
"Bodoh!! Bagaimana bisa kalian semua tidak tahu jika istriku meninggalkan rumah!." Murka Shaka, ia menendang kaki para pengawal yang berjaga di rumahnya. Ia segera meninggalkan kantor ketika bibi Rick memberi kabar bahwa Gloria tak ada di kamar maupun seluruh rumah.
"Maafkan kami tuan, kami pantas menerima hukuman dari tuan muda. saya sudah mengerahkan beberapa pengawal untuk mencari nona Gloria di kampus dan di seluruh kota." Ucap kepala pengawal sambil meringis menahan sakit di kakinya.
"Istriku sedang hamil! Bagaimana kalau dia dalam bahaya berada diluar sana!!, aku akan memecat kalian semua jika tak menemukannya segera!." Sorot matanya yang tajam serasa menusuk jantung para pengawal yang ada di hadapannya, seakan nyawa mereka bisa melayang kapan saja.
"Kenapa masih berdiri disini! Kalian cepat ikut mencari istriku!!." Shaka semakin menaikkan volumenya, sungguh suara kerasnya memekak telinga bagi yang berada di dekat lelaki yang sedang murka itu.
Prankk..!!
Shaka membanting Guci antik yang menghiasi ruang tamu nya hingga pecahannya berceceran di lantai, tak ada satupun pelayan yang berani mendekat untuk membersihkan pecahan-pecahan itu termasuk bibi Rick, sang kepala pelayan.
"Semua salahku, harusnya aku tak meninggalkan nya tadi pagi. Bodoh! Kau sungguh bodoh Shaka!." Ia terus mengumpat dirinya sendiri.
***
Di tempat lain, seorang wanita membawa dua ikat bunga tengah berjongkok di hadapan dua buah makam yang berjejer.
"Ayah Ibu, aku datang berkunjung." Gloria menaruh masing-masing seikat bunga di makam orangtua nya.
"Ayah, maafkan Gloria yang telat mengetahui yang sebenarnya tentang kematian Ayah. Apa yang Gloria lakukan pada orang itu nantinya, aku yakin ayah pun akan melakukan hal yang sama". Gloria mengalihkan pandangannya ke makam yang satunya
"Ibu, lihatlah sekarang Gloria semakin cantik bukan? Persis seperti ibu dulu. Dan disini, ada cucu ibu yang akan menemani Gloria kedepannya. Jadi ibu tak perlu khawatir Gloria akan kesepian." Gloria mengelus lembut perutnya, ia berbicara seolah-olah dengan makhluk yang masih hidup.
"Maaf Gloria tak bisa berlama-lama, lain kali Gloria akan mengunjungi kalian lagi. Aku harus segera pergi." Wanita itu mengusap-usap nisan di hadapannya bergantian, lalu menciumnya. "Aku mencintai kalian.."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Shaka masih menunggu kabar dari pengawalnya. Ia mondar mandir sedari tadi di ruang tamunya yang sudah terlihat bersih tanpa pecahan guci yang sebelumnya.
Sedangkan Samuel, ia terlihat sangat sibuk menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk ikut mencari Gloria. Ia melacak sinyal ponsel Gloria, namun hasilnya nihil. Nona mudanya itu me non-aktifkan ponselnya.
Ia menyadap CCTV hampir di seluruh kota, namun masih tak menemukan Gloria. Kemana sebenarnya wanita itu pergi, ia hilang tanpa jejak. Bahkan semua pengawal yang Shaka punya sudah ia kerahkan namun masih tak ketemu.
Prank!!
__ADS_1
Satu barang lagi berhambur ke lantai, kini Shaka menendang laptop di pangkuan Samuel. Hingga sekretaris nya itu tak bisa bergerak sekian detik. Andai saja tendangan Shaka meleset sedikit kebawah, maka Sam akan kehilangan masa depannya.
"Brengsek kau Sam!! Melakukan hal kecil saja kau tak becus!" Shaka menumpahkan amarahnya kepada sekretaris nya itu namun nampaknya Sam tak terlalu mendengarkannya.
"Aaahh laptop kesayanganku, my baby.." Rintih Sam memungut laptop canggih nya yang sudah nampak retak di bagian layar.
"Huhuhu jangan tinggalkan aku." Sam memeluk laptop itu seolah sedang memeluk kekasihnya.
Prank..!!
