
"Okey... Sudah cukup sayang, kau sudah berbelanja terlalu banyak. Sebenarnya kau tak harus membeli semua ini disini, kita bisa membelinya di hawai nanti." Shaka menjeda ucapannya sembari mengatur nafasnya yang tersengal karena dari tadi ia mengikuti Gloria mengelilingi salah satu pusat perbelanjaan.
"Apa kau tak berpikir betapa merepotkan nya membawa barang-barang tak berguna ini," Lanjutnya sambil menyodorkan paper bag yang bergelantungan di tangannya, dan menunjuk paperbag lain yang telah di bawa oleh pengawalnya.
Bayangkan saja penampilan Shaka saat ini, pemuda berparas tampan dan berpostur atletis itu sedang membawa banyak belanjaan di tangan kanan dan kirinya.
Tentu saja banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya sekarang, mulai dari para gadis remaja hingga wanita dewasa. Mereka menatap penuh kagum tanpa berani mendekat karena beberapa pria berjas hitam mengelilingi lelaki itu.
Sungguh memalukan! Kalau saja bukan demi orang terkasih nya Shaka takkan mau melakukan ini.
Grep..
Gloria mendadak menghentikan jalannya, "Semua itu berguna." Ketus wanita itu.
"Handuk, selimut, sendal jepit? Dan apa ini? Gantungan baju? Kau bilang semua ini berguna? Barang-barang ini bahkan melimpah di hotel ku, come on honey kita akan menginap di hotel bukan berkemah di hutan! Kau tak perlu membawa ini semua di saat kita akan berlibur." Nada bicara Shaka menunjukkan kalau ia sedang kesal.
"Tapi.. Aku tak bisa memakai barang-barang dari hotel, sayang." Gloria memasang mode imut dan memohon, entah ilmu apa yang ia gunakan hingga akhirnya Shaka luluh dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
Shaka menghela nafas, "Baiklah... kau menang."
Shaka memberikan paper bagian yang ia pegang kepada pengawalnya, "Sekarang bisakah kita pulang? Kakiku terasa mau lepas dari sendi nya."
"Tapi--"
"Jangan menolak, kau sudah belanja terlalu banyak."
Gloria hanya bisa pasrah, "Okey.."
Sebenarnya selama menjadi istri Shaka baru kali ini Gloria khilaf dalam berbelanja, karena menurut nya sangat di sayangkan jika menghamburkan uang hanya untuk sekedar membeli barang-barang yang tak begitu penting.
Namun entah kenapa, hari ini ia sangat ingin berbelanja sepuasnya.
Bukk...
Seorang wanita menabrak bahu Shaka saat ia akan keluar dari lift.
"Sorry.." Wanita itu berjongkok mengambil tasnya yang sempat terjatuh. Shaka terdiam sejenak mendengar suara yang terasa tak asing di telinganya, namun segera ia tepiskan pikirannya itu.
Saat hendak melangkahkan kakinya, wanita itu sudah berdiri sempurna dan memperlihatkan wajahnya yang cantik dengan rambutnya yang berwarna pirang.
Mata Shaka dan wanita itu saling bertemu untuk sekian detik.
"Kau.." Ucap wanita itu dengan ekspresi terkejut. Begitu pula Shaka, lelaki itu juga menampakkan ekspresi yang tak kalah terkejutnya dari wanita di hadapannya. Bahkan kali ini dirinya benar-benar meletakkan kembali kakinya di atas lantai.
__ADS_1
Sekitar 1 menit Shaka masih tak bergeming dari tempatnya berdiri, Gloria memandang aneh pada Shaka dan wanita itu secara bergantian.
"Sayang.. Kau mengenalnya?"
Pertanyaan Gloria mengembalikan kesadaran Shaka, "Ayo," Ucapnya singkat tanpa menjawab pertanyaan yang baru saja Gloria lontarkan.
Di detik berikutnya ia sudah berjalan menjauh dari lift dan meninggalkan wanita berambut pirang tadi.
Di sepanjang perjalanan menuju mansion Shaka hanya diam tak bersuara, Gloria menatap heran suaminya yang tak biasanya bertingkah seperti itu.
"Apa ini ada hubungan nya dengan wanita tadi? Apa mereka saling kenal? Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku?" Batin Gloria.
Banyak sekali pertanyaan yang kini memenuhi otaknya, ia ingin sekali bertanya pada suaminya namun ia urungkan.
***
Malam semakin larut, namun Shaka masih berkutat dengan pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan secepat mungkin. Mau bagaimana lagi, dokumen-dokumen itu harus sudah selesai malam ini juga karena besok pagi-pagi sekali Shaka sudah harus pergi ke Hawai.
Shaka masih membaca setiap dokumen di layar laptopnya hingga bayang-bayang seorang wanita berambut pirang muncul dan mengambil alih fokusnya.
Ia membuang nafas lalu menutup layar laptopnya, membiarkan begitu saja dokumen yang belum selesai ia koreksi.
"Kenapa dia harus muncul kembali di hadapanku.." Gumam Shaka sambil memejam matanya, ia memegang dadanya yang kini berdetak 2 kali lebih cepat dari sebelumnya.
Tok.. Tok..
