Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Ekstra Part 7


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sepanjang perjalanan Brayn hanya diam dengan gugup. Dia belum sanggup bertemu dengan keluarga Eidra. Rasa bersalahnya dimasa lalu terlalu banyak. Dia hampir membuat Eidra kehilangan anak-anak nya.


Beberapa kali pria itu mengembuskan nafasnya kasar. Brayn merasa tidak pantas bertemu dengan mereka. Rasanya dia ingin menyembunyikan diri dibawah tanah saja.


"Uncle kenapa?". Tanya Adelle melihat ke belakang. Brayn duduk dibelakang. Sementara Shella menyetir.


"Tidak apa-apa". Brayn mencoba tersenyum.


Perjalanan dua jam itu serasa sehari. Entahlah, jantung Brayn berdegup, dia belum siap melihat tatapan kecewa Leonardo. Dia sudah membuat pria itu kecewa gara-gara cintanya yang berakhir menyakitkan.


Sampai di villa Edgar. Mereka bertiga turun dan disambut hangat oleh para pengawal yang berjaga didepan villa Edgar.


"Selamat datang Nona Adelle, Nona Shella dan Tuan". Sapa mereka kompak.


"Malam Paman. Apa acara nya sudah dimulai?". Tanya Adelle sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


"Sebentar lagi dimulai Nona. Silahkan masuk".


Ketiganya masuk. Langkah kaki Brayn terasa berat. Dahinya berkeringat menahan gugup dan juga takut.


"Apa kau baik-baik saja Uncle?". Tanya Adelle melihat Brayn yang berjalan pelan-pelan.


"Baik-baik saja Nona". Brayn membalas dengan senyum.


"Ayo Uncle cepat sedikit". Adelle menarik tangan Brayn agar pria itu berjalan lebih cepat.


Brayn menatap Adelle. Adelle benar-benar mengingatkannya pada Anggela. Dan ini kenapa jantungnya berdebar-debar? Apakah karena sudah terlalu lama tidak berpegangan dengan wanita?


"Selamat malam semua". Pekik Adelle dan Shella bersamaan


"Malam".


Tatapan mereka terarah pada Brayn yang menunduk. Penasaran tentu saja. Siapa pria itu?


"Kau membawa siapa Adelle?". Tanya Leonardo menatap putrinya.


"Uncle Brayn".


Mereka terkejut mendengar nama Brayn. Kapan pria itu keluar dari penjara? Dan kenapa bisa ada disini?


"Brayn?". Gumam Erwin.


Secepatnya Edgar mengalungkan tangannya dipinggang Eidra. Dia takut, Brayn akan melakukan hal-hal yang bisa menyakiti istrinya.


"Apa yang kau lakukan disini?". Tanya Leonardo menatap Brayn dengan dingin.

__ADS_1


"Ihhhhh Ayah, kenapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku yang mengajak nya kesini. Iya kan Uncle?". Ujar Adelle.


Mata Leonardo tertuju pada tangan Adelle yang memeluk lengan kekar Brayn dengan agresif. Kenapa rasanya janggal sekali ya?


"Ehhhh Kak Brayn, silahkan masuk Kak. Jangan malu-malu. Nikmati saja makanan yang ada disini yaaa?". Ucap Eidra lembut sambil tersenyum hangat. Brayn bukan pria jahat dia hanya salah pembawaan.


"Sayang". Edgar mendesah pelan.


"Biarkan saja Bby, kau ini. Dia tamu kita. Jadi harus dihormati". Ucap Eidra.


"Ya aku tahu. Apa kau lupa dia itu seorang penjahat?". Ketus Edgar setengah berbisik.


"Itu dulu. Tapi sekarang kan sudah tidak lagi". Eidra hanya menggeleng. Suaminya ini selalu sensitif pada orang lain.


Acara di mulai. Acara yang cukup meriah itu hanya dihadiri oleh keluarga besar saja. Tidak ada sorotan kamera. Karena Edgar tidak mau mempublikasikan kehidupan keluarga nya di media sosial. Edgar tidak mau kejadian yang sudah-sudah terjadi.


"Selamat hari pernikahan Aunty". Adelle hendak memeluk Eidra. Namun secepatnya Edgar menahan Adelle.


