Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Dinner romance Ed & Ei


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Eidra terpaku melihat sebuah taman yang didekorasi sedemikian rupa. Bukan direstourant mewah. Bukan dihotel bintang lima. Tapi ditaman belakang villa mewah suaminya.


Berkali-kali wanita itu mengerjabkan matanya untuk memastikan bahwa permandangan tidak salah.


"Bby".


Edgar menuntun istrinya berjalan diatas karpet merah yang sudah didominasi dengan hiasan bunga-bunga disekitar nya.


Edgar mengandeng tangan istrinya dengan begitu pelan. Seakan takut jika wanita itu sampai terjatuh. Seperti menjaga sebutir telur, sedikit saja retak pasti akan pecah.


Eidra mengikuti suaminya. Wajahnya tampak bingung. Apakah ini sebuah kejutan? Atau sejenis memenangkan undian berhadiah? Pikir Eidra.


Edgar menarik kursi agar istrinya itu duduk. Eidra mengikuti dan duduk dikursi yang di tarik oleh suaminya.


"Kau pernah bilang kan sayang ini makan malam bersama ku?". Eidra mengangguk "Sekarang aku ingin mewujudkan impianmu itu sayang". Edgar tersenyum simpul melihat wajah istrinya yang terkejut.


"Aku memang bukan pria romantis. Tapi aku akan berusaha membuat mu dan ketiga kecambah itu bahagia". Ucap Edgar.


Edgar berdiri dari duduknya. Lalu dia mengulurkan tangannya pada sang istri.


"You want to dance with me?".


Eidra menyambut tangan suaminya. Matanya berkaca-kaca. Impiannya dulu tercapai. Sekarang dia sudah memiliki suami yang bisa berjalan normal.


"Bby rasanya aku ingin menangis". Ucap Eidra menyeka air matanya. Padahal sudah menangis, baru berkata ingin menangis.


"Menangis lah sayang". Eidra menarik istrinya. Dia menyenderkan kepala wanita itu didada bidangnya "Menangislah karena bahagia". Ucap Edgar mengelus kepala istrinya.


"Bby apa aku bermimpi?". Eidra segugukan "Rasanya aku tidak percaya semuanya Bby, hiks".


Edgar melepaskan pelukannya. Dia menyeka air mata wanita yang begitu dia cintai itu. Senyumnya mengembang melihat istrinya yang segugukan justru terlihat begitu menggemaskan dimata Edgar.


"Ayo berdansa sayang".


"Tapi aku tidak bisa berdansa Bby". Ujar Eidra

__ADS_1


"Tenanglah, aku akan mengajari mu".


Edgar meletakkan satu tangan istrinya dibahunya. Yang satunya lagi dia genggam. Tangan kanannya melingkar dipinggang ramping Eidra.


Keduanya berdansa dengan diiringi alunan piano dan biola.


Tampak wajah bahagia tersirat diwajah keduanya. Edgar menatap istrinya dengan cinta. Eidra juga menatap suaminya dengan hati berbunga-bunga. Rasanya masih tidak percaya jika sekarang dia bisa berdansa dengan pria yang dulu duduk dikursi roda.


Perjalanan rumah tangga yang begitu banyak lika-liku nya. Perjalanan yang diiringi oleh air mata. Kini membuahkan hasil sebuah kebahagiaan.


Edgar juga tak menyangka jika wanita yang sedang berdansa dengannya ini adalah gadis yang dulu dia nikahi dengan sebuah tujuan agar merahnya. Gadis yang harusnya menikah dengan adiknya, tapi dia menjadi pengantin pengganti adiknya sendiri. Tak menyangka jika disana lah awal takdir membawa keduanya dalam hubungan yang rumit, hingga tumbuh benih-benih cinta.


Edgar setuju menikahi Eidra karena dia ingin ada yang merawatnya. Apalagi dia tahu jika Eidra seorang dokter. Namun siapa yang bisa menyangka jika semua adalah awal dari perjalanan cintanya.


Eidra yang polos dijadikan sebagai penebus hutang Baskoro kepada Keizo. Dia dijadikan pengantin agar hutang-hutang Baskoro lunas, dengan satu catatan dia harus merawat putra Keizo yang lumpuh selama sepuluh tahun itu.


Eidra harus melepaskan semua mimpi menjadi dokter spesialis tulang. Bahkan dia yang sudah diterima bekerja disalah satu rumah ternama, Orlando Hostpital's harus membatalkan semua kontrak kerja yang sudah dia tandatangani.


