
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Susi sedang mengecek tekanan darah Eidra. Dia memang ditugaskan oleh Edgar bersama Orlando dan Bima.
"Bagaimana Dok?". Tanya Bima yang sedang menyuntikan sesuatu dibotol infus Eidra.
"Tekanan darahnya normal. Detak jantungnya juga normal Dok". Sahut Susi.
"Baik. Saya rasa Ei, hampir bisa merespon hanya saja mungkin dia tidak bisa membuka mata". Ujar Bima.
Susi mengangguk. Dia kembali memeriksa bagian tubuh Eidra yang lainnya. Susi dokter umum, jadi dia paham banyak tentang penyakit.
Bima menatap wajah Eidra yang pucat tanpa darah. Kasihan sekali wanita ini. Bima jadi teringat dulu saat menemukan Eidra dipinggir jalan. Dia menyuruh Ibu nya meninggalkan Eidra karena takut dituduh menculik anak orang. Namun sang Ibu Keukeh membawa Eidra kecil ke panti asuhannya.
"Kita lihat respons beberapa hari ini. Jika ada perubahan kita lanjutkan perawatan intensif, tapi jika tidak. Ei akan kembali kritis". Tungkas Bima.
"Baik Dok".
Susi dan Bima beralih pada ketiga bayi Eidra. Sedangkan Edgar hanya diam mematung. Laki-laki itu mati pikiran. Apakah istrinya tidak akan bangun? Kenapa tidak bisa bangun? Eidra masih hidup, dia hanya sedang tertidur.
"Bayi perempuan Ei, sudah lebih baik. Kulitnya tidak lagi mengelupas. Detak jantung juga normal". Jelas Bima.
Susi mencatat apa yang Bima jelaskan. Itu sebagai laporan medisnya nanti.
"Ketiganya sudah sehat. Seperti nya cairan dalam tubuh mereka sudah berhasil keluar. Setelah ini, mereka sudah normal seperti bayi pada umumnya dan bisa dikeluarkan dari kaca. Tapi tetap membutuhkan penanganan khusus". Imbuh Bima.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?". Tanya Edgar. Dia terlihat begitu rapuh dan tak berdaya.
Bima menggeleng "Belum ada perubahan Tuan. Tapi ketiga bayi anda sudah bisa melewati masa kritis nya. Cairan dalam tubuh mereka juga sudah keluar. Jika dalam beberapa hari kedepan kondisi mereka semakin membaik, maka mereka bisa keluar dari kaca. Tapi tetap membutuhkan penanganan khusus". Jelas Bima menatap kedua bayi laki-laki Edgar dan Eidra.
"Terima kasih Dok". Ucap Edgar.
"Kalau begitu kami permisi Tuan".
Edgar hanya mengangguk saja. Dia sedang tidak ingin banyak bicara. Hatinya lelah seperti tubuh dan jiwanya.
__ADS_1
Bima dan Susi keluar dari kamar Edgar. Kedua orang itu tampak berbincang-bincang asyik. Bima memang pribadi yang mudah ramah dengan orang lain.
Mereka juga tinggal divilla atas permintaan Edgar, supaya bisa selalu mengontrol kesehatan istrinya.
Bima yang baru pindah dari Bandung, langsung ditugaskan menjadi dokter pribadi Eidra. Dia juga diterima disalah satu rumah sakit swasta dikota ini. Namun untuk sementara Bima tetap memprioritaskan kesehatan Eidra.
"Apa dokter sudah lama mengenal Ei?". Tanya Bima sambil berjalan sejajar dengan Susi.
"Lumayan Dok. Sejak Ei praktek dirumah sakit. Kami cukup akrab". Sahut Susi membalas dengan senyum hingga kedua lesung pipi nya terlihat jelas "Dokter sendiri?". Sambung Susi.
"Sejak bayi saya sudah mengenal Ei Dok. Dan ketika dewasa Ei sering berkunjung ke panti". Jawab Bima.
