
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Seorang wanita dan seorang pria mengenakan baju berwarna putih, menutup hidung dan mulut nya dengan masker serta memakai atribut seorang perawat.
Keduanya mendorong meja berroda yang didalamnya terdapat beberapa obat dan alat medis.
Keduanya masuk kedalam kamar Eidra dan ketiga anaknya.
"Apa ada orang?". Bisik sang pria
Sang wanita menggeleng "Tidak ada. Ini kesempatan kita menghabisi wanita sialan itu". Ucap sang wanita menggebu-gebu.
"Baik. Apa kau membawa cairan nya?".
Sang wanita mengangguk. Keduanya masuk sangat pelan takut ada yang curiga.
Keduanya sampai didepan ranjang Eidra. Tampak Eidra tengah terlelap, oksigen menempel dihidungnya, ada beberapa selang juga yang mengalir dibeberapa bagian tubuhnya.
Entah kemana Edgar? Biasanya dia tidak pernah meninggalkan istri dan anak-anaknya. Dia selalu terjaga dan memastikan bahwa keempat orang itu aman-aman saja. Tidak ada penjagaan juga yang terlihat didepan pintu kamar Eidra.
"Selamat tinggal Eidra. Jika Anggela tidak bisa bahagia, maka kau juga tidak bisa bahagia. Jadi impas bukan?". Sang wanita melepaskan oksigen Eidra.
"Suntikkan sayang". Suruhnya pada sang pria.
Pria itu mengangguk, lalu menyuntikkan sesuatu melalui infuse Eidra. Seketika Eidra kejang-kejang.
Brakkkkkkkkkkk
"Jangan bergerak".
"Sial". Umpatnya.
Oscar menodongkan pistolnya bersama beberapa polisi yang ikut bersamanya
"Ei". Edgar dan Leonardo berhambur menghampiri Eidra
"Leon ada apa dengan Eidra". Edgar panik Istrinya kejang-kejang.
"Bima, Susi, Orland".
Ketiga dokter itu siaga masuk kedalam kamar Eidra. Ketiganya langsung menangani Eidra.
Sedangkan kedua orang yang menyusup masuk itu langsung ditangkap oleh Oscar dan anak buahnya.
__ADS_1
Raina masuk bersama Erwin. Oscar membuka masker kedua orang itu.
"Ayah. Ibu". Raina menggeleng kecewa saat melihat kedua orangtuanya "Apa yang kalian lakukan pada Ei Bu?". Raina terisak tak menyangka jika orangnya sangat jahat.
"Raina". Lirih Astrid "Tolong Ibu Raina. Ibu dijebak". Ucap Astrid.
"Bawa mereka Pak". Suruh Erwin.
"Baik Tuan".
Tangan Robby dan Astrid diborgol oleh anak buah Oscar. Sebelumnya mereka sengaja menjebak kedua orang itu. Sesuai dengan prediksi Oscar bahwa Astrid dan Robby akan menyusup masuk kedalam kamar Eidra dan melakukan sesuatu.
Hingga akhirnya Oscar membuat jebakkan. Meski sempat ditolak keras oleh Edgar dan Leonardo, tapi Oscar berusaha menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Karena hanya cara itu yang bisa menangkap kedua orang itu.
"Lepaskan". Robby berusaha memberontak saat anak buah Oscar memaksanya berjalan.
"Raina tolong Ayah Nak. Tolong Ayah". Robby berteriak memanggil Raina. Tapi Raina menulikan telingannya dan dia tak ingin mendengar jeritan Ayahnya.
"Jangan pegang-pegang". Astrid memberontak "Sayang tolong aku". Renggek Astrid. Tangannya ditarik dengan kasar hingga menimbulkan kemerahan ditangannya.
Robby dan Astrid terus memberontak meminta lepaskan. Mereka tidak terima dijebak seperti ini. Pantas saja sangat mudah masuk kedalam villa itu, biasanya villa itu selalu dijaga ketat oleh pengawal Edgar. Bahkan ketika mereka masuk tidak ada penjagaan sama sekali, walau mereka menyamar bukan berarti tidak ada yang mengenal, bukan?
Saking terobsesi dengan misi dan ambisinya, keduanya tidak menyadari jika termakan rencana nya sendiri. Dipastikan setelah ini tidak ada kata bebas dari mereka berdua. Meskipun merenggek-renggek dengan tangis, Edgar dan Leonardo takkan pernah melepaskan kedua orang itu.
