Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Kembali


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Edgar masih memeluk istrinya. Dia naik keatas brangkar yang berukuran hanya muat satu orang itu. Karena brangkar operasi sangat kecil.


"Sayang".


Edgar mengelus kepala istrinya dengan lembut. Sedangkan oksigen Eidra sudah dilepaskan. Namun selang-selang yang lainnya masih mengalir. Karena ketika para dokter ingin melepaskannya Edgar langsung berteriak dan mengatakan bahwa istrinya hanya tertidur.


"Sayang, kalau tertidur begini wajahmu jelek sekali. Ayolah bangun. Ayo bangun sayang, biar cantik kembali". Celetuk Edgar terkekeh. Dia seperti orang gila.


Yang lain hanya bisa menyaksikan sambil saling bertangisan. Bahkan Adelle dari tadi tidak berhenti menangis dipelukkan Eve. Leonardo memeluk Elizabeth yang tersungkur dilantai. Wanita paruh baya itu seperti tak bertenaga untuk duduk.


"Sayang mereka sudah lahir. Apa kau ingin melihat mereka? Tapi bagaimana kau bisa melihat nya jika terpejam begini?". Ujar Edgar dengan kekehan tapi air mata mengalir dengan deras.


"Kenapa tubuhmu dingin sayang? Pasti kau rindu aku peluk 'kan? Biar aku peluk saja yaaa. Kau pasti akan nyenyak jika tidur dalam pelukan suami tampanmu ini". Ucap Edgar lagi memeluk Eidra dengan tangis.


"Kenapa masih dingin sayang? Padahal aku sudah memelukmu. Kenapa bisa badanmu sedingin ini ya?". Edgar menyelipkan rambut panjang istrinya. Poni Eidra yang sudah basah karena keringat.


"Permisi Tuan kami akan melepaskan selang-selang ditubuh Nona Eidra. Kami juga akan memandikannya". Ucap seorang perawat hati-hati dan sedikit takut.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa harus dilepaskan? Istriku hanya tertidur. Menjauh lah, aku nanti yang akan memandikan nya ketika dia bangun". Tolak Edgar. Dia memeluk Eidra dengan erat. Seakan takut jika para dokter dan perawat merebut istrinya.


"Sayang, kau dengar kan? Mereka jahat sekali ingin melepaskan selang ditubuh mu. Dan apa katanya tadi, ingin memandikan mu. Enak saja, takkan kubiarkan siapapun melihat tubuhmu sayang selain aku". Celetuk Edgar.


Elizabeth semakin menangis. Dia melihat betapa Edgar sangat mencintai Eidra. Elizabeth tidak bisa ikhlas jika Eidra harus pergi untuk selamanya. Bolehkah Elizabeth menolak takdir.


"Ayo sayang bangun. Biar aku saja yang memandikan mu ya?". Edgar masih terus berbicara dengan Istrinya "Kau ingat saat pertama lain memandikan ku, dan aku memarahi mu tapi kau malah terus memaksa dan menggosok punggung ku tanpa rasa jijik dan malu? Ahhh aku rasanya ingin mengulang moment itu, aku sangat suka melihat wajah merahmu sayang. Kau terlihat cantik dan juga menggemaskan". Edgar mengelus lembut wajah Eidra yang pucat dan kaku.


"Ohh ya sayang, aku rindu ingin meminum ramuan cinta buatanmu. Rasanya enak sekali, meski kalau aku boleh jujur rasanya benar-benar ingin membuat seluruh isi perutku keluar". Ucap Edgar masih terkekeh. Dia mungkin sudah gila dan akan segera gila atau paling tidak stress dan tinggal dirumah sakit jiwa.


"Ehmm apa kau ingat saat kau memaksa ku berkeliling villa, kau mendorong kursi rodaku dengan kuat dan aku berpegangan dibibir pintu. Kita seperti anak kecil yang bermain tak tentu arah. Saat aku mengingat hal itu, rasanya aku ingin tertawa sayang. Tapi rasanya tidak asyik tertawa sendiri, kan aku ingin tertawa bersama mu". Edgar tersenyum namun tidak dengan air matanya yang mengalir.


"Sayang, tiga bocah kecambah hasil lemburku setiap malam kini sudah lahir. Mereka sangat cantik dan tampan. Kau lihat saja putrimu itu mirip sekali denganmu sayang. Apalagi kedua putra kita, dia sangat mirip denganku. Rasanya aku tidak rela mereka besar, pasti mereka akan merebut wajah tampanku. Aku takut kau malah lebih mencintai mereka dari pada aku". Ucap Edgar sendu dengan bibir mengerecut seakan Eidra melihat dia sedang merajuk


"Hentikan Edgar. Eidra sudah meninggalkan. Ikhlaskan dia". Hardik Buana yang sudah tak sanggup melihat putranya seperti orang gila berbicara dengan orang yang sudah meninggal.


