
Beberapa hari berlalu, hari ini Gloria tampak mengikat rambut panjangnya sehingga leher jenjangnya terlihat. Ia memakai baju yang cukup modis, penampilannya sekarang memang jauh berbeda dari sebelumnya karena Shaka menyediakan berbagai jenis pakaian bermerk terkenal.
Penampilan Gloria yang semakin cantik dan modis membuat teman-temannya semakin gentar menggosipkan nya beberapa hari terakhir di kampus.
Gloria turun dari tangga lalu menuju meja makan dimana Shaka sudah menunggunya.
"Sayang, kemarilah." Shaka menggeser kursi di sebelahnya untuk Gloria duduk. Namun saat Gloria akan duduk dia merasa mual mencium bau makanan di di depannya, ia segera berlari menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya.
Shaka yang melihat itu langsung berlari menghampiri Gloria. "Kau kenapa? Kau sering muntah beberapa hari ini." Ucapnya khawatir.
"Entahlah, aku langsung mual mencium bau makanan itu."
Shaka tak membalas ucapan Gloria, ia malah mengerutkan keningnya.
"Nona Gloria, kapan terakhir kau datang bulan?." Tanya Bibi Rick yang berdiri di belakang Shaka.
Gloria terdiam sejenak, benar! ia hampir saja melupakan hari merah yang terjadi pada setiap wanita. Karena setelah menikah dengan Shaka dia belum pernah datang bulan. Ia menghampiri Bibi Rick dan berbisik di telinganya "Bibi Rick, bisakah aku minta tolong? belikan alat tes kehamilan untukku."
"Tentu nona." Ucap Bibi Rick.
"Tolong rahasiakan jangan beritahu Tuan Shaka dulu." Gloria berbisik lagi di telinga Bibi Rick.
"Tapi nona... " Bibi Rick ragu.
"Kumohon Bibi Rick, kuharap kau bisa mengerti. Kau juga harus membelinya sendiri Bibi Rick, jangan menyuruh pelayan yang lain agar tak ada yang tahu." Gloria masih berbisik.
"Baiklah." Bibi Rick mengangguk lalu pergi dari ruangan itu.
Shaka menatap tajam Gloria yang dari tadi berbisik kepada Bibi Rick. "Katakan padaku kapan kau datang bulan!." Shaka berkata dingin, tak selembut biasanya.
"Aku baru saja selesai datang bulan." Gloria meremas tangannya yang gemetar.
"Kapan tepatnya!." Manik mata coklat Shaka menatap dingin Gloria.
"Saat kau pergi selama 2 minggu, saat itu aku datang bulan." Tangan Gloria semakin gemetar dan dingin karena ia tak pernah berbohong kepada Shaka sebelumnya.
"Baiklah, ayo kita kembali makan." Shaka kembali ke meja makan.
"Suamiku, aku tidak begitu berselera, aku merasa tidak enak badan jadi aku akan ke kamar untuk istirahat. Sepertinya aku tidak masuk kuliah hari ini." Gloria meninggalkan Shaka begitu saja.
"Ada apa dengannya?." Gumam Shaka lalu melanjutkan sarapannya.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Shaka berangkat ke kantor seperti biasanya, ia tidak berpamitan pada istrinya karena terburu-buru. Saat akan memasuki mobilnya ia melihat bibi Rick menyembunyikan kantong plastik di belakang punggungnya.
"Bibi Rick, apa yang kau bawa."
Suara bariton itu sungguh terhafal betul di telinga Bibi Rick sehingga otomatis tubuhnya menghampiri asal suara tersebut, "Tuan ini.. " Bibi Rick menggantung kalimatnya, ia sedikit ragu mengatakan karena ia sudah berjanji pada Gloria untuk merahasiakan dari Tuan mudanya.
"Katakan!!!" Bentak Shaka.
"Ini alat test kehamilan untuk nona Gloria, tadi pagi nona Gloria menyuruhku untuk membelinya." Bibir Bibi Rick sedikit bergetar, baru kali ini ia mencoba menyembunyikan sesuatu dari Tuan mudanya. Meski hasilnya gagal.
"Alat tes kehamilan? Kenapa istriku tidak bicara langsung padaku." Shaka terheran.
"Mungkin nona ingin memberi kejutan kepada Tuan Muda." Ucap Bibi Rick mencari alasan sebaik mungkin, ia tak berani memandang tuannya.
"Beri tahu aku hasilnya nanti." Shaka masuk mobil sebelum Bibi Rick membalas ucapannya.
Tok.. Tok..
"Nona saya sudah membelinya." Ucap Bibi Rick dari balik pintu kamar Gloria.
