
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Oscar dan Silva sedang menghabiskan waktu bersama. Sibuk mengurus kasus Anggela dan Eidra, membuat Oscar tidak memiliki waktu dengan kekasihnya itu.
"Bagaimana keadaan Nona Eidra sayang?". Tanya Silva bergelut manja dilengan kekasihnya itu. Saat ini mereka sedang menikmati permandangan indah dipantai.
"Ei sudah lebih baik". Sahut Oscar tersenyum mengelus kepala Silva dengan sayang.
"Benar Nona Eidra lupa hilang ingatan?". Tanya Silva penasaran.
Oscar terkekeh "Tidak. Dia hanya mengerjai suaminya saja".
"Jadi maksud mu Nona Eidra hanya pura-pura lupa?". Tanya Silva keningnya berkerut heran.
Oscar mengangguk "Iya". Sahut Oscar singkat.
"Nona Ei, jahil juga ya. Bagaimana bisa dia pura-pura lupa begitu?". Silva menggeleng tak percaya "Bagaimana reaksi Tuan Edgar saat tahu istrinya pura-pura lupa?". Gumam Silva
"Palingan gemes, terus digelitik". Oscar cekikikan sendiri. Jangankan Edgar, dia saja gemes.
"Sayang".
"Ehemmm".
Oscar mengenggam tangan Silva. Membuat wanita itu melepaskan pelukkan tangannya dilengan Oscar..
"Ada apa sayang?". Tanya Silva tersenyum lembut. Polisi ini benar-benar tampan. Tubuhnya tegap. Roti sobek terlihat jelas diotot-otot perutnya.
Oscar meronggoh koceknya. Dia mengeluarkan kotak berwarna merah yang dihiasi Vita diluarnya.
"Maukah kau menikah denganku??". Oscar membuka kotak itu dan menyerahkannya pada Silva.
Silva mendengar tak percaya. Benarkah pria yang selalu berdebat dengannya ini melamarnya? Atau Silva sedang bermimpi?
"Sayang".
Silva mengangguk dengan wajah bahagia. Dia masih belum percaya jika Oscar melamarnya secepat ini. Padahal mereka belum menjalin hubungan sampai setahun hanya beberapa bulan saja.
Bahkan saat Oscar mengajaknya menikah kala itu, Silva sama sekali tidak tertarik. Apalagi Oscar pria dingin. Tapi saat Silva mengenali Oscar lebih dalam. Ternyata pria itu hangat juga. Oscar hanya dingin pada orang yang baru ditemuinya. Tapi sesungguhnya pria itu adalah pria baik dan juga peduli.
Oscar memasangkan cincin itu dijari manis Silva. Senyumnya mengembang dan bahagia.
"Terima kasih sayang".
Oscar memeluk Silva. Berterima kasih karena akhirnya dia bisa melamar kekasihnya itu. Tak Oscar sangka jika dia akan jatuh cinta pada Silva. Sebelumnya tidak ada wanita yang membuatnya tertarik. Apalagis saat menyaksikan pernikahan Orlando dan Lisna yang berakhir ditengah jalan. Bahkan Lisna menghianati Orlando membuat Oscar semakin ragu untuk memulai hubungan dengan wanita. Tapi sejak pertemuannya dengan Silva, membuat pria itu berubah pikiran. Apalagi desakkan Margaretha yang memintanya menikah, membuatnya belajar membuka hati untuk Silva. Dan sampailah dia jatuh cinta pada gadis itu.
Oscar melepaskan pelukkannya. Dia mengelus kepala Silva dengan sayang. Silva tersenyum hangat. Mereka saling tersenyum manis.
.
.
.
.
Hari pernikahan Oscar dan Silva. Diselenggarakan dikediaman Orlando. Tampak Oscar dan Silva duduk di pelaminan dengan senyum mengembang. Mereka baru saja menyelesaikan pemberkatan disebuah gereja.
__ADS_1
Tampak Edgar dan Eidra juga datang dengan seluruh anggota keluarga yang ikut meramaikan pernikahan Oscar dan Silva.
Acara berlangsung meriah. Tampak orang-orang begitu bahagia. Oscar dan Silva tak berhenti tersenyum apalagi Margaretha begitu bahagia melihat putra bungsunya bersanding di pelaminan.
"Selamat ya Nak". Margaretha memberikan pelukan hangat pada Oscar.
"Terima kasih Bunda". Oscar membalas pelukkan Margaretha dengan berkaca-kaca. Setelah ini prioritas utamanya bukan lagi Bunda-nya melainkan istri dan anak-anaknya.
Dedi juga naik keatas pelaminan. Menatap putri semata wayangnya yang sudah mendapatkan cinta sejatinya.
"Ayah". Silva berhambur memeluk Dedi.
"Anak Ayah". Dedi menyambut pelukkan putrinya itu "Selamat ya Nak. Selamat hidup bahagia. Hormati suamimu. Layani dia dengan baik. Berbakti lah pada suami dan dan jadilah Ibu terbaik untuk anak-anak mu nanti". Pesan Dedi.
"Terima kasih Ayah. Aku menyanyangimu". Ucap Silva menahan tangisnya. Dia hidup hanya dengan sang Ayah, Sedangkan Ibunya sudah meninggal.
"Nak". Dedi beralih pada Oscar.
"Ayah". Oscar memberikan pelukan pada Ayah mertuanya.
