ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Berdiam


__ADS_3

Diam, Selepas Shaka keluar Gloria masih bertahan pada posisinya memeluk lutut. Bahkan selimut yang menutupi kakinya kini semakin basah karena tetes airmata yang keluar semakin banyak, semakin deras.


Ia memang sudah merelakan kepergian sang Ayah, karena ia percaya setiap makhluk akan mengalami yang namanya kematian. Namun ia tak pernah menyangka jika kematian orang tercintanya itu bukan karena kecelakaan seperti yang ia dan mendiang ibunya tahu, melainkan dibunuh oleh bos nya sendiri. Hatinya sungguh pilu setelah tahu fakta yang sesungguhnya, apalagi pembunuh itu bukan oranglain melainkan Ayah mertuanya sendiri yang belum pernah ia ketahui wajahnya.


"Aaaahh..!!." Gloria berteriak frustasi, tangannya beralih meremas selimut sangat kuat.


Tak ada orang yang bisa mendengar teriakannya di dalam kamar kedap suara itu, tak terkecuali Shaka yang masih berdiri tepat di balik pintu dengan sorot mata sayunya. Lelaki itu masih setia berdiri tegak disana, seakan enggan melangkah lebih jauh lagi.


Pikiran Gloria terasa kosong saat ini, ia tak tahu harus berbuat apa. Bahkan ia tak bisa berkata sepatah katapun kecuali berteriak, hingga ia lelah. Tanpa sadar tubuhnya tersandar perlahan di ranjang dan kedua matanya yang sembab terpejam dengan sendirinya.


***


"Tuan, malam semakin larut sebaiknya Anda istirahat di kamar tamu." Sapa bibi Rick yang dari tadi memperhatikan Shaka yang terus mematung di depan pintu kamar. Dalam sekali lihat dia tahu jika tuannya itu sedang tidak baik-baik saja.


Diam, Shaka tak bergeming sedikitpun. Tangan kirinya masih memegang gagang pintu sedangkan tangannya yang lain menyanggah kepalanya yang terasa berat.


"Tuan, izinkan saya melihat nona Gloria." Suara renta itu seperti sinar kecil di mata Shaka, beberapa detik kemudian ia menggeser tubuhnya agar Bibi Rick bisa masuk.


Kriet.. Tak seperti biasanya, terdengar decitan kecil saat bibi Rick membuka pintu besar itu. Seakan pintu itu tak terjamah dalam waktu yang lama, seakan sang penghuni kamar enggan membolehkan oranglain menyentuhnya.


Masih di ambang pintu, namun bibi Rick bisa melihat jelas sosok wanita yang terbaring diranjang meski hanya dengan penerangan sayup lampu tidur. Ia melangkah perlahan, memastikan keadaan wanita yang dihadapannya yang sedang terdiam.


"Nona.." Sapa bibi Rick pada Gloria yang terbaring menghadap ke arah balkon. Bibi Rick sedikit mengerutkan keningnya yang sudah keriput ketika tak mendapat jawaban, ia melangkah lebih dekat lagi.


"Tidurlah nona, Anda pasti sangat tertekan." Ucap bibi Rick saat tahu Gloria ternyata sudah terlelap, tangan keriputnya menaikkan selimut sampai batas dada Gloria. Kemudian ia keluar dengan langkah penuh hati-hati agar tak menimbulkan suara.


"Tuan, nona sudah tidur. Apa Anda akan..."


"Ya. Aku akan kembali ke kamar dan tidur bersama nya." Shaka menjawab pertanyaan bibi Rick yang belum utuh.


Lelaki itu, mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menghilang di balik pintu. Ia menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan kasar saat melihat mata sembab merah wanita yang sedang meringkuk di ranjangya.

__ADS_1


Dengan penuh pertimbangan ia merangkak ke atas kasur, merebahkan tubuh besarnya disamping istrinya. Sekali lagi ia menatap wajah sembab Gloria, tak ada kata yang ingin ia ucapkan saat ini. Tepatnya banyak kata yang ia ingin ia ucapkan tapi tak akan ada kata yang bisa menenangkan wanita yang terlelap di depannya itu. Sehingga ia enggan untuk bersuara.


Shaka membelai rambut coklat panjang Gloria yang sehalus benang-benang sutra, lalu mengecup lembut keningnya, kemudian membawa wanita itu kedalam pelukannya seolah ia berkata aku akan menjagamu.


***


"Sayang... " Ucap Shaka saat melihat Gloria yang masih di pelukannya mengerjapkan mata. Lelaki itu bahkan hampir semalaman terjaga karena banyaknya pikiran yang memutar di otaknya.


Gloria diam, ia mendorong tubuh Shaka hingga lelaki itu melonggarkan tangannya yang melingkar di pinggang wanita itu.