"Masuklah Bibi Rick."
Bibi Rick membuka kamar dengan perlahan lalu masuk dan menyerahkan kantong plastik berisi pesanan Gloria.
"Tidak nona, saya akan menunggu nona. Saya ingin tahu hasilnya."
"Baiklah."
Gloria masuk kedalam kamar mandi lalu membuka bungkus dari testpack yang ia pegang, kemudian ia menaruhnya kedalam urin yang sudah di tampung disebuah wadah kecil.
Beberapa saat ia menunggu, lalu ia mengambil testpack itu tanpa melihatnya. Ia terlalu gugup, khawatir, serta takut untuk melihat hasilnya. Jadi ia memutuskan keluar dan memberikannya kepada Bibi Rick, agar Bibi Rick bisa memberitahu hasilnya.
"Bibi Rick, tolong beritahu hasilnya padaku. Aku tak berani melihatnya sendiri." Gloria menyerahkan testpack yang belum sempat ia lihat.
Bibi Rick menerimanya, seketika matanya membola saat melihat ada 2 garis di alat tersebut. "Nona hasilnya positif. Selamat nona, anda hamil." Ucap Bibi Rick begitu senang, tak di pungkiri sebagai seorang wanita Bibi Rick sungguh bahagia mengetahui kehamilan nona mudanya.
Gloria tak bergeming, ia tak berkata apa-apa selain menyeka airmatanya yang luruh begitu saja. Ia senang sekaligus khawatir, segala macam perasaan bercampur jadi satu dalam hatinya sekarang.
"Nona, kenapa anda diam? Aku akan segera memberitahu kabar baik ini kepada Tuan muda, ia pasti bahagia mendengarnya." Bibi Rick memberikan testpack yang ia pegang kepada Gloria, lalu ia melangkah pergi.
"Tunggu Bibi Rick." Ucapan Gloria membuat Bibi Rick langsung menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Jangan beritahu suamiku."
"Kenapa nona? Tuan Shaka pasti sangat senang mendengar anda hamil."
"Belum tentu Bibi Rick, dia.." Gloria menghentikan ucapannya sejenak. "Dia belum tentu menginginkan anak ini." Gloria mengelus perutnya.
"Tuan muda pasti sangat senang jika tahu ia akan mempunyai seorang anak. Saya yang paling tahu tentang tuan muda, nona."
"Jika iya, lalu bagaimana kalau nantinya ia akan menjauhkanku dari anakku? Bukankah kau juga tahu Bibi Rick, ia menikahi ku karena suatu kesalahan bukan karena cinta. Mungkin benar dia akan sangat senang dengan anak ini, tapi.. tapi bagaimana denganku? Dia pasti akan mengusirku setelah mengambil anakku. Hiks.. Hiks.. " Gloria semakin tak bisa mengontrol emosinya.
"Saya rasa itu tidak akan terjadi nona, Tuan Shaka bukanlah orang yang seperti itu. Bukankah nona merasakannya sendiri kalau sekarang Tuan muda begitu perhatian dan lembut kepada nona?" Bibi Rick meyakinkan Gloria. Tangan Bibi Rick yang mulai keriput mengelus punggung tangan Gloria.
Gloria mengatur nafas dan emosinya, benar yang Bibi Rick katakan. Shaka memang begitu baik padanya, tak seharusnya ia berprasangka buruk pada suaminya. "Aku yang akan mengatakannya sendiri, baiklah Bibi Rick kau boleh pergi."
"Sebaiknya anda istirahat nona." Bibi Rick keluar dari kamar Gloria.
***
Seorang lelaki tampan duduk di kursi kebesarannya sambil menghisap puntung rokok yang baru saja ia nyalakan, ia memejamkan matanya seolah menikmati asap rokok yang menerobos masuk kedalam paru-paru nya.
Ia masih memikirkan tentang percakapan nya dengan bibi Rick tadi pagi, ia menaruh puntung rokoknya lalu mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja kemudian menghubungi seseorang.
Tut.. Tut..
"Hallo, tuan muda"
"Bibi Rick, bagaimana hasilnya." Tanya Shaka.
"Nona Gloria positif hamil tuanmuda, sebaik anda se...."
Tut.. Tut.. Tut.. Belum selesai Bibi Rick bicara Shaka langsung memutuskan panggilan telfonnya.
Deg.. Jantung Shaka seakan berhenti berdetak sejenak, ada perasaan bergemuruh yang meluap-luap dari dalam dadanya..
***
Silahkan tekan like dan tulis komentar sebagai dukungan untuk Author.
Thank you.
.
__ADS_1
.