Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Masih Tentang Perpisahan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Selesai mengobati luka Ezra. Bagara mengajak bocah itu mandi. Dia yang langsung turun tangan memandikan Ezra. Padahal para pelayan bisa saja memandikan bocah itu. Tapi entah kenapa Bagara ingin melakukan nya. Dia merasa Ezra akan menjadi pria hebat ketika besar nanti dan dia memiliki ikatan yang kuat dengan Ezra.


"Kakek akan memandikanmu yaaa?". Bagara membuka baju Ezra yang dipenuhi oleh darah "Apa ini darah Ayah dan Ibu mu?". Tanya Bagara


"Darah Ibu ku Kek. Dia ditembak tepat didepan ku". Jawab Ezra sendu.


"Sudah jangan sedih lagi yaa. Kan susah ada Kakek". Ucap Bagara.


"Iya Kek".


"Ayo kita mandi".


Bagara mengendong Ezra masuk kedalam kamar mandi. Dia membersihkan Ezra dengan telaten, sesekali menggosok bagian tubuh Ezra.


Ezra meringgis, karena luka dikaki dan tangannya teras perih, namun dengan cepat Bagara meniupnya agar sakitnya hilang.


Mereka berdua mandi bersama. Sambil bercanda ria. Padahal baru saling kenal dan baru saja bertemu.


"Apa Kakek tinggal sendiri?". Tanya Ezra penasaran.


Bagara mengangguk sambil menggosok kepala Ezra dengan handuk, mengeringkan rambut bocah itu "Kakek tidak tinggal disini, Kakek tinggal di Indonesia. Kakek sedang ada perjalanan bisnis. Pulang ke sini hanya sesekali saja". Jawab Bagara.


"Ohhh begitu ya Kek". Sahut Ezra.


"Ya sudah yuk, pakai baju dulu".


Bagara mengendong Ezra kecil keluar. Lalu mendirikan bocah itu diatas ranjang nya.


"Wahhh kenapa tiba-tiba ada bajuku disini Kek?


Bagara terkekeh "Tadi Kakek suruh Willy untuk menyiapkan keperluan mu". Jawab Bagara sambil memasang baju ke tubuh Ezra


"Willy itu siapa Kek?". Tanya Ezra. Masih kecil tapi cerewet bukan main.

__ADS_1


"Asisten pribadi Kakek, yang tadi itu".


Ezra hanya manggut-manggut mengerti. Mereka makan berdua. Para pelayan tersenyum melihat betapa bahagianya Tuan mereka yang selalu berwajah dingin itu.


Sejak yang istri meninggal Bagara selalu merasakan kesepian. Keizo dan Pristy baru saja dikaruniai anak diusia pernikahan mereka yang kelima tahun. Oleh sebab itu Bagara selalu merasa kesepian.


Keesokan harinya. Bagara langsung membawa Ezra pulang ke Indonesia dengan jet pribadi miliknya. Dia senang melihat cucu angkatnya yang bahagia menaiki jet pribadi itu.


Di Indonesia, Bagara akan memberikan sebagian hartanya untuk Ezra, karena Ezra nanti yang akan menjadi penerus kerajaan bisnis nya.


.


.


.


.


Satu bulan kemudian..........


Namun Buana tak mendapati dimana putranya.


"Arlletha". Gumamnya mengelus batu nisan bertuliskan nama Arlletha "Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku berjanji akan mencari putra kita. Kau tenang ya sayang. Setelah aku menemukannya, aku akan menyusulmu dan kita berdua akan hidup bahagia disana". Ucapnya sambil menangis.


"Ezra, kau dimana Nak? Daddy sudah berjanji menjemput mu. Tapi Daddy tidak menemukanmu, dimana kau Nak?". Dia bergumam sendiri.


Para kelompok Mafia itu melepaskan nya. Namun percuma karena istri dan anaknya takkan kembali. Istrinya sudah pergi untuk selamanya. Sedangkan putranya dia tidak tahu dimana sekarang putranya berada sekarang.


"Mari Tuan saya bantu".


Buana berdiri dibantu oleh Daddy. Peluru yang mengenai kakinya membuat kakinya lumpuh ringan sehingga harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.


Buana masuk kedalam mobil. Dia menatap kosong keluar jendela. Sekarang dia sendirian dan tidak memiliki siapa-siapa. Hidupnya sebatang kara.


"Apa kau sudah menemukan dimana Ezra?". Tanyanya

__ADS_1


"Maaf Tuan. Saya sudah mencari Tuan Kecil kemana-mana tapi tidak ada jejak yang menunjukkan dimana Tuan Kecil". Sahut Dedi.


"Apa kau sudah meretas CCTV dijalanan?".


"Sudah Tuan. Tapi saya tetap tidak bisa menemukan jejak Tuan Kecil". Jawab Dedi


Buana memejamkan matanya sakit. Menyesal pun tidak ada gunanya. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Dadanya sesak, air mata luruh tak terkendali. Kenapa hidupnya seperti ini?


"Tuan harus ikhlas saya yakin Nyonya sudah bahagia disana". Ujar Dedi.


Saat kejadian penyerangan Dedi tidak ada di Mansion. Dia sedang mengurus perusahaan Buana. Dan betapa dia terkejut nya saat pulang ke Mansion melihat kondisi Mansion yang sudah hancur dan mayat beberapa pelayan berserakkan dimana-mana.


Dedi juga menemukan Buana dan Arlletha yang tergeletak dengan darah yang mengalir ditubuh mereka. Dedi panik bukan main dan beruntung nya Buana masih hidup meski sekarang. Sedangkan Arlettha sudah meninggal, bahkan tubuhnya kaku dan membiru.


"Ini semua salahku Dedi. Andai aku tidak terjun ke dunia Mafia, pasti Arlletha dan Ezra tidak akan menjadi korban. Ini semua salahku Dedi, hiks hiks". Buana hanya bisa terisak menyesali semua yang terjadi


"Berhenti menyalahkan diri anda Tuan. Semua sudah garis kehidupan". Sahut Dedi sambil menyetir dan melirik Buana lewat kaca mobil.


"Tapi ini benar-benar salahku Dedi". Dada Buana benar-benar sesak. Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk hidup. Bagaimana nanti dia hidup sendiri.


"Ezra, kau dimana Nak? Daddy sudah datang menjemput mu. Kemana kau pergi Nak? Daddy mohon kembali lah Nak". Gumam Buana lagi.


Dedi ikut prihatin melihat kondisi Tuan-nya. Setelah satu bulan berlalu Dedi mencari dimana keberadaan Ezra namun tak juga menemukan dimana keberadaan bocah tampan itu.


"Dedi tetap lakukan pencarian. Bila perlu telusuri seluruh dunia untuk menemukan putraku". Tintah Buana.


"Baik Tuan".


Ini adalah kehilangan paling menyakitkan dalam hidup Buana. Dia kehilangan dua orang sekaligus yang paling dia cintai. Perpisahan ini terjadi disaat dirinya belum siap?


Kemana lagi dia harus mencari Ezra? Ujung dunia bahkan sudah ditelusuri. Setiap hari Buana tak henti-hentinya mencari dimana putranya itu.


Waktu terus berlalu, tahun demi tahun terlewati. Namun Buana tetap tak menemukan dimana jejak putranya. Buana tak pernah berhenti dia terus mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari putra semata wayangnya itu.


**Bersambung.......

__ADS_1


Ed & Ei**


__ADS_2