
Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Oscar menatap Silva yang menyuapi Margaretha dengan sabar. Sejak mereka berdua memutuskan menjalin hubungan, Silva semakin dekat dengan Margaretha, apalagi kondisi Margaretha yang belum pulih.
"Minum Bunda". Silva membantu Margaretha minum.
"Terima kasih Nak". Ucap Margaretha tersenyum lembut.
Oscar menyembunyikan senyumnya. Polisi tampan itu terpesona dengan kekasihnya sendiri. Silva memiliki sifat keibuan, namun cerewet seperti Eidra. Kadang Oscar kewalahan sendiri menyingkapi kecerewetan Silva. Namun dia senang karena Silva memberi warna dalam hidupnya. Benar kata orang, cinta itu tumbuh karena seringnya bersama.
"Bunda istirahat yaaa.. Maaf Silva tidak bisa menjaga Bunda. Karena Silva harus kembali ke kantor". Ucap Silva tersenyum hangat sambil menailan selimut Margaretha
"Iya Nak terima kasih ya". Ucap Margaretha tersimpul.
"Bunda".
"Ei".
Margaretha dan Oscar terkejut melihat ada Edgar dan Eidra.
"Bunda".
Eidra berhambur memeluk wanita paruh baya itu.
"Bagaimana kabarmu Bunda? Bagaimana keadaanmu? Kau sakit apa? Sejak kapan kau sakit? Kenapa tidak memberi tahu Ei? Apa Bunda sudah makan dan minum obat? Dimana yang sakit Bunda?". Cecar Eidra sambil meneliti bagian tubuh Margaretha.
Edgar dan Oscar geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan beruntun dari Eidra. Sementara Silva hanya tersimpul, dia tidak terlalu kenal dengan Eidra. Tapi sering melihat wanita hamil itu karena anak dari Boss nya, Baskoro.
Margaretha tersenyum hangat "Bunda baik-baik saja sayang". Sekian banyak pertanyaan Eidra hanya itu yang dijawab Margaretha karena dia lupa dengan pertanyaan Eidra yang tadi
"Bagaimana kandungan mu?". Tanya Margaretha mengelus perut buncit Eidra. Sebentar lagi wanita itu akan melahirkan.
"Mereka sehat-sehat Bunda". Senyum Eidra.
"Mereka?". Beo Margaretha dan Oscar bersamaan. Karena mereka memang belum tahu jika Eidra mengandung anak kembar tiga
"Iya Bunda. Mereka ada tiga". Senyum Eidra
"Wahhh selamat ya Nak". Ucap Margaretha sumringah.
Andai saja Eidra menantunya pasti dia akan jauh lebih bahagia. Tapi melihat Eidra bahagia sudah lebih dari cukup.
Mereka berbincang-bincang. Celetukan Eidra berhasil membuat kondisi Margaretha membaik karena bisa tertawa lepas tanpa beban. Eidra benar-benar membuat nya gemes, ingin rasanya Margaretha mengigit pipi Eidra.
.
.
__ADS_1
.
.
Oscar mengantar Silva ke kantornya.
"Sayang nanti aku jemput ya". Ujar Oscar.
"Iya sayang".
Panggilan sayang sudah biasa bagi keduanya. Sejak mereka memutuskan menjalin hubungan, panggilan sayang itu seperti penguat hubungan keduanya.
Oscar tak lagi canggung memanggil Silva dengan panggilan sayang. Begitu juga sebaliknya. Keduanya sudah mengungkapkan rasa cinta, lewat ucapan atau pun tindakan.
Ternyata benar rasa nyaman itu memang harus kita ciptakan sendiri dengan mencoba membuka hati untuk untuk orang yang mau berbagi kisah untuk kita.
Sampai digedung pencakar langit. Oscar Turun duluan dan membuka kan pintu untuk kekasihnya itu.
"Silahkan Tuan Putri". Ucap Oscar sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Pangeran". Seru Silva. Mereka berdua terkekeh.
"Hati-hati kerjanya. Jangan lupa makan siang ya. Jaga kesehatan". Pesan Silva sambil memperbaiki kerah baju Oscar. Polisi ini benar-benar tampan
"Iya. Kau juga ya sayang. Jam makan siang nanti aku telpon, kita makan bersama lewat ponsel saja. Karena aku masih belum bisa mengajak mu makan siang, ada beberapa pekerjaan yang harus aku tuntaskan". Ujar Oscar merasa tak enak hati.
Oscar memberikan pelukkan hangat pada Silva. Dan Silva membalasnya.
