
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Edgar terus meneriaki Julio agar menjalankan mobilnya dengan kencang. Tak peduli apa resiko nya Edgar hanya ingin bertemu Eidra saat ini. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Jika Eidra sampai terluka barang sekecil pun. Edgar akan membuat Anggela, Baskoro dan Seselia merasakan neraka tanpa kematian. Dia akan membakar ketiga orang itu. Sedikit saja terluka, apalagi sampai parah maka takkan ada ampun. Bagaimana jika Edgar tahu bahwa istrinya ditampar hingga sudut bibir Eidra mengeluarkan darah.
Begitu juga dengan Leonardo yang terus mendesak Brayn.
"Cepat Brayn. Adikku dalam bahaya". Sentak Leonardo.
"B-baik Tuan". Sahut Brayn dingin. Tak ada yang menyadari raut wajahnya.
Mobil-mobil mewah itu berjalan saling berurutan satu sama lain. Di urutan paling depan ada Oscar dan beberapa anggota kepolisian yang ikut bersama nya. Dia memandu pasukkan pencarian Eidra.
Ada sekitar sepuluh buah mobil yang ikut mencari Eidra, pengawal Edgar dan anak buah Leonardo serta beberapa anggota suruhan Buana. Buana sang mantan Mafia tak tinggal diam saja dia ikut andil dalam mencari keberadaan menantunya itu.
"Sayang". Gumam Edgar merintih. Hatinya pedih, penyesalan tinggallah penyesalan.
Mobil-mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi seakan sedang bersiap untuk perang melawan munsuh. Dua mobil polisi diantaranya menandakan bahwa sedang mengejar penjahat.
.
.
.
.
"Lepaskan Ayah". Rintih Eidra kesakitan.
"Hahah tidak akan". Ucap Baskoro.
"Kemana kita akan membawa wanita tidak tahu diri ini Paman?". Tanya Anggela tersenyum licik. Ahhh semudah itu mengelabui Edgar dan Leonardo.
"Hutan". Sahut Baskoro "Kita kurung dia digedung tua itu. Lalu kita minta Edgar untuk memilih istrinya atau melepaskan Lisna".
"Jangan lupakan bahwa Edgar miliki ku Paman". Ketus Anggela "Selain melepaskan Lisna, dia juga harus kembali kepadaku. Jika tidak habis saja wanita tidak tahu diri ini". Anggela menatap Eidra dengan senyuman licik.
Eidra hanya merintih dalam hati. Dia berusaha tenang. Dia tidak boleh terlihat lemah dan gegebah. Dia pasti bisa lepas dari ketiga ular beludak itu.
Eidra terdiam sejenak sambil menahan rasa sakit dipipinya bekas tamparan sesekali. Rasa sakit dikepalanya juga bekas jambakkan Baskoro, masih terasa begitu sakit. Sementara ketiga bayi dalam perutnya bergerak hingga membuat Eidra meringgis. Seolah merasakan apa yang dialami oleh Ibu mereka.
"Bby, tolong aku Bby. Tolong aku". Gumam Eidra dalam hati "Kalian harus kuat Nak. Kita harus bisa lawan mereka". Eidra mengelus perutnya. Dia dihimpit oleh Seselia dan Baskoro.
"Percuma kau menangis Eidra, karena kami tidak akan melepaskan mu. Sebaiknya bersiaplah menyusul Ayahmu". Ucap Seselia menatap Eidra dengan mengejek "Kau akan merasakan bagaimana rasa sakit yang sesungguhnya". Timpal Seselia lagi.
Eidra hanya bisa merintih dalam hati. Dia menyeka air matanya dengan kasar.
"Apa mereka tahu Paman bahwa kita membawa tidak tahu diri ini?". Tanya Anggela. Dia sedikit panik jika ada yang tahu bahwa mereka yang menculik Eidra.
"Tidak. Aku sudah menonaktifkan rekaman CCTV di rumah sakit. Jadi aku yakin bahwa mereka tidak akan menemukan kita". Ucap Baskoro yakin.
"Bagus".
__ADS_1
"Maaf Tuan seperti nya ada yang mengejar kita". Ucap sang supir.
Baskoro, Seselia dan Anggela melihat ke belakang. Benar saja, beberapa mobil hitam mengejar mereka.
"Brengsekkkk.. Bagaimana mereka bisa tahu?". Sentak Baskoro
"Cepat jalan Paman". Anggela.
"Baik Nona".
"Bby, apa itu kau? Aku tahu kau pasti datang menjemput ku Bby. Aku janji akan membayar mu beberapa ronde nanti, setelah menyelamatkan ku dan anak-anak". Batin Eidra masih sempat nya dia memikirkan suaminya yang puasa beberapa bulan terakhir.