"Tuan besar menyuruh saya memanggil anda, beliau menunggu di ruang keluarga, tuan muda." Pelayan itu berucap sesopan mungkin.
"Ya." Singkat Shaka lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang kerjanya tanpa menunggu waktu lama.
Sesampainya di ruang keluarga ternyata tak hanya ayahnya yang berada disana, melainkan Gloria dan ibunya juga baru saja bergabung dengan tuan besar Zalleo.
"Sayang.. Kau belum tidur?" Shaka mengecup singkat kening Gloria sebelum duduk di sebelah istrinya itu.
Gloria yang mendapatkan kecupan mendadak dari Shaka di depan orangtua nya hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah dengan telapak tangannya karena malu.
"Kau malu pada mereka? Turunkan tanganmu dan lihatlah apa yang mereka lakukan sekarang." Shaka meraih tangan Gloria kemudian menurunkan dari wajah wanita cantik itu.
"Oh my God!!" Teriak Gloria seketika saat melihat kedua mertuanya itu bertukar ciuman dengan bibir mereka.
Mereka bahkan melakukan ciuman panas di depan menantu mereka tanpa segan. Ini sungguh di luar akal Gloria.
Orangtua Shaka segera menghentikan aktifitas romantis mereka, "Ada apa sayang? Kenapa kau berteriak?" Tanya ibu Shaka pada Gloria.
__ADS_1
"Ti.. Tidak Ibu, tidak ada apa-apa," Jawab Gloria tergagap sambil mengibas-ngibas tangannya.
"Kau akan sering melihat yang seperti tadi, jadi kau harus membiasakan matamu dengan pemandangan seperti itu." Bisik Shaka di telinga Gloria.
"Be.. Benarkah?" Ucap Gloria tak percaya.
"Ini luar negri honey, kau bahkan bisa melihat orang berciuman di jalanan," Lanjut Shaka masih berbisik, Gloria yang mendengarnya hanya menelan saliva tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Kenapa ayah memanggilku? Apa ayah tak tahu kalau aku sedang sibuk?"
"Kalau kau selalu berkutik dengan pekerjaanmu kapan kau punya waktu untuk berkumpul dengan orangtuamu ini, kau terlalu sibuk sampai-sampai tak ada bedanya kau berada dirumah ini ataupun tidak." Ketus tuan besar Zalleo.
"Dan lagi, jika hanya kau yang tak menemuiku aku tak masalah. Namun kau juga melarang menantuku untuk menemuiku, ini sungguh keterlaluan." Lanjutnya dengan tatapan mengintimidasi ke arah Shaka.
Shaka yang merasa terintimidasi segera membuang muka, "Aku tak melarang Gloria untuk menemui ayah dan ibu," Ucapnya santai.
"Kau melarangnya keluar dari kamar, itu sama saja melarangnya bertemu denganku. Dasar anak durhaka! Kau menyimpan istrimu di dalam kamar supaya apa hah?!"
Shaka memutar manik mata coklatnya, "Terserah aku, ayah harus ingat bahwa Gloria adalah istriku."
"Dan kau juga harus ingat! Gloria itu menantuku!" Lantang tuan besar Zalleo tak mau kalah.
Sedangkan Ibu Shaka dan Gloria mereka berdua asyik berbincang tanpa peduli perdebatan tak penting antara ayah dan anak di depan mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 pm namun pertikaian Shaka dan ayahnya tak kunjung usai, karena jengah dan mengantuk akhirnya Gloria dan nyonya Zalleo memutuskan kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat, meninggalkan dua lelaki terkasih nya begitu saja.
"Selamat tidur ibu." Gloria mengecup satu sisi pipi mertuanya ketika ia sudah berada di depan kamar milik mertuanya itu, dan di balas belaian lembut di pucuk kepala Gloria oleh nyonya Zalleo.
Belaian lembut yang persis seperti sentuhan hangat mendiang ibunya dulu, selepas itu ia melanjutkan jalannya menapaki anak tangga satu per satu menuju kamarnya di lantai 2.
Sesampainya di kamar ia langsung berjalan ke arah ranjang king size nya, ia sudah tak sabar merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk itu.
"Oh tidak!" Karena berjalan terburu-buru Gloria tak sengaja menyenggol berkas milik Shaka yang bergeletak diatas nakas yang berada tepat di samping ranjang, sehingga bolpen yang berada di atas berkas itu terjatuh ke kolong tempat tidur.
Gloria berjongkok, merendahkan kepalanya serendah mungkin supaya ia bisa melihat kolong tempat tidurnya dan menemukan bolpen yang baru saja ia jatuhkan.
"Eh! Apa ini?" Ia melihat sebuah kotak hitam berukuran sedang di sana dan juga bolpen yang ia cari.
Setelah mengambil bolpen itu, ia pun meraih kotak hitam itu karena penasaran.
Tanpa menunggu lama, ia membuka kotak yang nampak bersih itu. Sepertinya sang empunya kotak selalu membersihkannya meski di tempatkan di bawah tempat tidur.
"Semoga Shaka tak marah aku membuka barang milik..." Ucapan Gloria terhenti saat matanya menangkap banyak lembaran foto seorang wanita di dalam kotak itu.
__ADS_1
Matanya melebar seketika dan dadanya berdenyut nyeri, "Dia..."
**