
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Edgar berteriak histeris. Apalagi melihat mobil yang di tumpangi Eidra berguling-guling diatas aspal. Edgar membabi buta menghampiri mobil itu. Para pengawal dan anggota kepolisian segera mengevaluasi korban kecelakaan maut yang didalamnya ada wanita hamil.
Seluruh tubuh Leonardo terasa lumpuh. Dia melihat sendiri bagaimana mobil yang ditumpangi adiknya terbalik membentur aspal.
"Ei".
Leonardo hanya mampu bergumam dalam diamnya. Dia melihat Edgar berteriak seperti orang gila, memaksa kepolisian untuk segera mengeluarkan istrinya dari dalam mobil. Buana dan Keizo tampak berusaha menenangkan Edgar yang menggila seperti orang habis obat.
Jantung Leonardo terasa berhenti berdetak. Seluruh aliran dalam darahnya membeku bersama tulang-tulang dan daging yang melekat ditubuhnya.
Tidak, Eidra tidak boleh pergi. Leona-nya tidak boleh pergi. Bagaimana nanti hidup Leonardo jika harus kehilangan adiknya untuk yang kedua kalinya. Bagaimana nasib Ibu nya dan Adelle. Mereka berdua sangat menyanyangi Eidra lebih dari apapun.
"EIDRA".
"EIDRA".
"EIDRA".
Teriakan Edgar begitu menggema dia berteriak histeris dengan tangis seperti orang gila. Buana, Keizo dan Julio berusaha menenangkan Edgar dengan memasung pria itu. Takut jika Edgar melakukan hal gila.
"Ei".
Orlando yang baru datang dari tempat kejadian langsung berlari ketika melihat mobil itu terpental diaspal.
"Ei".
Orlando menggeleng tak percaya. Tidak, Eidra tidak akan mati. Apapun alasan nya. Eidra tidak boleh mati. Tidak boleh. Orlando ikhlas jika Eidra bahagia bersama Edgar, tapi jika harus mengikhlaskan Eidra pergi untuk selamanya. Rasanya Orlando belum siap kehilangan.
Oscar, kepolisan dan pengawal serta anak buah Buana dan Leonardo segera mengeluarkan orang-orang yang ada didalam mobil itu.
"Ei". Oscar menutup mulut tak percaya melihat kondisi Eidra.
"Tolong bantu". Pintanya pada beberapa anggotanya.
"Siap Komandan". Beberapa polisi membantu Oscar mengeluarkan Eidra. Darah mengalir dibagian kepala dan tangannya. Keluar juga dibagian kakinya, mungkinkah air ketuban Eidra pecah?
__ADS_1
"Eidra".
Edgar berhambur menghampiri Oscar yang baru saja mengeluarkan Eidra.
"Eidra".
Edgar memangku kepala istrinya yang penuh darah "Julio cepat siapkan mobil". Teriak Edgar
Edgar mengangkat tubuh istrinya dan mengendong wanita yang bersimbah darah itu. Darah mengalir dibagian tubuh Eidra. Wajahnya luka terkena pecahan kaca. Rasanya Edgar tidak ingin bernafas.
Edgar masuk kedalam mobil. Julio segera melajukan mobil itu.
"Sayang ku mohon jangan tinggalkan aku. Buka matamu sayang. Kumohon jangan pergi. Jangan pergi. Jangan pergi sayang. Jangan pergi. Buka matamu, buka sayang. Kau mendengar ku kan? Ayo buka sayang. Jangan bercanda, jangan membuatku panik begini. Buka sayang".
Edgar memeluk Eidra dengan tangis sambil menepuk-nepuk wajah istrinya yang mandi darah itu. Edgar tak bisa bernafas rasanya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana tronton itu menabrak mobil yang ditumpangi Eidra.
"Sayang kumohon bangun, hiks hiks. Jika kau mati, aku juga harus mati. Aku ingin selalu bersamamu, kemana pun dan apapun kondisi dan keadaan mu, aku ingin selalu bersamamu. Maafkan aku. Maafkan aku sayang. Ayo buka matamu. Buka sayang". Sambil menguncang tubuh istrinya Edgar menangis dengan hebat. Hancur. Patah. Jatuh dan belum siap kehilangan. Eidra adalah seluruh jiwa nya, jika Eidra pergi maka Edgar akan berhenti bernafas.
Julio menambah kan kecepatan mobilnya. Asisten Edgar itu juga menangis, ketika melihat kondisi Eidra. Tak bisa dipungkiri bahwa Julio juga takut kehilangan Eidra. Eidra adalah Nona yang baik padanya. Yang tidak membelanya saat Anggela menghina Julio. Yang tidak pernah merendahkan nya walau Julio adalah orang yang tidak punya.
