Erwin heran.
"Entahlah aku juga tidak tahu".
**Bersambung.....
Ed & Ei
Menangis memang tidak menyelesaikan masalah tapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada...
Salam hangat dari author....
Rasanya pengen mewek, pengen cerita. Tapi terlalu rapuh dan terlalu sakit untuk diceritakan**..........
__ADS_1