Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Panas


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Edgar menggerutu mendengar cerita istrinya. Jika saja bukan istrinya, sudah pasti Edgar akan menenggelamkan wanita itu. Membuatnya naik darah. Membuatnya kesal. Tapi juga membuatnya rindu. Kejahilan Eidra tak ada obatnya. Eidra mungkin satu-satunya wanita yang suka melihat suaminya menangis. Eidra mungkin satu-satunya wanita yang suka mengerjai suaminya.


"Jangan marah ya Hubby. Aku sengaja.. Hihi".


Eidra tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah kesal suaminya. Edgar sampai meniup-niup rambutnya menahan emosi. Gemes. Geram. Kesal.


"Kau ini, benar-benar keterlaluan yaaaaa. Aku tidak sedang bercanda". Edgar menciumi wajah istrinya.


"Hahah hentikan Bby. Aku juga sedang tidak serius".


Julio menggeleng sambil tersenyum gemes. Tak disangka Nona Muda-nya ini benar-benar wanita jahil. Bukan hanya Edgar yang kesal semua orang juga kesal.


"Sudah.. Lihat itu Triple El sudah lapar, segera kasih ASI anak mu, Nak". Ujar Elizabeth mengendong Elsyia.


"Sini Bu". Eidra mengambil anak perempuan nya. Sedangkan Edgar mengendong kedua putranya.


"Hai putri Mommy. Cantik sekali. Seperti Mommy yaaaaa.. Cup cup cup". Eidra menciumi bayi nya "Sudah lapar sayang. Sebentar lagi siang. Mau ikut jogging sama Mommy". Celetuknya. Yang lain menggeleng gemes.


.


.


.


.


Bima turun dari mobil dia tersenyum sumringah sambil meneteng dua rantang nasi ditangannya. Dia diterima bekerja dirumah sakit Orlando.


"Dokter Susi pagi....". Sapanya masuk kedalam ruangan Susi.


"Ehhh Dokter Bima. Silahkan masuk Dok". Susi tersenyum ramah. Dia baru datang dan langsung meletakkan tasnya.


"Ayo duduk".


Keduanya duduk disofa ruangan Susi. Ruangan Bima bersebelahan dengan ruangan Susi. Bima spesialisasi penyakit dalam. Sedangkan Susi masih dokter umum.


"Ini bekal untuk Dokter. Kebetulan Ibu saya memasak lebih dan dia berpesan memberikan nya pada Dokter". Ucap Bima tersenyum lembut.


"Terima kasih Dok. Titip salam sama Ibu". Susi tersenyum manis. Manis sekali hingga menampilkan kedua lesung pipinya, membuat Bima terpesona


"Dok....". Susi melambaikan tangan diwajah Bima. Saat pria itu menatapnya tak berkedip.


"Ehhhh Iya". Bima tersadar sekaligus malu karena ketahuan menatap Susi.


"Dokter sudah sarapan?". Tanya Bima mengalihkan pembicaraan padahal hatinya sudah gugup bukan main.


"Belum". Jawab Susi "Mau sarapan bersama?". Tawar Susi.

__ADS_1


"Boleh Dok. Kita sarapan dikantin saja, sambil minum kopi". Ujar Bima.


"Ayo Dok".


Keduanya keluar dari ruangan Susi sambil berbincang-bincang dan sesekali tertawa. Sejak Eidra bangun dari koma, mereka tidak lagi tinggal divilla Edgar. Mereka hanya sesekali datang kesana untuk mengacek kondisi Eidra dan ketiga bayi kembarnya.


"Dokter Orland". Sapa Susi.


Tangan Orlando terkepal melihat Susi dan Bima pagi-pagi sudah bercanda. Biasanya Susi akan membawakannya sarapan pagi. Tapi hari ini wanita itu malah terlihat tidak peduli padanya.


"Dok". Sapa Bima juga.


"Kalian mau kemana?". Tanya Orlando dingin. Dia menatap rantang nasi yang sama dipegang oleh Susi dan Bima.


"Sarapan Dokter. Mau ikut?". Tawar Susi


Orlando mengangguk. Mereka bertiga berjalan menuju kantin. Suasana menjadi canggung. Susi merasa ada yang berbeda dengan Orlando hari ini. Biasanya dokter tampan itu selalu bersikap ramah padanya. Tapi kali ini diam saja.


