
BRAK.. Seorang lelaki berumur 60 an menendang kursi di depannya hingga terbalik.
"Apa ini!! Apa yang terjadi dengan semua perusahaan itu!." Teriak lelaki itu geram, karena tiba-tiba ARS Corp memutus kerja samanya di ikuti beberapa investor lainnya yang menarik investasi mereka.
"Hancur! Semua usahaku selama ini hancur!!."
Istrinya hanya bisa menangis, memikirkan kehidupan mereka selanjutnya jika perusahaan suaminya bangkrut.
"Papa..." Ucap anaknya pelan sambil memandang ruang tamu rumahnya yang berantakan, banyak pecahan guci dan meja kursi yang sudah berpindah dari tempatnya. "Maafkan Joelly.." Suara gadis itu terdengar pelan namun masih cukup jelas di telinga orangtuanya.
"Kenapa kau minta maaf sayang." Tanya sang ibu yang bernama Mareea.
"Maafkan Joelly.. sebenarnya semua ini salah Joelly mah pah." Ucap gadis itu dengan menunduk, ia tak berani menatap orangtuanya terutama sang Ayah. Airmatanya tertahan di pelupuk mata.
"Apa maksudmu?." Pedro Joeslin langsung menatap tajam anaknya.
"Sebenarnya...." Joelly menceritakan semua yang terjadi, tentang kesalahannya yang membuat urusan dengan Shaka.
Setelah mendengar penjelasan anaknya, Pedro Joeslin semakin naik pitam. Kini perusahaannya akan benar-benar lenyap, tak hanya itu bahkan hidupnya pasti juga akan berakhir. "Kau!!!..." Belum selesai ia berucap, jantungnya terasa teramat sakit. Pedro Joeslin meremas dadanya, semakin lama semakin sakit hingga ia tak kuat menahannya sampai akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.
"Papa..!!" Jerit Joelly dan Mareea bersamaan, mereka berdua segera berlari menghampiri Pedro yang terkulai di lantai.
"Tuan Pedro!." Tepat di saat itu, sekretaris Pedro Joeslin baru saja sampai di kediaman bos nya. Lelaki yang masih kelihatan muda itu segera berlari menuju bos nya yang tak sadarkan diri, ia memeriksa denyut nadi Pedro Joeslin, namun sayang tak ada sedikitpun denyut disana.
Tangan lelaki itu berkeringat dingin, dan jantung nya semakin berdetak tak beraturan saat ia memeriksa nafas bosnya, yang ternyata sudah tak ada hembusan keluar dari hidungnya. "Nyonya, Tuan Pedro sudah tiada." Lirih lelaki itu dengan wajah pasi.
Joelly dan Mareea semakin menjerit sejadi-jadinya, terutama Joelly. Karena kecerobohan dan kesombongan yang menggelapkan hatinya lah semua ini bisa terjadi.
__ADS_1
***
Seminggu berlalu, Gloria masih di rundung kesedihan yang mendalam. Jiwanya terguncang, ia masih tak bisa menerima kenyataan jika ia keguguran di usia kandungannya yang masih muda.
Wanita itu lebih banyak berdiam dan melamun, ia seperti kehilangan semangat hidup. Shaka sudah melakukan cara apapun untuk menghibur Gloria, beberapa hari yang lalu ia bahkan mengajak Gloria menginap di rumah tua miliknya, namun Gloria seakan tak bergeming.
"Sampai kapan kau seperti ini, sayang." Lirih Shaka menatap Gloria yang sedang berdiam diri di balkon, lelaki itu duduk di sofa sambil memangku laptopnya. Memang sejak kepulangan Gloria dari rumah sakit ia lebih sering menyelesaikan pekerjaannya dari rumah. Ia tak tenang jika berlama-lama meninggalkan Gloria sendirian.
Tanpa perasaan curiga atau apa, ia kembali memfokuskan matanya pada layar laptop dan meneruskan pekerjaannya. Namun, sesaat lirikan matanya menangkap sosok Gloria yang sudah memanjat pagar pembatas balkon dan akan melompat dari sana, "Gloria..!!" Pekik Shaka dengan jantung yang berdegup kencang, ia langsung berlari secepat mungkin menuju istrinya. Ia bahkan tak peduli dengan laptopnya yang terjatuh ke lantai.
"Sayang apa yang kau lakukan.!" Shaka menarik tubuh Gloria yang sedikit lagi akan terhempas bebas dari ketinggian lantai 2.
