
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Erwin mendengus kesal saat Raina memaksakan meminum ramuan cinta buatan Eidra. Raina sebenarnya tak tega memaksa suaminya, tapi Eidra terus mendesak katanya demi sembuh.
"Ayo sayang minum sedikit saja. Supaya kakimu cepat sembuh". Bujuk Raina.
"Ck, rasanya tidak enak sayang. Benar-benar pahit. Bukan membuatku sembuh malah ingin membuat isi perutku keluar semua". Tolak Erwin.
Edgar dan Eidra berjalan menuju meja makan. Hanya ada mereka dirumah. Pristy dan Keizo pulang sebentar ke Mansionnya, untuk melihat kondisi Mansion. Sedangkan Buana dan Elizabeth sedang fitting baju, untuk hari pernikahan mereka bulan depan. Leonardo, sibuk mengurus perusahaan. Eve mengantar Adelle kesekolah. Dan Julio, sudah pindah ke rumah baru yang Edgar belikan untuk asisten nya.
Julio sempat menolak karena tidak enak. Tapi Edgar tidak mau tahu. Sebenarnya, Eidra memaksa Julio dan Julia tinggal bersama mereka divilla. Tapi Julio menolak karena dia tidak enak, Edgar sudah terlalu baik padanya.
"Kenapa Kak Nana?". Tanya Eidra sambil menggendong bayinya. Sedangkan kedua putranya ditidurkan pada box bayi berroda yang didorong oleh Edgar.
"Suamiku menolak minum ramuan Ei. Ramuannya memang tidak enak. Kakak saja ingin muntah menciumnya. Rasanya Kakak tidak tega memaksanya". Ucap Raina sendu.
Eidra mencebik kesal. Baru minum yang seperti itu saja, sudah mengeluh. Dasar adik ipar penakut, gerutu Eidra.
"Bby gendong Sya dulu". Eidra memberikan bayinya pada suaminya
"Iya sayang". Edgar menyambut putrinya dengan tersenyum sumringah.
"Sini Kak Nana berikan padaku". Ucap Eidra.
"Ini Ei".
Eidra tersenyum devil menatap Erwin. Sedangkan Erwin mendelik ngeri. Tatapan Eidra seperti ingin menelanjanginya saja.
Edgar hanya bisa menggeleng gemes. Dia yakin Eidra akan melakukan sesuatu pada Erwin. Seperti yang dulu pernah Eidra lakukan padanya. Memaksanya. Mengancamnya. Alhasil mau tak mau dia tetap meminum ramuan itu hingga tandas.
"Adik ipar cepat buka mulutmu".
"Tidak mau". Erwin menutup mulutnya.
"Ck kau ini payah sekali adik ipar. Kau mau selama nya duduk dikursi roda membosankan ino?". Eidra memincingkan matanya kesal "Ohhh atau kau mau kakimu di amputasi saja yaaa?? Ide bagus juga, biar tidak punya kaki sekalian". Eidra tersenyum smrik sambil meletakkan gelasnya.
__ADS_1
"Kau mau membunuhku Kak. Lebih baik aku mati dari pada tidak punya kaki". Gerutu Erwin.
"Wahhh ide bagus itu. Kalau kau mati, Kak Nana kan jadi janda. Jadi Kak Nana bisa menikah lagi dengan pria normal. Atau Kak Nana menikah saja dengan Mas Bima, dia tampan lho. Dokter lagi". Seru Eidra.
Erwin menahan nafasnya menahan kesal. Sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan Raina menikah lagi. Dia juga tidak mau mati. Dia kan hanya asal bicara saja.
"Sini biar aku minum". Akhirnya Erwin mengalah.
"Yesss berhasil". Eidra berjingkrak senang "Silahkan diminum adik ipar. Dijamin rasanya pahit dan tidak enak, membuat ingin muntah. Jika kurang bisa tambah lagi. Kakak iparmu tercantik ini siap membuatkan ramuan cinta". Seru Eidra mengangkat gelas itu dan memberikannya pada Erwin.
