
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Disebuah ruangan operasi. Tampak beberapa dokter dan perawat tengah berjuang menyelamatkan seorang wanita yang terbaring lemah dengan beberapa selang mengalir dibagian tubuhnya. Bahkan di mulutnya dipasang oksigen uap, yang menandakan bahwa wanita itu dalam keadaan kritis.
Suaminya duduk dikursi sampingnya. Mengenggam tangan wanita itu, menangis segugukan dengan hebat. Berharap Tuhan memberinya kesempatan untuk membuat istrinya bahagia. Dia seperti pria rapuh tak berdaya, penampilan nya berantakkan bahkan bajunya masih bersimbah.
Edgar memaksa masuk kedalam ruang operasi istrinya. Dia tidak mau jauh dari Eidra. Dia ingin selalu berada disamping Eidra, melawan semua rasa sakit yang membellengu tubuh istrinya. Hatinya bagai teriiris, melihat kondisi sang istri, luka-luka dibagian tubuhnya membuat hati Edgar menjerit kesakitan.
Orlando ikut masuk kedalam ruang operasi. Meski dia bukan Dokter Spesialis Bedah, tapi dia ingin membantu para dokter sebisa nya. Orlando takkan membiarkan Eidra pergi dari sisi Edgar. Dia sudah berjanji akan menjaga Eidra sebisanya, meski Eidra bukan miliknya.
"Sayang, bertahanlah. Aku menunggumu disini. Aku yakin kau pasti bisa melewati ini. Ada aku. Ada mereka. Kita semua akan menemani mu melewati ini. Kumohon, tetaplah disisiku. Temani aku hingga kutemukan akhir dari usia". Gumam Edgar mengusap kepala Eidra. Dentingan alat monitor terdengar menggema bersama uapan oksigen yang mengalir dhidung istrinya.
"Kita akan keluar kan bayinya".
"Baik Dok".
Para Dokter dan Perawat tampak sibuk dengan bagian masing-masing.
Ada yang sibuk menyiapkan kapas, gunting, jarum jahit, serta menyiapkan keperluan lainnya. Ada juga yang sibuk mengusap keringat yang mengalir didahi sang dokter agar tidak menganggu berjalannya operasi.
"Biar saya Dok". Pinta Orlando.
"Silahkan Dokter".
Orlando turun membantu, melihat bagaimana dokter bedah itu membelah perut Eidra. Orlando sedikit meringgis, membayangkan betapa sakitnya terkena turihan pisau itu, jika tidak menggunakan obat bius.
Ada dokter kandungan dan dokter bedah yang ikut bekerja melakukan operasi pada Eidra. Operasi besar yang tentu beresiko apalagi kondisi Eidra sedang kritis. Namun, bayi-bayi dalam perut Eidra harus dikeluarkan. Karena jika tidak bisa saja bayinya tidak selamat, akibat cairan yang dimasukkan Anggela kedalam perut Eidra.
"Kasa".
"Gunting".
Dokter spesialis bedah itu tampak serius, sesekali dia memerintah pada para perawat untuk mengambilkan alat-alat yang dia gunakan. Orlando juga ikut membantu dan melihat. Dia ingin belajar bagaimana cara kerja dokter spesialis bedah.
"Owe owe owe owe".
__ADS_1
"Owe owe owe owe".
"Owe owe owe owe".
Suara tangisan ketiga bayi itu saling menggema dan bersahutan.
Mata Edgar berkaca-kaca mendengar tangisan ketiga anaknya. Tapi sayang, Eidra tak terusik sama sekali. Bukan karena pengaruh obat bius tapi dia memang tidak sadar sebelum diberi obat bius.
"Dok, kondisi ketiga bayi Nona Eidra, kritis Dok". Ucap salah satu perawat yang baru saja membersihkan bayi perempuan Eidra
"Masukkan kedalam kaca. Pastikan ketiganya selamat".
"Baik Dok".
Jantung Edgar terasa ingin berhenti berdenyut. Ketiga anaknya dalam keadaan kritis. Bagaimana bisa? Tidak, tidak. Mereka tidak boleh pergi meninggalkan Edgar sendirian. Jika ketiga bayi dan istrinya pergi, Edgar juga harus pergi bersama mereka. Edgar tak bisa hidup sendirian. Dia tidak akan sanggup.
