
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Para Dokter masih sibuk melanjutkan operasi Eidra. Bukan hanya mengeluarkan bayi dalam perut Eidra. Tapi juga mengeluarkan cairan yang masuk kedalam tubuh Eidra. Entah kandungan apa yang terkandung dalam cairan itu, hingga membuat beberapa sel tubuh Eidra mati. Pantas saja ketiga bayinya terlihat kritis karena memang cairan itu berbahaya.
Untung saja setelah kecelakaan Eidra segera dilarikan kerumah sakit, jika lambat sedikit. Mungkin Eidra dan anak-anak nya, akan menghilang selamanya.
Tit tit tit tit
"Dok, jantung pasien melemah".
"Percepat tekanannya". Perintah Orlando.
Tit tit tit tit tit
Para Dokter dan perawat dibuang panik. Bagaimana tidak, layar monitor yang menunjukkan kinerja jantung Eidra tiba-tiba menunjukkan garis lurus memanjang disertai dengan suara yang menggema.
"Eidra".
Teriak Edgar dia memeluk istrinya dengan tangis. Tidak, tidak. Eidra-nya tidak boleh mati.
"Eidra, kumohon jangan pergi Eidra. Ku mohon Eidra. Bertahan demi aku, hiks hiks".
Edgar menangis histeris memeluk istrinya. nafasnya tersengal-sengal dan memburu. air mata sudah tak terhitung berapa banyak yang jatuh dipipinya.
"Permisi Tuan, biarkan Dokter memeriksa keadaan Nona". Ucap beberap perawat laki-laki.
Edgar melepaskan pelukkannya dan sedikit bergeser. Istrinya sempat kejang-kejang.
"Dok, jantung pasien berhenti berdetak".
"Ambilkan CPR".
"Ini Dokter".
Edgar yang memberontak dipasung oleh beberapa perawat laki-laki. Pria itu seperti orang gila yang habis obat.
Orlando menarik nafas dalam lalu menekan alat itu berulang kali didada Eidra.
Tit tit tit tit tit
"Eidra ku mohon buka matamu. Kembali Eidra. Kembali Ei. Kembali, kumohon Eidra".
Dengan tangis Orlando menekan berulang kali dada Eidra. Berharap sentruman yang diberikan pada tubuh Eidra bisa membuat wanita itu bernafas kembali.
Orlando menghentikan aksinya. Dia menggeleng sambil mundur.
__ADS_1
Tit tit tit tit tit
Garis lurus terlihat jelas memanjang, menandakan bahwa jantung Eidra tidak lagi berdetak seperti biasanya. Jantungnya tidak lagi memiliki nafas untuk hidup.
"Orlando bagaimana istriku?". Tanya Edgar lemah.
Orlando menggeleng "Kita kehilangan dia Tuan". Jawab Orlando lemes. Tubuhnya serasa mati rasa.
"TIDAK. TIDAK. TIDAK". Teriak Edgar menggema. Sementara para dokter dan perawat yang lain hanya bisa diam, dengan perasaan campur aduk.
"Istriku tidak mungkin meninggal. Dia masih hidup. Dia masih hidup".
"Sayang, aku mohon. Buka matamu. Aku tidak bisa tanpa mu, Eidra. Jangan pergi. Jangan pejamkan matamu sayang, ayo buka matamu". Desak Edgar menguncang tubuh istrinya.
Tubuh Eidra kaku seketika. Tangannya dalam sekejap membiru. Wajahnya pucat tanpa darah. Mungkin seluruh aliran darah dalam tubuhnya telah berhenti bekerja.
"Orlando, cepat hidupkan istriku Orlando. Aku akan membayar berapapun yang kau mau. Tolong hidupkan dia. Hidupkan dia Orlando. Ku mohon tolong aku. Bagaimana aku bisa hidup tanpanya. Tolong Orlando, hidupkan dia". Edgar menarik kerah Orlando sambil berteriak memaksa pria itu menghidupkan istrinya.
Orlando hanya bisa terdiam dengan wajah sendu. Tangisnya juga terdengar mengisak. Tak bisa dibohongi, bahwa dia merasakan separuh jiwa nya pergi. Kenapa harus Eidra yang pergi.
"Ei".
Elizabeth, Leonardo, Keizo, Buana, Pristy, Raina, Erwin, Adelle dan Eve masuk kedalam ruangan operasi.
Semua mematung ditempatnya saat Eidra terbaring kaku lemah dan tak bergerak sama sekali.
"Eidra".
"Leona".
