
"Supir, suamiku bekerja sebagai supir." Akhirnya Gloria berbohong kepada Yuna.
"Supir?" Yuna mengangguk pelan, satu jarinya ia taruh di dagu.
"Ya, supir pribadi." Gloria meyakinkan Yuna.
"Oh supir pribadi, itu bagus.!" Yura mengeraskan nada suara nya.
"Bagus??." Gloria menatap Yuna dengan bingung.
"Tentu saja bagus, setidaknya jika suamimu punya majikan yang baik hati ia tak akan terkena PHK seperti bekerja di pabrik." Ucap Yuna yakin.
Pabrik? PHK?, Gloria terdiam sejenak. Dia tak habis pikir sebenarnya apa yang ada di kepala sahabatnya itu.
"Aaah kau benar." Gloria meng-iyakan saja.
Terlalu lama kedua gadis cantik itu berbincang, hingga keduanya lupa waktu.
Gloria melihat benda bulat yang tertempel di dinding kantin sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ternyata mereka telah menghabiskan waktu untuk mengobrol cukup lama, hingga bubur di mangkok Yuna mengering terkena angin.
"Kau tak ada kelas Yun?." Tanya Gloria.
"Ada, sudah lewat. Sesekali membolos tidak masalah. hehehe." Jawab Yuna santai, ia memamerkan deretan gigi putihnya. "Bagaimana dengan mu sendiri?." lanjutnya.
"Aku tak ada kelas hari ini, aku sengaja ke kampus untuk bertemu denganmu."
"Uuhh.. Sweet sekali sahabatku."
"Cepatlah masuk ke kelasmu, jangan membolos semua mata kuliahmu. Itu tak baik."
"Iya iya, kau sudah seperti ibuku saja. Aku akan masuk tapi nanti, setelah mengisi perutku. Lihatlah! makananku sudah tak enak di makan." Yuna menyodorkan bubur yang tadi sempat ia makan.
***
ARS Hotel
Disinilah Gloria sekarang, di depan bangunan mewah dan besar tempat ia bekerja. Tampak orang keluar masuk ke sana. Dia tersenyum getir, tempat ia menggantungkan hidup inilah yang merenggut hidup nya beberapa hari lalu.
Beruntungnya, yang menidurinya bukanlah lelaki brengsek hidung belang. Melainkan sang Empunya Hotel, lelaki dingin yang mau bertanggung jawab dengan kesalahan yang sudah ia perbuat.
Gloria melangkahkan kakinya dengan mantap memasuki hotel bertingkat itu, dan mengedarkan pandangannya ke setiap jengkal tempat yang ia lewati. Ia berhenti di depan pintu bertuliskan HRD.
Tok.. Tok.. Gloria mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuk" Terdengar sautan dari dalam sana.
Ceklek.. Gloria membuka pintu dengan sangat hati-hati dan memasukinya. "Permisi Pak." Ucapnya kepada lelaki berumur 50an yang duduk di kursinya.
"Oh Gloria, silahkan duduk. Kenapa kau kesini?"
"Ini Pak, saya mau menyerahkan ini." Meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja.
"Kenapa? Ku sudah menemukan pekerjaan lain?." Tanya Atasannya itu dengan ramah.
"Iya Pak." Gloria mengangguk.
"Baiklah, kau bisa mengambil sisa gajimu dibagian keuangan."
"Terimakasih pak, saya permisi." Gloria keluar dari ruangan itu. Kemudian mengambil gajinya di bagian keuangan, setelah itu ia segera keluar meninggalkan hotel.
Ia berjalan menunduk, memperhatikan sepatu cantik yang di pakainya sejak tadi pagi. Untung saja tadi di kampus Yuna tak terlalu memperhatikan penampilannya, jadi dia tak harus memikirkan jawaban jika sahabatnya itu banyak bertanya. Gloria masih berjalan menunduk dan bergelut dengan fikiran nya, sampai ia berada di depan parkiran hotel, tiba-tiba.
BRUK..
"Awww!!." Pekik Gloria saat tubuhnya menabrak seorang lelaki bertubuh besar sehingga menyebabkan tubuh mungilnya tersentak dan terdorong jatuh.
"Sakit." Gumam Gloria sambil membersihkan tangannya yang terkena lantai parkiran yang kasar.
