
Gloria menatap jauh kedepan, dilihatnya hamparan pekarangan luas dengan lampu temaram. Matanya sesekali memejam dan tangannya yang semakin kuat mencengkram pagar balkon hingga kuku-kukunya terlihat memutih.
Sebutir air mata perlahan jatuh membasahi pipinya yang dingin, ia sangat rindu dengan kedua orangtuanya.
"Ayah ibu, apa kalian melihat Gloria dari sana? Maafkan Gloria yang belum sempat mengunjungi kalian. Ayah ibu Gloria akan segera menjadi seorang ibu. Lihatlah, disini ada cucu kalian. Kalau saja kalian masih ada pasti kalian sangat senang." Gloria mengelus lembut perutnya. "Ayah, beritahu Gloria apakah Gloria begitu hina karena anak ini ada dari sebuah kesalahan? Apakah Gloria seperti seorang wanita murahan karena kehilangan kesucian sebelum menikah? Beritahu Gloria ayah... Aku ingin tahu.. Hiks hiks."
Ia teringat setiap hujatan yang teman-temannya lontarkan setiap hari dikampus. Meski ia sudah menutup telinga, tapi tidak dengan hatinya. Siapa yang tak sakit hati mendengar perkataan kotor tentang dirinya, apakah dirinya memang sehina itu.
"Sayang.. Jangan berdiri disini terlalu lama, angin malam tidak baik untukmu." Sepasang tangan kekar memeluk pinggang Gloria dari belakang.
"Hmm, aku masih ingin disini." Suara Gloria terdengar serak.
"Kau menangis? Kenapa?." Shaka membalik paksa tubuh Gloria agar menghadap ke arahnya. "Katakan, apa ada yang melukaimu?." Tangan Shaka menarik dagu wanita itu lalu mendongakkan sedikit kepalanya, hingga terlihat manik mata coklat Gloria yang sudah di penuhi airmata.
Sedangkan Gloria, wanita itu tak menjawab apapun. Namun tanpa sadar tangan mungilnya melingkar ketubuh besar suaminya lalu ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik Shaka, diam cukup lama hingga ia bersuara "Aku rindu ayah ibuku, aku rindu rumahku." Ia semakin mengeratkan pelukannya seakan ia tak mau lelaki itu pergi meninggalkan dia seperti orangtuanya.
Shaka membalas pelukan wanita di depannya, ia menelan ludahnya yang terasa pahit mendengar Gloria menyebutkan sang ayah. "Ayo berkunjung kerumahmu..." Diam sejenak, "sekarang."
"Bolehkah?." Ucap Gloria
"Ya, ayo."
"Tapi ini sudah malam, kau tak marah?."
"Tidak, ayo aku akan mengambilkan mantel untukmu. Lalu kita segera kerumahmu, jangan pernah menangis lagi itu kurang baik untuk anak kita."
"Ya, terimakasih suamiku." Hati Gloria benar-benar tersentuh.
**
Rumah Gloria.
Ceklek, Shaka membuka pintu lalu ia mempersilahkan Gloria masuk terlebih dulu.
__ADS_1
"Eh, semua bersih. Aku kira ini akan sangat kotor karena ku tinggal cukup lama." Mata Gloria menyapu seisi ruangan juga perabotan yang ada dirumahnya, lalu beralih pada Shaka "Apa semua ini karenamu?."
"Aku menyuruh beberapa pelayan datang kesini setiap 3 hari sekali untuk bersih-bersih." Shaka mendudukkan dirinya di kursi, "Ini sedikit kurang nyaman, terlalu keras dan jelek."
"Ini kursi kayu tentu saja keras, tak seperti kursi busa dirumahmu yang empuk dan nyaman." Gloria menepuk kursi yang diduduki Shaka. "Kau menyuruh pelayan kesini setiap 3 hari? Berarti kau memberi mereka kunci, suamiku?. " Gloria menekan kata-katanya, ia menatap tajam Shaka.
"Ya, tentu saja. Aku memberikannya pada bibi Rick dan dia memberikannya ke pelayan yang lain." Shaka menyilangkan kakinya.
"Dan kau tak memberikan kunci pada pemilik rumah ini sendiri? Sehingga ia tak bisa masuk?" Sorot mata Gloria semakin tajam.