"Jangan memeluk istriku sembarangan". Hardik Edgar melindungi Eidra takut sekali jika kulit Adelle tersentuh dikulit Eidra.


"Bby".


"Dad".


Elsyia maju dia menatap Edgar tajam. Ayahnya ini sungguh keterlaluan.


"Daddy mau tidur diluar nanti?". Ancam Elsyia setengah berbisik.


"Iihhh Bby kau ini. Biarkan Adelle memelukku sebentar Bby". Lama-lama Eidra jengkel pada suaminya ini.


"Tapi sayang......".


"Bby, Adelle itu perempuan mana mungkin doa menyukai ku. Kau ini, membuatku ingin salto saja". Ketus Eidra.


"Sini kesayangan Aunty".


"Aunty".


Keduanya berpelukan hangat. Tanpa peduli dengan wajah cemberut Edgar. Dari kecil Adelle memang begitu dekat dengan Eidra.


"Semoga Aunty bahagia selamanya". Adelle melepaskan pelukannya "Ini untuk Aunty. Adelle belikan khusus untuk Aunty saja ya. Di bagi-bagi". Ujar Adelle dia melirik Edgar dan mencibir pria itu dalam hatinya.


"Terima kasih sayang".


"Cihh, kau memanggilnya dengan panggilan sayang. Sementara kau tidak pernah memanggil ku dengan panggilan itu". Singgung Edgar kesal.


Mereka yang lain hanya bisa menggeleng kepala saja. Singa pencemburu itu memang menyebalkan tapi ya begitulah kalau sudah bucin.

__ADS_1


"Heheh iya sayangku. Cintaku. Unyuku. Suami tampanku ehh salah suami tua ku. I love you". Eidra memeluk suaminya dengan manja.


Rasa kesal Edgar langsung hilang mendengar ucapan istrinya. Ahhh kenapa seperti baru menikah saja rasanya?


"Iihhh kau ini". Edgar mencubit pipi istrinya


"Berhenti mengumbar kesemesraan didepan kami Dad. Pikirkan perasaan kami yang masih jomblo ini". Ketus Elnaro.


"Makanya cepat-cepat cari pasangan". Ujar Edgar tanpa rasa bersalah nya.


Keizo dan Pristy tersenyum hangat. Meski sudah puluhan tahun berlalu. Namun keharmonisan Edgar dan Eidra tak pernah memudar.


"Selamat memperingati hari pernikahan kalian ya Son?". Keizo memeluk putra angkatnya itu


"Terima kasih Dad". Balas Edgar. Dia teringat pada Buana. Rindu sudah pasti.


"Selamat ya Ei". Keizo juga memberikan pelukan hangat pada menantunya itu.


"Terima kasih Daddy Mertua". Seru Eidra.


"Ei".


"Mom".


Tanpa sadar air mata Eidra menetes. Dia merindukan Elizabeth. Kenapa kematian begitu cepat menghampiri Ibu nya itu. Baru saja mereka bertemu saat itu dan harus dipisah kan oleh kematian.


"Kenapa menangis Nak?". Pristy menyeka air mata Eidra


"Sayang". Edgar panik "Sayang ada apa? Apa ada yang sakit? Dimana yang sakit?".


"Mommy". Ketiga saudara kembar itu juga menghampiri Eidra.


"Mom apa yang sakit? Katakan saja Mom?". Cecar Eleano.


Eidra menggeleng sambil menyeka air matanya "Mom hanya rindu Ibu hiks".


"Mommy".


"Sayang".


Edgar dan Triple El memeluk Eidra. Mereka turut merasakan kesedihan yang dialami oleh wanita itu. Edgar tahu betapa akrab nya Eidra dan Elizabeth. Saat Elizabeth pergi Eidra yang biasa ceria terlihat murung.


Sama Leonardo juga rapuh. Rapuh sekali. Apalagi dia sejak kecil hidup bersama Elizabeth. Meski sempat berpisah karena dia tinggal di Indonesia dan Elizabeth tinggal di Inggris. Namun tak mengurangi rasa sayang nya pada Elizabeth.


Mereka semua ikut merasakan kesedihan Eidra. Namun bagaimana lagi tak ada lagi yang bisa menghindari kematian.


**Bersambung....

__ADS_1


Takdir cinta Edgar dan Eidra.


Love U All**.........


__ADS_2