Erwin memutar bola matanya malas. Jika saja bukan demi Raina dengan putranya, dia memilih lumpuh saja dibanding minum ramuan itu.
"Kak Nana bantu suamimu".
"Iya Ei".
Edgar hanya menggeleng gemes melihat cara istrinya merayu orang lain. Edgar adalah korban pertama rayuan Eidra, dan masih banyak lagi korban-korban Eidra selain dirinya.
"Pelan-pelan minumnya sayang. Pasti bisa". Raina tersenyum hangat.
"Bagaimana adik ipar? Enak tidak rasanya?". Seru Eidra cekikikan melihat wajah kesal Erwin.
Erwin memutar bola matanya malas "Enak dari Hongkong".
"Bukannya Jepang". Eidra tertawa terpingkal-pingkal.
"Sudah sayang. Jangan jahil terus. Ayo kita balik ke kamar, menidurkan mereka". Ajak Edgar.
"Ck, ini pagi hari lho. Nanti saja. Aku masih capek. Kau ini tidak ada puas-puasnya". Gerutu Eidra.
Raina tersenyum malu mendengar ucapan Eidra. Eidra sama sekali tidak malu berbicara vulgar padahal bukan hanya dia diruangan itu. Tapi tetap saja dia berbicara asal keluar.
.
.
__ADS_1
.
.
"Hai sayang Ayah". Erwin menciumi wajah putranya "Semakin tampan ya putra Ayah ini?". Seru Erwin sumringah sambil mengendong putranya.
Raina datang dengan membawa dua gelas teh dan satu toples cemilan.
"Minum sayang".
"Terima kasih sayang".
"Bagaimana kakimu apakah sudah lebih enak?". Tanya Raina.
Erwin menghela nafas panjang "Belum sayang. Sakit sekali. Tapi setelah minum ramuan cinta Kakak ipar. Rasanya sudah lebih baik. Bisa sedikit digerakkan sayang". Jelas Erwin.
"Kalau begitu kau harus lebih rajin lagi meminumnya".
Mendengar nama meminum itu membuat wajah Erwin masam "Tapi rasanya pahit dan tidak enak sayang. Aku benar-benar tidak sanggup". Gerutu Erwin.
"Namanya juga obat sayang. Ya pasti pahitlah. Tidak apa-apa pahit, yang penting kan bisa bantu sembuh". Sahut Raina tersenyum "Ohhh ya sayang rencana, tiga bulan lagi aku mau melanjutkan kuliahku. Sayang sekali jika tidak dilanjutkan, sebentar lagi aku magang. Setelah selesai dokter umum, aku ingin ambil spesialis penyakit tulang seperti Ei". Ucap Raina.
Erwin bernafas berat "Apa harus kau melanjutkan study sayang? Kan kita sudah punya banyak uang dan perusahaan. Kau tidak kerja saja kita tetap makan. Lagian siapa yang akan mengurus aku dan Bara?". Ucap Erwin. Dia keberatan dan takut jika akan banyak pria yang menggilai istrinya itu.
"Sayang pendidikan itu penting. Aku akan membagi waktu untuk kalian. Ada Mommy juga nanti yang akan membantuku. Jadi kau tidak perlu khawatir". Sahut Raina mengelus bahu suaminya. Dia tahu jika suaminya ini tengah cemburu.
Erwin menghembuskan nafasnya pelan. Dia tidak bisa menghalangi impian istrinya.
"Baiklah. Tapi ingat jaga mata. Jaga hati. Awas saja jika kau nakal, aku akan mengurungmu seharian dikamar". Ancam Erwin.
Raina terkekeh "Tenang saja sayang. Hatiku hanya milik mu". Raina memeluk suaminya dengan sayang.
Bersambung....
Ed & Ei
__ADS_1