
"Sayang.. " Nyawa Shaka seperti terhempas begitu saja melihat wanitanya terbaring lemah dengan mata terpejam.
"Tuan.. Nona akan kami pindahkan ke ruangannya." Ucap salah satu perawat.
Dengan langkah pasti Shaka beserta Sam dan juga Yuna mengekor di belakang perawat itu, setelah melewati beberapa koridor dan menaiki lift tibalah mereka di depan ruang VVIP.
Sam sengaja menyewa satu lantai agar suasana lebih tenang, dan menyuruh pihak rumah sakit merahasiakan apapun yang berhubungan dengan Shaka, karena jika sampai ada media yang tahu maka kehidupan pribadi CEO ARS Corp itu akan menjadi konsumsi manis untuk publik. Lebih dari itu, semua rivalnya akan memiliki celah untuk menjatuhkan ARS Corp.
Setelah Gloria di pindahkan ke ranjang, Shaka mulai mendekat ke ranjang tersebut. Matanya menyorot sendu kala melihat wanita di depannya masih menutup rapat matanya. "Sam.. Apa yang harus ku katakan padanya saat ia sadar nanti?." Lirih Shaka menggenggam tangan Gloria yang dingin. "Apa aku harus bilang terus terang jika ia kehilangan anak kami?."
"Bos.. Sebaiknya kau pulang dan membersihkan diri, atau jika nona sadar ia akan melihat semua darah ini." Sam menunjuk darah yang hampir mengering di pakaian Shaka.
"No Sam, aku masih ingin disini." Shaka menggeleng kepalanya, ia tak setuju jika harus meninggalkan Gloria sendirian di rumah sakit.
"Tuan.. Disini yang paling terluka adalah Gloria, jadi Anda harus menguatkan dia. Jika Anda menunjukkan kesedihan seperti ini ketika ia sadar, ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri karena gagal menjaga kandungannya. Dan ia pasti semakin merasa terluka karena kehilangan anaknya." Ucap Yuna yang berdiri tak jauh dari Sam.
"Dia benar bos..." Saut Sam.
Shaka mencerna ucapan Yuna sejenak, kemudian ia membuang nafas kasar lalu berkata, "Baiklah, aku akan pulang sebentar untuk membersihkan diri." Mengalihkan pandangannya, "Kau ikut bersamaku Sam."
"Baik bos." Jawab Sam langsung sambil mengangguk.
"Aku titipkan istriku kepadamu." Shaka menatap Yuna sejenak, lalu mencium tangan Gloria yang berada dalam genggamannya, "Aku akan segera kembali, sayang." Kemudian ia mengecup lembut kening istrinya itu.
"Kalian jaga istriku dengan baik, segera hubungi aku jika ia sudah sadar." Ucap Shaka kepada para pengawal ketika ia sudah berada di luar ruangan. "Dan kau!! Setelah urusanku selesai aku akan memberi pelajaran untukmu karena sudah lalai menjalankan tugas." Ucap Shaka sinis pada pengawal yang ia tugaskan menjaga Gloria ketika di hotel. Sorot matanya seakan menusuk jantung pengawal itu dalam sekali tatap.
Sedangkan Sam yang berada di belakang Shaka, sengaja menggoda pengawal itu dengan mengarahkan telunjuk nya ke arah leher seolah ia sedang menyayat nya. Sehingga pengawal itu pun hanya bisa mematung dan mengeluarkan keringat dingin.
***
Di dalam mobil.
"Sam, bagaimana? Kau sudah mengatasinya." Tanya Shaka yang duduk di kursi belakang, matanya menatap keluar jendela.
"Beres bos! Wanita itu sudah ku atasi, bukankah kau tau sendiri jika aku ini bisa di andalkan?!." Sam menjawab dengan sombong nya.
"Heh, dasar brengsek. Kita akan kesana setelah aku mengganti pakaian ku"
__ADS_1
Hampir 1 jam lamanya, akhirnya mobil mewah limited edition itu sampai di depan rumah pemiliknya. Shaka segera masuk kedalam rumah, di ikuti Samuel yang berjalan di belakangnya.
"Tuan.. Dimana Nona muda? Bukankah tadi kalian pergi berdua?." Tanya bibi Rick yang melihat Shaka hanya sendirian, wanita paruh baya itu belum tidur meski waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam.
"Bibi Rick, bisakah kau kerumah sakit? Dan bawa beberapa pakaian wanita kesana." Ucap Shaka memandang wajah bibi Rick.
"Rumah sakit? Apa yang terjadi dengan nona muda?." Tanya Bibi Rick panik.
"Dia.. Keguguran, tolong segeralah kesana bibi Rick. Aku ada urusan yang harus ku selesaikan."
"Ya ampun tuan.. Nona.. Nona Gloria.." Bibi Rick tak meneruskan kalimatnya lagi karena ia sudah bergegas ke kamarnya untuk menyiapkan keperluan yang sekiranya di butuhkan."
Dan Shaka melanjutkan jalannya menaiki tangga ke lantai 2 dimana kamarnya berada, ia segera melepas pakaian yang di penuhi darah kemudian membersihkan badannya di bawah guyuran shower.
***
Tap.. Tap.. Tap..
