
Langit semakin gelap, matahari berangsur-angsur menghilang meninggalkan cakrawala dan tenggelam di telan malam. Bintang-bintang bermunculan menghiasi langit yang begitu indah.
Ternyata waktu berjalan lebih cepat dari yang Gloria bayangkan. 1 bulan lebih ia sudah menjalani pernikahan yang hambar ini. Terkadang sedikit rasa manis singgah dan membuat hatinya berbunga, namun hanya sekejap karena Shaka masih terlalu sering berubah. Seperti 2 minggu ini, entah kemana ia menghilang. Dia tak memberi tahu gloria kemana ia akan pergi, gloria bertanya kepada Bibi Rick namun Bibi Rick hanya menggeleng kepalanya. Apakah sebenarnya Shaka tak menganggap keberadaannya?.
Sikap dingin dan acuh Shaka lebih dominan daripada kelembutan yang ia tunjukkan kepada Gloria, mungkin dia memang seperti itu. Atau mungkin juga lelaki itu yang tak terlalu pandai menunjukkan ekspresi dan kepeduliannya. Sehingga Gloria mulai bimbang dengan pernikahan mereka.
Gloria mendudukkan dirinya di lantai yang dingin, menyenderkan punggungnya pada pagar pembatas balkon. Pandangannya terarah ke dalam kamar yang sudah ia tempati sendirian beberapa hari ini, rambut coklat panjangnya terurai perlahan dari sisi bahu dan jatuh ke lantai.
"Shaka.. Bukankah kau bilang kau akan menjagaku?, kau bilang tak akan membiarkan orang lain menyakitiku? Tapi kenapa kau pergi begitu lama? Kenapa kau sendiri yang menyakitiku." Gloria menekuk kakinya dan menenggelamkan wajahnya ke lutut, entah kenapa malam ini perasaannya begitu sensitif. Dia memeluk kakinya yang kecil, air matanya perlahan luruh tanpa di suruh.
Entah sudah berapa lama ia menangis dan bertahan pada posisi itu, rambut coklat panjangnya yang tadi menjuntai ke lantai kini menari-nari di sela-sela pagar balkon karena tersibak hembusan angin malam. Bagaikan benang-benang berwarna coklat yang akan menggapai bintang di langit.
Karena lelah menangis, mata Gloria akhirnya tertutup dengan sendirinya. Ia tertidur masih pada posisi memeluk lutut, hingga tangannya melemah dan lepas perlahan dari posisi nya. Kemudian tubuh Gloria menyender di kaki kursi yang berada tepat di sebelahnya itu. Dinginnya malam yang begitu menusuk tulang sudah tak terasa lagi baginya.
Waktu menunjukkan pukul 1 malam, seorang lelaki masuk kedalam kamar besar miliknya. Ia tercengang saat melihat wanita bertubuh mungil yang ia kenal tengah berada di balkon. Segera ia melangkahkan kakinya secepat mungkin menuju wanita itu.
"Kenapa kau disana?" Ucap Shaka, namun tak ada sautan. Saat Shaka benar-benar telah di depan Gloria barulah ia sadar ternyata wanita itu sedang tertidur.
Shaka mengulurkan tangannya dengan lembut menyentuh pipi Gloria yang dingin, airmata yang tadi membasahi pipi cantik itu sudah mengering tak berbekas. Namun mata bengkaknya membuat Shaka tau kalau Gloria baru saja menangis.
"Maafkan aku, apa kau menungguku?." Shaka tak tahu kenapa hatinya merasa sakit dan sedih melihat pemandangan di depannya sekarang. Ia meraih tubuh mungil Gloria dan menggendongnya dengan hati-hati, sangat hati-hati seolah ia menggendong sesuatu yang paling berharga di dunia. Bahkan ia berjalan dengan sangat pelan, memastikan Tak akan ada gerakkan berlebih yang membangunkan Gloria.
Shaka menurunkan tubuh Gloria perlahan di atas ranjang. Ia menatap lekat wajah Gloria yang sayu, menyibakkan anak rambut yang menutupi dahi dan pipinya.