Eidra berpikir jika pernikahan nya adalah awal dari penderitaan. Awal dari penyiksaan. Tapi takdir justru berkata lain, dia terjerat cinta CEO lumpuh itu. Hingga kedua saling jatuh cinta.


"Bby kenapa jantungku berdebar yaaa?".


Edgar terkekeh mendengar pertanyaan istri kecilnya. Lucu sekali, jantungnya berdebar saja dikatakan pada suaminya.


"Itu tandanya kau sudah jatuh cinta padaku sayang". Sahut Edgar sambil berdansa dengan istrinya.


"Iya Bby. Kau benar, seperti nya aku jatuh cinta lagi dan lagi padamu. Begini ya Bby rasanya jatuh cinta".


Lagi-lagi Edgar terkekeh. Celotehan istrinya seperti nyanyian yang mampu menghibur Edgar. Tak bisa Edgar bayangkan seperti apa hidupnya jika Eidra benar-benar meninggal kala itu. Istrinya pura-pura hilang ingatan saja dia sudah frustasi bukan main.


"Bby, aku capek. Kita makan saja yuk". Eidra melepaskan tangannya dibahu suaminya.


Suasana yang tadinya romantis berubah muram bersamaan dengan wajah kesal Edgar. Padahal dia ingin lebih lama berdansa dengan istrinya. Tapi Eidra malah ingin makan.


"Ya sudah ayo kita makan".


Meski kesal. Edgar tetap menuruti keinginan istrinya. Jangan sampai dia emosi dan mengomel. Bisa cepat tua dan karena dia memang sudah tua.

__ADS_1


"Buka mulutmu sayang".


Edgar menyuapi istri kecilnya dengan telaten dan sabar. Senyumnya mengembang saat melihat Eidra makan dengan lahap. Setelah melahirkan nafsu makan Eidra semakin bertambah. Namun tak membuat badan wanita itu gemuk.


"Bby, bagaimana kau bisa menyiapkan semua ini?". Eidra menatap dekorasi indah taman itu dengan kagum "Ramuan cintaku tidak kau gusur kan Bby?".


"Tidaklah sayang. Aku sudah memerintahkan Julio untuk merawat nya dengan baik". Sahut Edgar


Eidra masih menganggumi dekorasi taman itu. Seperti berada disurga nyata.


"Indah sekali ya Bby. Nanti kalau Triple El sudah besar taman ini kita buat taman bermain anak-anak saja yaa. Pasti indah". Eidra tersenyum sumringah.


"Apa pun yang membuatmu senang sayang. Lakukan saja". Jawab Edgar tersimpul. Karena tidak ada yang lebih berharga dalam hidupnya selain kebahagiaan Eidra.


"Terima kasih Bby". Eidra memeluk lengan suaminya dengan sayang.


"Bby aku sampai terbayang-bayang memikirkan uangmu yang banyak itu. Berapa tahun yang kau butuhkan mengumpulkan uang sebanyak itu Bby? Bahkan kita memberi Mas Bima dan Kak Susi, 10 M. Tapi tidak juga berkurang". Celetuk Eidra dengan wajah bingungnya.


"Aku lupa berapa lama aku mengumpulkan nya sayang. Mau kau pakai berapa pun, jumlahnya akan tetap banyak. Jadi jika kau ingin sesuatu, gunakan lah". Ucap Edgar.


Eidra menggeleng "Mau beli apa lagi Bby? Semuanya sudah ada. Villa mewah ada. Mobil, aku tidak butuh mobil karena tidak pandai menyetir. Tas bermerk, baju mahal, sepatu mahal. Aku juga tidak butuh. Kau sudah menyiapkan semuanya untukku. Aku hanya butuh satu Bby_".


"Apa sayang?". Tanya Edgar penasaran.


"Cintamu".


Eidra mengecup bibir Suaminya secepatnya kilat. Namun tengguk Eidra langsung ditahan oleh Edgar untuk memperdalam ciuman mereka.


Nafas Eidra tersengal-sengal. Suaminya ini benar-benar singa.


"Kau ingin membunuhku Bby?". Gerutu Eidra menghirup udara dengan kuat.


"Heheh maaf sayang. Bibirmu ini manis sekali". Edgar mengusap bibir istrinya. Dia merasa bersalah.


**Bersambung.....


Ed & Ei**.

__ADS_1


__ADS_2