ISTRI RAHASIA TUAN MUDA

ISTRI RAHASIA TUAN MUDA
Terbiasa bersama


__ADS_3

Gloria menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur, berguling-guling diatasnya seperti anak kecil yang tengah bermain. Memang ranjang milik Shaka sangat nyaman, bagaimana tidak! Ini adalah ranjang pilihan, terbuat dari bahan berkwalitas nomor 1.


Gloria akhirnya berhenti, ia lelah dengan aktifitasnya yang tak bermanfaat itu. Rasa kantuk mulai menyelimuti Gloria, mata bulatnya perlahan terpejam. Hingga ia sudah berlabuh di alam mimpi yang indah.


Jam di dinding sudah menujukkan pukul 7 malam, namun Gloria masih tak bergeming dari tidurnya. Wanita itu sungguh menikmati kenyamanan yang tiada tara.


Ceklek.. Pintu kamar terbuka. Masuklah sosok lelaki yang masih memakai lengkap jas kerjanya. Di buangnya tas yang ia tenteng tadi ke sembarang arah, wajahnya terlihat kesal saat menemukan wanita mungil sedang asyiknya tertidur.


"Aku menyuruhmu menungguku dirumah, Ya kau memang menungguku, menungguku sambil tertidur." Gumam Shaka.


Shaka mendekatkan dirinya keranjang, rasa kesalnya hilang ketika melihat Gloria tidur meringkuk seperti seorang bayi, ia menusuk-nusuk pipi Gloria dengan jarinya. Namun wanita itu tak bergeming.


Shaka mendengus, lalu melepas jas dan kemejanya, membuangnya tepat di atas tubuh Gloria. Terlihatlah roti sobek miliknya terpampang jelas dihadapan Gloria yang mulai mengerjapkan matanya.


"Tuan kau sudah pulang?." Gloria segera bangun dari baringnya.


"Kenapa kau tak menyambutku didepan, apa Bibi Rick tak memberitahumu?."


"Maaf Tuan aku tertidur sejak sore, jadi belum sempat bertemu bibi Rick." Gloria menundukkan kepalanya.


"Ayo temani aku mandi."


"Apa!!!!." Gloria terperanjat, kesadarannya yang mulanya setengah seketika utuh sepenuhnya. Apa pendengarannya salah? Tidak, tidak ada yang salah dengan pendengarannya, yang salah adalah mulut lelaki dingin itu yang dengan mudah mengucapkan kata-kata yang tak masuk akal.


"Ayo kita mandi bersama."


"Mandi bersama!!!." Gloria semakin terperanjat. Sebenarnya apa yang di fikirkan lelaki itu, kemarin ia menyuruh Gloria menontonnya bertelanjang. Sekarang ia meminta Gloria untuk mandi bersama. "Sungguh gila!!, ini benar-benar hal bodoh!." Batin Gloria.


"Ya! Mandi bersama, bukankah kau juga belum mandi. Aku melihat kau masih memakai pakaian yang sama sejak tadi pagi."


"Tidak mau!." Gloria kali ini tak menuruti ucapan Shaka.


"Kenapa?." Shaka mengerutkan dahinya.


"Kau bilang kenapa?, Tuan! Tentu saja aku malu." Wajah Gloria memerah padam, antara malu dan menahan amarah.


"Kau tak usah malu, aku suamimu."


"Tidak! Aku tetap tidak mau!."

__ADS_1


"Aaah baiklah, sepertinya aku harus sedikit memaksamu." Shaka menarik paksa tubuh mungil Gloria, lalu menggendongnya di pundak nya seperti mengangkat karung.


"Aaahhh.. Tolong aku! Siapapun diluar sana, tolong aku!." Teriak Gloria.


"Hahaha tak akan ada yang berani masuk kesini, diamlah jangan terus bergerak atau tubuh kecilmu ini akan terjatuh." Shaka tertawa sangat lebar, namun terdengar sangat mengerikan untuk Gloria.


Sesampainya di kamar mandi, Shaka menurunkan perlahan tubuh Gloria ke dalam bathup. Kemudian ia melepas celana panjangnya lalu ikut masuk ke dalam bathup.


"Tuan.. Ini sedikit kurang nyaman."


"Diamlah, sekarang gosok punggungku."


Gloria menggosok punggung Shaka, mulutnya komat kamit entah mantra apa yang di ucapkannya.


Shaka menarik tangan Gloria hingga wanita itu terjatuh dalam pelukannya. "Apa yang kau ucapkan, aku bisa mendengarnya dari tadi. Kau menghujat ku?."


"Tidak Tuan, aku tak berani melakukan itu." Gloria memasang senyum termanisnya.