"Gloria.. Istriku.. Maafkan aku, aku sungguh minta maaf." Lirih Shaka tepat di telinga Gloria yang sedang terlelap, raut wajah lelaki itu tampak bersalah. Kepergiannya selama 2 minggu ini membuatnya tahu segalanya.
__ADS_1
Cup.. Shaka mengecup kening Gloria lalu membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu. Kemudian ia tidur sambil memeluk tubuh mungil Gloria.
***
Gloria segera berlari menuju kamar mandi saat merasakan mual menyeruak dari dalam perutnya. Dia bahkan tak menyadari Shaka yang tertidur di sampingnya.
Uek.. Uek.. Ia memuntahkan segala macam apapun dari dalam perutnya yang msih kosong belum terisi apapun sejak semalam.
Shaka yang mendengar suara Gloria terbangun dari tidurnya dan segera menghampiri Gloria, "Gloria, kau kenapa? kau sakit?." Ucapnya dengan panik.
"Aku baik-baik saja, aku hanya merasa mual." Gloria membasuh wajahnya dengan air.
"Kau terlihat pucat, ayo ku bantu kau kembali ke ranjang." Shaka memapah tubuh mungil Gloria.
"Aku memang tak panas, aku sungguh baik-baik saja tuan." Gloria menyingkirkan tangan Shaka dari dahinya.
"Mungkin kau masuk angin karena semalam tidur di balkon, kau tak seharusnya berlama-lama di udara yang dingin, jangan melakukan hal aneh yang akan membuatmu sakit." Shaka mendudukan dirinya di samping Gloria yang sedang berbaring.
"Jadi kau pulang tadi malam?, kau yang memindahkanku ke tempat tidur? kukira kau sudah lupa dengan rumahmu ini. Terutama lupa denganku." Gloria menahan sesak di dadanya, ia berusaha agar airmata nya tak keluar.
"Kau bicara apa Gloria, aku tak akan melupakan istriku sendiri. Istirahatlah aku akan menyuruh dokter datang kerumah." Shaka berdiri dari duduknya.
"Tidak usah memanggil dokter, sudah ku bilang aku baik-baik saja. Aku akan pergi kuliah." Ucapan Gloria menghentikan langkah kaki Shaka.
"Kau harus istirahat seharian, kau tidak ku ijinkan berangkat kuliah." Shaka memutar badannya menghadap Gloria, lalu melangkahkan kakinya menuju ke ranjang dan berbaring di samping Gloria.
__ADS_1
"Gloria.. Maafkan aku yang tak memberi kabar padamu beberapa minggu ini." Shaka Menatap wajah Gloria namun Gloria langsung memalingkan wajahnya dan tak berkata sepatah katapun.
"Kemarilah Gloria, aku sangat merindukanmu." Shaka memeluk tubuh Gloria dari belakang.
Mata Gloria terbelalak seketika mendengar ucapan Shaka, "Rindu? Kkkau merindukanku Tuan?." Ucap Gloria dengan posisi masih memunggungi Shaka.
"Ya, aku sangat merindukanmu." Shaka semakin mengeratkan pelukannya.
Gloria tak menolak pelukan Shaka, dia tak bisa memungkiri hati nya saat ini bahwa ia juga teramat merindukan lelaki yang ia nanti beberapa minggu ini.
Shaka membalikkan tubuh Gloria agar menghadap ke arah nya, ditatap nya manik mata Gloria yang sendu. Ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan keningnya di kening Gloria. "Kau milikku, hanya milikku." Ucap Shaka seakan dia tak mau kehilangan wanita di hadapannya itu.
Shaka mendekatkan bibirnya ke bibir Gloria, ia menciumnya perlahan lalu berkata "Manis, seperti cherry."
Gloria hanya termenung, tak tahu harus berbuat apa. Sehingga Shaka melanjutkan mencium bibir cherry milik Gloria lalu membelai lembut tubuh wanita itu.
Tubuh Gloria bergetar, sentuhan Shaka bagaikan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh titik tubuhnya, membuatnya terhanyut kedalam rasa yang nyaman dan ingin lebih dari itu.
Mereka berdua akhirnya terbawa suasana, semakin lama semakin dalam. Hingga erangan dan desahan mengisi pagi yang mendung tanpa sinar matahari di hari ini.
.
.
.
__ADS_1