"Kau masih marah?." Shaka sadar diri, tak mudah untuk memaafkan kejahatan yang sudah keluarganya perbuat. Ia menghela nafas sebelum berucap lagi, "Baiklah, aku akan keluar."


1 jam kemudian Shaka masuk kembali ke kamarnya, ia sudah rapi dengan setelan jas mahal yang melekat sempurna di tubuhnya yang kekar, juga sepatu kwalitas terbaik yang menutup manis telapak kakinya. Pandangan nya masih sama seperti tadi, tertuju pada sosok seorang wanita yang masih merengkuh di atas tempat tidur.


"Sayang, aku ke kantor dulu. Pelayanan akan membawakan sarapan untukmu kesini." Ia menunggu beberapa saat, berharap telinga nya mendengar sautan. Namun sayang, wanita di atas ranjang itu masih enggan berbicara dengan nya.


"Baik-baik lah di rumah." Setelah berucap lagi Shaka memutar badannya lalu pergi meninggalkan Gloria.


"Baik tuan, saya mengerti." Bibi Rick mengangguk pelan lalu membungkukkan badannya, sesaat kemudian mobil tuannya sudah melesat keluar dari pekarangan rumah klasik itu.


***


Shaka berjalan dengan langkah pasti dan mantap, ketampanan wajah juga tubuhnya yang gagah selalu menghipnotis orang yang berada di sekitarnya. Sorot matanya yang tajam seolah mampu memanah hati wanita yang menatapnya.


"Diam!!." Bentaknya pada salah satu karyawan wanita yang menyapanya. Sehingga nyali karyawan itu langsung menciut yang awalnya membara ingin menggoda Bos nya. Mood buruknya semakin bertambah ketika melihat karyawan-karyawan genit di perusahaan besarnya itu.


"Sial..!!" Ucap karyawan itu sambil menahan airmatanya saat Shaka sudah tak terlihat lagi punggungnya.


"Kamu sih! Sudah tahu bos tadi mukanya garang begitu. Masih mau cari masalah." Ucap karyawan wanita yang lain.


"Biasanya bos nggak pernah menanggapi sapaan kalian, Eh sekali menanggapi kalian dapat bentakan. Sukurin..!" Saut karyawan lelaki di sebelahnya.

__ADS_1


"Marah aja ganteng, apalagi kalo senyum. Pasti hati ini meleleh..." Karyawan wanita yang lain ikut menimpali.


"Kalo mau gosip nggak usah masuk kerja." Suara lelaki dari belakang mereka memaksa mereka membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.


Sebagai sekretaris CEO, Samuel memang di hormati di perusahaan tempatnya bekerja. Meski ia lumayan ramah namun ia tetap tak suka jika ada karyawan yang bergosip pada jam kerja. Menurutnya itu sangat membuang waktu yang harusnya bisa digunakan untuk mengoptimalkan hasil kerja.


"Bos?." Sam keruangan Shaka dengan tas kerja yang masih tertenteng di tangannya.


"Kau lambat sekali Sam, apa kau lupa arah jalan ke kantor?! ." Shaka menyalakan rokok yang terselip di jarinya.


"Apa kau tak tahu bos? Jalanan macet bisa memperlambat waktumu. Apa yang mau kau katakan padaku bos, apa kau sudah memberitahu nona Gloria?." Ucap Sam sambil mendudukkan dirinya di sofa.


Shaka menggelengkan kepala dan melepas kepulan asap rokok keluar dari mulutnya.


"Apa artinya dengan gelenganmu?, kau belum memberitahunya atau kau tidak akan memberitahu istrimu itu?." Tanya Sam bingung.


Shaka meletakkan puntung rokoknya lalu berkata, "Dia sudah tahu dengan sendirinya."


"Bagaimana caranya? Bukankah hanya kita berdua yang tahu tentang ini?." Sam menaikkan satu alisnya.


"Aku memeriksa CCTV di rumah, ia masuk ke ruang kerja dan menemukan berkas yang kutinggal di sana. Aku bodoh Sam.!" Shaka merutuki kecerobohan nya.


"Haaaih.. Sudahlah itu lebih baik, lalu bagaimana responnya. Dia marah?" Tanya Sam.


"Tak hanya marah, dia bahkan mendiamkan ku. Aku harus bagaimana sekarang? Pikiranku benar-benar kacau." Shaka mengacak-acak rambutnya.


"Bagaimana kalau Ayahmu meminta maaf secara langsung, bawa Ayahmu kesini, kehadapan nona Gloria." Sam mencoba memberi saran.


Shaka berfikir sejenak, tak ada salahnya mencoba saran dari sekretaris nya itu. Apalagi ia belum pernah memperkenalkan Gloria kepada orangtuanya dan juga sebaliknya. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka, sebagai menantu dan mertua. Atau.. Sebagai pembunuh dan korban.


***

__ADS_1


__ADS_2