"Kau bahkan tak memintanya, jadi jangan salahkan aku." Shaka memiringkan kepala dan menaikkan satu alisnya.
Huft.. Gloria menghela nafas, benar memang ia tak meminta kunci rumah pada suaminya. "Baiklah."
"Dimana kamarmu, ayo kita segera tidur." Tanya Shaka.
"Tidur? Kita menginap disini? Tapi disini tak ada apa-apa, makanan atau yang lainnya."
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?." Gloria memundurkan tubuhnya.
"Aku pernah bilang aku akan menghukummu saat kau keluar tanpa ijin, sekarang lah hukumanmu." Shaka menarik Gloria kedalam dekapannya.
"Tapi.. Tapi.." Belum lengkap kalimat yang Gloria ucapkan namun mulutnya sudah di bekap Shaka dengan bibirnya yang menggoda, salah satu tangan lelaki itu menelusup ke dalam baju Gloria lalu berhenti tepat di gundukan sintal favoritnya, sehingga membuat wanita dihadapannya itu mengerang. Suara Gloria semakin membuat gairah Shaka membara, ia lalu membawa Gloria masuk ke salah satu kamar di rumah itu kemudian terjadilah hal yang ia inginkan.
***
"Kau tak tidur sayang? Apa kau menginginkan nya lagi." Shaka memainkan gunung Gloria dengan jemarinya.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau tanganmu seperti ini." Berkata kesal dan menyingkirkan tangan Shaka namun tangan itu kembali ke posisinya semula.
"Kenapa? Bukankah kau menyukainya? Kau bahkan mengerang keras saat aku meremasnya." Shaka masih memainkan jemarinya.
"Aaahh hentikan." Wajah Gloria memerah karena malu, Shaka benar! Gloria memang menyukai aktifitas yang Shaka lakukan, namun sebagai wanita dia terlalu malu untuk mengakuinya.
__ADS_1
"Lihatlah wajahmu! Kau pasti lebih suka kalau begini." Shaka mencium leher Gloria lalu turun ke gundukan sintal milik wanita itu.
"Suamiku, hentikan.. hentikan ini. Apa kau tak punya lelah? Kita baru saja melakukannya dua kali." Gloria tergagap.
"Aku tak kan pernah lelah."
"Apa kau tak kasihan dengan anakmu, dokter bilang kau tak boleh sering-sering melakukannya saat usia kandungan masih muda." Gloria mengingatkan Shaka.
Dan benar saja, Shaka hampir saja lupa dengan yang dokter katakan kalau Gloria tak mengingatkannya. "Sayang apa kau mendengar ayah? kau baik-baik saja di sana kan?." Ia mendekatkan wajahnya ke perut Gloria dan berbicara dengan mahkluk hidup yang ada didalamnya.
"Dia tak akan mendengarmu, Usianya baru 1 bulan."
"Aku tahu, aku bukan ayah yang bodoh. Tapi tak ada salahnya mengajaknya bicara, dia akan mengenalku lebih awal." Tangan hangatnya mengelus perut Gloria, "Temanmu, apa dia sering mengganggumu?"
"Siapa?." Gloria bingung dengan yang Shaka maksud.
"Wanita yang mengganggumu di toilet." Tegas Shaka.
"Oh, Joelly! Dia memang kurang suka padaku, tapi tak masalah aku sudah terbiasa."
"Hmm jadi dia terbiasa mengganggumu?. Aku akan memberi pelajaran kepada wanita itu, berani sekali dia menyakiti istriku." Shaka mengepalkan tangannya.
"Awas tanganmu, jangan seperti itu apa kau lupa tanganmu masih di atas perutku, kau bisa menyakiti bayi kecilku." Gloria menurunkan perlahan tangan Shaka dari perut nya.
"Ah.. Sayang maafkan ayah." Kembali mengelus perut Gloria yang masih terlihat rata.
"Joelly biar aku sendiri yang urus, kau jangan ikut campur. Aku tak mau dia nanti semakin membenciku, oke suamiku?."
"Baiklah, tapi kalau dia berbuat yang keterlaluan aku tak akan mengampuninya." Shaka mengecup bibir mungil Gloria "Sebaiknya kita tidur sekarang."
Akhirnya pasangan itu memejamkan matanya ketika jam di dinding menunjukkan pukul 1 tengah malam.
***
__ADS_1