"Eidra". Elizabeth menangis dengan hebat. Memeluk tubuh putrinya yang sudah tak bernyawa "Eidra. Eidra. Eidra. Eidra". Dia terus memanggil nama putrinya.
"Leona". Leonardo juga menangis histeris. Memeluk Eidra sambil menguncang tubuh wanita itu membangunkannya dari tidurnya.
Sedangkan Edgar seketika diam. Tubuhnya tak bisa bergerak. Pasokkan udara didalam paru-paru nya mulai menipis. Dia sudah tak mampu menangis. Terasa jiwanya menghilang entah kemana. Tidak mungkin. Tidak percaya. Istrinya. Wanita hebat yang sudah mengubah hidupnya. Memberikan segalanya padanya, kini terbaring kaku tanpa darah. Apakah sejahat itu takdir padanya? Tidakkah Tuhan kasihan dan memberinya sedikit kebahagiaan?
Buana memeluk Edgar yang terdiam. Raina memeluk Erwin yang duduk dikursi roda. Keizo dan Pristy juga saling memeluk saling bertangisan.
"Aunty Ei, jangan tinggalin Adelle. Hiks hiks hiks hiks Aunty. Adelle lindu Aunty. Adelle lindu masakan Aunty. Jangan pelgi". Adelle ikut menangis dengan menggoyangkan kaki Eidra yang terasa dingin.
Oscar mematung dipintu masuk. Kakinya terasa berat melangkah masuk kedalam. Jantungnya seperti berhenti dan tidak mampu memompa darah dalam tubuhnya.
"Ei".
Oscar sudah menganggap Eidra sebagai adik kandungnya. Apalagi dia tidak punya saudara perempuan, tentu begitu menyanyangi Eidra.
__ADS_1
"Ei". Oscar menggeleng. Ini pasti mimpi bukan kenyataan kan? Oscar berusaha menolak takdir.
Tangisan masih menggema disana. Tangisan Elizabeth dan Leonardo serta Adele saling bersahutan satu sama lain. Para dokter yang melihat juga ikut menyeka air mata mereka. Terharu, ikut merasakan kehilangan yang keluarga besar itu rasakan.
.
.
.
.
Brayn terduduk lemes didepan pusara Anggela. Wajahnya tampak kacau dan berantakan serta tak terurus. Dia baru saja mengurus sesi pemakaman Anggela.
Tidak ada keluarga yang datang. Keluarga besar Anggela tinggal di China, karena Ayah Anggela orang China asli sedangkan Ibunya orang Indonesia.
"Anggela".
Brayn berbaring disamping pemakaman Anggela yang tanahnya masih basah serta bunga-bunga segar masih menyeruak.
Brayan memeluk tanah itu seperti orang gila. Menangis segugukan.
"Aku merindukanmu Anggela. Aku merindukan. Kenapa kau pergi meninggalkan aku? Kenapa Anggela?". Brayn terisak sambil memeluk tanah itu dan membenamkan wajahnya disana. Seolah yang dia peluk adalah tubuh Anggela.
Brayn memang begitu mencintai Anggela. Wanita itu berhasil merebut hatinya. Membuatnya bahagia meski cintanya tak pernah teroleh Anggela.
.
.
.
.
Lisna meringguk dibalik jeruji besi. Kematian kedua orangtuanya sangat menganggu jiwa wanita itu. Kini hidupnya benar-benar hancur. Tak ada lagi harapan kebahagiaan yang dia harapkan. Dia hanyalah butiran debu yang akan kembali menjadi tanah.
"Dad. Mom". Lirihnya dengan air mata berderai. Jiwa nya terasa melayang dan menghilang.
"Aku ingin ikut bersama kalian". Lirihnya.
Mungkin mati adalah jalan terbaik menghadapi masalah. Lisna ingin segera mati tapi kematian belum juga menjemputnya. Malah menjemput kedua orangtuanya lebih dulu. Kenapa tidak dia saja yang dipanggil Tuhan? Kenapa harus kedua orangtuanya.
Tangsi Lisna terdengar begitu lirih. Para wanita berbadan gempal yang biasa menyiksa Lisna hanya terdiam mendengar tangisan wanita itu. Ada rasa iba melihat betapa rapuhnya Lisna.
Lisna merasa tidak berguna lagi dia hidup. Apalagi yang harus dia banggakan dan jaga. Dia sudah sendirian dan tidak memiliki siapa-siapa. Dia juga akan membusuk selamanya dijeruji besi ini. Waktu dua puluh tahun adalah separuh dari usianya, itu sangat lama dan tidak tahu kapan akan berakhir.
__ADS_1
**Bersambung....
Ed & Ei**