"Bertahanlah Nona. Bertahan. Jangan pergi. Banyak orang yang menyanyangi anda. Anda berarti bagi banyak orang terutama saya". Batin Julio. Sambil menyetir dan menangis dalam diam.
"Sayang. Ayo bangun sayang. Bangun. Kau bilang ingin mengajak anak-anak bermain dengan ku kan? Aku sekarang sudah bisa berjalan. Aku sudah membeli mobil-mobilan untuk anak-anak kita, kau bilang padaku ingin menemaniku. Tapi kenapa kau malah memejamkan matamu? Ayo buka sayang, mereka akan segera hadir. Bukankah katamu kau ingin membeli waktu agar mereka cepat lahir? Ayo sayang, uangku banyak aku bisa beli waktu untukmu. Buka matamu".
Edgar menggeleng. Air mata seakan menandakan rasa sakit yang teramat. Ini lebih sakit dari penghianatan. Sakit dari kelumpuhan. Sakit dari segalanya. Edgar tidak tahu akan bagaimana hidupnya jika Eidra sampai meninggal.
Sampai dirumah sakit. Julio turun dengan cepat dan membuka pintu untuk Edgar. Masih sempat pria itu menyeka air matanya yang menetes. Sialnya lagi, air mata Julio tidak bisa berhenti. Seakan air matanya merasakan kepedihan hati Edgar.
Edgar turun dengan mengendong tubuh istrinya. Dia setengah berlari dan berteriak memanggil para dokter dan perawat yang ada disana.
Para perawat dan dokter langsung menangani Eidra dan melakukan penyelamatan pertama. Kondisi Eidra cukup mengenaskan. Detak jantung nya juga lemah. Darah mengalir dibagian kakinya, seperti nya darah itu berasal perut Eidra. Mungkin kah anak-anak nya akan lahir diusia delapan bulan?
.
.
.
__ADS_1
.
Di TKP, Leonardo masing mematung ditempatnya dia belum sadar jika adiknya sudah dibawa Edgar pergi kerumah sakit.
Oscar dan anggota kepolisian serta anak buah Leonardo dan Buana mengeluarkan, Seselia, Baskoro dan Anggela dari sana termasuk sang supir yang keadaannya jauh lebih parah. Bahkan kepalanya hampir putus karena terhimpit depan mobil.
"Anggela".
Brayn tersungkur dia menangis histeris menatap wanita itu.
"Anggela".
Dengan lirih Brayn menangkap tubuh wanita itu saat Oscar sudah berhasil mengeluarkan tubuh Anggela.
"Tuan sebaiknya bawa Nona Anggela kerumah sakit, dia masih hidup. Hanya saja kondisinya kritis". Saran Oscar.
Brayn mengendong tubuh Anggela dengan tangis. Kulit Anggela sudah tak terlihat karena dibungkus oleh darah berwarna merah.
"Lapor Komandan, Tuan Baskoro dan Nyonya Seselia meninggal ditempat". Lapor salah satu satu polisi pada Oscar.
"Baik. Bawa mayat ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya".
"Siap Komandan".
Baskoro dan Seselia meninggal ditempat. Kaca menancap diperut Baskoro, padahal dia duduk dibangku penumpang. Tangannya patah, kakinya juga patah. Kepalanya pecah.
Sementara Seselia, kepalanya juga pecah terbentur kap mobil. Otaknya keluar meleleh berwarna putih seperti beras. Tangan dan kakinya juga patah. Isi perutnya hampir keluar, akibat kaca mobil yang mengores perutnya.
Sedangkan sang supir, juga meninggal ditempat dengan kepala hampir putus. Jika tidak ada kulit yang menahannya, mungkin kepala dan tubuhnya sudah terpisah.
Bersambung....
Ed & Ei
Dipart ini author nulisnya sambil nangis, keingat sama almarhum Bapak. Author ngelakuin hal yang sama kayak Edgar, tapi Bapak nya author tetap pergi dan hilang selamanya....
Semoga ini gak terjadi sama Eidra. Semoga Eidra bertahan dan selamat. Jangankan Edgar yang suaminya, Author aja gak bakal siap Kehilangan Eidra, kangen sama celetukkan nya. Kangen sama jahilnya, pokoknya kangen semua hal yang bersangkutan dengan Eidra....
__ADS_1
Terima kasih para readers yang udah setia nungguin berita author. Makasih buat kritik dan sarannya. Mohon maaf jika banyak kekurangan, maklum penulis pemula yang belum berpengalaman kayak author lainnya, mohon kiranya para readers membantu author dengan memberi kan tanda cinta agar cerita ini terus berlanjut hingga endingnya...
Jaga kesehatan. jaga mata. jaga hati. jaga ucapan.. semoga kita sehat semua..... LoveUsomuch ❤️