
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"El".
"Iya Kak?". Tanya Elizabeth menatap Buana. Mereka berdua sedang duduk ditaman villa Edgar. Menikmati bintang yang berlimparan di langit malam.
"Maaf".
Kening Elizabeth berkerut "Maaf untuk apa Kak?". Tanya Elizabeth heran. Perasaan Buana tidak melakukan kesalahan padanya.
"Maaf dulu pernah meninggalkan mu. Aku tidak bermaksud pergi". Lirih Buana.
"Lupakan Kak. Walau kita tidak berjodoh, kita masih bisa bersahabat kan. Bahkan sekarang kita besan". Senyum Elizabeth. Dia berusaha menutupi luka dalam hatinya. Dia tidak ingin membahas ini, tapi Buana malah mengungkit luka lamanya.
Buana menghela nafas panjang. Mengingat masa lalu membuat jiwanya kembali sakit. Tidak bisa dilupakan. Meski pun sudah berlalu sekian puluh tahun.
"El".
Buana mengambil tangan Elizabeth dan mengenggam tangan wanita itu.
"Aku masih mencintaimu El. Maaf dulu aku menyerah. Tapi sungguh aku begitu menyesal".
Elizabeth terkejut saat Buana mengenggam tangannya tapi justru dia merasakan kehangatan dalam hatinya. Buana adalah cinta pertamanya juga. Mereka tidak berjodoh. Tapi anak mereka yang berjodoh.
"Kak". Rasanya lidah Elizabeth kelu menjawab ungkapan Buana.
"Aku tidak bisa melupakan mu El. Sekian puluh tahun terpisah aku tetap memikirkanmu. Bahkan saat kepergian Arlettha aku masih tetap memikirkanmu". Ungkap Buana menatap Elizabeth.
Elizabeth terdiam. Dia menatap Buana juga. Mereka saling menatap cukup lama.
"Aku juga masih mencintaimu Kak. Sama seperti mu aku tidak bisa melupakan mu meski sudah puluhan tahun". Jawab Elizabeth jujur.
Buana tersenyum senang. Meski keduanya sudah berusia cukup tua. Tapi rasa cinta dihati keduanya tak lenggang usia. Cinta memang selalu begitu bukan?
"Jadi bagaimana kalau kita menikah saja?". Ujar Buana
Elizabeth membulatkan matanya "Kau jangan gila. Bagaimana bisa kita menikah? Sedangkan anak kita sepasang suami istri?". Tanya Elizabeth bingung heran juga.
"Siapa bilang tidak bisa? Mereka tidak ada hubungan darah. Kecuali mereka berdua saudara". Sahut Buana asal. Dia saja tidak tahu apakah boleh atau tidak?
Tanpa Buana dan Elizabeth tahu. Dari tadi Eidra mengintip bersama Edgar. Sudah lama Eidra curiga kalau Ayah mertua dan Ibu nya itu memiliki hubungan dimasa lalu.
"Iissshh Bby, kau ini bisa diam tidak? Aku masih penasaran dengan jawaban Ibu". Gerutu Eidra.
__ADS_1
"Sayang, sudah lah ayo kembali ke kamar. Biarkan saja mereka. Lagian untuk apa kita mengintip urusan orangtua". Protes Edgar tak habis pikir saat Eidra mengajak nya menguping pembicaraan kedua orang itu. Mau menolak tidak enak.
"Iiishhh diam Bby. Jangan berbicara. Nanti malah tidak kedengaran lagi". Ketus Eidra.
Edgar hanya bisa menghela nafas panjang. Istrinya gila dia juga ikutan gila. Mau-mau saja diajak Eidra menguping pembicaraan kedua orangtuanya dengan alasan penasaran.
Elizabeth masih tampak berpikir "Tapi bagaimana tanggapan Edgar dan Eidra nanti nya? Aku takut mereka menolak". Elizabeth menarik nafas dalam.
"Terima saja Bu, Ei sangat setuju Ibu menikah dengan Ayah mertua".
Eidra menutup mulutnya saat menyadari jika ucapannya terdengar oleh Elizabeth dan Buana. Sedangkan Edgar ingin rasanya terjun ke sungai menyembunyikan wajahnya. Akibat punya istri yang suka jahil ya begitu. Dia yang kalem ikutan jahil.
"Ei".
Elizabeth dan Buana menoleh kearah Eidra dan dibelakang nya ada Edgar yang sudah menunduk karena malu.