Begitulah mereka saling memberikan pelukkan sebagai keharmonisan hubungan mereka berdua.
"Hati-hati". Oscar mengecup kening Silva.
"Kau juga". Ucap Silva.
.
.
.
.
Orlando menghembuskan nafasnya kasar sambil membaca beberapa data pasien
"Bagaimana dengan Tuan Erwin apakah dia masih rutin melakukan terapi?". Tanya Orlando pada asistennya.
"Masih Dok. Minggu depan jadwalnya. Tapi Tuan Erwin menolak obat dari rumah sakit". Sahut sang aissten yang juga berprofesi sebagai dokter.
__ADS_1
"Kenapa?". Kening Orlando berkerut.
"Atas perintah Dokter Eidra, Dok. Karena Dokter Eidra yang akan menangani obat Tuan Erwin".
Orlando mengangguk. Dia masih ingat bagaimana dulu Eidra menolak obat yang dia berikan. Meski kala itu Orlando sedikit percaya dengan ucapan Eidra yang akan membuat obat khusus suaminya tapi sekarang terbukti bahwa Edgar bisa kembali berjalan dengan normal.
"Baik. Persiapkan jadwal terapinya dan kirim ke emailku". Tintah Orlando.
"Baik Dokter. Saya permisi". Sang asisten melengang pergi dari sana.
Orlando menyenderkan punggungnya. Dia menarik nafas dalam. Lagi dan lagi, Margaretha mendesak nya kembali menikah. Orlando sedikit paranoid mendengar kata menikah, kegagalan rumah tangganya bersama Lisna membawa trauma dalam bagi Orlando. Dia takut jika menikah dan gagal lagi. Rasanya lelah menjalani hubungan yang selalu berakhir tragis seperti nya.
"Permisi Dok".
"Dokter Susi masuk lah". Orlando tersenyum hangat "Ada apa Dok?". Tanya Orlando melihat Susi yang membawa beberapa map ditangannya.
"Ini beberapa data pasien yang perlu Dokter tandatangani".
"Baik Dok. Letakan saja. Nanti saya akan periksa". Ucap Orlando.
"Iya Dok". Susi meletakkan map itu dimeja Orlando "Bagaimana keadaan Nyonya Margaretha, Dok?". Tanya Susi.
Orlando menghembuskan nafasnya " Sedikit lebih baik. Hanya saja seperti biasa, dia akan terus mendesak ku menikah". Orlando memijit pelipisnya
"Kenapa tidak Dokter coba saja membuka hati untuk wanita lain?". Saran Susi
Orlando menggeleng "Aku sedikit trauma. Kau tahu kan, berakhir nya rumah tanggaku dan Lisna membuatku sedikit percaya dengan adanya cinta". Orlando mendesah pelan
Susi hanya manggut-manggut "Tidak semua akan begitu Dokter. Kadang sesuatu terjadi demi mengajarkan kita arti dari rasa sakit". Ucap Susi "Saya percaya suatu saat nanti Dokter akan menemukan orang yang Dokter cintai". Imbuh Susi sambil tersenyum.
Orlando mengangguk "Jujur aku belum bisa melupakan Ei. Dia gadis pertama yang membuatku jatuh cinta tapi dia juga yang pertama membuatku patah. Bukan salahnya, tapi salahku yang terlalu berharap". Jawab Orlando sendu.
Susi menghela nafas. Dari dulu dia tahu jika Orlando menyukai Eidra
"Dokter hanya perlu waktu. Ei sudah bahagia bersama Tuan Edgar. Dokter harus mulai belajar melupakan nya. Saya tahu tidak mudah, tapi jika belajar maka perlahan rasa itu akan hilang". Ucap Susi.
"Kau pernah merasakan seperti ku?". Tanya Orlando. Karena seperti nya Susi mengatakan itu seakan dia pernah merasakan nya.
Susi mengangguk "Pernah Dok". Susi menghela nafas "Tapi, dia terlalu tinggi untuk saya gapai. Terkadang melepaskan lebih baik dari pada memaksakan sesuatu yang bukan milik kita". Susi tersenyum kecut.
Orlando menatap Susi yang mengatakan hal itu dengan sendu. Dia tak mengira jika Susi punya masalah yang sama seperti nya.
**Bersambung.....
Ed & Ei
Susah banget ya Babang Orland jatuh cinta sama Susi. . Padahal mereka cocok lhooo... Masq iya author harus ganti lagi dengan yang baru, bikin nyesek yang ada🤧**
__ADS_1