Keduanya tampak asyik mengobrol satu sama lain. Sesekali Susi tertawa mendengar celetukkan Bima. Mereka memang memiliki tugas dijam yang sama. Sementara Orlando harus bolak-balik rumah sakit untuk memantau beberapa pasien kanker.
"Dokter Orland". Sapa Bima ramah.
Orlando hanya mengangguk. Entah kenapa dia kesal melihat Bima dan Susi begitu akrab seperti orang yang sudah lama kenal?
"Apa Dokter sudah lama datang?". Tanya Susi sekedar basa-basi.
"Ya sudah Dok, kami duluan". Ucap Bima "Ayo Dokter Susi, sekalian kita makan siang". Ajak Bima.
"Oh boleh Dok".
Tangan Orlando terkepal kuat. Sesuatu yang aneh seperti menjalar dihatinya. Apakah cemburu? Atau karena dia sudah terbiasa dengan Susi dan makan berdua dengan dokter cantik itu.
.
.
.
.
Edgar menatap ketiga bayinya. Dia bisa bernafas lega, ketika dokter mengatakan bahwa ketiga bayinya sudah lebih membaik.
__ADS_1
"Hai Nak, Daddy ingin mengendong kalian, tapi tidak bisa. Cepat sembuh ya Nak, biar bisa digendong Daddy. Daddy ingin mencium wajah kalian". Celetuk Edgar.
"Owe owe owe owe owe".
Bayi laki-laki pertama Edgar menangis. Pria kecil yang masih berbentuk bayi itu seakan minta digendong oleh Ayahnya. Namun apa daya, kaca masih menjadi penghalang mereka untuk bisa saling melepas rindu.
"Cup cup cup... Jangan menangis ya sayang. Daddy disini. Cup cup, putra tampan Daddy, anteng yaaaa". Seru Edgar mengelus kaca putra nya dengan lembut.
Edgar harus menjadi Daddy tangguh. Setiap hari kegiatan nya selalu begitu, menenangkan ketiga bayinya yang menangis tanpa bisa mengendong mereka hanya dengan ucapan dan panggilan sayang saja yang bisa membuat ketiga bayi itu tenang.
Mereka juga makan masih menggunakan selang, dan itu pun harus para perawat yang memberi mereka makan.
Tidak tega. Kadang Edgar memalingkan wajahnya. Tak sanggup saat bayi-bayi itu makan harus menggunakan selang, meski mereka hanya minum susu yang disediakan oleh para dokter.
Edgar menatap istrinya. Dia tersenyum hangat sambil mengelus kepala wanita hebat itu.
"Sayang, kau dengar tangis mereka? Itu tangis kerinduan mereka padamu. Apa kau tak ingin melihat mereka sayang?". Lirih Edgar, tangannya masih mengelus kepala istrinya.
"Sayang".
Edgar melihat jari-jari Eidra sedikit bergerak. Seolah merespons ucapan nya. Dengan wajah panik Edgar memanggil Susi dan Bima ada Orlando juga disana.
Ketiga dokter terbaik itu segera memeriksa Eidra. Memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.
"Sayang kau merespons ku? Apa kau mendengar ku sayang?". Edgar menitikkan air matanya. Bahagia jika sudah ada perubahan pada Eidra.
"Ei sudah bisa merespon. Keadaannya juga sudah stabil. Kita sama-sama berdoa semoga Ei, cepat sadar". Jelas Orlando.
Edgar mengangguk paham. Dia tak sabar melihat Eidra bangun. Pasti istrinya itu akan sangat bahagia saat melihat ketiga anaknya sudah lahir.
Edgar teringat ucapan Eidra yang ingin membeli waktu agar ketiga anaknya segera lahir.
"Sayang, ayolah bangun". Desak Edgar "Kau tidak lelah terus tertidur begini?". Celetuk Edgar.
**Bersambung....
__ADS_1
Ed & Ei**