Istri Kecil CEO Lumpuh

Istri Kecil CEO Lumpuh
Kematian Robby dan Astrid


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Raina menangis tersedu-sedu diatas pusara kedua orangtuanya. Bagaimana pun, Robby dan Astrid adalah orang yang sudah membuatnya ada didunia ini. Tanpa mereka. Raina takkan ada. Tapi mereka memang pantas menerima hukuman in.


Dan Raina tak menyangka jika Anggela adalah Kakak kandungnya yang selama ini selalu dirindukan oleh Robby dan Astrid.


"Sudahlah sayang. Ikhlaskan Ayah Mertua dan Ibu Mertua".


Tangan Erwin terulur mengusap bahu istrinya. Dia menatap Raina dengan kasihan. Dia paham perasaan istrinya.


"Iya Kak Nana. Ikhlaskan saja yaaa. Kau tidak pernah sendirian, ada kami yang juga menemanimu disini". Ucap Eidra menyambung. Kasihan melihat Raina.


Raina mengangguk dan berusaha tersenyum. Dia menatap kedua pusara itu. Pemakaman Robby dan Astrid berdampingan dengan Anggela. Raina benar-benar sebatang kara sekarang tidak punya saudara kandung sama sekali.


Sedangkan Buana hanya menatap datar. Tak ada raut rasa bersalah diwajah pria itu. Dia bahkan rasanya belum puas menyiksa Robby dan Astrid.


Setelah satu Minggu mengalami penyiksaan, Robby dan Astrid terkapar bujur dengan kondisi mengenaskan. Tanpa makan dan minum. Buana benar-benar menyiksa kedua orang itu tanpa ampun.


Bukankah orang jahat harus dibasmi? Biar tidak ada penerusnya dibumi. Meski sempat iba pada Raina, tapi Buana tak pernah menyesali apa yang sudah dia lakukan. Itu adalah hukuman nyata untuk Raina.


"Sudah ya Nak. Jangan terus bersedih". Pristy ikut berjongkok mengusap bahu menantunya itu "Biarkan Ayah dan Ibumu tenang dialam sana". Sambung Pristy.


"Hiks hiks hiks. Walau mereka jahat mereka tetap orang tua Raina Mom. Raina menyanyangi mereka, tapi kenapa mereka begitu jahat, hiks hiks". Raina menyenderkan kepalanya di bahu Pristy.


Eidra yang melihat ikut prihatin. Dia juga kasihan melihat Raina terus. Eidra takut jika air mata Raina kering dan nanti tidak bisa menangis lagi.

__ADS_1


"Mereka sudah mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang mereka lakukan Nak". Ucap Pristy "Memang sulit untuk mengikhlaskan kepergian orang yang kita cintai.Tapi kita tidak bisa terus berlarut dalam kesedihan seperti ini".


Eidra mengangguk setuju pada ucapan mertuanya itu. Wanita cantik, itu manggut-manggut tidak jelas. Seperti orang mendengarkan kan musik. Sedangkan ketiga bayi Eidra bersama Elizabeth dan Eve, divilla.


"Sudah ayo kita pulang". Ajak Keizo "Raina, tetap semangat yaaa. Kita semua akan selalu ada untukmu. Bukan begitu Ei?". Keizo menatap menantu nya dengan senyuman mengembang.


"Iya Kak Nana, benar kata Daddy Mertua. Kita semua yaa. Semua itu banyak lho Kak lebih dari satu. Jadi Kakak hanya kehilangan tiga orang, tapi Tuhan ganti dengan banyak orang". Celoteh Eidra


Buana terkekeh gemes mendengar celotehan menantunya itu. Sudah punya anak saja Eidra masih bersikap seperti gadis remaja. Untung Edgar sedang sibuk dengan perusahaan nya jadi tidak memantau istrinya hanya diwakilkan pada Ibu Mertua dan Adik Iparnya, Raina. Kalau ada Edgar dia pasti pusing mendengar ocehan istri kecilnya itu.


Raina memaksakan senyum mendengar ucapan Eidra "Terima kasih ya Ei". Raina bangkit dan dibantu Pristy.


"Sama-sama Kak Nana". Sahut Eidra sumringah.


Didalam mobil, Raina menatap kosong kedepan. Teringat ketika dia kecil, kedua orang tuanya memang posessif padanya. Bahkan kedua orangtuanya itu melarang keras dia berteman dengan Eidra. Entah apa yang membuat Robby dan Astrid dulu begitu benci pada Eidra. Raina saja tidak tahu.


Sampai tumbuh dewasa, teman Raina hanya Eidra dan Lisna. Itu pun karena mereka sepupuan dan Raina sering berkunjung ke kediaman Baskoro kala itu.


Hingga Raina dijebak oleh teman-temannya saat dia diberi obat perangsang dan menghabiskan malam dengan Erwin. Raina dijebak, karena ingin memiliki teman hingga dia suruh menyusul temannya di bar dan tidak tahunya ternyata itu hanya jebakkan saja.


"Sayang". Erwin mengenggam tangan istrinya saat melihat wanita itu hanya diam menatap keluar.


"Iya sayang?". Raina memaksakan senyum.


"Bersandarlah". Erwin menarik kepala Raina agar bersandar dibahunya "Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi jika butuh tempat bersandar aku adalah orang pertama yang akan maju. Aku suamimu". Erwin mengecup ujung kepala istrinya.

__ADS_1


Raina melingkarkan tangannya dilengan kekar Erwin. Dia membenamkan wajahnya dibahu pria itu. Menangisi dalam diam. Kehilangan membuat jiwanya terasa runtuh dan tak berdaya.


Erwin mengelus kepala istrinya dengan sayang. Hanya ini yang bisa dia lakukan memberikan tempat bersandar ternyaman. Menyakinkan Raina bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Sampai divilla Edgar. Raina turun duluan dan membantu suaminya keluar dari mobil. Erwin masih lumpuh. Mungkin dia butuh proses untuk kembali berjalan.


Raina mendorong kursi roda Erwin. Sedangkan Eidra satu mobil dengan Buana, Pristy dan Keizo. Jadi mereka sudah datang duluan.


"Haaiiii Nak". Raina langsung mengambil putranya dari gendongan Bik Amy "Terima kasih Bik, sudah menjaga putraku". Ucap Raina tersenyum halus.


"Sama-sama Nyonya, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya". Sahut Bik Amy.


"Hai anak-anak Mommy".


Eidra tersenyum sumringah menghampiri ketiga anaknya yang digendong Elizabeth, Eve dan Bik Lim.


"Pasti rindu Mommy ya?". Dia menoel-noel hidung Baby Eleano "Unyu nya putra Mommy ini". Eidra mengambil putranya "Terima kasih Oma Bibik, sudah menjaga Ano". Celetuknya menirukan suara anak kecil.


Bik Lim tersenyum simpul. Elizabeth terkekeh gemes.


"Nak, seperti nya putri mu butuh ASI". Ucap Elizabeth


"Wahhh benarkah Bu?". Ujar Eidra "Tapi bagaimana aku menyusui mereka? Punya ku hanya dua, mereka tiga. Belum lagi nanti bayi besarku datang. Siapa yang harus kuberi makan duluan?". Seru Eidra bingung.


Buana, Keizo dan Erwin menelan Saliva mereka kasar. Tentu saja paham bayi besar yang dimaksud Eidra. Dasar Eidra kalau ngomong asal keluar seperti kentut, gerutu Buana.

__ADS_1


Bersambung....


Ed & Ei


__ADS_2