Lagi, Shaka mengambil paksa laptop Sam lalu membanting nya sekali lagi. Bahkan kali ini lebih keras dari yang sebelumnya hingga laptop itu terbelah menjadi dua bagian.
"Apa! Apa yang kau lakukan pada baby ku Bos." Sam terperanjat.
"Kau gila Sam!!. Istri ku hilang dan kau bermesraan dengan laptop sialanmu.!" Shaka hendak meraih kerah baju Sam namun Samuel dengan cepat menghindarinya.
"Calm down bos.. Kita pasti bisa menemukan nona Gloria. Ambil nafas perlahan dan jernihkan pikiranmu." Ucap Sam yang bersembunyi di balik sofa, bertahun-tahun berteman dan bekerja bersama Shaka membuatnya sudah paham betul bagaimana sifat sang CEO itu.
"Sekarang fikirkan, tempat mana saja yang sering istrimu kunjungi." Sam masih mencoba menenangkan bos nya, dan berhasil! Shaka langsung duduk dan mulai mengerutkan keningnya seolah ia sedang berfikir.
"Aku sudah menyelidiki, nona Gloria memiliki 1 teman baik bernama Yuna. Namun dia tidak masuk kampus hari ini, berdasarkan informasi dari anak buahku ia sedang keluar kota bersama keluarganya jadi nona Gloria tak mungkin bersama dia." Jelas Sam.
"Aaah!!." Shaka mengerang frustasi. "Carikan aku nomor ponsel teman Gloria itu! Cepat!."
"Bagaimana aku mencarinya dengan cepat, lihatlah kau menghancurkan laptopku bos. Tunggu sebentar, aku akan menyuruh orang-orang ku dulu untuk mencaritahunya." Sam merogoh ponsel di saku jas nya lalu menghubungi seseorang.
10 menit kemudian, ia berhasil mendapatkan nomor ponsel Yuna dari salah satu anak buahnya yang ahli IT. Dengan segera Shaka merampas ponsel Samuel lalu menghubungi nomor itu.
Tut..
Tut..
"Halo, siapa?." Terdengar suara seorang wanita di ujung sana.
"Apa kau tahu Gloria akan kemana di saat ia sedih?." Tanya Shaka dengan nada suara senormal mungkin.
__ADS_1
"Ooh Anda pasti suaminya, apa kalian bertengkar?."
"Mmm.. Kami ada sedikit masalah dan istriku pergi dari rumah. Aku sudah mencarinya di semua tempat namun masih tak menemukannya, aku sangat khawatir apalagi dia sedang hamil."
"Woow.. Gloria hamil! Bahkan ia tak memberitahuku!."
"Karena itu, bisakah kau memberitahu kemana dia jika sedih? Apakah aku melewatkan satu tempat?."
"Apa Anda sudah memeriksa makam orangtuanya? Mungkin dia kesana."
"Ah kau benar, kalau begitu Terima kasih aku akan mencarinya disana."
"Segeralah temukan dia tuan, aku sungguh cemas jika dia tak kunjung ketemu. Tuan... Suara Anda terdengar tidak asing, persis seperti suara idola saya Arsha... "
Tut.. Tut.. Belum selesai Yuna berucap Shaka sudah mematikan panggilannya.
"Bagaimana?." Tanya Samuel yang berada di sebelah Shaka.
"Ayo ke makam orangtua Gloria." Shaka beranjak dari duduknya.
"Kau tahu tempat nya?."
Pertanyaan Sam sukses menghentikan kaki Shaka yang akan melangkah.
"Sial! Aku tak menanyakannya." Shaka menghempaskan tangannya di udara.
"Heh.. Kau memang bodoh! Aku akan menghubunginya lagi." Sam mengambil ponselnya yang Shaka taruh di atas meja lalu menghubungi nomor Yuna lagi. Namun sial, nomornya sudah tidak aktif.
"Tidak aktif." Ucap Sam pada Shaka sambil menaikkan pundaknya. "Aku akan menyuruh anak buahku untuk mencari tahu. Bersabarlah, mungkin akan sedikit lama."
Hari semakin petang, matahari sudah berada di ujung senja dan bulan hampir menampakkan utuh sinarnya. Shaka masih menunggu kabar tentang wanitanya yang tak kunjung pulang kerumah. Ia berharap Gloria tak benar-benar meninggalkannya.
"Kemana kau Gloria... "
***
__ADS_1