"Apa yang kau lakukan disana Ei?". Tanya Elizabeth heran melihat putrinya ada disana.
"Hehehe mengintip Bu ehh salah maksud Ei melihat bintang". Eidra menepuk mulutnya yang tidak bisa berbohong.
"Sayang ayo masuk kamar saja. Biarkan Ibu dan Ayah selesaikan pembicaraan mereka".
"Tapi Bby.......".
"Dad. Bu.. Lanjutkan saja". Teriak Edgar dari jauh.
"Bby, lepaskan aku. Bby". Eidra memukul-mukul punggung suaminya agar dilepaskan "Aku ingin mendengar keputusan Ibu". Ujar Eidra. Edgar tak peduli dengan omelan istrinya dia terus berjalan sambil mengendong Eidra.
Leonardo yang kebetulan lewat heran melihat pasangan aneh itu. Eidra yang dipikul Edgar dibahunya seperti karung beras.
"Kalian kenapa?". Tanya Leonardo heran.
"Diam". Keduanya menatap Leonardo tajam.
"Lepaskan Bby. Kau pikir aku ini karung beras".
"Diam sayang. Aku sudah mengantuk. Aku tidak mau mengikuti kegilaanmu itu". Ujar Edgar.
Leonardo menggeleng kan kepalanya. Semakin hari kedua orang itu semakin aneh. Tidak Edgar, tidak Eidra sama saja. Leonardo sampai berpikir keras, jika ketiga anak Edgar besar entah sifat siapa nanti yang akan dituruni oleh Triple El itu.
"Malam Tuan". Sapa Eve yang baru saja selesai dari dapur mengambil air minum "Kenapa belum tidur Tuan?". Tanya Eve.
"Eve". Leonardo tersenyum manis "Ehmm, belum mengantuk". Jawab Leonardo "Maukah menemaniku minum kopi dibalkon?". Tawar Leonardo.
__ADS_1
Kening Eve berkerut. Tapi juga mengangguk "Boleh". Sahut Eve "Tunggu sebentar Tuan, saya akan membuatkan anda kopi". Ucap Eve.
"Baik, aku tunggu dibalkon kamar".
Eve kembalu kedapur. Tadi dia baru selesai menidurkan Adelle yang rewel. Adelle ingin tidur bersama Eidra dan Triple El. Tapi Edgar sama sekali tak mengizinkan Adelle. Hingga gadis kecil itu menangis dan Eve harus menenangkan Adelle. Untung saja Adelle menangis nya tidak lama. Jika lama mungkin Eve akan kembali dibuat repot oleh Adelle.
Eve membawa dua cangkir kopi dan menyusul Leonardo dibalkon kamarnya. Mereka semua memang pindah tinggal di villa Edgar atas permintaan Eidra.
"Tuan".
"Eve".
Eve meletakkan dua cangkir kopi itu diatas meja balkon.
Eve ikutan duduk. Menikmati angin yang berhembus dikeremangan malam.
"Silahkan diminum Tuan".
Leonardo mengangguk lalu mengambil cangkir itu dan menyesap isinya.
Keduanya saling terdiam cukup lama. Eve juga ikut terhanyut dalam lamunan. Dia teringat pada mantan suaminya yang meninggal beberapa tahun lalu. Rasa kehilangan itu belum juga memudar dihatinya .
"Kau pernah merasa kehilangan?". Tanya Leonardo menatap kedepan.
"Pernah Tuan. Beberapa tahun lalu suami saya meninggal karena penyakit kanker. Waktu itu keadaan sangat sulit, saya tidak punya biaya untuk membawanya kerumah sakit. Hidup kami sangat miskin". Eve tersenyum kecut.
"Maaf tidak bermaksud mengungkit masa lalumu". Ucap Leonardo merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Tuan". Sahut Eve mencoba tersenyum.
Lalu keduanya kembali terdiam. Leonardo dan Eve tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Apa kau pernah berpikir membuka hati untuk orang lain?". Ucap Leonardo
Eve menggeleng "Saya tidak berani membuka hati Tuan".
"Kenapa?". Tanya Leonardo menoleh pada Eve.
"Saya takut patah hati. Saya belum siap kehilangan dua kali".
Leonardo terdiam sejenak. Posisinya dan Eve sama. Sama-sama kehilangan. Bahkan Leonardo merasakan dua hal, dikhianati dan ditinggal pergi.
**Bersambung...
__ADS_1
Ed & Ei**