Gloria mengenali suara itu, ia mendongakkan kepalanya. Sesaat gadis cantik itu menatap manik mata coklat, rahang yang kokoh, serta hidung mancung milik lelaki di hadapannya. Lelaki itu tak nampak ingin membantu Gloria, sehingga Gloria bangun dan berdiri dengan sendirinya. Gloria tak mempermasalahkan nya karena ia tahu, jika lelaki itu membantunya ia akan menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang.
"Maaf.. Aku tak sengaja menabrakmu Tuan." Ucap Gloria menyesal.
"Lain kali berhati-hatilah, pulanglah jika urusanmu sudah selesai dan tunggu aku dirumah." Ucap lelaki yang tak lain adalah Shaka yang kini menjadi suaminya. Tatapan matanya sangat dingin, namun perkataannya terdengar hangat.
"Iya Tuan, aku segera pulang." Gloria berlari meninggalkan Shaka yang masih berdiri ditempatnya.
"Nona, anda sudah selesai?." Sapa supir yang setia mengantar Gloria kemanapun sejak ia keluar dari rumah Shaka tadi pagi.
"Sudah pak, ayo kita pulang." Gloria masuk ke dalam mobil yang dari tadi terparkir sedikit jauh dari kawasan Hotel.
Gloria melihat jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 2 siang, ia masih ada sedikit waktu untuk mampir kerumahnya sebelum Shaka pulang kerja.
Dia menghembuskan nafas sebelum menatap supir yang fokus memperhatikan jalanan.
"Pak, bisakah kita mampir kerumahku sebentar?."
"Rumah Nona..?." Supir itu nampak berfikir sejenak lalu berkata, "Bisa Nona, dimana alamatnya.?"
__ADS_1
Gloria memberitahu alamat rumahnya, lalu Pak supir melajukan kendaraannya ke alamat yang di tuju.
Gloria menyenderkan kepala di kursi, matanya menatap keluar jendela. Pikirannya melanglang buana entah kemana, menerka-nerka tentang nasibnya kedepan. Dia serasa menjadi orang kaya yang menaiki mobil mewah dan memiliki supir pribadi, sungguh berbanding terbalik dengan dirinya dulu. Jangankan naik mobil, untuk naik bus umum saja ia harus mengumpulkan uang dengan susah payah. Tapi apakah dia akan bahagia dengan nasibnya sekarang?.
"Nona rumah anda yang mana?."
"Nona..." Tanya supir itu lagi saat tak ada satuan dari Nona mudanya.
"Eeh.. Gimana pak?." Ucap Gloria yang baru tersadar.
"Rumah anda yang mana Nona?, kita sudah sampai di alamat yang nona sebutkan."
"Aaah.. Lurus sedikit lagi pak, nanti ada rumah berpagar kayu."
Supir itu melajukan mobilnya lagi secara perlahan.
"Stop.. Stop pak, ini dia rumahku." Supir itu memasukkan mobilnya kedalam pekarangan kecil rumah Gloria. Setelah mobil yang di tumpangi nya benar-benar berhenti, Gloria keluar dari mobil.
"Pak, kau mau ikut masuk?." Tanya Gloria.
"Tidak Nona, Terimakasih. Saya akan menunggu disini." Sopir itu menolak halus.
"Baiklah, aku hanya sebentar saja." Gloria melangkahkan kakinya lalu berhenti didepan pintu.
"Pintu ini, terlihat lebih bagus. Mungkin dia benar telah mendobraknya sampai rusak, lalu ia ganti dengan pintu yang baru." Yang di masud Gloria adalah Shaka.
Gloria membuka pintu, tapi sayang sekali, terkunci!!. Ya, pintu itu terkunci dan Gloria tentu saja tak memiliki kuncinya karena Shaka baru saja mengganti pintu itu dengan pintu yang baru.
"Ck.. Aku tak bisa masuk kedalam rumahku sendiri." Gloria berdecak kesal, memutar tubuhnya lalu kembali ke dalam mobil.
"Sudah Nona?, kenapa sangat sebentar. Sepertinya nona tadi belum sempat masuk."
"Bagaimana aku bisa masuk pak, Tuan muda mu mengganti kunci rumahku. Dan aku tak memiliki kunci itu." Ucap Gloria dengan kesal. "Sudah pak kita pulang saja."
Akhirnya Gloria gagal masuk ke rumahnya sendiri, padahal ia bermaksud ingin bernostalgia melihat isi rumah tua miliknya itu.
.
.
.
.
__ADS_1