Tin tin tin tin tin tin
Mobil Oscar yang paling depan berusaha mengejar dengan membunyikan klakson.
"Maju Julio. Maju". Teriak Edgar. Dia merasa tak sabar melihat istrinya.
"Baik Tuan". Julio menyalip diantara para mobil yang lainnya.
"Sial". Umpat Baskoro saat melihat mobil Edgar menyalip.
"Tambahkan kecepatan". Sentak Baskoro.
"Baik Tuan".
Mobil Edgar berhasil menyamakan dengan mobil Baskoro.
Namun Baskoro malah tertawa sinis mendengar ucapan Edgar.
"Bibi, cepat berikan cairan ini pada Eidra". Anggela memberikan sebotol kecil berisi cairan berwarna bening.
"Baik". Seselia mengambil botol itu "Sayang bantu aku". Baskoro mencengkram dagu Eidra
"Baskoro jangan kau apa-apa kan istriku". Teriak Edgar histeris. Dia tak sanggup melihat kondisi Eidra.
Namun Baskoro tak menghiraukan sama sekali.
"Cepat buka mulutmu". Bentak Baskoro.
Eidra menggeleng dengan tangis. Tidak. Dia tidak mau.
Anggela menatap Eidra dengan tajam "Kau tahu fungsi cairan ini adalah membunuh bayi dalam perutmu. Serta melenyapkan nyawamu dalam sekejap. Cepat buka mulutmu ******".
Plakkkkkkkkkkkk
"Eidra". Teriak Edgar histeris ketika Anggela menampar Eidra.
Eidra melirik sang suami. Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil Edgar berusaha mengejar dan menghentikan mobil Baskoro namun tidak terkejar.
"Selamat tinggal Bby. Maaf belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Jika benar aku harus pergi bersama anak-anak meninggalkan mu. Aku harap kau akan tetap bahagia meski tanpa aku. Aku mencintaimu Bby. Sangat mencintai mu". Rintih Eidra dalam hati
Eidra menutup mulutnya dengan rapat. Dia masih berharap ada keajaiban yang menolongnya. Tidak apa dia mati tapi dia ingin anak-anak nya tetap hidup. Eidra teringat bagaimana bahagianya Edgar saat mengetahui dia hamil. Eidra tak ingin membunuh kebahagiaan suaminya.
__ADS_1
"Buka setan". Teriak Seselia ditelinga Eidra.
Namun Eidra tetap menggeleng. Dia menutup bibirnya rapat, hingga giginya mengigit lidah dan bibirnya dan mengeluarkan darah segar.
Anggela menatap tajam. Dia mengambil alih dagu Eidra. Lalu membuka mulut Eidra dengan tangannya secara paksa. Bahkan kuku Anggela mengenai bibir Eidra.
"Masukkan Bik".
Seselia menuangkan cairan itu kedalam mulut Eidra. Cairan itu masuk kedalam mulut Eidra. Eidra berusaha setengah mati menahan agar cairan itu tidak masuk kedalam perut nya. Namun Anggela malah menambah air minum kedalam mulut Eidra sehingga cairan itu masuk bersama air minum itu kedalam perut Eidra.
Eidra melirik suaminya sekilas. Tampak Edgar berteriak, sambil kepala keluar dari kaca mobil tangannya terulur seolah ingin mengapainya. Tatapan Eidra begitu sendu dan menyedihkan. Inikah akhir hidupnya? Setelah cairan itu masuk kedalam perutnya, dia merasakan sakit dan panas luar biasa.
Dor dor dor dor
Oscar menembak ban mobil Baskoro.
"Eidra". Edgar mengulurkan tangannya ketika mata istrinya sayu.
Baskoro tersenyum penuh kemenangan begitu juga dengan seselia. Anggela melepaskan dagu Eidra dan tertawa puas.
"Selamat jalan Eidra. Semoga kau tersiksa dineraka paling dalam". Anggela mendorong tubuh Eidra hingga tersandar dijok mobil.
Tin tin tin tin tin
Brakkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Brukkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Sebuah tronton dari arah berlawanan menghantam mobil Baskoro, hingga mobil itu terpental diaspal, hingga mobil itu berguling-guling
"Eidra".
"Anggela". Teriak Brayn.
**Bersambung.........
Ed & Ei
Apakah Eidra akan selamat? Apakah bayi-bayi Eidra baik-baik saja? Apakah Anggela, Baskoro dan Seselia akan selamat dari kecelakaan maut itu?????
Penasaran....??? Sama🤭
Nantikan di next episode ya guys...
Jangan lupa dukungan nya, Jadikan cerita ini sebagai cerita favorite mu...
Yuk mampir ke karya author yang baru.
Pacarku Presdir
Pernikahan Kedua Suamiku
LoveUsomuch ❤️**
__ADS_1