Suara tapak sepatu bibi Rick memenuhi koridor rumah sakit tempat Gloria dirawat, dengan tergesa-gesa dan nafas tersengal ia terus mengayunkan kakinya hingga tiba di depan pintu ruangan yang terdapat banyak pengawal yang ia kenal.
"Bibi Rick.." Sapa semua pengawal yang berjaga di depan ruangan, bibi Rick menganggukkan kepala kemudian membuka pintu.
"Nona, bagaimana ini bisa terjadi?." Wanita paruh baya itu mengelus lembut pipi Gloria dengan punggung tangannya. Kemudian memutar pandangannya pada perempuan bermata sembab yang duduk di sebelah ranjang.
Yuna yang mengerti maksud dari tatapan bibi Rick pun bermaksud memperkenalkan diri. "Saya Yuna, teman kampus Gloria." Ucap Yuna dengan senyum manis menghiasi wajahnya yang cantik tanpa riasan, karena riasannya telah luntur oleh airmata yang luruh tiada henti.
"Saya kepala pelayan di rumah tuan muda Shaka, nona bisa memanggil saya Bibi Rick. Seperti tuan dan nona muda memanggil saya." Ucap bibi Rick dengan sedikit ramah. "Nona, saya membawa baju ganti. Sebaiknya nona mengganti baju yang nona kenakan, pasti tak nyaman kan memakai gaun di dalam rumah sakit." Tawar bibi Rick menunjuk tas yang ia taruh di atas sofa.
"Terimakasih Bibi Rick, saya akan berganti pakaian di dalam kamar mandi." Yuna meraih tas itu dan mengambil salah satu pakaian di dalamnya. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
"Aaahh nona.. Kau.. Kau sudah siuman?." Ucap Bibi Rick terbata saat Gloria mulai mengerjapkan mata dan membukanya perlahan.
Gloria mengutuhkan kesadarannya sebelum menjawab, dilihatnya langit-langit kamar yang berbeda jauh dari kamarnya. "Bibi Rick.. Dimana aku?." Ucapnya dengan lemas.
"Nona.. Kau di rumah sakit sekarang." Bibi Rick menggenggam tangan Gloria yang masih dingin.
"Rumah sakit?." Gloria berpikir sejenak, kemudian ia teringat dengan kejadian yang menimpanya di hotel.
__ADS_1
"Bibi Rick.. Anakku.. Bagaimana dengan anakku! Dia baik-baik saja kan?." Teriak Gloria histeris sambil memegang perutnya.
Bibi Rick tak langsung menjawab, ia diam sejenak sebelum mengeluarkan suaranya, "Nona.. Kandungan anda.." Diam, sang kepala pelayan itu sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Katakan! Anakku baik-baik saja kan!." Gloria masih berteriak, ia bangun dari baringnya lalu duduk sambil meremas kuat tangan Bibi Rick yang menggenggamnya.
"Nona.. Kau harus ikhlas." Lirih Bibi Rick.
"Ikhlas bagaimana yang kau maksud Bibi Rick! Kau bahkan tak mengatakannya!." Teriak Gloria.
Yuna yang mendengar teriakan Gloria segera bergegas keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri sahabatnya. "Gloria tenangkan dirimu."
"Yuna! Katakan padaku, anakku baik-baik saja kan? Bibi Rick tak mau mengatakan nya!." Sorot mata Gloria seolah memaksa Yuna untuk berkata iya. Yuna menatap Bibi Rick sejenak, mereka berdua saling berpandangan.
"Yuna kenapa kau juga diam!!!." Bentak Gloria.
Yuna membuang nafas kasar lalu berkata, "Gloria, kau keguguran." Terpaksa Yuna mengatakannya, bagaimanapun Gloria juga harus tahu dengan musibah yang menimpanya.
"Tidak!! Kau bercanda.! Kenapa kau tega berkata bohong padaku!." Teriak Gloria tak terima dengan apa yang di tangkap oleh telinganya, mana mungkin ia kehilangan anak di dalam perutnya. Malaikat kecilnya itu bahkan baru tinggal di dalam rahimnya belum genap 2 bulan.
"Gloria.. Maafkan aku. Kau harus bisa menerima ini." Yuna mencoba memeluk Gloria yang terus berteriak.
"Tidak!! Kau bohong, anakku baik-baik saja. Dia masih didalam perutku, ia akan terus menemaniku." Gloria masih terus meracau.
Bibi Rick yang tak tega melihat nona mudanya akhirnya memanggil dokter. Tak butuh waktu lama, dokter sudah tiba di hadapan Gloria lalu menyuntikkan obat penenang kepada wanita itu.
"Anakku.. Anakku.. " Suara Gloria terdengar semakin pelan seiring obat itu bereaksi.
"Pasien sangat tertekan, ia pasti belum bisa menerima atas keguguran nya. Biarkan ia beristirahat dengan tenang." Ucap dokter itu.
"Terimakasih dokter." Yuna dan Bibi Rick menyaut bersama.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Dokter itu keluar dari ruang rawat Gloria.
***
Di tempat lain, di sebuah rumah besar tak berpenghuni. Seorang Lelaki duduk dengan kaki menyilang, dengan pistol yang bertengger manis di genggaman jarinya.
__ADS_1
"Kau fikir kau bisa berbuat semau mu?? Apa kau tak tahu kau berhadapan dengan siapa?."