
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Flashback on
Eidra menyimpitkan matanya yang satu memastikan apakah suaminya sudah tidur atau masih menangis dengan gumaman mata terpejam.
"Aduhhh kenapa berat sekali sihh? Dia mau bunuh aku apa?". Gerutu Eidra berusaha terlepas dari pelukkan suaminya "Ck, dia tidur seperti kerbau saja. Tapi kenapa dia tampan yaaaa? Ya ampun kenapa dia bisa jadi suamiku yaaa? Setidaknya, tidak malu-maluin lah pas diajak kondangan". Eidra cekikikan sendiri. Masih sempat-sempatnya dia jahil menoel-noel hidung suaminya. Coba Edgar terbangun, pasti gagal rencananya.
Dengan perlahan Eidra keluar dari pelukkan Edgar. Wanita itu merenggut kesal saat Edgar memeluknya kian erat. Sudah panas, sesak nafas lagi.
Eidra turun dari ranjang dengan berjinjit takut langkah kakinya terdengar oleh Edgar dan ketika bayinya. Eidra menoleh pada ketiga anaknya. Wanita itu berjalan pelan menghampiri anak-anak nya.
"Sttttttttttt".
Mata ketiga bayi itu terbuka serentak. Seperti terbangun dengan desiran Eidra.
"Kita kerjain Daddy yaaa... Ingat jangan nangis. Kalau kalian nangis, nanti tidak Mommy kasih susu". Ancamnya pada bayi-bayi yang tentu tidak akan mengerti bahasanya.
Bayi laki-laki Eidra seolah mengerti, dia tertawa kecil seolah minta gendong.
"Sipp bayi pintar. Mommy keluar dulu ya. Cepat pejamkan mata kalian". Celetuk Eidra tertawa kecil memikirkan kebodohan nya. Mana mungkin ketiga bayi itu menurut, mereka saja belum paham.
Eidra keluar dari kamarnya. Dia menutup pintu sangat pelan. Untung saja pengawal yang berjaga didepan kamarnya sudah tertidur. Jika tidak, dia harus cari cara lagi untuk mengelabuhi para pengawal yang Edgar tugaskan untuk berjaga didepan kamarnya.
Eidra keluar dengan mengendap-endap seperti maling yang ingin masuk rumah.
Wanita itu berjalan kearah dapur. Disana sudah ada Bik Lim dan Bik Amy yang menunggunya.
"Nona Muda". Sapa keduanya serentak.
Mereka sudah tahu jika Eidra pura-pura hilang ingatan saat Eidra memerintah keduanya membuat kue ulang tahun
"Apa kue nya sudah jadi Bik?". Tanya Eidra setengah berbisik.
"Apa Nona Muda?". Tanya keduanya sedikit keras. Maklum karena usia jadi pendengaran sedikit berkurang.
Eidra mencebik kesal "Apa kue nya sudah jadi?". Ulang Eidra sekali lagi.
__ADS_1
"Sudah Nona. Ini kuee nya". Bik Amy menunjukkan kue yang baru saja selesai mereka panggang.
"Lilin nya ada Bik?".
"Ada Nona". Bik Amy memberikan lilin pada Eidra
Eidra memasangkan lilin yang bertuliskan angka 35 diatas kue yang dibuat oleh Bik Lim dan Bik Amy.
"Ck, ternyata suamiku sudah tua juga". Dia cekikikan sendiri. Bik Amy dan Bik Lim ikut terkekeh.
"Bik, tolong kalian bangunkan semua orang rumah yaa, aku menunggu diruang keluarga". Ujar Eidra mengangkat kue nya.
"Baik Nona Muda".
Eidra membawa kue itu keruangan keluarga sambil menunggu kedua asisten rumah tangga itu memanggil anggota keluarga nya.
Wanita itu tersenyum geli. Dia merasa berhasil mengerjai suaminya. Jika wanita lain ingin suaminya tersenyum bahagia dan tertawa. Maka berbeda dengan Eidra. Dia sangat suka melihat wajah suaminya yang menangis, menurutnya begitu lucu jika pria dingin seperti suaminya menangis seperti anak kecil.