"Ayah titip putri Ayah. Jaga dia dengan baik. Jangan pernah menyakiti nya. Jika dia salah tegurlah dia dan tunjukkan kebenaran padanya. Dan jika suatu hari nanti aku bosan padanya, jangan buang dia kembalikan dia pada Ayah. Ayah sangat menyanyangi nya".
Silva berkaca-kaca mendengar ucapan Ayahnya. Menyentuh hati sekali. Cinta seorang Ayah pada putrinya tidak akan bisa dibanding kan dengan apapun.
Edgar dan Eidra naik keatas pelaminan sambil mengendong ketiga anak mereka bersama Buana, Elizabeth, Pristy, Keizo, Leonardo, Erwin dan Raina.
"Selamat Kak Oscar. Kak Silva". Eidra menyalimi kedua orang itu secara bergantian.
"Terima kasih Ei". Senyum Oscar.
"Terima kasih Nona Ei". Silva juga tersenyum halus. Lalu beralih pada bayi dalam gendongan Eidra "Wahhh cantik sekali. Mirip Mommy yaaaa". Ujar Silva gemes melihat Baby Elsyia.
Ucapan selamat datang secara bergantian menyalimi kedua mempelai yang tengah berbahagia itu.
Bima dan Susi juga naik keatas pelaminan. Semakin hari kedua orang itu semakin dekat saja.
"Selamat ya Sil". Susi memberikan pelukkan hangat pada adik sepupunya itu.
"Terima kasih Kak. Aku harap Kakak segera menyusulnya". Goda Silva sambil melepaskan pelukannya tak lupa dia mengedipkan matanya jahil pada Susi.
"Doakan saja yang terbaik". Balas Susi tersenyum melihat kearah Bima.
"Selamat Pak Oscar. Semoga cepat dapat momongan". Goda Susi.
"Terima kasih Dokter Susi". Sahut Oscar. Dia kurang suka melihat Susi dan Bima. Oscar berharap Susi menaruh hati pada Kakaknya Orlando.
"Selamat Silva. Pak Oscar". Ucap Bima juga menyalimi kedua orang itu.
"Terima kasih Dokter Bima".
Setelah mengucapkan kata selamat. Susi dan Bima turun dari pelaminan.
"Pelan-pelan Dok".
Bima mengulurkan tangannya pada Susi yang hendak turun karena gaun yang dipakai Susi cukup panjang hingga membaut wanita itu sedikit kesusahan berjalan.
"Terima kasih Dokter Bima". Susi menyambut tangan Bima.
__ADS_1
Mereka berjalan kearah Eidra dan keluarga nya.
"Kak Susi. Mas Bima". Sapa Eidra.
"Ei". Balas keduanya tersenyum hangat.
"Bagaimana keadaan mu?". Tanya Susi lembut.
"Sudah lebih baik Kak". Sahut Eidra "Ehemm, seperti nya ada yang lain dekat ini". Goda Eidra "Jangan kelamaan Mas Bima, nanti malah direbut lagi. Kak Susi cantik lho, banyak yang suka". Eidra cekikikan sendiri.
"Sayang, tidak boleh seperti itu". Tegur Edgar menggeleng gemes.
"Heheh aku kan hanya bercanda Bby. Kalau mereka saling suka ya tidak apa-apa. Lagian mereka cocok kok. Iya kan Mas Bima?".
Wajah Bima sudah merah seperti tomat. Dalam hati mengumpat pada Eidra, karena wnaita itu bicara asal ceplas-ceplos.
"Sudah sayang. Jangan menggoda mereka". Sanggah Edgar.
"Sebaiknya kita duduk ya. Aku khawatir kau kelelahan mengendong Baby Elsyia. Suruh Ibu saja yang gendong, kau duduk saja". Ujar Edgar. Jiwa proses nya kembali lagi.
"Aishhh Bby, kau ini. Aku tidak apa-apa aku kuat". Gerutu Eidra.
"Jangan membantah sayang. Ayo duduk. Aku mau ambil makanan". Sanggah Edgar membantu istrinya duduk.
Bima dan Susi hanya tersimpul melihat cara Edgar memperlakukan Eidra. Sungguh membuat semua orang iri
.
.
.
.
Setelah acara selesai, Oscar langsung membawa istrinya masuk kedalam kamar.
"Capek?".
"Iya sayang. Badanku pegal-pegal. Terlalu lama berdiri. Lagian kau mengundang tamu banyak sekali". Gerutu Silva
Oscar terkekeh mendengar istrinya yang mengerutu "Ini kan sekali seumur hidup sayang? Sini aku bantu buka".
Oscar menarik resleting gaun istrinya. Dia meneguk salivanya susah payah saat melihat punggung mulus istrinya.
"Sayang".
Oscar membalikan tubuh Silva "Bolehkah aku meminta hakku? Rasanya aku sudah tidak tahan". Ucap Oscar dengan suara parau.
Silva mengangguk "Tentu. Aku milik mu". Silva mengecup bibir Oscar.
Lalu terjadilah malam pertama mereka.
Mohon maaf yang jomblo dan belum menikah gak boleh ngebayangin , dosa gak ditanggung author yaaaa🤣🤣ðŸ¤
**Bersambung.....
Ed & Ei
__ADS_1
Oscar dan Silva udah nikah. Siapa lagi nihh yang belum**...???