"Sayang, bangun. Ayo bangun sayang. Mereka sudah lahir. Buka matamu, mereka sakit melihat mu seperti ini hiks hiks". Edgar menelungkupkan wajahnya ditangan Eidra sambil mengenggam tangan wanita itu. Tak sanggup, dadanya sesak.
Para dokter kembali melanjutkan operasi dengan menjahit perut Eidra. Butuh waktu sekitar sepuluh jam untuk melakukan operasi besar itu. Kondisi Eidra yang semakin menurun, ditambah dengan ketiga bayi yang baru lahir itu juga dalam keadaan kritis. Entah cairan apa yang dimasukkan Anggela kedalam mulut Eidra, sehingga begitu berpengaruh pada bayi-bayi Eidra.
Bayi Eidra harus dimasukkan kedalam kaca untuk mendapatkan perawatan intensif. Kondisi ketiga bayi itu cukup parah. Ketiganya terus menangis, kulit mereka juga merah-merah. Bahkan bayi perempuan Eidra yang lahir paling terakhir, kulit mengelupas dibagian dada seperti terkena air panas.
"Owe owe owe owe".
"Owe owe owe owe".
"Owe owe owe owe".
Para perawat segera mengeluarkan ketiga bayi itu dari ruang operasi dan membawanya ke ruangan bayi serta memasukkan nya dalam kaca.
"Suster bagaimana cucu kami?". Cecar Pristy.
"Cucu anda dalam keadaan kritis. Kami akan segera memasukkannya dalam kaca". Ucap sang Dokter.
Pristy, Elizabeth, Keizo dan Buana mengikuti ketiga perawat itu untuk masuk kedalam ruangan bayi.
__ADS_1
Disana ketiga bayi Eidra dimasukkan kedalam kaca. Tangan mereka dipasang selang infus kecil. Hidung mereka dipasang oksigen untuk membantu mereka bernafas.
Bayi perempuan Eidra, yang paling parah. Dadanya dipasang alat sebagai pendeteksi keadaan jantungnya. Kulitnya mengelupas dibagian dadanya.
Buana menggeleng tak percaya melihat kondisi cucunya. Sungguh manusia biadab tak punya perasaan. Kenapa tega sekali menyakiti bayi tidak berdosa seperti ketiga bayi Eidra.
"Ya Tuhan".
Elizabeth menangis menatap ketiga cucu nya. Bahkan mereka menangis tapi tidak bisa digendong dan dibiarkan saja didalam kaca.
"Kenapa bisa seperti ini?". Keizo juga menangis melihat kondisi cucunya. Hati siapa yang takkan sakit melihat ketiga bayi tak berdosa itu dalam keadaan sekarat.
"Cucu ku". Pristy hanya bisa mengusap kaca bayi Eidra. Ingin megendong tapi tidak bisa "Kalian pasti kuat ya Nak. Kalian harus bertahan. Kalian anak-anak hebat hiks hiks". Pristy hanya bisa terisak sambil menahan sakit dalam dadanya.
Buana dan Keizo begitu terluka melihat kondisi ketiga cucu mereka. Andai saja, Seselia dan Baskoro masih hidup. Sudah pasti keduanya akan membunuh kedua orang itu dan menguliti tubuh mereka.
Jiwa kemafiaan Buana hidup kembali. Tapi entah pada siapa dia harus melampiaskan kemarahannya.
"Nak". Elizabeth berderai air mata. Tidakkah cukup penderitaan Eidra yang dulu, kenapa sekarang harus dialami oleh anak-anak nya.
"Kalian harus kuat ya. Oma sayang kalian". Ucap Pristy
"Owe owe owe owe".
"Owe owe owe owe".
"Owe owe owe owe".
Kembali ketiga bayi itu menangis. Seolah tubuh dan hati mereka menjerit secara bersamaan. Tangisnya mereka begitu menyayat hati.
Buan, Pristy, Keizo dan Elizabeth hanya bisa menangis menyaksikan cucu mereka menangis dalam kesakitan. Ingin direngkuh tubuh munggil dan lemah itu tapi tidak bisa, karena selang oksigen yang menempel dihidung mereka seakan menjadi pemisah untuk memberikan pelukkan hangat.
**Bersambung....
Ed & Ei**
__ADS_1