Mereka duduk dikursi dan meja yang sama.


"Wahhh seperti nya enak Dok". Susi mengirup bau masakan itu "Seperti masakan Ibuku". Tungkas Susi lagi.


"Benarkah? Ibu ku memang hobby memasak. Jika Dokter suka, besok saya bisa meminta Ibu memasak lagi?". Bima tersenyum manis melihat Susi.


"Apa tidak merepotkan Dok?". Susi tak enak hati.


"Sama sekali tidak. Atau Dokter mau berkunjung ke panti, kita bisa masak bareng?". Ujar Bima.


"Bisa Dok".


Bima dan Susi tak menyadari ekspresi waja Orlando. Orlando merasa hatinya panas. Marah. Kesal cemburu. Salah sendiri, perasaan orang hanya digantung.


"Seakrab itu mereka? Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sekesal ini? Apa iya aku menyukai Dokter Susi? Bagaimana mungkin, aku kan hanya menganggapnya adik?". Batin Orlando


Makanan yang dipesan Orlando datang. Pria itu makan dalam diam.


Sedangkan Bima dan Susi terus mengobrol dan bercanda satu sama lain.


"Dokter sudah punya kekasih?".


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


Orlando langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Bima pada Susi.


"Minum Dok". Susi menyedorkan minumannya pada Orlando.


"Terima kasih Dok".Orlando mengambil minuman itu dan menyendot isinya.


"Tidak ada Dok". Susi tersenyum malu ketahuan tidak memiliki kekasih.

__ADS_1


Bima tersenyum bahagia. Artinya dia punya kesempatan untuk mendekati Susi. Susi cantik. Baik. Lembut. Sopan. Feminim. Senyum manisnya membuat jantung Bima ingin berpindah tempat.


Mereka kembali melanjutkan makan. Sesekali diselingi dengan obrolan hangat. Tapi Orlando tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi. Niatnya tadi datang cepat berharap Susi akan memberikan bekal padanya seperti setiap pagi. Tapi malah harus menyaksikan permandangan yang membuat hatinya panas.


"Saya duluan".


Orlando langsung berdiri dan meninggalkan Susi dan Bima yang bingung melihat nya. Orlando panas melihat kemesraan dua orang itu. Dia lebih memilih pergi dari pada melihat Susi dan Bima seakrab itu.


"Ada apa dengan Dokter Orlando?". Gumam Susi.


"Tidak tahu Dok". Sahut Orlando "Sudah ayo lanjut makan. Masih banyak pasien yang harus kita tangani".


"Iya Dok". Keduanya kembali melanjutkan makan mereka.


.


.


.


.


Orlando masuk kedalam ruangannya dengan wajah ditekuk kesal. Dia tidak tahu kenapa dia bisa cemburu? Secepatnya Orlando menepis perasaannya itu.


Orlando menghempaskan tubuhnya dikursi. Dia memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


Tidak sengaja Orlando melihat foto pernikahan nya dengan Lisna. Foto yang belum sempat Orlando Buang. Entah kenapa dia merasa begitu berat membuang foto itu. Hingga dia membiarkan saja foto itu berada di meja kerjanya.


"Lisna".


Orlando mengambil foto itu. Dia mengelusnya dengan ibu jarinya. Dia menatap foto itu dengan sendu.


"Seandainya kau tidak menghianati ku. Pasti kita sudah hidup bahagia. Dulu aku berharap kau lah pengganti Eidra, tapi nyatanya aku malah keliru. Kau malah membuatku semakin patah dan tidak percaya lagi akan adanya cinta". Ucap Orlando tersenyum sinis.


Dia meletakkan kembali foto itu. Dia ingin membuang semua rasa pahit dihatinya. Dia selalu terluka karena cinta.


**Bersambung....


Ed & Ei


Cie cie cie Babang Orland cemburu ya🤭


Makanya bang gak usah gengsi kena selip kan sama dokter spesialis penyakit dalam🤣🤣


Apakah cinta Susi akan berlabuh pada Bima? Atau Orlando???


Atau Orlando akan kembali membuka hatinya untuk Lisna?????


Bagaimana kah kabar Lisna???

__ADS_1


Yuk ikutin kisah mereka**.


__ADS_2