
Di tempat lain, di sebuah rumah besar tak berpenghuni. Seorang Lelaki duduk dengan kaki menyilang, dengan pistol yang bertengger manis di genggaman jarinya.
"Kau fikir kau bisa berbuat semau mu?? Apa kau tak tahu kau berhadapan dengan siapa?." Ucap lelaki itu dengan ekspresi ingin menghabisi segera orang di depannya.
"Tidak tuan! Tolong lepaskan saya, ini semua hanya salah paham." Ucap wanita di depannya yang terduduk lemas di lantai, keringat dingin keluar dari semua pori-porinya, membasahi permukaan kulit wajah hingga tubuh nya.
Flash back
Sepeninggal Shaka dari ARS Hotel, pihak hotel menutup akses jalan keluar dari hotel. Sehingga tamu hotel beserta mahasiswa yang hadir malam itu tak bisa meninggalkan tempat itu. Dan para petugas keamanan hotel segera mengamankan Joelly agar tak bisa kabur.
Beberapa saat kemudian, anak buah yang di utus Samuel tiba disana, mengancam seluruh orang-orang yang disana agar tak membocorkan tentang apa yang mereka ketahui malam ini. Termasuk informasi mengenai siapa istri Arshaka Zalleo. Tentu saja semua langsung menurut, karena semua nya lebih memilih aman. Ketimbang berurusan dengan Tuan Muda tampan yang terkenal penuh kuasa itu.
Setelah itu Joelly di bawa paksa oleh anak buah Sam, semua yang berada disana tak ada yang berani mencegah. Mereka semua hanya menatap dengan tubuh gemetar. Selepas kepergian Joelly barulah mereka di perbolehkan kan meninggalkan ARS Hotel.
Flash back off
"Joelly Joesline, anak tunggal Pedro Joesline pemilik perusahaan PJ Export." Seseorang yang berdiri di sebelah lelaki itu membaca sebuah kertas yang ia pegang.
"Ooh.. PJ Export, bukankah ini salah satu perusahaan di bawah naungan ARS Corp, Sam?." Shaka berkata tanpa memandang yang ia ajak bicara, karena matanya masih terus menatap tajam wanita di depannya yang sudah berderai airmata.
"Bagaimana jika kita putus saja kerja sama dengan perusahaan itu, apa perusahaan itu masih bisa bertahan?." Lanjutnya lagi.
Joelly yang mendengarnya langsung terperanjat dan memohon ampun, "Jangan! Jangan lakukan itu tuan, kumohon. Ini semua salah saya tak ada sangkut pautnya dengan perusahaan ayah saya." Wanita itu berlutut di hadapan Shaka.
"Sam! pastikan PJ Export tak bisa mendapat suntikan dana dari perusahaan manapun.!" Shaka masih bertahan dengan ekspresi yang sama.
"Tidak!! Kumohon tuan. Keluarga saya akan menjadi gelandangan jika perusahaan ayah saya bangkrut." Joelly meraih kaki Shaka namun lelaki itu langsung menyentak tangan Joelly. Dan hampir saja menendangnya namun ia berusaha menahan diri.
"Jauhkan tangan kotormu itu dari sepatuku!!." Bentak Shaka.
"Ooh iya! Tangan itu!! Yang telah mendorong tubuh istriku. Aku benar kan? Bagaimana jika aku memberi sedikit hadiah." Shaka menyodorkan pistol yang ia genggam pada telapak tangan Joelly.
__ADS_1
Doorr...
"Tidak..." Teriak Joelly sekencang-kencangnya, di detik selanjutnya ia melihat tangannya yang tak terasa sakit sama sekali. Ternyata tembakan Shaka meleset beberapa senti dari tubuhnya.
Dengan bibir bergetar, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk memohon sekali lagi pada lelaki di hadapannya itu. "Ampuni saya tuan.. Kumohon ampuni saya."
Shaka menaikkan satu sudut bibirnya, "Kau meminta ampun setelah kau mencelakai istriku dan membunuhku anakku!!." Suara Shaka memekak telinga orang yang berada disana, bahkan Sam menutup satu telinganya dengan kertas yang ia bawa.
"Aku.. Aku tak sengaja.." Joelly masih berusaha membela diri.
"Heh.. Kau bilang tak sengaja? Bagaimana jika pistol ku ini melubangi kepalamu dan aku bilang aku tak sengaja." Shaka mencondongkan badannya sedikit ke depan lalu mengusapkan pistol miliknya ke pipi Gloria.
