ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
New Day


__ADS_3

Hening..


Suara sendok dan garpu beradu berirama. Shaka dan Gloria menikmati sarapan mereka. Gloria beberapa kali mencuri pandang lelaki di sampingnya, bukan karena tertarik, melainkan ia ingin mengatakan sesuatu namun tak punya nyali.


Suaranya seakan tercekat di tenggorokan, terhalang sisa-sisa makanan yang ia telan.


"Katakan! Ada apa?." Suara Shaka yang tiba-tiba membuat Gloria tersedak makanannya.


Uhuk uhuk.. Gloria meraih susu di depannya dan meminumnya dengan sekali teguk. "Tuan, kau mengagetkanku." Ucapnya ketika sudah bisa bernafas sempurna.


"Aku tau ada yang ingin kau sampaikan, katakan saja." Shaka masih meneruskan sarapannya.


"Bolehkah hari ini aku pergi kuliah tuan?." Gloria memasang senyum terbaiknya. Tangannya menangkup memohon.


"Hmm.. Pergilah."


"Terimakasih Tuan, selain tampan kau juga berhati baik." Segala macam pujian keluar dari mulut Gloria. Hatinya bersorak ria. Akhirnya dia bisa menghirup udara bebas lagi.


"Tapi kau tak boleh pergi kerja." Imbuh Shaka.


"Tidak Tuan, sore nanti aku akan memberikan surat pengunduran diri."


"Bagus." Shaka meminum susunya sampai tetes terakhir. "Semua keperluan kuliahmu sudah ada di mobilku, Bibi Rick belum sempat memindahkannya."


"Apa!! Ba.. Bagaimana bisa?, aku berencana mengambilnya pagi ini. Dan kau? Sudah membawanya di dalam mobilmu Tuan? Bagaimana kau melakukannya, apa kau membobol rumahku?." Gloria segera menutup mulutnya dengan tangan saat ia menyadari bahwa ia terlalu banyak bicara. Manik mata coklat milik Shaka menatap tajam wanita itu, seakan berkata "Cukup!! Berhenti bicara."


"Semalam aku menyuruh seseorang mengambilnya, aku memang membobol rumahmu, tapi sudah di perbaiki." Shaka memberi penjelasan namun wajahnya masih tetap dingin. Gloria hanya menganggukkan kepalanya.


"Ayo, ku antar kau ke kampusmu." Shaka berdiri dari kursinya.


"Aaah tidak.. tidak.. Terimakasih tuan, tapi aku bisa naik taksi." Gloria mengibas-ngibaskan tangan kecilnya.


"Terserah kau saja." Shaka mengedarkan pandangannya, lalu berhenti saat menemukan sosok yang ia cari. Ia memanggilnya menggunakan 1 jarinya.


Datanglah Bibi Rick membawa tas kerja milik Tuan mudanya, "Tas anda Tuan." Bibi Rick menyerahkan tas itu sesopan mungkin, lalu memundurkan dirinya beberapa langkah sebelum berbalik, namun belum sempat ia berbalik majikannya sudah memanggilnya lagi.


"Bibi Rick, lain kali biar Istriku yang melakukannya. Kau ajari dia saja." Shaka berkata tanpa menatap orang yang di ajak bicara.


"Baiklah Tuan muda." Jawab Bibi Rick masih berdiri di tempatnya.


"Gloria, kau belajarlah memenuhi semua keperluanku." Shaka menatap Gloria sekilas, lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. "Pergilah, supir rumah akan mengantarmu, jangan menggunakan taksi." Shaka kemudian berjalan meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Langkah kakinya begitu lebar, membuatnya dalam sekejap sudah tak terlihat di ruang itu. Beberapa saat kemudian Gloria tersadar, bahwa dia melupakan sesuatu yang penting. Segera ia berlari mengejar Shaka. Suara tapak sepatu kecilnya menggema di dalam rumah besar itu, akhirnya ia melihat sosok lelaki tampan yang berdiri di samping mobil mewah berwarna hitam.


"Tuan sebentar." Gloria segera menghampiri Shaka dan tersenyum sebelum meraih tangan lelaki itu.


Shaka yang terkejut hampir saja menyentak tangan istrinya, namun sebelum ia melakukannya Gloria sudah mencium punggung tangannya. Lalu berkata "Tuan, aku berangkat kuliah dulu ya, Tuan juga selamat bekerja."


Shaka mulai mengerti bahwa wanita itu hanya ingin berpamitan padanya, menjabat tangannya sebagai seorang suami. Ya, itulah yang akan Gloria lakukan mulai saat ini, sebagai bentuk hormatnya pada suami. Persis seperti yang di lakukan oleh mendiang ibunya dulu.


Wajah dingin lelaki itu berubah ekspresi sejenak, senyumnya sedikit mengembang tanpa di ketahui siapapun. Ia membuka pintu mobilnya, namun tak jadi masuk saat ia mengingat sesuatu. "Pak, pindahkan buku-buku di bagasi ke mobil yang akan di pakai istriku." Ucapnya pada sang supir.