"Sekarang lepas pakaianmu." Shaka menatap pakaian Gloria yang sudah basah, tercetak jelas bentuk tubuh indah wanita itu.


"Tidak tuan, aku akan melepasnya setelah tuan selesai mandi." Gloria menggeleng kepalanya.


"Baiklah." Dengan ragu-ragu Gloria melepas pakaiannya satu persatu. Hingga terlihatlah tubuh putih mulus, sempurna!.


Gleg.. Shaka menelan salivanya. Ia segera menarik tubuh mungil Gloria kedalam dekapannya. Ia memeluk Gloria sangat erat, terus mengeratkan pelukannya pada seseorang di pangkuannya. Ia merangsak masuk kedalam cekukan leher wanita di hadapannya, seolah mencari kehangatan di dalam air dingin yang membasahi permukaan kulitnya. Tangan kekarnya mengunci tubuh Gloria.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja." Lirih Shaka.


Sedangkan Gloria, ia tak tau harus melakukan apa sekarang. Tubuhnya tak ingin memberontak, perasaan apa ini?, perlakuan Shaka mampu membuat hatinya luluh dalam satu waktu. Jantungnya berdetak begitu cepat, sangat cepat hingga ia takut kalau tak bisa mengendalikannya. Tangannya bergerak tanpa disuruh, membalas pelukan Lelaki di hadapannya. Ia mengeratkan pelukan seperti enggan melepaskannya.


Hingga ia tersadar saat merasakan ada sesuatu yang semakin mengeras di bawah sana. Ia langsung mendorong tubuh Shaka, meski sia-sia.


"Tuan.. Itu.." Gloria tak meneruskan kalimatnya.


"Aku lelaki normal, tentu saja milikku menegang saat bersama wanita. Apalagi bersama istriku." Shaka mengerti apa yang dimaksud Gloria.


"Tttuuan.." Gloria sulit untuk mengeluarkan suaranya.


Shaka mendekatkan wajahnya ke wajah Gloria, Cup.. Cup.. Ia mencium kening dan bibir wanita di hadapannya itu. "Kau milikku."

__ADS_1


Gloria tersenyum, sudut bibirnya tertarik penuh keatas, hatinya berbunga-bunga. Seperti ada banyak gelembung sabun warna warni yang meletup-letup di hatinya.


"Ayo kita lanjutkan mandinya, nanti kau bisa masuk angin." Ucap Shaka yang di jawab anggukan oleh Gloria.


***


Perasaan apa ini? Gloria berusaha menetralkan detak jantungnya yang harus bekerja lebih cepat sejak Shaka tiba-tiba membenamkan kepalanya di dada Gloria.


"Haha Jantungmu seperti mau keluar dari tempatnya, aku bisa mendengarnya." Shaka menertawakan Gloria, apa yang terjadi dengan lelaki itu. Kenapa sekarang sering tertawa keras.


"Semua ini karenamu Tuan, kalau aku mati muda karena serangan jantung kaulah orang yang akan kusalahkan." Gloria menyenderkan kepala di bantal senyaman mungkin.


"Ayo kita saling mencoba membiasakan satu sama lain." Shaka menggoyangkan kepalanya.


"Tuan kumohon hentikan, jangan terus bergerak." Gloria merasa geli.


Shaka kini menyenderkan kepalanya di ranjang, satu tangannya ia buat sebagai bantal. Ia memejamkan mata sejenak lalu mengulangi perkataannya. "Mulai sekarang kita saling mencoba membiasakan satu sama lain, bagaimanapun kau adalah istriku dan aku adalah suamimu. Mari kita menjalani hubungan layaknya suami istri." Shaka menghempas nafas lalu melanjutkan ucapannya, "Meski aku tak mencintaimu, aku tetaplah lelaki yang butuh belaian wanita, apalagi aku sudah beristri. Kau faham maksudku kan Gloria?." Shaka menatap ke langit-langit kamarnya, nada suaranya sudah tak selembut tadi.


Gloria mengangguk, ia sadar betul seorang istri tentu harus memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Meski usianya masih muda, namun bukan berarti ia tak tahu apa-apa.


"Baiklah.. Mulai sekarang kau harus lebih terbiasa denganku. Dan satu lagi, jangan kau panggil aku Tuan, aku suamimu bukan Tuanmu, seakan-akan aku berperan sebagai suami yang kejam."


"Lantas aku harus memanggilmu apa?."


"Panggil saja namaku."


"Aah.. Tidak, itu terlalu tak sopan. Usia kita terpaut sangat jauh."


Shaka menyeringai, satu hal yang ia lupakan beberapa hari ini yaitu usia wanita di sampingnya baru 21 tahun.


"Panggil aku Sayang." Shaka kini menghadap ke arah Gloria, tatapan matanya sudah kembali melembut.


"Apa!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2