"Apa yang kau katakan Dad. Istriku masih hidup. Dia hanya tertidur. Apalagi dia suka aku peluk". Sentak Edgar menggema. Buana terkejut bukan main mendengar teriakkan putranya


Tit tit tit tit tit

__ADS_1


Layar monitor yang masih terhubung jantung Eidra kembali berbunyi.


"Dokter".


Orlando maju. Edgar turun dari ranjang jantungnya berdegup dan tangannya bergetar hebat. Apakah Eidra masih hidup??


Tit tit tit tit tit tit


"Dok, jantung pasien kembali berdetak".


"Tambahkan tekanannya".


"Baik Dok".


Orlando kembali memeriksa Eidra. Dilayar monitor tampak garis-garis bengkok tak beraturan.


"Cek darahnya".


"Baik Dok".


Kembali para Dokter yang tadinya terdiam kini memeriksa tubuh Eidra. Aliran darah, detak jantung, dan alat pernapasan nya.


Orlando tersungkur dilantai dengan isakkan tangis. Tak menyangka jika Tuhan masih memberikan Eidra kesempatan hidup yang kedua kalinya.


"Orlando apa yang terjadi pada istriku?". Tanya Edgar tak paham dia masih mematung. Apakah dugaannya benar jika Eidra masih hidup?


Orlando berdiri dan langsung memeluk Edgar dengan tangis.


"Dia kembali Tuan. Ei, hidup lagi".


Edgar melepaskan pelukannya. Menatap Orlando dengan penuh selidik. Apakah benar?


"M-maksud mu?".


"Ei kembali hidup. Dia mengalami mati suri".


Rasanya Edgar tak bisa berkata-kata. Dia langsung tersungkur dilantai menangis sejadi-jadinya sambil menutup wajahnya dan kedua tangannya.


"Ei".

__ADS_1


Elizabeth berhambur memeluk Eidra. Begitu juga dengan Adelle yang dari tadi menangis. Sementara Leonardo masih tak menyangka jika adiknya kembali.


"Terima kasih sudah kembali Nona. Anda adalah cahaya ditengah-tengah kami. Jika anda menghilang, maka hanya kegelapan yang menyelimuti hidup kami". Batin Julio menyeka air matanya.


Semua orang bernafas lega setelah tadi sempat merasakan panas luar biasa. Sakit. Ketakutan. Hingga mereka harus berperang dengan perasaan mereka sendiri.


Buana dan Keizo menangis segugukan mengucapkan rasa syukur atas kebaikkan Tuhan. Eidra bukan hanya berarti bagi Edgar tapi bagi semua orang termasuk mereka berdua.


"Terima kasih sudah kembali Ei. Kau adalah wanita kuat. Kakak percaya kau bisa melewati semua ini". Gumam Raina


"Kakak Ipar, kau berhasil membuatku menangis. Jika saja kau sudah bangun, kupastikan aku akan memarahimu karena sudah berhasil membuat ku menjadi cenggeng". Erwin menyeka air matanya.


Leonardo juga memeluk kaki Eidra. Pria itu menangis dengan hebat meluapkan semua perasaan dan emosinya.


Edgar menghampiri istrinya. Oksigen kembali dipasang dihidung Eidra. Tubuhnya yang tadi kaku dan pucat, kini kembali melembut dan sedikit merah, artinya darahnya kembali mengalir seperti biasanya.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks".


Edgar meluapkan semua rasa syukur dengan tangis. Dia sudah merasa takkan mampu hidup jika istrinya benar-benar hilang, dia juga akan menghilang dari dunia ini.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks".


"Kau membuatku panik sayang. Bercandamu tidak lucu. Kumohon jangan ulangi lagi. Dunia ku bisa hancur jika kau sampai menghilang".


**Bersambung....


Ed & Ei..


Yeiiiiiiiiiiiiiiiii pasti ada yang udah maki-maki author nihh kenapa Eidra bisa meninggal.


Cieee yang kena prank🤣 Author kan sekawan sama Eidra yang suka jahil itu🤭 Gpp sesekali kerjain para readers😂🤣


Jangan marah yooo, jangan juga berhenti ikutin cerita Author. Masih ada kejutan lagi yang mau author kasih buat kalian hehehehe.


Kok mati suri Thor? Iya emang masih suri. Mati suri bukan hanya didunia novel lho, bahkan didunia nyata juga sering terjadi. Dikampung author aja pernah ada yang mati suri, bahkan jenazah nya udah dimandiin ehh hidup lagi sampai sekarang sehat2 aja....


Okehhh ikutin terus kisah Edgar dan Eidra yaa.. Bagiamana keteguhan hati Edgar menerima kenyataan tentang kondisi ketiga anaknya yang sekarat..


Jangan lupa tanda cinta buat author....

__ADS_1


LoveUsomuch ❤️**


__ADS_2