"Segera Tuan muda." Supir itu membungkuk badan sebelum berlari kecil membuka bagasi mobil, dan memindahkan buku milik Gloria kedalam mobil berwarna merah di samping mobil Tuannya. Lalu kembali lagi menghadap Tuannya. "Sudah Tuan muda."


"Itu mobil yang akan mengantarmu, aku sudah menyuruh supirnya untuk berhati-hati." Shaka menunjuk mobil yang nanti akan di naiki Gloria. Perkataan lelaki itu terdengar seperti sebuah kepedulian, hanya saja dengan nada yang tegas.


Mereka berdua akhirnya menaiki mobil masing-masing dan menuju ke tempat tujuan masing-masing.


***


Universitas STARS


Gloria berjalan bersama Yuna, sahabatnya. Dengan di iringi canda tawa yang merekah di wajah keduanya.


"Tidak mau, aku sudah sarapan tadi." Tolak Gloria.


"Wahh.. Tumben, biasanya nebeng aku makan di kantin.!!." Yuna terheran.


"Mulai sekarang aku tidak akan minta sarapan sama kamu. Jadi kamu bisa lebih irit." Gloria menaik turunkan alisnya.


"Wah.. Wah.. Kamu banyak duit sekarang? Kamu naik jabatan ya?!!." Tanya Yuna penasaran.


"Tidak juga si, malah aku mau keluar kerja." Gloria menepuk pundak Yuna.


"Lho.. Lho.. Kok bisa?!." Yuna semakin penasaran.


"Katanya mau ke kantin, ayo aku jelaskan disana sekalian." Gloria menarik tangan Yuna.


**


Sesampainya di kantin Yuna dan Gloria mencari tempat duduk di pojok, sedikit tenang dan tak banyak orang memperhatikan.


"Ayo cepat jelaskan, aku penasaran sampai cacing di perutku semakin lapar." Yuna mengaduk-aduk bubur ayam yang akan ia makan.

__ADS_1


"Aku sudah menikah, jadi harus berhenti kerja."


"Apa!!!." Yuna menyemburkan bubur yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, hingga mengenai muka Gloria.


"Iihh.. Jorok banget sih Yun." Gloria segera mengambil tisu di depannya untuk mengelap mukanya yang kotor.


"Sorry.. Sorry.. Aku kaget sumpah!!, gimana ceritanya cewek single tanpa pacar sepertimu bisa nikah."


"Itu.. panjang ceritanya, nanti kalo sudah waktunya aku ceritain ya?." Gloria memasang wajah bersalah.


"Aaah kamu jahat!! Main rahasia-rahasiaan sama sahabat kamu sendiri." Yuna merajuk.


"Aku pasti cerita kok Yun, tapi tidak sekarang. Okey?." Gloria menyatukan telapak tangannya. "Yang jelas sekarang aku sudah menikah, jadi suamiku menyuruhku untuk berhenti bekerja." Lanjutnya.


"Uuuhhh.. So sweet banget si suami kamu." Yuna yang tadinya merajuk kini hatinya berbunga-bunga.


"Ayo ceritakan lagi tentang suami kamu itu, dia tampan tidak?." Mata Yuna berbinar-binar.


Mendengar pertanyaan sahabatnya, Gloria jadi berfikir sejenak. Membayangkan wajah Shaka. Sorot mata tajam, alis tebal yang tegas, wajah dingin tanpa ekspresi, tak ada ramah-ramah nya. Namun tak di pungkiri, suaminya itu memang sangat tampan.


"Sangat tampan." Itu yang keluar dari mulut Gloria.


"Waaahh aku jadi penasaran. Ah tapi pasti kalah dengan ketampanan Tuan Shaka." Yuna mengibaskan tangannya.


Gleg.. Gloria menelan ludahnya sendiri dan matanya seketika membulat setelah mendengar pernyataan Sahabatnya.


"Tuan Shaka??." Lirih Gloria.


"Iya Tuan Shaka, Ayolah jangan bilang kau tak tahu dia."


"Mmm.. Itu..aku memang kurang tau." Gloria tersenyum canggung.


"Ya ampun Gloria, Kau tak tau Arshaka Zalleo! Ck ck ck." Yuna berdecak sambil menggeleng kepalanya. "Lain kali saja aku ceritakan, kita lanjut lagi ke suamimu. Apa pekerjaannya? Tentu saja aku harus tau nasib sahabat baikku kedepannya."


Pekerjaan?? Bagaimana Gloria harus menjawabnya. Apakah dia harus bilang kalau suaminya punya hotel? Atau suaminya seorang pebisnis? Atau suaminya seorang bos?? Aaah ini sangat membingungkan. Kenapa Sahabatnya bertanya tentang pekerjaan. Gloria berfikir sejenak, lalu ia menjawab suaminya seorang....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2