
"Tuan muda.." Bibi Rick berdiri dari duduknya lalu sedikit membungkukkan badan saat Shaka memasuki ruangan rawat Gloria.
Shaka mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok yang terbaring di atas ranjang, istriku belum siuman?."
"Nona muda tadi sudah sadar namun dia begitu histeris, sehingga dokter menyuntikkan obat penenang." Ucap bibi Rick.
Shaka membelai wajah pucat Gloria, lalu duduk di tepi ranjang. Beberapa saat kemudian matanya menangkap seorang wanita yang duduk tertidur di atas sofa, ia mengerutkan keningnya lalu bertanya pada Bibi Rick, "Kau tak menyuruhnya pulang Bibi Rick?."
"Aku sudah menyuruh pengawal untuk mengantar nona Yuna pulang, namun nona Yuna bersikeras tetap ingin tinggal disini karena ia mengkhawatirkan nona muda." Bibi Rick memberi penjelasan.
"Yasudah, sebaiknya kau juga tidurlah Bibi Rick. Sebentar lagi hampir fajar kau pasti mengantuk, aku sudah disini biar aku yang menjaga istri ku."
"Baik tuan muda." Bibi Rick duduk di sofa yang lain, kemudian ia mencoba memejamkan matanya.
Shaka masih terus menatap lekat wajah Gloria dan mengelus pucuk kepala wanita itu, tak ada rasa kantuk sedikit pun yang menghampirinya. Tanpa terasa sudah berjam-jam lamanya hingga cahaya mentari pagi menerobos melalui celah tirai jendela.
"Suamiku.." Lirih Gloria saat menangkap wajah Shaka ketika ia membuka mata.
"Sayang.. Kau sudah bangun." Ucap lembut Shaka lalu mengecup tangan istrinya yang ia genggam sejak tiba di rumah sakit.
Gloria mengangguk dengan senyum, beberapa detik kemudian senyumnya menghilang ketika ia tersadar dengan ucapan Yuna dan Bibi Rick semalam. "Suamiku.. anakku baik-baik saja kan?, Bibi Rick dan Yuna bilang bahwa aku kehilangannya mereka berbohong padaku kan?." Ucap Gloria.
Shaka terdiam cukup lama, hingga ia menggeleng kepalanya pelan. "Mereka benar, kita kehilangan anak kita."
Deg... Gloria bagai di sambar petir, sejak semalam ia terus meyakinkan dirinya bahwa kandungannya baik-baik saja. Namun orang-orang terdekatnya mengatakan hal yang lain, tubuhnya lemas seketika, airmatanya luruh begitu saja tanpa bisa di cegah.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak ketika mendengar itu dari mulut suaminya. "Tidak!! Kau bohong! Kalian semua bohong.!." Teriaknya keras sambil memukul dada Shaka, "Kau ayahnya tapi kau tega berkata kalau anakmu sudah tak ada!!."
Shaka langsung mendekap erat tubuh Gloria, sedangkan Bibi Rick dan Yuna yang mendengar teriakan Gloria segera terbangun dari tidur mereka dan berjalan ke arah ranjang.
"Sayang tenanglah, kau harus menerimanya. Tuhan punya rencana sendiri untuk kita, mungkin ini yang terbaik bagi kita semua." Lirih Shaka mencoba menenangkan Gloria yang terus meronta.
Bibi Rick tak bisa berkata apa-apa, begitu juga Yuna yang hanya menatap pilu dan menggigit bibir bawahnya.
"Tidak! Anakku masih ada.. Masih ada..!." Gloria semakin menjadi-jadi, teriakannya terdengar sampai depan ruangan yang ia tempati. Hingga pengawal yang berjaga melebarkan mata mereka dan saling berpandangan.
"Dengarkan aku sayang.. kau bisa hamil lagi, kita bisa mencobanya lagi." Shaka menangkup wajah Gloria dengan kedua tangannya.
"Tapi.. Tapi.. " Gloria tak bisa meneruskan ucapannya lagi, wanita itu membenamkan wajahnya ke dada bidang Shaka kemudian menumpahkan segala kesedihannya.
Beberapa saat kemudian tangisan Gloria sudah tak terdengar, "Aku mau pulang." Lirih wanita itu sambil melepaskan tubuhnya dari dekapan Shaka.