Ketika Eidra terbangun dari komanya. Sebenarnya dia ingin memeluk suaminya dan mengatakan bahwa dia rindu. Setiap hari dia mendengar curhatan hati suaminya, membuatnya sedikit bersalah. Namun dia teringat ketika sebelum kecelakaan, dia berencana untuk merayakan ulang tahun suaminya. Sekalian saja mengerjai Edgar.
"Ei".
"Ibu. Ayah Mertua. Mommy Mertua. Daddy Mertua. Adik Ipar. Kak Nana. Kak Eve. Adelle. Kak Leon. Kak Julio ". Sapa Eidra tersenyum hangat
Kening mereka berkerut "Kau sudah ingat semuanya Nak?". Elizabeth berjongkok didepan Eidra yang duduk disoffa.
"Kan Ei memang tidak lupa Bu, hehhe". Eidra mengaruk tengguknya yang tidak gatal. Dia masih memakai piyama tidur.
"Jadi selama ini kau hanya pura-pura lupa?". Tanya Leonardo tak percaya
"Bukan pura-pura lupa Kak, nanti jadi lagu lagi. Biar aku yang pura-pura lupa". Seru Eidra sambil bernyanyi.
Leonardo mendengus kesal "Kau ini....". Leonardo menggeleng kepala gemes "Bagaimana bisa kau pura-pura lupa begini?". Sambung Leonardo lagi. Dia tak menyangka jika selama ini Eidra hanya pura-pura lupa.
"Aku juga tidak tahu bagaimana bisa Kak". Yang lain menggeleng.
"Kau hampir membuat kami semua mati jantungan Kak". Ketus Erwin kesal.
__ADS_1
"Ehhh adik ipar. Untung aku tidak lupa padamu". Eidra menampikan rentetan gigi putihnya.
Yang lain menggelleng gemes. Sungguh Eidra ini jahil tak ada obatnya. Semua orang dibuat panik.
Sebenarnya Eidra hanya ingin pura-pura lupa pada Edgar. Tapi takut semua orang curiga, ya sudah dia pura-pura lupa saja sekalian. Untung dia tidak lupa jika dia sudah menikah.
"Apa tujuanmu pura-pura lupa Nak?". Tanya Buana tak habis pikir.
"Mengerjai suamiku. Aku sangat suka melihat nya menangis. Dia lucu. Menggemaskan. Ahhh pokoknya aku suka melihat suamiku menangis. Rasanya aku ingin tertawa tapi takut dosa. Masa durhaka sama suami sendiri". Celetuk Eidra
Mereka menggeleng gemes. Astaga, Eidra ini benar-benar harus dikasih pelajaran. Bagaimana nanti reaksi Edgar?
"Apa bedanya dengan mengerjai suami sendiri?". Ketus Erwin.
"Jelas beda adik ipar. Kalau mengerjai suami itu malah dapat pahala".
"Dapat pahala dari mana Nona?". Sambung Julio tak habis pikir. Heran. Gemes. Ingin rasanya Julio gigit wajah Eidra. Tapi tidak mungkin jangankan mengigit, melihatnya saja sudah membangunkan siang pencemburu itu.
"Pahala karena buat suami menangis". Eidra tertawa sendiri. Sedangkan yang lain hanya menghela nafas panjang.
"Ya sudah ayo masuk ke kamar. Ingat kalian harus berjalan pelan-pelan ya. Jangan ribut. Nanti ketiga anakku malas menangis. Aku tidak mau harus amnesia ulang lagi". celetuk Eidra
"Aunty Ei, Adelle pegang baju Aunty yaaa. Adelle rindu sama Aunty". Ucap Adelle sendu
"Kau siapa yaaaaa?". Tanya Eidra keningnya berkerut.
"Jangan bilang kau lupa pada Adelle Kak. Munsuh bebuyutan suamimu?". Erwin memincingkan matanya.
"Hahha tidak. Aku hanya bercanda". Eidra tertawa. Membuat mereka menggeleng "Sini sayang, pegang saja ujung baju Aunty yaaa. Maaf tidak bisa mengandeng tanganmu, takut kue nya jatuh. Kalau buat lagi terlalu lama, nanti kesiangan. Takut suami singa ku bangun". Celetuk Eidra. Adelle mengangguk paham.
Mereka semua masuk kedalam kamar Edgar dan Eidra. Sesuai perintah Eidra berjalan pelan-pelan.
Flashback Off
Bersambung...
Ed & Ei
__ADS_1