"Sayang.. Sadarlah." Lirih Shaka mendekap erat tubuh Gloria, wanita itu hanya diam tak bereaksi sedikitpun.
"Jika kau pikir dengan bunuh diri bisa membuat kau bahagia, kau salah besar.!" Shaka sedikit menaikkan suaranya. "Aku tahu kau sangat bersedih, aku juga merasakan yang sama. Dan jika kau mau mengakhiri hidupmu apa kau pikir kau sudah terbebas dari rasa sedih mu itu? jika memang itu iya, lalu bagaimana denganku? Bagaimana denganku Gloria.." Suara Shaka semakin melembut.
"Kenapa?." Tiba-tiba wanita di dekapan nya berucap pelan.
"Karena aku mencintaimu." Ucap Shaka tanpa ragu, suaranya pelan namun sangat jelas.
Gloria mendadak membulatkan matanya, akhirnya kata yang selalu ia nantikan keluar dari mulut suaminya itu. Hatinya menghangat, ada perasaan haru yang meletup-letup tak terkendali. Hingga airmata nya jatuh menetes perlahan, tak ada suara lagi yang terdengar dari mulut wanita itu. Selain isak tangis yang tak tertahankan.
"Kenapa kau malah menangis?." Shaka melepas pelukannya namun Gloria semakin mengeratkan tangannya seakan tak mau mengakhiri momen yang hangat itu.
Belaian lembut angin sore yang menerpa mereka berdua semakin menambah kenyamanan suasana yang sedang Gloria rasakan saat ini.
"Kenapa? Apa yang ku katakan salah?." Ucap Shaka yang bingung dengan Gloria.
__ADS_1
"Aku ingin mendengarnya lagi." Lirih Gloria.
"Mendengar apa?."
"Mendengar yang kau ucapkan barusan."
"Aku mencintaimu sayang, sungguh mencintaimu. Kau sudah puas?."
Gloria mengangguk, lalu mengendurkan tangannya.
"Sudah, jangan menangis. Hatiku sakit melihat kau menangis seminggu ini, apa kau tak lelah?." Shaka menatap lekat bola mata Gloria yang masih tertimbun cairan bening, lalu mengecup lembut bibir wanita itu sekilas.
Tiba-tiba Gloria mendorong tubuh Shaka dengan kuat lalu kembali ke balkon, "Gloria! Sudah ku bilang aku tak sanggup kehilanganmu!!." Teriak Shaka cemas jika Gloria masih nekat melompat dari balkon.
"Apa yang kau katakan?," Gloria mengerutkan dahinya. "Kau selalu berfikir negatif, aku hanya ingin menikmati pemandangan di depanku. Lagipula disini ada orang yang mencintaiku, jadi aku tak akan berbuat nekat dan mati konyol di depannya." Gloria mengumbar senyum tipis, itu adalah senyum pertamanya sejak ia mengalami kejadian yang merenggut kebahagiaannya seminggu lalu.
Shaka bernafas lega. "Sudah, jangan katakan tentang kematian lagi. Aku tak ingin mendengarnya, apalagi itu keluar dari mulutmu." Ia menempelkan jari telunjuknya ke bibir Gloria.
"Terimakasih kau selalu bersabar terhadapku, menjaga serta melindungiku. Aku beruntung menikah dengan lelaki sepertimu meski pertemuan kita di awali dengan drama yang menakjubkan, i love you suamiku." Wanita berambut panjang itu berhambur kepelukan suaminya, kesedihan yang menyelimuti hatinya seakan sirna setelah mendengar kata cinta dari Shaka beberapa waktu lalu.
"Oke.. Oke.. Aku jadi berfikir sebaiknya kita merencanakan kehamilanmu lagi. Bagaimana kalau kita memulai dari sekarang?." Shaka menaik turunkan alisnya.
"Hah? Haruskah sekarang? Tapi sepertinya aku belum bisa." Pipi Gloria merah merona, ia faham dengan apa yang di maksud Shaka.
"Hahaha, tidak.. tidak.. Aku hanya bercanda sayang, lagipula kau belum sembuh. Aku bukanlah suami kejam yang tak bisa mengontrol nafsu, tapi jika kau sudah benar-benar pulih aku tak akan memberimu jeda sedetikpun hingga kau tak sanggup lagi mengerang." Bisik Shaka di telinga Gloria, lelaki itu sungguh bahagia hari ini hingga ia ingin menggoda istrinya terus menerus.
"Mari kita cicil dengan sedikit sentuhan.."
__ADS_1
***