"Tidak.. Tidak boleh.. Aku akan melakukan apa saja.. asal tuan mengampuni nyawa saya." Ucap joelly tergagap sambil melirik pistol yang menyentuh pipinya.
"Nyawamu sungguh tak berarti untukku." Shaka menaikkan pistolnya ke pelipis Joelly. "Sekarang hitunglah, nyawamu akan segera melayang.. Satu.. Dua.."
Dengan memejamkan mata Joelly terus meminta ampun, sungguh ketakutan yang luar biasa kini melanda hatinya. Sungguh teramat takut. Tepat pada hitungan ke tiga, ia bahkan sudah tak sanggup merasakan nafasnya.
"Sam!! Bawa pergi wanita ini dari hadapanku, aku tak mau melihat wajahnya lagi. Pastikan dia dan keluarganya kehilangan segalanya, dan hidup mengemis di jalanan. Ia akan merasakan kehidupan yang lebih buruk dari kematian." Shaka sudah tak tahan lagi mendengar Joelly yang terus memohon di depannya.
"Tapi tuan, masih ada lagi." Sam melanjutkan membaca kertas yang masih berada di tangannya, Shaka yang mendengar itu membuat darahnya semakin mendidih. Wajah dan matanya memerah, sampai giginya berbunyi karena saling beradu. Ia menguatkan genggamannya pada gagang pistol.
Dorrr...
Brug.. Joelly tergeletak di lantai.
Lelaki itu melepaskan satu tembakan lagi pada wanita di hadapannya, untung saja Samuel dengan sigap berlari dan menepis tangan Shaka sehingga pistol itu terjatuh lalu pelurunya meleset dari bidikan. Dan karena mungkin terlalu shock Joelly pingsan tak sadarkan diri.
"Apa yang kau lakukan Sam!!." Shaka berdiri dari duduknya dan berteriak geram karena sekretaris nya itu menggagalkan aksinya.
"Bos! Jangan mengotori tanganmu sendiri." Samuel menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sudah tak tahan Sam! Ternyata selama ini dia selalu mengganggu istriku, bahkan menyebarkan foto nya saat periksa kandungan dan memakinya dengan kata-kata tak pantas." Teriak Shaka yang sudah di selimuti amarah. "Dia juga memaki anakku Sam!! Sekarang aku sudah kehilangan anakku!. Aaah.." Shaka membanting kursi yang ia duduki tadi.
"Bos.. Padamkan amarahmu.. Aku akan mencari semua orang terlibat dalam forum kampus itu, dan aku akan memberi pelajaran kepada orang yang telah menghina nona muda." Sam meremas kertas yang ia genggam.
"Pulangkan saja wanita itu!!, aku pastikan ia akan mengakhiri hidupnya sendiri." Ucap Shaka kemudian pergi dari tempat itu.
Sam mengikuti Shaka setelah berbicara kepada anak buahnya agar mengantar pulang Joelly.
***
Di dalam mobil, Shaka masih mengatur emosi dan amarahnya. Sesekali Sam melirik bos nya itu dari kaca. "Bos.. Kita kerumah sakit sekarang?."
"Kenapa kau bertanya! Tentu saja iya!." Bentak Shaka yang tersulut amarah lagi.
"Bisakah nanti setelah kita sampai dirumah sakit kau tak marah-marah bos?, jika nona Gloria melihatmu masih seperti ini kau pikir dia akan mau bertemu denganmu?." Ucap Sam dengan pandangan fokus ke jalanan.
"Aku sedang mencoba menenangkan diri, dan kau mengangguku."
"Ooh maafkan aku, aku tak akan bersuara lagi." Ucap Sam.
Beberapa menit kemudian, "Bos.. Menurutmu nona Gloria sudah sadar atau belum?!." Tanya Sam yang kepikiran nona mudanya.
Shaka tak ingin menjawab, ia hanya di menatap punggung Sam sebentar lalu memejamkan matanya.
"Bos.. Kenapa tak menjawab?." Karena tak mendapat sautan Sam bertanya lagi.
Shaka yang merasa jengkel akhirnya memukul kepala Sam, "Diam Samuel!!."
"Awww.." Pekik sekretaris yang sedang menyetir itu.
Sebenarnya Shaka juga ingin tahu, apakah istrinya sudah sadar atau belum karena sedari tadi pengawal yang ia tugaskan menjaga di rumah sakit maupun bibi Rick belum ada yang menghubungi nya.
__ADS_1
***