
"Cassy?" Lirih Gloria mengulang nama yang mertuanya sebutkan. "Siapa dia ibu?"
"Dia..." Nyonya Zalleo nampak ragu untuk meneruskan kalimat nya, "Dia.. Biarkan Shaka yang memberitahumu, sayang. Yang terpenting kau jangan berpikiran macam-macam."
"Ba.. Baiklah Ibu." Gloria menjawab nya terbata, ia semakin ingin tahu siapa wanita bernama Cassy itu, kenapa Shaka menyembunyikan ini dari dirinya, bahkan mertuanya juga tak mau mengatakan langsung kepadanya.
"Cepatlah sarapan sebelum makananmu menjadi dingin, atau kau mau ke kamar mandi terlebih dulu? Mau ibu bantu berdiri sayang?" Suara nyonya Zalleo terdengar begitu lembut, selembut lembaran kapas tipis yang menyentuh ujung hati Gloria.
"Tidak ibu, aku ingin menghubungi Shaka dulu. Sejak ia pergi ia belum menghubungiku sama sekali, mungkin ia sangat sibuk sebaiknya aku yang menelponnya duluan." Lantas Gloria turun dari tempat tidurnya lalu mengambil ponsel dari dalam laci kecil di nakas.
Jari-jari Gloria menari-nari di atas layar benda pipih itu, hingga ia menempelkan benda canggih itu ke telinganya.
Sambungan pertama tidak terangkat begitupun sambungan kedua, Gloria tidak bisa menyembunyikan wajah cemasnya hingga mertuanya menyadari kegelisahan menantunya itu.
"Ada apa sayang?" Tanya nyonya Zalleo.
"Shaka.. Shaka tidak mengangkat telponku ibu."
"Mungkin dia benar-benar sibuk, cobalah kirim pesan padanya. Kalau dia sudah selesai dengan pekerjaannya pasti nanti dia akan membaca pesanmu dan segera menelponmu." Nyonya Zalleo memberi saran.
Tanpa menunggu lama, jari-jari Gloria kembali menari bebas di layar ponsel miliknya.
"Pesanku langsung di baca, Ibu. Aku akan menunggu balasannya. Sambil menunggu aku akan menghabiskan sarapan yang ibu bawa untukku."
__ADS_1
10 menit berlalu namun Shaka belum juga membalas pesannya, Gloria masih menunggu dan sesekali ia melirik ponselnya yang ia geletakkan di atas nakas, waktu semakin berlalu hingga makanan di piringnya sudah kosong dan Ibu mertuanya sudah keluar dari kamarnya.
Kini 20 menit pun sudah terlewati, namun ponsel Gloria tak kunjung berdering. Entah kenapa terbesit firasat buruk di hatinya, kemudian ia memutuskan menghubungi Shaka lagi.
Sama seperti sebelumnya, sambungan pertama tidak terangkat begitu juga sambungan kedua dan ketiga. Ini menambah kecemasan yang sedari tadi melanda hatinya, namun ia masih terus mencobanya lagi dan lagi.
Sampai entah sambungan yang ke berapa, ia mendengar suara seseorang.
"Hallo?"
Dan Gloria sangat yakin, bahwa suara itu bukanlah milik Shaka melainkan suara seorang wanita.
Seketika lutut Gloria lemas tak bertenaga dan keringat dingin membasahi telapak tangannya, ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar ponsel itu. Benar itu nomor suaminya, ia tak salah mendeal nomor lain. Lantas siapa wanita tadi? Kenapa ponsel milik suaminya berada di tangan seorang wanita?
Tiba-tiba Gloria teringat wanita berambut pirang yang bernama Cassy itu, saat itu sikap Shaka berubah setelah bertemu dengan wanita itu di tambah lagi Shaka menyimpan banyak fotonya. Pasti ada hubungan spesial di antara mereka, ia semakin yakin dengan keraguan Ibu mertuanya untuk memberitahu identitas Cassy yang sebenarnya.
Pikiran Gloria langsung melayang kemana-mana, pikiran tentang kemungkinan kebersamaan Shaka dan Cassy memenuhi pikirannya saat ini juga. Terlebih lagi Gloria tak tahu apa yang di perbuat Shaka selama berjauhan darinya.
"Ada apa, sayang?" Nyonya Zalleo yang baru saja masuk ke dalam kamar menatap bingung Gloria.
"Ibu.." Gloria langsung berhambur memeluk Nyonya Zalleo saat itu juga, mendekap erat tubuh wanita paruh baya itu yang saat ini menjadi satu-satunya penyalur rasa sakit di hatinya.
"Kenapa sayang? Apa Shaka masih belum menjawab telponmu?" Nyonya Zalleo mengelus lembut rambut coklat Gloria yang tergerai panjang.
__ADS_1
Gloria hanya menggeleng kepalanya pelan, ia tak berani bersuara karena saat ini ia sedang menahan airmatanya agar tak tumpah di depan mertuanya.
"Mungkin ponselnya tertinggal di hotel, karena pekerjaan yang sangat sibuk bisa saja ia lupa membawa ponselnya jadi ia tidak menghubungimu atau menjawab telponmu." Nyonya Gloria mencoba menenangkan Gloria agar wanita muda itu tak cemas, namun sekali lagi Gloria menjawabnya dengan gelengan.
Karena merasa ada yang ganjil dengan sikap menantunya akhirnya nyonya Zalleo melepas dekapannya, kemudian ia menatap wajah Gloria yang sendu dengan airmata yang menggenang penuh di pelupuk mata.
"Katakan sayang, kau kenapa?!" Nyonya Zalleo menekan kata-kata nya.
"Apa Shaka akan meninggalkanku karena aku sudah kehilangan anakku, ibu? Apa Shaka akan meninggalkanku karena aku tak kunjung hamil lagi?" Tanya Gloria dengan suara parau, ia bersusah payah menahan isak tangis agar tak lolos dari bibirnya.
"Apa maksudmu sayang? Ibu tak mengerti!" Nyonya Zalleo memegang bahu Gloria seolah wanita muda itu tak bertenaga sedikitpun dan bisa runtuh kapan saja.
"Tadi.. Telponnya tersambung dan yang menjawab seorang.. Seorang wanita, ibu!" Mata Gloria semakin memanas, suaranya terdengar begitu berat.
"Ia tak mungkin menyerahkan ponselnya kepada sembarang wanita, kecuali..." Gloria tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, airmatanya pun sudah tak bisa ia kendalikan. Jatuh begitu saja melewati pipi pucatnya.
"Sayang.. Jauhkan pikiran negatif dari pikiranmu itu, Ibu paham bagaimana sifat Shaka. Ia lelaki baik jadi jangan berpikiran buruk tentangnya, di tak akan meninggalkanmu apalagi setelah kalian kehilangan anak kalian. Kau harus tanamkan rasa kepercayaan untuk Shaka di dalam hatimu."
Nyonya Zalleo menatap miris menantu kesayangannya, ia mencoba tersenyum dan mengusap airmata Gloria yang semakin deras.
"Aku.. Aku percaya padanya ibu dan akan selalu percaya padanya." Gloria kembali memeluk Ibu mertuanya erat, "Tapi Aku takut kehilangan dirinya, ibu..." Ia menjeda ucapannya sejenak.
"..karena rasa cintaku padanya sudah sangat dalam.."
__ADS_1
***