"Sayang kau harus dirawat beberapa hari." Shaka berkata selembut mungkin.
"Aku mau pulang!!!." Gloria meninggikan volume suaranya, membuat Shaka menghela nafas cukup panjang. "Baiklah, kita pulang sekarang."
Shaka membopong tubuh Gloria melewati Bibi Rick dan Yuna yang hanya terdiam, setelah berada di luar ruangan Shaka memanggil sekretaris nya yang duduk di kursi dalam keadaan setengah ngantuk karena semalaman ia tak tidur sama sekali. "Sam.. Urus kepulangan istriku, dan satu orang ikut untuk menjadi supir." Ia menyuruh satu pengawalnya untuk menjadi supirnya karena Sam akan melanjutkan tugasnya yang lain.
Dengan langkah lebar Shaka membopong Gloria melewati koridor rumah sakit yang masih tampak sepi, dan beberapa pengawal mengikutinya di belakang.
"Nona Yuna, mari saya antar pulang." Ucap Bibi Rick tersenyum hangat pada Yuna.
__ADS_1
"Aah.. Terimakasih Bibi Rick, tapi saya lebih baik naik taksi saja. Saya tak mau merepotkan Bibi." Yuna menolak halus agar Bibi Rick tak tersinggung, ia tak enak hati jika Bibi Rick mengantarnya pulang pasti akan butuh waktu yang lama bagi Bibi Rick kembali ke rumah Tuan Shaka, bisa saja Tuan Muda itu memarahi Bibi Rick karena tak kunjung sampai rumah.
"Jangan begitu nona, saya tidak merasa di repotkan. Anggap saja ini ucapan terimakasih saya karena nona Yuna sudah menjaga nona muda kami." Ucap Bibi Rick.
"Gloria adalah sahabat terbaik saya, jadi sudah sepantasnya saya melakukannya. Saya pamit pulang ya Bibi Rick, tolong jaga Gloria." Selepas membungkuk sedikit badan Yuna melangkahkan kaki kecilnya keluar dari rumah sakit.
***
Gloria sudah kembali pada ruang yang setiap hari ia tempati, ruang luas dengan dinding ber cat putih dan foto pernikahannya tertempel manis sebagai penghias. Ia duduk di tepi ranjang, pandangannya mengarah ke balkon menatap tirai jendela yang menari-nari tertiup angin.
"Sayang..." Panggil Shaka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tetes air masih terlihat jelas membasahi tubuhnya yang hanya tertutup di bagian bawah oleh sehelai handuk, merasa tak ada sautan ia berjalan mendekat ke ranjang. "Sayang..." Panggilnya sekali lagi dengan tangan menyentuh pundak Gloria.
Namun masih tak ada suara yang keluar dari sana, bahkan wanita itu tak menoleh sedikitpun. Tatapannya kosong, tak ada senyum yang biasanya menghiasi wajah cantik itu. Sorot matanya seakan memancarkan keputus asaan, seolah-olah telah kehilangan segala-galanya dalam hidupnya.
Shaka perlahan duduk di samping Gloria, mengulurkan tangannya mengusap lembut pucuk kepala wanita itu. Gloria yang merasakan ada sentuhan dingin di atas kepalanya menoleh lemah ke arah lelaki yang duduk di sampingnya. Tetes bening mulai berjatuhan di pipinya yang ingin keluar lagi dan lagi.
Melihat itu, Shaka segera membawa Gloria kedalam pelukannya nya tanpa berniat berkata apapun lagi. Karena ia tahu bahwa istrinya itu sedang terluka dan terlarut dalam kesedihan.
Sekali lagi tangis Gloria pecah saat ia berada dalam dekapan nyaman Shaka, ia semakin membenamkan wajahnya. Air matanya menyatu dengan air sisa mandi yang masih menempel di kulit Shaka. "Kenapa.. Kenapa mereka semua sangat jahat kepadaku? aku bahkan tak pernah..mengganggu mereka. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa aku harus kehilangan anakku?."
Shaka semakin mengeratkan pelukannya,
rahangnya mengeras geram. Lihat saja, ia akan memastikan semua orang yang pernah menyakiti istrinya akan kehilangan kebahagiaan mereka seperti yang istrinya rasakan saat ini.
**
__ADS_1