.
.
.
.
"Orland, bagaimana dengan istriku?". Cecar Edgar panik
Orlando menghela nafas panjang "Ei kembali kritis Tuan. Kami akan segera melakukan operasi untuk mengeluarkan racun dalam tubuhnya". Jelas Orlando.
"Tolong selamatkan istriku Orland, kumohon. Kumohon". Edgar memohon dengan sangat. Tidak, jika Eidra hilang Edgar juga akan hilang.
"Kami akan melakukan yang terbaik Tuan". Ucap Orlando.
Ketiga dokter itu melakukan operasi pada Eidra untuk mengeluarkan racun dalam tubuh nya.
Edgar, Leonardo dan yang lainnya menunggu didepan kamar Eidra. Edgar tidak diperbolehkan masuk kedalam ruangan Eidra karena takut menganggu konsentrasi para dokter.
__ADS_1
Sedangkan ketiga anak Edgar sudah dikeluarkan dari dalam kaca. Kondisi ketiga bayi itu sudah membaik dan normal seperti bayi pada umumnya.
Pristy, Elizabeth dan Margaretha yang mengurus ketiga bayi Eidra. Dibantu oleh Silva, Raina dan Eve.
"Cup cup cucu Oma, anteng yaaaa". Elizabeth mengendong bayi laki-laki Eidra yang begitu tampan dan begitu mirip dengan Ayahnya, Edgar.
"Owe owe owe owe owe".
"Sayang, jangan nangis ya Cu". Margaretha mengendong bayi perempuan satu-satunya.
"Owe owe owe owe owe".
"Cup cup, cucu Grandma tenang yaa sayang yaaaaaa.... Mommy sedang berjuang agar bisa berkumpul bersama kita". Ujar Pristy sambil menenangkan bayi yang menangis itu.
Ketiga bayi itu kompak menangis. Seolah ikut menangisi sang Ibu yang sedang kritis. Ikatan batin yang kuat antara Ibu dan anak membuat ketiga bayi itu juga merasakan apa yang Eidra rasakan.
.
.
.
.
Edgar menangis segugukan dipelukkan Leonardo. Kedua pria itu sama-sama menangis karena rapuh.
"Aku tidak akan bisa hidup tanpa Eidra, Leon. Dia hidupku. Bagaimana aku bisa bernafas tanpanya". Racau Edgar terisak dan menggeleng tak sanggup.
Bukan hanya Edgar yang tidak sanggup. Leonardo juga tidak akan sanggup. Bagaimana bisa dia kehilangan adiknya untuk yang kedua kali? Eidra juga begini berarti bagi Leonardo, dia sangat menyanyangi adiknya itu.
"Tenanglah Ed. Leona pasti baik-baik saja. Dia wanita kuat. Dia pasti kembali untuk kita. Aku percaya itu". Ucap Leonardo yakin padahal air matanya berdusta.
Kedua sahabat itu saling bertangisan satu sama lain. Saling merangkul memberi kekuatan.
Sudah satu bulan Eidra koma dan sampai hari ini dia belum juga terbangun. Edgar benar-benar takut jika istrinya tidak bangun lagi. Entah akan seperti apa hidup pria itu. Sungguh dia merindukan Eidra. Dia rindu ocehan dan Omelan istrinya. Edgar rindu pelukkan hangat wanita itu.
Edgar rindu semua hal yang berhubungan dengan Eidra. Apapun tentang Eidra, Edgar sangat rindu. Bolehkah, Edgar saja yang mengantikan posisi istrinya. Biar dia saja yang merasakan sakit, tapi jangan Eidra.
Tidak bisakah Tuhan berbaik sedikit padanya? Edgar tidak meminta banyak, dia hanya ingin hidup bahagia bersama Eidra dan ketiga anaknya. Tapi kenapa justru ini yang terjadi padanya? Istrinya koma dan tidak bangun-bangun. Kondisinya selaku kritis dan tidak stabil. Bagaimana caranya Edgar membuat Eidra bangun kembali?
Edgar sadar bahwa uang tidak bisa membeli segalanya, termasuk kesembuhan. Dia memiliki banyak uang, bahkan takkan bisa dihitung oleh kalkulator. Tapi dia tidak bisa menggunakan uang itu untuk membuat istrinya bangun dari koma nya yang panjang. Lantas untuk apa uang itu? Jika yang dirasa adalah semu?
Bersambung...
__ADS_1
Ed & Ei